Desain komunikasi visual dapat didefinisikan sebagai proses dan bentuk komunikasi yang menggunakan simbol visual untuk menyampaikan pesan atau informasi (He, 2022). Pada awalnya, desain komunikasi visual lebih dikenal dengan istilah desain grafis yang dipopulerkan oleh William Addison Dwiggins, seorang tipografer, ilustrator, dan desainer, yang pertama kali menyebut istilah tersebut dalam bukunya New Kind of Printing Calls for New Design pada tahun 1922. Menjelang akhir abad ke dua puluh, desain grafis mulai beralih ke bentuk digital seiring munculnya perangkat lunak seperti CorelDraw dan Adobe Creative Suites. Perkembangan teknologi ini mendorong terjadinya pergeseran istilah dari desain grafis menuju desain komunikasi visual sebagai bentuk perluasan peran dan cakupan bidang. Fokusnya tidak lagi semata pada estetika visual, melainkan juga pada strategi komunikasi yang efektif melalui berbagai media dan teknologi.

Sesungguhnya, komunikasi visual telah dilakukan manusia jauh sebelum mesin cetak ditemukan, bahkan jauh sebelum Leonardo Da Vinci melukis Monalisa pada era Renaissance. Komunikasi visual telah diinisiasi sejak puluhan ribu tahun sebelum masehi, ketika peradaban belum terbentuk dan manusia masih tinggal di dalam gua. Hal ini tampak dari lukisan karya manusia prasejarah yang menggunakan dinding gua sebagai media komunikasi untuk bercerita secara visual.

Di Indonesia, ditemukan lukisan gua era prasejarah yang dinobatkan sebagai yang tertua di dunia hingga artikel ini ditulis pada 12 Februari 2026. Lukisan yang diprediksi berusia 67.800 tahun tersebut berada di Gua Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Pada seni cadas berusia zaman Pleistosen di Sulawesi, terdapat figur manusia yang tampak terbang, perahu berisi penumpang, serta prajurit berkuda yang digambar dengan pigmen merah, cokelat, dan kadang hitam (Oktaviana, dkk, 2026). Lukisan ini ditemukan oleh Adhi Agus Oktaviana, arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, bersama National Geographic Explorer Maxime Aubert yang merupakan arkeolog dan geokimiawan dari Griffith University Australia, serta sejumlah peneliti lainnya. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 21 Januari 2026.

Sumber gambar : https://www.nationalgeographic.com/history/article/worlds-oldest-rock-art-indonesia-hand-stencil

 

Sebelumnya, pada tahun 2019, Aubert dan Oktaviana menemukan lukisan theriantrop, yaitu figur manusia dengan kepala dan ekor hewan yang sedang berburu babi hutan dan anoa, kerbau kerdil khas Sulawesi. Adegan naratif yang kemudian diketahui berusia sekitar 51.200 tahun ini menunjukkan bahwa manusia purba di Indonesia telah mampu membayangkan makhluk yang tidak benar benar ada. Cetakan tangan di Muna yang baru ditentukan usianya juga memperlihatkan bahwa para seniman yang membuatnya memiliki kemampuan kognitif serupa, yaitu kemampuan berpikir imajinatif dan simbolik.

Selain itu, terdapat pula lukisan gua Leang Karampuang di Desa Samangki, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang merupakan bagian dari Taman Arkeologi Leang Leang. Lukisan ini diperkirakan berusia 51.200 tahun dan menggambarkan interaksi antara tiga figur mirip manusia dengan seekor babi hutan. Lukisan tersebut ditemukan oleh tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Hasanuddin, Griffith University, dan Southern Cross University, kemudian dipublikasikan dalam jurnal Nature pada Juli 2024.

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Lubang_Jeriji_Sal%C3%A9h#/media/File:LHFage_Bouquet_de_Mains,_Gua_Jeriji_Saleh,_Kalimantan,_Indonesie..jpg

 

Temuan lain berasal dari Gua Lubang Jeriji Saleh di Karst Sangkulirang Mangkalihat, Kalimantan Timur, yang diperkirakan berusia antara 40.000 hingga 52.000 tahun. Lukisan ini menampilkan telapak tangan

dan hewan bertanduk seperti kerbau atau banteng. Lukisan tersebut ditemukan oleh tim peneliti Indonesia dan Prancis pada tahun 1996 yang terdiri dari Pindi Setiawan dari Institut Teknologi Bandung, penjelajah Prancis Luc Henri Fage, serta peneliti CNRS Michael Chazine. Penelitian lanjutan kemudian dilakukan oleh tim yang dipimpin Maxime Aubert dari Griffith University.

Fenomena serupa juga ditemukan di benua Eropa. Lukisan Spotted Horse dan jejak tangan di Gua Pech Merle, Prancis, diperkirakan dibuat sekitar tahun 22.000 sebelum masehi. Di dalamnya terdapat berbagai lukisan Paleolitik termasuk tanda abstrak dan cetakan tangan. Sejumlah peneliti berpendapat bahwa lukisan tangan Pech Merle merupakan ciri khas anggota suatu komunitas atau kultus tertentu, meskipun kemungkinan lain adalah hasil karya pelukis individu.

 

Sumber gambar: https://www.worldhistory.org/Altamira/

 

Di Spanyol, terdapat lukisan di Gua Altamira, Santander, yang ditemukan pada tahun 1879 dengan perkiraan usia antara 15.000 hingga 12.000 sebelum masehi. Lukisan sepanjang 196 meter di langit langit gua ini menampilkan objek utama berupa bison. Objek tersebut kemungkinan dilukis sebagai bagian dari ritual magis atau animisme agar perburuan berhasil, sebagai bentuk pemujaan leluhur, serta sebagai sarana mengajarkan keberanian dan kekuatan melalui catatan visual.

Lukisan gua juga ditemukan di Gua Lascaux, Dordogne, Prancis, yang diperkirakan berusia 15.000 hingga 13.000 sebelum masehi. Pada lukisan ini terlihat penggunaan twisted perspective, yaitu bison digambar dari samping namun tanduknya tampak dari arah depan sehingga menciptakan kesan ruang waktu datar. Beberapa hewan digambarkan hanya dalam bentuk siluet sebagai representasi arwah.

Lukisan gua merupakan bukti sejarah dari bentuk paling awal dari kegiatan menulis, yang berfungsi untuk menceritakan kisah kehidupan manusia prasejarah. Umumnya, lukisan gua prasejarah menampilkan objek hewan figuratif yang berkaitan dengan kisah perburuan, atau telapak tangan dan

figur manusia sebagai jejak kehadiran, semacam signature, sarana aktualisasi diri dan imajinasi manusia. Hal ini membuktikan bahwa terlepas dari perbedaan peradaban dan waktu, manusia selalu menemukan cara untuk berkomunikasi dengan sekitarnya melalui media visual.

 

Referensi

He, X. (2022). Interactive mode of visual communication based on information visualization theory. Computational Intelligence and Neuroscience, 2022, Article ID 4482669. https://doi.org/10.1155/2022/4482669

Institut Teknologi Bandung. (2022). Reminiscing Dr. Pindi cave exploration journeys. https://itb.ac.id/news/reminiscing-dr-pindi-cave-exploration-journeys/58967

Kleiner, F. S. (2018). Gardner’s art through the ages: A concise global history (16th ed.). Cengage Learning.

National Geographic. (2026.). World’s oldest rock art in Indonesia revealed by hand stencil. https://www.nationalgeographic.com/history/article/worlds-oldest-rock-art-indonesia-hand-stencil

Oktaviana, A. A., Joannes Boyau, R., Hakim, B., et al. (2024). Seni gua naratif di Indonesia pada 51.200 tahun yang lalu. Nature, 631, 814–818. https://doi.org/10.1038/s41586-024-07541-7

Oktaviana, A. A., Joannes Boyau, R., Hakim, B., et al. (2026). Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi. Nature. https://doi.org/10.1038/s41586-025-09968-y