FOMO Anak Muda: Rasa Takut Tertinggal di Era Digital
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin sering muncul di kalangan generasi muda, terutama Gen Z yang hidup di era digital dan media sosial. FOMO merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa cemas atau takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks kehidupan anak muda saat ini, fenomena tersebut menjadi semakin kompleks karena media sosial menampilkan kehidupan orang lain secara terus-menerus, seolah-olah setiap orang sedang menjalani hidup yang lebih menarik dan sukses.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam Arimbi Journal (2025), FOMO dapat memengaruhi kesejahteraan emosional individu, terutama mahasiswa dan remaja. Mereka merasa perlu untuk terus memantau aktivitas orang lain di media sosial agar tetap “terhubung” dan tidak dianggap ketinggalan tren. Kondisi ini seringkali berujung pada perilaku kompulsif seperti membuka media sosial secara berulang, merasa bersalah saat tidak aktif di dunia maya, hingga munculnya tekanan sosial untuk terus tampil relevan dan menarik. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa FOMO berkaitan erat dengan rendahnya tingkat self-esteem dan meningkatnya rasa cemas sosial. Generasi muda yang mengalami FOMO cenderung membandingkan diri dengan orang lain secara tidak realistis, sehingga menimbulkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Fenomena ini sering diperparah oleh algoritma media sosial yang secara sengaja menampilkan konten populer dan gaya hidup ideal, memperkuat persepsi bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik.
Selain itu, FOMO juga memiliki dampak terhadap perilaku konsumtif anak muda. Studi oleh Triwikrama Journal (2025) mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa membeli barang atau mengikuti tren bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk terlihat tidak tertinggal. Misalnya, mengikuti challenge viral, membeli produk yang sedang ramai di TikTok, atau mengunjungi tempat-tempat yang sedang menjadi sorotan di media sosial. Dorongan sosial ini menciptakan budaya fear-based consumption — konsumsi yang didasari rasa takut kehilangan momen sosial, bukan kebutuhan pribadi.

Dari perspektif pendidikan, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi dosen dan lembaga pendidikan tinggi. Mahasiswa dengan tingkat FOMO tinggi sering kali mengalami kesulitan fokus, cenderung mudah terdistraksi, dan memiliki tingkat kecemasan akademik yang lebih besar. Mereka merasa harus selalu aktif di dunia digital bahkan ketika sedang belajar, sehingga waktu istirahat dan konsentrasi mereka terganggu.
Mengatasi FOMO di kalangan anak muda memerlukan pendekatan yang komprehensif. Edukasi digital dan literasi media perlu diperkuat agar mahasiswa mampu memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah representasi terpilih, bukan gambaran utuh kehidupan seseorang. Selain itu, penting juga untuk mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) dan keseimbangan digital (digital well-being) agar generasi muda dapat menggunakan teknologi secara sehat dan produktif.
Fenomena FOMO menjadi cermin tantangan sosial-psikologis generasi muda di era konektivitas tanpa batas. Rasa takut tertinggal kini tidak hanya berkaitan dengan kesempatan karier atau akademik, tetapi juga dengan kebutuhan akan validasi sosial. Maka dari itu, penting bagi masyarakat—terutama dunia pendidikan—untuk membantu generasi muda mengembangkan rasa percaya diri yang tidak bergantung pada pengakuan digital, melainkan pada pencapaian dan keseimbangan diri yang nyata.
Sumber Rujukan:
Arimbi Journal. (2025). FOMO (Fear of Missing Out) di Kalangan Gen-Z. Retrieved from https://journal.arimbi.or.id/index.php/Maeswara/article/download/1828/1992/8782
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial. (2025). Budaya Flexing di TikTok dan Dampaknya terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa. Retrieved from https://ejournal.cahayailmubangsa.institute/index.php/triwikrama/article/view/1042
Comments :