Apa Kabar Labubu? Belajar dari Kejatuhan Sang Monster
Labubu, karakter kelinci bertampang seram dengan senyuman bergigi yang malah membuatnya tampak menggemaskan. Ya, dia hanya karakter ilustrasi awalnya, bukan mainan atau boneka. Dan ya, dia bahkan bukan satu-satunya karakter dalam serial ilustrasi yang telah dikenalkan kepada dunia sejak puluhan tahun lalu. Namun, di tahun 2024 – 2025 lalu, seluruh dunia mendadak mengalami apa yang disebut sebagai demam blind box Labubu. Mulai dari kelangkaan nya, Endorser nya, harga miliaran nya, hingga menyebabkan perkelahian fisik di beberapa negara hanya untuk rebutan mainan terbaru dari karakter yang terkenal secara mendadak ini. Loh kok bukan mainan? Loh bukan nya dia karakter kekinian? Loh Labubu itu wanita? Infomasi nya salah tidak nih? Mari kita tarik mundur jauh ke belakang agar kita bisa lebih paham siapa sebenarnya karakter ini dan bagaimana dia bisa menjadi fenomena dunia dengan harga selangit dalam hitungan hari.

Labubu sendiri hanyalah salah satu karakter, peri wanita dalam buku anak bergambar dengan judul The Monsters besutan Kasing Lung yang terbit tahun 2014. Lahir sebagai Lung Ka Sing, Kasing Lung sendiri adalah Artist asal Hong Kong yang telah berkarya sejak tahun 1995 sebagai Ilustrator media Culturecom. Sebelum bergabung dengan Pop Mart, perusahaan mainan berkonsep blind box yang kita kenal saat ini, sebenarnya ilustrasi Kasing Lung sudah banyak diwujudkan kedalam bentuk mainan fisik dan blind box, yang mana kolektor mainan seperti saya dan komunitas sudah biasa menemui Labubu bersama teman-teman lain nya seperti Mokoko, Zimono, Tycoco, Spooky, Pippo, Yaya, dan Pato. Namun, ketenaran Labubu berubah total semenjak Pop Mart secara ekslusif membeli hak cipta dari The Monsters, dan pada tahun 2024 lalu, Lisa dari group idol Korea Selatan Black Pink, memamerkan koleksi pribadi Labubu yang dimiliki nya, yang mana kebanyakan adalah keluaran Pop Mart. Disinilah versi super terkenal Labubu bermula.
Banyak orang yang terkena demam blind box plushie keychain saat itu bahkan tidak mengenal Labubu, namun dikarenakan endorsement personal dari Lisa Black Pink, mendadak seluruh dunia mengejar karakter ini. Nama Pop Mart menjadi sangat terkenal sebagai produsen blind box keychain plushie. Semua orang berbondong-bondong ke toko fisik mereka, antrian mengular, para Scalpers bermunculan, kelangkaan barang terjadi dalam waktu sangat singkat. Dapat dikatakan Labubu menjadi salah satu barang trendy yang diminati semua orang di berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Semua orang secara mendadak mengejar dan membeli plushie keychain Labubu sebagai bentuk status sosial, ikut trend, khawatir ketinggalan, dan segala alasan FOMO (Fear of Missing Out) lain nya. Dari sinilah, Pop Mart sebagai produsen bertemu dilemma dalam penjualan hyped product yang satu ini. Jumlah permintaan melonjak sangat tinggi, jauh dari ketersediaan barang. Dan pada sisi lain mereka melihat pasar dipenuhi Scalpers yang merusak harga dan membuat fans asli produk mereka menjadi terasingkan. Dari sini, tidak ada benar atau salah, yang terjadi hanya keputusan managerial saat merespons kondisi pasar.
Keputusan managerial yang dilakukan oleh Pop Mart sudah sesuai dengan kondisi saat itu, saat permintaan meningkat secara signifikan, jawaban nya pasti: produksi lebih banyak. Pop Mart yang biasa memproduksi 300,000 barang per bulan nya di tahun 2024, mendadak menjadi memproduksi 30 juta barang per bulan di akihr 2025. Hal ini tentunya merupakan hal logis yang dijalankan, namun sayang nya… Labubu sendiri adalah barang yang bergantung pada konsep yang disebut sebagai Scarcity Marketing. Scarcity Marketing secara sederhana dapat diartikan sebagai konsep kelangkaan barang yang membuat suatu benda laku dan dicari banyak orang. Dalam konteks Labubu, Pop Mart menjawab permintaan pasar dengan memproduksi segala bentuk produk dari Labubu, dalam jumlah yang besar. Merespons hal ini, para Scalpers yang tadinya memenuhi pasar mulai melepas barang mereka dengan harga wajar hingga akhirnya harga discount, yang membuat pasar jual beli Labubu juga secara otomatis jatuh. Selain itu, Labubu sendiri bukanlah karakter yang memiliki cerita panjang, dia hanyalah karakter yang keluar dari buku anak sebanyak 3 volume yang diproduksi ber tahun-tahun lalu, cukup susah mempertahankan relevansi karakter tanpa ada cerita tersendiri.
Mungkin ketiga hal tersebut yang dapat kita pelajari dari kenaikan dan juga kejatuhan cepat dari karakter kelinci bertampang seram dengan senyuman bergigi yang khas ini. Beberapa perusahaan tampaknya berhasil menjalankan konsep Scarcity Marketing, seperti jam tangan Rolex sebagai gambaran, Namun tidak sedikit juga yang gagal dalam menerapkan nya, seperti streetwear Supreme yang pernah menjadi salah satu hyped item juga. Jadi, apa yang dapat kita simpukan? Scarcity marketing perlu diketahui dan dipahami, namun pada akhirnya, bisnis perlu membuat keputusan yang menentukan arah, masa depan, dan juga mungkin, nasib serta keberuntungan dari suatu produk. Seperti kata-kata terkenal dari series The Monsters Kasing Lung; “every day is an adventure if you look at it through a monster’s eyes”.
Sumber:
Keskin S. (2026). Scarcity Marketing: 10 Proven Tactics to Boost Ecommerce Sales. Retrieved September 07, 2026, from https://www.drip.com/blog/scarcity-marketing.
Thomas L. Wheelen J., David Hunger, Alan N. Hoffman, Charles E. Bamford (2018). Strategic Management and Business Policy: Globalization, Innovation and Sustainability. USA: Pearson Education Inc.
Comments :