Keterangan gambar: Ilustrasi “Birds of Time” karya Clarencya Krisna Kinata

 

Bahasa visual (visual language) adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan komunikasi yang memiliki makna tertentu melalui elemen visual. Pemahaman mengenai bahasa visual sangat penting dimiliki oleh desainer komunikasi visual. Oleh karena itu, mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual di Satu University perlu mempelajari mata kuliah Bahasa Visual untuk memahami bagaimana media visual dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif dalam desain komunikasi visual. Dalam perkuliahan ini, mahasiswa diajak mengeksplorasi tiga aspek utama, yaitu semiotika, proses kreatif, dan gaya visual. Melalui ketiga aspek tersebut, mahasiswa dibimbing untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai elemen-elemen penting dalam menciptakan visual yang berangkat dari makna literal hingga menjadi bentuk representasi visual yang komunikatif.

Salah satu bentuk penerapan dalam mata kuliah Bahasa Visual adalah proyek Literal to Visual, di mana mahasiswa diminta menginterpretasikan lirik lagu favorit mereka ke dalam bentuk ilustrasi. Terinspirasi dari lagu “Birds of Time” karya Enna Alouette, Clarencya Krisna Kinata (DKV B29) menghadirkan ilustrasi yang menggambarkan nostalgia, pencarian jati diri, dan kerinduan akan tempat pulang. Lagu ini menghadirkan suasana reflektif yang mendalam, seolah mengajak pendengarnya menelusuri kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, baik secara fisik maupun emosional. Melalui lirik yang puitis dan metaforis, “Birds of Time” mengekspresikan perasaan terasing dari dunia sekaligus keinginan kuat untuk kembali pada sesuatu yang pernah terasa utuh dan bermakna. Salah satu tema utama dalam lagu ini adalah kerinduan. Kerinduan tersebut tidak hanya merujuk pada keinginan untuk kembali ke suatu tempat secara geografis, tetapi juga pada masa lalu, kenangan, atau kondisi batin tertentu yang pernah memberikan rasa aman. Lagu ini menggambarkan bagaimana waktu terus bergerak maju tanpa bisa dihentikan, sementara manusia sering kali tertinggal dalam ingatan dan perasaan yang belum sepenuhnya selesai. Kerinduan tersebut terasa personal, namun sekaligus universal, karena hampir setiap individu pernah mengalami perasaan kehilangan arah atau tidak memiliki tempat untuk kembali. Menurut Clarencya, tema pengasingan juga terasa kuat dalam lagu ini, terutama melalui lirik seperti “orphans of a prophecy”. Ungkapan ini dapat dimaknai sebagai simbol individu yang merasa terputus dari takdir atau tujuan hidup yang seharusnya mereka miliki. Kata “orphans” menegaskan rasa kesendirian dan ketiadaan tempat bergantung, sementara “prophecy” dapat ditafsirkan sebagai harapan, masa depan, atau janji yang tidak pernah terwujud. Kombinasi keduanya menciptakan gambaran tentang manusia yang hidup di antara harapan dan kenyataan, namun tidak sepenuhnya memiliki keduanya.

Metafora utama dalam lagu ini tergambar melalui kata-kata dalam judulnya, yaitu birds of time (burung waktu). Dalam banyak budaya, burung sering diasosiasikan dengan kebebasan, perjalanan, serta penghubung antara satu tempat dengan tempat lain. Dalam konteks lagu ini, burung waktu diminta untuk membawa sang tokoh kembali ke “rumah”, sebagaimana tersirat dalam lirik “Can you take me home?”. Rumah di sini tidak selalu dimaknai secara literal, melainkan sebagai simbol tempat atau kondisi di mana seseorang merasa diterima, dipahami, dan dapat menjadi dirinya sendiri. Permintaan tersebut mencerminkan keputusasaan sekaligus harapan yang tersisa di tengah rasa keterasingan. Nuansa perjalanan juga menjadi elemen penting dalam lagu ini. Lirik seperti “Across the seas and oceans” menggambarkan perjalanan panjang yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Samudera dan lautan dapat dimaknai sebagai jarak, waktu, dan pengalaman hidup yang memisahkan seseorang dari masa lalunya. Perjalanan ini tidak selalu membawa seseorang menuju tempat yang lebih baik, tetapi justru memperkuat kesadaran akan rasa kehilangan dan ketidakpastian. Kesadaran eksistensial muncul dengan jelas dalam lirik “The universe never belonged to me”. Kalimat ini mencerminkan perasaan kecil dan tidak berarti di tengah luasnya dunia. Tokoh dalam lagu tersebut menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki dunia atau tempat permanen di dalamnya. Kesadaran ini menghadirkan nuansa melankolis, namun juga jujur, karena mencerminkan pengalaman banyak orang dewasa muda yang sedang mencari identitas dan makna hidup.

Secara keseluruhan, Birds of Time merupakan lagu reflektif yang menggambarkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi waktu, kehilangan, dan pencarian diri. Lagu ini tidak menawarkan jawaban yang pasti, melainkan mengajak pendengarnya untuk berdamai dengan rasa rindu, ketidakpastian, serta perjalanan hidup yang terus bergerak. Melalui lirik yang puitis dan atmosfer yang emosional, lagu ini menjadi ruang kontemplasi mengenai makna pulang, waktu, dan keberadaan manusia di dunia. Kedalaman dan nuansa sentimental lagu tersebut telah digambarkan Clarencya melalui ilustrasi yang apik yang didominasi warna biru yang lembut nan melankolis.

 

Melalui proyek seperti Literal to Visual ini, mahasiswa DKV Satu University tidak hanya berlatih mengembangkan kemampuan ilustrasi, tetapi juga belajar menerjemahkan makna, emosi, dan gagasan abstrak ke dalam bentuk visual yang komunikatif. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, peka terhadap makna simbolik, serta mampu mengolah inspirasi dari berbagai sumber dan pengalaman hidup manusia menjadi karya visual yang penuh makna.