Membangun Pemimpin Inspiratif di Lingkungan Pendidikan: Mengapa “Start with WHY” Menjadi Kunci
Dalam dunia pendidikan modern, peran pemimpin tidak lagi sekadar mengatur administrasi atau memastikan proses belajar berjalan sesuai rencana. Pemimpin hari ini, terutama di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi, dituntut untuk menjadi sosok yang mampu menggerakkan, menginspirasi, dan menumbuhkan makna dalam setiap tindakan.
Kutipan dari Martin Luther King Jr., “Saya punya mimpi,” menjadi contoh kuat bahwa orang tidak mengikuti rencana, tetapi mengikuti keyakinan, visi, dan nilai yang diyakini oleh pemimpinnya. Begitu pula dengan Wright Brothers, yang berhasil menciptakan sejarah bukan karena dana besar, tetapi karena WHY yang kuat: keyakinan bahwa manusia dapat terbang. Inspirasi inilah yang memberi ketekunan, keberanian, dan dorongan untuk tidak menyerah.

Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, prinsip ini menegaskan bahwa pendidik dan pemimpin sekolah harus menjadi sumber makna bagi komunitasnya. Mereka bukan hanya mengatur proses belajar, tetapi juga membantu membentuk tujuan, nilai, dan arah transformasi pendidikan.
Managerial vs Inspirational Leadership: Menemukan Keseimbangan
Pemimpin manajerial berfokus pada sistem dan hasil—mereka menjalankan prosedur, menjaga disiplin, dan memastikan target tercapai. Sebaliknya, pemimpin inspiratif berfokus pada makna dan manusia. Mereka membangun hubungan emosional, mengasah nilai, dan memberikan arah melalui visi yang kuat.
Namun, kondisi ideal bukanlah memilih salah satu, melainkan menggabungkan keduanya. Pemimpin yang efektif harus mampu menggunakan keterampilan manajerial untuk menciptakan struktur yang kuat, sekaligus memanfaatkan kemampuan inspiratifnya untuk menggerakkan tim menuju visi bersama.

Golden Circle Simon Sinek: Memulai dari WHY
Konsep The Golden Circle dari Simon Sinek menjadi fondasi pembentukan pemimpin inspiratif dalam workshop ini. Golden Circle terdiri dari tiga unsur:
- WHY – alasan, keyakinan, dan tujuan
- HOW – nilai, proses, dan cara kerja
- WHAT – program, kegiatan, dan hasil
Pemimpin inspiratif selalu memulai dari WHY. Ketika pemimpin bertanya “Mengapa ini penting bagi saya dan orang lain?”, ia membangun landasan kepercayaan yang kuat. Pendidikan modern membutuhkan pemimpin yang mampu menjelaskan makna, bukan hanya prosedur.
contoh Golden Circle dalam konteks sekolah, misalnya:
- WHY: setiap siswa memiliki potensi menjadi pembelajar mandiri.
- HOW: memberi ruang berpikir kritis, berani mencoba, dan belajar dari proses.
- WHAT: merancang pembelajaran berbasis proyek.
Sedangkan kalau pemimpin inspiratif memiliki lima karakter utama, yaitu:
- Visionary – memiliki arah dan visi yang jelas
- Fostering – tulus, jujur, membantu perkembangan orang lain
- Empathy – mampu mendengarkan dan membangun ikatan
- Empowering – memberikan ruang, kepercayaan, dan pendelegasian
- Reflective – terus belajar dari pengalaman
Kelima pilar ini membentuk pemimpin yang bukan sekadar mengatur, tetapi juga memanusiakan dan mengembangkan timnya. Seperti kata Simon Sinek: “Leadership is not about being in charge, but about taking care of those in your charge.”
Sumber :
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational Leadership. Lawrence Erlbaum.
Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2017). The Leadership Challenge. Wiley.
Sinek, Simon. (2009). Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action. Penguin Books.
Sinek, Simon. (2014). Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t. Penguin Books.
Penulis : Narita Risdianovi, S.T., M.B.A., CDM.
Comments :