Dunia Desain Komunikasi Visual sangat lekat dengan brand identity karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan pesan secara jelas, konsisten, dan bermakna. Jika DKV adalah medium dan bahasa visual yang digunakan untuk berkomunikasi, maka brand identity adalah wajah dan kepribadian dari pesan tersebut. Tanpa identitas yang jelas, desain kehilangan arah. Sebaliknya, tanpa desain yang tepat, identitas brand tidak pernah benar-benar hadir dan dirasakan publik.

Brand dapat dipahami sebagai nama merk, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari semuanya yang berfungsi membedakan suatu produk, jasa, atau organisasi dari kompetitornya. Lebih dari sekadar penanda, brand merepresentasikan persepsi, emosi, dan pengalaman konsumen terhadap suatu entitas. Kotler dan Keller (2006) menegaskan bahwa brand identity merupakan seperangkat asosiasi unik yang dirancang secara strategis untuk membentuk brand image, membangun loyalitas, serta memandu keputusan pembelian konsumen melalui pengalaman dan informasi yang mereka terima. Dalam konteks ini, brand identity adalah sebuah sistem identitas yang dirancang secara sadar oleh suatu brand untuk mengomunikasikan karakter sebuah brand, apa nilai yang dianutnya, serta bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh audiens. Sistem inilah yang kemudian menjadi kerangka strategis bagi praktik Desain Komunikasi Visual.

Elemen-elemen Pembentuk Brand Identity

Secara konseptual, brand identity terdiri dari berbagai elemen yang saling terkait dan tidak dapat berdiri sendiri. Elemen paling mendasar adalah brand purpose dan brand values. Brand purpose menjawab pertanyaan mengapa sebuah brand ada, sementara brand values mencerminkan prinsip dan keyakinan yang menjadi fondasi perilaku serta komunikasi brand. Meskipun bersifat abstrak, elemen ini sangat menentukan arah visual dan pesan yang disampaikan. Tanpa identitas visual yang berangkat dari tujuan dan nilai yang jelas, suatu brand akan mudah terombang-ambing oleh tren dan kehilangan makna jangka panjang.

Di atas fondasi tersebut, terdapat brand personality, yaitu karakter brand yang dianalogikan seperti kepribadian manusia. Apakah suatu brand ingin tampil profesional, ramah, berani, eksperimental, atau elegan. Kepribadian ini berperan besar dalam menentukan gaya visual, tone komunikasi, serta pendekatan desain secara keseluruhan. Dalam praktik DKV, brand personality menjadi jembatan antara strategi dan keputusan visual seperti pemilihan warna, tipografi, ilustrasi, hingga gaya fotografi.

Selanjutnya, brand positioning menentukan bagaimana sebuah brand ingin ditempatkan di benak audiens dibandingkan para kompetitor. Positioning menjawab pertanyaan tentang keunikan dan relevansi brand. Identitas visual disini berfungsi sebagai alat untuk memperkuat positioning secara konsisten. Brand yang memosisikan diri sebagai premium, akan menggunakan bahasa visual yang berbeda dari brand yang menyasar segmen mass market.

Elemen yang paling mudah dikenali publik adalah elemen visual brand identity, seperti logo, palet warna, tipografi, sistem grafis, ikon, ilustrasi, dan gaya fotografi. Namun, elemen visual ini seharusnya dipahami sebagai sebuah sistem yang saling mendukung, bukan potongan terpisah. Elemen visual tersebut harus bersifat adaptif lintas media tanpa kehilangan konsistensi dan karakter. Selain visual, brand identity juga mencakup brand voice dan tone, yaitu cara brand berbicara kepada audiens. Brand voice bersifat konsisten dan mencerminkan kepribadian brand, sementara tone dapat menyesuaikan konteks dan situasi terkini. Dalam praktik desain komunikasi, aspek ini memengaruhi copywriting, storytelling, hingga pendekatan visual dalam menyampaikan pesan. Dengan demikian, brand identity tidak hanya “terlihat”, tetapi juga “terdengar” dan dirasakan.

Untuk menjaga konsistensi, seluruh elemen tersebut dirangkum dalam brand guidelines, yaitu panduan yang mengatur penggunaan identitas brand secara sistematis. Brand guidelines sangat penting ketika brand dikelola oleh banyak pihak atau diaplikasikan di berbagai media, sehingga identitas tetap terjaga dalam jangka panjang. Dalam perkembangan branding modern, brand identity juga mencakup experience dan touchpoints, yaitu pengalaman audiens di setiap titik interaksi dengan brand, mulai dari media sosial, website, kemasan, hingga interaksi layanan. Desain Komunikasi Visual memastikan bahwa setiap pengalaman tersebut selaras dengan identitas brand yang telah dirancang, sehingga pesan brand tetap utuh dan konsisten.

David Haigh menyebutkan bahwa brand memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi navigasi, yaitu membantu konsumen memilih di tengah banyaknya pilihan. Kedua, fungsi jaminan, yaitu mengomunikasikan kualitas dan membangun rasa percaya. Ketiga, fungsi keterlibatan, yaitu mendorong konsumen untuk mengidentifikasi diri dengan brand melalui citra dan asosiasi yang khas.

Identitas brand bersifat nyata dan multisensorik. Ia dapat dilihat, disentuh, dikenakan, bahkan dirasakan melalui pengalaman interaksi. Di sinilah desain komunikasi visual memiliki peran krusial. Menurut Moira Cullen, desain mampu membedakan dan mewujudkan hal-hal tak berwujud seperti emosi, konteks, dan esensi, yang justru paling penting bagi konsumen (Wheeler, 2013). Branding merupakan proses yang terstruktur, meliputi riset, perumusan strategi, perancangan identitas, penciptaan touchpoints, serta pengelolaan aset brand. Strategi branding yang efektif memberikan ide sentral yang menyatukan seluruh perilaku, tindakan, dan komunikasi brand. Strategi ini dibangun dari visi, selaras dengan strategi bisnis, berangkat dari nilai dan budaya organisasi, serta mencerminkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan persepsi audiens.

Arsitektur Brand, Nama, dan Ekspresi Visual

Dalam organisasi yang kompleks, arsitektur brand menjadi penting untuk mengatur hierarki dan hubungan antar brand, produk, dan layanan. Contohnya Google memiliki berbagai produk seperti Google Maps, Google Chrome, Gmail, hingga YouTube yang tetap berada dalam satu sistem identitas yang konsisten. Menurut Brian Resnick, brand yang kuat mampu menyatukan secara internal dan membedakan secara eksternal (Wheeler, 2013). Pemilihan nama brand juga merupakan bagian strategis dari brand identity. Nama yang efektif bersifat bermakna, khas, berorientasi masa depan, modular, dapat dilindungi secara hukum, memiliki konotasi positif, dan mudah diterapkan secara visual. Jenis nama dapat beragam, mulai dari nama pendiri, metafora, deskriptif, akronim, hingga rekaan dan ejaan kreatif. Tagline atau slogan berfungsi merangkum esensi, kepribadian, dan positioning brand dalam frasa singkat. Meskipun tampak sederhana, tagline lahir dari proses strategis dan kreatif yang intensif. Semuanya harus berprinsip keaslian (authenticity), karena brand yang memahami siapa dirinya dan apa yang ditawarkannya akan membangun identitas kuat yang berkelanjutan. Secara visual, identitas brand dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk brandmark, seperti wordmark, pictorial mark, abstract mark, emblem, maupun letterform (Wheeler, 2013). Seluruh identitas disatukan oleh look and feel, yaitu bahasa visual yang mencakup desain, warna, tipografi, citra, ikonografi, serta elemen sensorik lainnya yang membuat sebuah sistem visual mudah dikenali dan memiliki sudut pandang yang jelas.

Simpulan

Brand identity dan Desain Komunikasi Visual adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Brand identity memberikan arah strategis, sementara DKV menerjemahkannya menjadi pengalaman visual dan komunikasi yang nyata. Bagi mahasiswa dan publik, memahami keterkaitan ini penting agar desain tidak berhenti pada estetika, melainkan menjadi alat strategis yang membangun makna, kepercayaan, dan hubungan jangka panjang antara brand dan audiensnya.

 

Referensi:
Wheeler, A. (2013). Designing brand identity (4th ed.). Wiley.

Kotler, P., & Keller, K. L. (2006). Marketing management (12th ed.). Prentice Hall.

 

Sumber gambar : https://essential-addons.com/how-to-develop-a-brand-identity/