Semiotika Poster Film ‘Eksil’ melalui Pendekatan Ferdinand de Saussure oleh Fauzan Azka Dermawan (DKV B29)

Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi visual yang mampu menyampaikan pesan sosial, budaya, hingga politik kepada masyarakat. Dalam industri film, poster memiliki peran penting sebagai media promosi sekaligus representasi visual yang merangkum tema dan suasana film. Melalui elemen seperti warna, ilustrasi, komposisi, dan tipografi, poster dapat membangun persepsi awal serta menyampaikan makna kepada calon penonton.
Salah satu poster film Indonesia dengan konsep yang sederhana namun menarik adalah poster film dokumenter ‘Eksil’, yang dikaji oleh Fauzan Azka Dermawan (DKV B29) dalam mata kuliah Bahasa Visual. Film dokumenter Indonesia ini dirilis tahun 2022 dan disutradarai serta diproduseri oleh Lola Amaria. Film ini mengangkat kisah warga negara Indonesia yang mengalami pengasingan akibat peristiwa politik tahun 1965. Selain berbicara tentang sejarah, film ini juga menyoroti isu kemanusiaan seperti kehilangan identitas, keterasingan, dan kerinduan terhadap tanah air. Meski tampil sederhana, poster Eksil menyimpan berbagai simbol visual yang kaya makna. Untuk memahami pesan tersebut, pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure digunakan sebagai metode analisis.
Peristiwa politik tahun 1965 menjadi latar penting dalam film ini. Setelah Gerakan 30 September (G30S), terjadi perubahan politik besar yang berdampak pada banyak warga negara Indonesia. Selain penangkapan dan hilangnya hak-hak sipil, sejumlah warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri tidak diizinkan kembali ke tanah air. Mereka kemudian hidup dalam pengasingan selama puluhan tahun dan dikenal sebagai eksil. Menurut teori Ferdinand de Saussure, tanda terdiri atas dua unsur, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk fisik yang dapat dilihat, seperti gambar, warna, atau teks. Sementara itu, petanda adalah konsep atau makna yang diwakili oleh bentuk tersebut. Makna muncul dari hubungan antara penanda dan petanda yang dibentuk melalui kesepakatan sosial dan budaya. Dalam desain visual, setiap elemen dapat berfungsi sebagai tanda yang menyampaikan pesan tertentu kepada audiens.
Pada poster Eksil, warna merah menjadi elemen yang paling dominan. Sebagai penanda, warna merah tampil kuat dan menarik perhatian. Sebagai petanda, warna ini dapat dimaknai sebagai simbol nasionalisme, perjuangan, konflik, dan kekerasan. Dalam konteks film, warna merah menghadirkan ironi antara kecintaan terhadap tanah air dan trauma sejarah yang menyebabkan seseorang harus hidup jauh dari negaranya sendiri.
Dari sisi tipografi, judul “EKSIL” ditampilkan menggunakan huruf kapital dengan jarak antarhuruf yang lebar. Bentuk visual ini menciptakan kesan renggang dan terpisah. Makna yang dihasilkan adalah gambaran tentang jarak, keterasingan, dan keterpisahan yang dialami para eksil, baik secara fisik maupun emosional. Elemen berikutnya adalah sosok seorang pria kecil yang berjalan sambil membawa koper sebagai pengganti huruf ‘I’. Secara visual, figur ini menunjukkan seseorang yang sedang melakukan perjalanan. Namun secara makna, sosok tersebut melambangkan kehidupan eksil yang penuh keterpaksaan, ketidakpastian, dan kehilangan tempat untuk pulang. Koper yang dibawanya menjadi simbol perpindahan dan perjalanan panjang yang tidak dipilih secara sukarela. Selain itu, terdapat bayangan panjang yang mengikuti figur utama. Bayangan ini dapat dimaknai sebagai simbol trauma dan jejak masa lalu yang terus membayangi kehidupan para eksil. Kehadirannya menunjukkan bahwa pengalaman pengasingan bukan hanya peristiwa sesaat, melainkan luka sejarah yang berdampak panjang terhadap kehidupan seseorang.
Poster ini juga menampilkan teks naratif yang berbicara tentang tanah air dan pengusiran. Teks ini berfungsi memperjelas konteks cerita sekaligus memperkuat pesan emosional film. Makna yang muncul adalah konflik batin antara rasa memiliki terhadap negara dan kenyataan bahwa negara tersebut tidak lagi menerima kehadiran mereka. Kontradiksi inilah yang menjadi pengalaman utama para eksil.
Secara keseluruhan, poster film Eksil berhasil membangun makna yang kuat melalui perpaduan elemen visual yang sederhana. Warna merah, figur dengan koper, teks naratif, tipografi, dan bayangan saling mendukung dalam menyampaikan pesan tentang keterasingan, kehilangan identitas, serta hubungan yang kompleks antara individu dan negara. Melalui pendekatan semiotika Saussure, dapat dipahami bahwa setiap elemen visual dalam poster berfungsi sebagai tanda yang membentuk makna secara utuh.
Bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV), analisis semiotika menunjukkan bahwa desain tidak hanya tentang estetika, tetapi juga tentang bagaimana pesan dibangun dan dipahami oleh audiens. Memahami semiotika membantu desainer merancang karya yang lebih bermakna, komunikatif, dan memiliki dasar konseptual yang kuat. Poster Eksilmenjadi contoh bahwa visual yang sederhana dapat menyampaikan pesan yang mendalam ketika setiap elemennya dirancang dengan pertimbangan makna yang matang. Melalui kajian semiotika, kita dapat melihat bahwa poster film bukan sekadar media promosi, melainkan juga teks visual yang merepresentasikan realitas sosial dan pengalaman manusia. Poster Eksil membuktikan bahwa desain komunikasi visual memiliki kemampuan untuk mengangkat isu sejarah dan kemanusiaan secara efektif, sekaligus mengajak audiens untuk memahami makna yang tersembunyi di balik sebuah karya visual.
Sumber gambar: https://persmanifest.com/2024/02/29/eksil-surat-cinta-dari-mereka-yang-dicampakkan-negara-2/
Referensi:
Ferdinand de Saussure. (n.d.). Semiotics and the Theory of Signs.Diakses dari: https://www.britannica.com/biography/Ferdinand-de-Saussure
Roland Barthes. (n.d.). Semiotics and Mythologies. Diakses dari: https://www.britannica.com/biography/Roland-Barthes
Semiotics. (n.d.). Semiotics: The Study of Signs. Diakses dari: https://www.britannica.com/science/semiotics
Gerakan 30 September. (n.d.). G30S 1965. Diakses dari: https://www.britannica.com/event/G30S
Eksil. (n.d.). Film Eksil Overview.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (n.d.). Sejarah Indonesia Modern. Diakses dari: https://www.kemdikbud.go.id
Comments :