Harga BBM Naik, Mengapa Kafe dan Tempat Wisata Tetap Ramai? Memahami Fenomena Lipstick Effect di Era Experience Economy

Di tengah kenaikan harga BBM, biaya hidup yang terus meningkat, serta berbagai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, muncul sebuah fenomena yang menarik untuk diamati. Banyak orang mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, namun pada saat yang sama kafe-kafe estetik tetap dipenuhi pengunjung, destinasi wisata lokal ramai setiap akhir pekan, dan restoran dengan konsep unik terus bermunculan.
Sekilas fenomena ini terlihat paradoks. Jika kondisi ekonomi sedang sulit, mengapa masyarakat masih menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe, staycation, atau berwisata?
Jawabannya dapat dijelaskan melalui fenomena yang dikenal sebagai Lipstick Effect.
Dari Barang Mewah ke Pengalaman Mewah yang Terjangkau
Konsep Lipstick Effect menjelaskan bahwa ketika kondisi ekonomi sedang menekan, konsumen cenderung menunda pembelian barang-barang mahal seperti kendaraan, properti, atau produk elektronik premium. Namun, mereka tetap mencari bentuk kesenangan yang relatif terjangkau untuk menjaga kualitas hidup dan kesehatan mental.
Jika pada masa lalu bentuk affordable luxury tersebut berupa kosmetik atau aksesori, saat ini tren tersebut berkembang menjadi pengalaman yang memberikan kebahagiaan sesaat, seperti:
- Nongkrong di kafe estetik
- Staycation singkat
- Wisata alam lokal
- Kuliner viral
- Menonton konser atau acara hiburan
- Mengunjungi tempat-tempat yang menarik untuk media sosial
Konsumen tidak sekadar membeli produk, tetapi membeli pengalaman dan perasaan yang menyertainya.
Mengapa Kafe Tetap Ramai?
Bagi generasi muda dan pekerja urban, kafe kini bukan hanya tempat membeli makanan atau minuman. Kafe telah berkembang menjadi ruang sosial, tempat bekerja, tempat bertemu relasi, sekaligus sarana melepas stres setelah rutinitas yang melelahkan.
Penelitian mengenai budaya work from cafe menunjukkan bahwa generasi muda memandang kafe sebagai ruang yang mendukung produktivitas, interaksi sosial, dan gaya hidup modern.
Dengan biaya yang relatif terjangkau dibandingkan liburan besar atau pembelian barang mewah, menghabiskan beberapa jam di kafe menjadi bentuk self-reward yang mudah dijangkau.
Banyak orang berpikir:
“Mungkin saya belum bisa liburan ke luar negeri tahun ini, tetapi saya masih bisa menikmati sore yang menyenangkan di kafe favorit.”
Wisata Lokal Menjadi Alternatif Pelarian
Fenomena serupa juga terjadi pada sektor pariwisata. Ketika kemampuan untuk melakukan perjalanan mahal menurun, masyarakat tidak serta-merta berhenti berwisata. Mereka justru mengalihkan pilihan ke destinasi yang lebih dekat, lebih murah, dan lebih mudah dijangkau.
Muncul tren:
- One day trip
- Wisata alam sekitar kota
- Staycation akhir pekan
- Glamping
- Wisata kuliner lokal
Pergeseran ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan rekreasi tidak hilang ketika ekonomi melambat. Yang berubah adalah cara masyarakat memenuhi kebutuhan tersebut.
Media Sosial Memperkuat Keinginan untuk “Healing”
Peran media sosial juga tidak dapat diabaikan.
Setiap hari masyarakat melihat unggahan teman, influencer, atau kreator konten yang sedang menikmati suasana kafe, berwisata, atau mencoba tempat baru. Paparan ini menciptakan dorongan psikologis untuk ikut merasakan pengalaman yang sama.
Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan, aktivitas seperti nongkrong atau wisata singkat sering dianggap sebagai bentuk healing yang membantu menjaga keseimbangan emosional.
Fenomena ini selaras dengan konsep hedonic consumption, yaitu konsumsi yang didorong oleh pencarian kesenangan, kenyamanan, dan pengalaman emosional positif.

Peluang Besar bagi Wirausaha Muda
Bagi pelaku usaha dan tenant inkubator bisnis, fenomena ini memberikan pelajaran penting.
Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk. Mereka membeli:
- Pengalaman
- Suasana
- Cerita
- Kenyamanan
- Konten yang dapat dibagikan di media sosial
Karena itu, bisnis yang menawarkan pengalaman unik sering kali mampu bertahan bahkan ketika daya beli sedang mengalami tekanan.
Sebuah kafe dengan desain menarik, restoran dengan konsep berbeda, atau destinasi wisata yang instagramable memiliki peluang besar untuk menarik konsumen yang sedang mencari affordable escape dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Pelajaran bagi Mahasiswa Entrepreneur
Banyak wirausaha pemula menganggap bahwa ketika ekonomi sulit maka seluruh peluang bisnis akan menurun. Faktanya, yang sering terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, bukan hilangnya konsumsi.
Masyarakat tetap mengeluarkan uang, tetapi lebih selektif terhadap apa yang mereka anggap bernilai.
Mereka mungkin menunda membeli barang mahal, namun tetap bersedia membayar untuk pengalaman yang memberikan kebahagiaan, kenyamanan, dan kenangan.
Di sinilah peluang terbesar bagi entrepreneur muda: memahami bahwa konsumen modern tidak hanya mencari produk yang baik, tetapi juga pengalaman yang bermakna.
Penutup
Ramainya kafe, tempat wisata, dan restoran estetik di tengah kenaikan biaya hidup bukanlah sebuah kontradiksi. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan tekanan ekonomi melalui bentuk-bentuk konsumsi yang lebih terjangkau namun tetap memberikan kepuasan emosional.
Melalui perspektif Lipstick Effect, kita dapat memahami bahwa di tengah berbagai tantangan ekonomi, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menikmati hidup. Bagi para entrepreneur muda, memahami kebutuhan emosional ini dapat menjadi kunci untuk menciptakan bisnis yang relevan, tangguh, dan berkelanjutan di masa depan.
Referensi (2024–2025)
- Suardana, I.B.R. (2024). Fenomena Lipstick Effect. Bali Post.
- Kompas.com. (2024). Ramai soal Antre Labubu dan Tiket Konser Ludes di Tengah Lesunya Ekonomi, Benarkah Lipstick Effect?
- ANTARA News. (2025). The Lipstick Effect: Self-Reward Spending Amid Economic Pressures.
- Detik Finance. (2025). Lipstick Effect Beri Kenikmatan Sesaat, Alarm Tanda Bahaya buat Ekonomi.
- Nindhita, V. & Arifin, A. (2024). Analisis Faktor Penyebab Fenomena Ngopi Dalam Budaya Work From Cafe: Studi Perilaku Konsumen. Journal of Social, Culture, and Language.
Comments :