Jika Anda Pembaca memiliki bisnis, apakah Anda masih ingat bisnis atau usaha apa yang pertama kali Anda lakukan saat memulai? Atau misalkan Anda baru hendak memulai bisnis, tipe usaha apa yang biasanya terbesit di pikiran awal karena dianggap paling mungkin dilakukan? Ya, biasanya kita memulai dengan usaha F&B (Food and Beverages) alias usaha jualan makanan dan minuman. Bagi saya pribadi, menjual minuman merupakan jenis usaha yang paling pertama saya lakukan di masa kecil dulu, mulai dari bermodalkan buah jeruk dan gula hingga air es dengan sirup saja. Dapat dikatakan usaha minuman merupakan salah satu jenis usaha yang paling umum. Namun dengan semakin umum suatu bisnis atau semakin mudah suatu usaha kita mulai, artinya akan ada semakin banyak pesaing dan pemain baru dalam pasar tersebut. Bagaimana cara kita memastikan kita dapat berbeda dan diingat oleh konsumen dalam kondisi seperti itu dong?

 

Dalam hal ini kita dapat belajar dari ke empat (4) Founders Chommune, sebuah merek produsen minuman cokelat asal Jakarta yang berhasil melakukan branding yang cukup unik berlandaskan kedekatan mereka dengan komunitas. Berawal dari brand and art consultant, pada awal 2020 mereka mencoba mengulik bahan baku cokelat berkualitas yang mereka miliki untuk menjadi suatu produk yang dapat dipasarkan dan diterima oleh Masyarakat. Revaldo, Rizal, Kavin, dan Rifky sebagai Founders memulai dengan menciptakan produk minuman cokelat yang berbeda dari segi rasa dan karakteristik, namun hal tersebut dirasa tidak cukup, mereka lebih berfokus pada upaya membangun brand lewat budaya modern. Disinilah Chommune bermula. Dari awal yang tampaknya biasa saja, hingga berhasil menggaet Urban and Street Artists kenamaan Indonesia seperti Popo hingga Mr Wormo dalam memberikan coretan karya khas mereka di setiap kaleng Chommune berhasil mereka dapatkan. Apa kira-kira rahasia kekuatan branding ini? Dapat kita bahas lebih lanjut dengan tools manajemen yang tepat!

Saya ingat beberapa bulan lalu telah menulis artikel membahas salah satu tool atau alat analisa strategis yang dapat membantu kita menjawab pertanyaan di atas, yaitu VRIO. VRIO sendiri merupakan alat analisa strategis yang menyimpan kemampuan untuk mengevaluasi, apakah bisnis baik produk maupun jasa yang hendak kita jalankan memang benar-benar memiliki keunggulan jangka panjang atau benar-benar sulit ditiru. Analisa strategis ini sendiri terdiri dari 4 komponen utama, yaitu Valuable (Berharga), Rare (Langka), Imitability (Sulit Ditiru), dan Organized (Terorganisir untuk jangka panjang). Mari kita lihat penerapan secara nyata konsep VRIO per komponen nya pada bisnis nyata, yaitu Commune yang sudah berjalan selama lebih dari 4 tahun ini.

  1. Valuable; dalam komponen awal ini, Chommune memiliki modal dasar berupa bahan cokelat berkualitas. Namun tampaknya hal ini tidaklah cukup, mereka menyasar lebih, yaitu pengembangan brand image yang kuat melalui kolaborasi dengan komunitas.
  2. Rare; dapat dikatakan cokelat yang menjadi modal utama Chommune bukanlah sumber daya yang langka. Namun, selain dari kualitas dan resep cokelat yang digunakan, kolaborasi dalam dengan komunitas street art yang kuat membuat mereka menjadi satu-satunya merek minuman kaleng yang memiliki kolaborasi dengan Street Artis lokal kenamaan seperti Popo dan Mr Wormo.
  3. Imitability; jika kita anggap minuman cokelat merupakan suatu hal yang dapat mudah ditiru oleh pesaing, misalkan resep berhasil ditebak ataupun bocor, namun kolaborasi Chommune dengan komunitas street art serta Artis lokal merupakan suatu asset yang sangat sulit ditiru. Jikapun ada pesaing yang hendak meniru, hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan cepat dikarenakan membangun kolaborasi dengan suatu komunitas spesifik bukanlah hal mudah.
  4. Organized; selama Chommune menjaga visi dan misi mereka, yaitu mengembangkan bisnis berlandaskan kolaborasi dengan komunitas,yang mana komunitas-komunitas ini bisa kapan saja digeser ataupun dipindah pada jenis komunitas lain, baik itu art based, hobby based atau sejenisnya, Chommune memiliki keunikan jangka panjang yang diharapkan dapat mereka kelola sebagai sumber keunikan serta kekuatan branding mereka.

Studi kasus ataupun penerapan kajian VRIO pada Chommune ini menunjukkan, sekalipun menjual produk yang sama, ataupun dasar dan terkesan sepele atau mudah ditiru, namun selama kita memiliki visi misi serta fokus pengembangan yang kuat, branding kita dapat dibentuk dengan kuat dan dapat menjadi salah satu sumber daya yang sangat kuat untuk digunakan sebagai bahan utama pengembangan bisnis atau usaha. Semoga contoh dari brand lokal ini dapat menginspirasi. Untuk Commune, semoga dapat terus mempertahankan spirit mereka dan meminjam dari tagline mereka: smells like chocolate spirits.

Special thanks to Charisha, Zalfa, dan Chommune Team untuk informasi serta inspirasi penulisan artikel ini.

Sumber:

Chommune. (n.d.). Main Page. @Chommune. Retrieved March 09, 2026, from https://www.instagram.com/chommune/

Thomas L. Wheelen J., David Hunger, Alan N. Hoffman, Charles E. Bamford (2018). Strategic Management and Business Policy: Globalization, Innovation and Sustainability. USA: Pearson Education Inc.