Sumber gambar: Poster “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” karya Jemima Victoria Lunandi (NIM: 29100135024 – DKV Binusian 29)

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, atau yang lebih dikenal dengan singkatan Jasmerah, merupakan kutipan dari pidato terakhir Presiden Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1966. Hingga kini, kutipan tersebut masih relevan sebagai pengingat bahwa sejarah memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan arah perjalanan suatu bangsa. Sayangnya, kesadaran akan pentingnya sejarah perlahan mulai terkikis oleh waktu. Padahal, di era digital saat ini, akses terhadap informasi mengenai sejarah Indonesia semakin mudah diperoleh bagi siapa pun yang ingin mempelajarinya.

Dalam mata kuliah Bahasa Visual, Jemima Victoria Lunandi (DKV Binusian 29) terinspirasi oleh kutipan tersebut dan merancang sebuah poster bernuansa satir dengan menggunakan metafora visual juxtaposition serta gaya desain retro grafis Indonesia. Menurut Metcalfe (2013), teknik juxtaposition menempatkan dua objek secara berdampingan meskipun keduanya memiliki makna yang bertolak belakang, sehingga menghasilkan makna baru yang bersifat ironis, satir, sekaligus mampu menggugah kesadaran audiens. Metafora tersebut diwujudkan melalui penggabungan koran yang memuat berita mengenai UUD 1945 dan berbagai peristiwa sejarah penting sebagai pembungkus gorengan. Dalam kehidupan sehari-hari, kertas bekas memang sering dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan tanpa memperhatikan isi tulisan di dalamnya. Tidak jarang pula dokumen penting, catatan, hingga lembar ujian siswa berakhir menjadi pembungkus gorengan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa benda-benda yang sebelumnya memiliki nilai penting dapat kehilangan maknanya setelah dianggap tidak lagi memiliki fungsi praktis. Melalui analogi tersebut, Jemima ingin menyampaikan bahwa keberadaan fisik sejarah dan berbagai peristiwa penting di Indonesia sebenarnya masih ada, tetapi nilai dan maknanya perlahan memudar hingga hanya menyisakan formalitas semata.

Dalam ilustrasi poster, pembungkus gorengan yang menggunakan koran bekas dengan tajuk utama mengenai UUD 1945 merepresentasikan bagaimana sejarah telah bergeser dari sesuatu yang seharusnya dijaga, dipahami, dan dijadikan pembelajaran menjadi sekadar objek yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis dan sementara. UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi di Indonesia yang menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, melalui karya ini, Jemima mengajak audiens merefleksikan berbagai persoalan dalam penegakan hukum yang membuat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seolah semakin memudar. Tokoh utama dalam poster digambarkan sebagai seorang pria yang sedang memakan gorengan sambil mengenakan kemeja dan dasi, busana yang identik dengan kalangan berpendidikan maupun individu yang memiliki jabatan penting dalam masyarakat. Gesturnya yang tetap menikmati gorengan tanpa memedulikan bungkus koran yang sedang dipegang menunjukkan sikap acuh terhadap sesuatu yang sesungguhnya memiliki nilai penting. Melalui visual tersebut, poster mengajak audiens mempertanyakan apakah pendidikan, jabatan, dan penampilan formal selalu berjalan beriringan dengan integritas. Karya ini juga menyiratkan bahwa individu yang memiliki kewenangan dan akses lebih besar tetap memiliki kemungkinan untuk memanipulasi hukum apabila nilai-nilai moral tidak dijunjung tinggi. Kalimat utama “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” berfungsi sebagai penegasan atas keseluruhan metafora visual yang dihadirkan dalam poster. Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk memahami kesalahan, perjuangan, serta perkembangan suatu bangsa. Sementara itu, subjudul “(kecuali kalau butuh bungkus untuk gorengan)” merupakan bentuk ironi, bukan ajakan secara harfiah, melainkan sindiran terhadap kebiasaan masyarakat yang tanpa sadar memperlakukan sesuatu yang penting layaknya barang sekali pakai.

Dalam proses perancangannya, Jemima memilih gaya desain retro grafis Indonesia untuk membangun keterkaitan visual dengan periode sejarah yang menjadi inti pesan karya. Menurutnya, gaya tersebut merupakan pendekatan visual yang paling sesuai untuk menyampaikan kampanye yang dibalut humor, satir, dan ironi. Referensi visual diambil dari desain grafis Indonesia pada era 1970–1980-an, ketika media cetak seperti koran, majalah, poster, baliho, dan iklan masih menjadi sarana komunikasi utama masyarakat. Berdasarkan referensi tersebut, Jemima mengembangkan komposisi dengan bentuk-bentuk geometris sederhana sebagai bingkai, ornamen dekoratif yang berulang, serta tata letak yang simetris. Karakter visual tersebut banyak ditemukan pada poster promosi, papan reklame, maupun desain kemasan pada era tersebut yang cenderung maksimalis dan memenuhi hampir seluruh bidang dengan elemen visual.

Palet warna yang digunakan merupakan kombinasi biru, oranye, merah marun, kuning, dan merah muda untuk menciptakan kontras yang tinggi sekaligus menghadirkan kesan ceria dan berani. Warna biru berfungsi sebagai latar utama yang memberikan keseimbangan terhadap dominasi warna-warna hangat. Sementara itu, oranye dan kuning menjadi aksen yang mampu mengarahkan perhatian audiens pada elemen-elemen penting, terutama judul dan ilustrasi. Warna merah marun digunakan sebagai bayangan tipografi sekaligus menggantikan warna hitam pada rambut, mata, dan mulut tokoh ilustrasi sehingga memperkuat karakter visual poster. Pemilihan palet warna tersebut juga mencerminkan karakter media cetak pada masa lalu yang umumnya menggunakan warna-warna solid dengan tingkat saturasi tinggi akibat keterbatasan teknologi reproduksi cetak pada masa itu. Tipografi yang digunakan adalah font Kelvinized untuk judul utama “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” karena memiliki karakter retro yang tebal, dinamis, miring, dan diperkuat dengan efek bayangan sehingga mampu langsung menarik perhatian audiens. Sebaliknya, subjudul “(kecuali kalau butuh bungkus untuk gorengan)” menggunakan font sans-serif Star Avenue dengan ukuran yang lebih kecil sehingga berfungsi sebagai penjelas konteks satir tanpa mengurangi penekanan pada pesan utama.

Secara keseluruhan, poster karya Jemima Victoria Lunandi memanfaatkan metafora visual juxtaposition yang dipadukan dengan gaya desain retro grafis Indonesia untuk menyampaikan kritik sosial mengenai semakin pudarnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sejarah. Metafora koran berisi berita sejarah yang dijadikan pembungkus gorengan menggambarkan bagaimana sejarah, yang seharusnya menjadi identitas dan sumber pembelajaran bangsa, justru diperlakukan layaknya benda yang tidak lagi memiliki nilai. Konsep tersebut diperkuat melalui penerapan karakter visual retro grafis Indonesia era 1970–1980-an, yang ditandai dengan penggunaan warna-warna kontras, tipografi display yang tegas, komposisi yang padat, serta humor satir yang menghadirkan kesan ceria sekaligus menyimpan kritik sosial yang kuat.

 

Referensi:

Metcalfe, A. S. (2015). Visual juxtaposition as qualitative inquiry in educational research. International Journal of Qualitative Studies in Education, 28(2), 151–167. https://doi.org/10.1080/09518398.2013.855340

Kuncahyono, T. (2019, March 15). Jas Merah. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/jas-merah-2