{"id":576,"date":"2026-10-26T08:09:55","date_gmt":"2026-10-26T08:09:55","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/?p=576"},"modified":"2026-10-26T08:09:55","modified_gmt":"2026-10-26T08:09:55","slug":"aplikasi-keren-tapi-bikin-bingung-kenali-6-kesalahan-ui-ux-yang-sering-bikin-pengguna-kabur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/2026\/10\/26\/aplikasi-keren-tapi-bikin-bingung-kenali-6-kesalahan-ui-ux-yang-sering-bikin-pengguna-kabur\/","title":{"rendered":"Aplikasi Keren Tapi Bikin Bingung? Kenali 6 Kesalahan UI\/UX yang Sering Bikin Pengguna Kabur!"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-577\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-300x169.jpg 300w, https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-768x432.jpg 768w, https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX-480x270.jpg 480w, https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/Bad-vs-Good-UX_-6-Kesalahan-UI_UX.jpg 1672w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Pernah nggak, membuka aplikasi yang tampilannya keren banget, tapi begitu ingin menggunakan salah satu fiturnya, kamu malah kebingungan?<\/p>\n<p>Mau mencari produk, tombol pencariannya nggak kelihatan.<\/p>\n<p>Mau checkout, harus melewati banyak halaman.<\/p>\n<p>Mau kembali ke halaman sebelumnya, eh malah keluar dari aplikasi!<\/p>\n<p>Akhirnya, setelah beberapa menit mencoba, kamu menyerah dan memilih aplikasi lain.<\/p>\n<p>Padahal, mungkin aplikasi tersebut punya fitur lengkap dan desain yang terlihat aesthetic.<\/p>\n<p>Tapi kalau penggunanya malah frustrasi, apakah aplikasinya bisa dibilang bagus?<\/p>\n<p>Nah, di sinilah pentingnya <strong>User Interface (UI)<\/strong> dan <strong>User Experience (UX)<\/strong>.<\/p>\n<p>Dalam dunia pengembangan aplikasi, tampilan yang menarik memang penting. Tapi ada hal yang nggak kalah penting, yaitu memastikan aplikasi mudah dipahami dan nyaman digunakan.<\/p>\n<p>Karena seberapa canggih pun teknologi yang digunakan, kalau penggunanya kesulitan menyelesaikan aktivitas sederhana, aplikasi tersebut masih punya masalah yang perlu diperbaiki.<\/p>\n<p>Penasaran kesalahan apa saja yang sering terjadi?<\/p>\n<p>Yuk, kenalan dengan <strong>6 kesalahan UI\/UX yang bisa bikin pengguna malas menggunakan aplikasi!<\/strong><\/p>\n<h2>Kenalan Dulu: Apa Bedanya UI dan UX?<\/h2>\n<p>Sebelum membahas kesalahannya, kita pahami dua istilah yang sering muncul dalam dunia desain aplikasi.<\/p>\n<p><strong>UI (User Interface)<\/strong> adalah bagian antarmuka yang digunakan seseorang untuk berinteraksi dengan aplikasi.<\/p>\n<p>Contohnya:<\/p>\n<ul>\n<li>Warna dan tampilan halaman.<\/li>\n<li>Tombol dan ikon.<\/li>\n<li>Menu navigasi.<\/li>\n<li>Jenis dan ukuran font.<\/li>\n<li>Tata letak gambar dan informasi.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sederhananya, UI berkaitan dengan bagaimana sebuah antarmuka ditampilkan dan digunakan.<\/p>\n<p>Sementara <strong>UX (User Experience)<\/strong> adalah pengalaman keseluruhan yang dirasakan pengguna ketika berinteraksi dengan suatu produk atau layanan.<\/p>\n<p>UX mencakup kemudahan penggunaan, kenyamanan, efisiensi, hingga apakah pengguna berhasil mencapai tujuannya.<\/p>\n<p>Masih bingung?<\/p>\n<p>Bayangkan kamu datang ke sebuah coffee shop.<\/p>\n<p>Interiornya aesthetic, pencahayaannya bagus, dan desain menunya menarik. Itu bisa menjadi analogi untuk UI.<\/p>\n<p>Tapi ternyata kamu kesulitan menemukan kasir, proses pemesanannya membingungkan, dan informasi harga tidak jelas.<\/p>\n<p>Nah, pengalaman tersebut bisa menjadi analogi untuk UX yang kurang baik.<\/p>\n<p><strong>Jadi, UI yang bagus belum tentu menghasilkan UX yang bagus.<\/strong><\/p>\n<p>Keduanya saling berhubungan, tetapi memiliki fokus yang berbeda.<\/p>\n<p>Sekarang, mari kita lihat enam kesalahan yang sering muncul dalam desain aplikasi.<\/p>\n<h2>1. Navigasi Membingungkan: Mau Cari Fitur Malah Tersesat!<\/h2>\n<p>Bayangkan kamu sedang membuka aplikasi belanja online.<\/p>\n<p>Tujuanmu sederhana: mencari sepatu sneakers.<\/p>\n<p>Tapi begitu membuka aplikasinya, kamu malah dihadapkan dengan banyak menu.<\/p>\n<p>Ada <em>Explore<\/em>, <em>Discover<\/em>, <em>Collection<\/em>, <em>Lifestyle<\/em>, <em>Trending<\/em>, dan berbagai ikon yang nggak jelas fungsinya.<\/p>\n<p>Bukannya menemukan sepatu, kamu malah sibuk menebak harus menekan tombol yang mana.<\/p>\n<p>Rasanya seperti masuk ke labirin digital!<\/p>\n<p>Masalah seperti ini biasanya terjadi ketika <strong>navigasi aplikasi tidak dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna<\/strong>.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Pengguna biasanya membuka aplikasi dengan tujuan tertentu.<\/p>\n<p>Ada yang ingin mencari informasi, membeli barang, memesan makanan, atau mengecek status pesanan.<\/p>\n<p>Kalau navigasinya terlalu rumit, pengguna harus menghabiskan banyak waktu hanya untuk menemukan fitur yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Akibatnya, pengalaman menggunakan aplikasi menjadi kurang nyaman.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Coba beberapa pendekatan berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Gunakan nama menu yang mudah dipahami.<\/li>\n<li>Kelompokkan fitur berdasarkan fungsi yang serupa.<\/li>\n<li>Tempatkan fitur penting pada lokasi yang mudah ditemukan.<\/li>\n<li>Gunakan ikon yang familiar dan berikan label jika diperlukan.<\/li>\n<li>Pastikan pengguna tahu sedang berada di halaman mana.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, untuk aplikasi belanja online, menu utama bisa dibuat sederhana: Beranda, Kategori, Keranjang, dan Akun.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan membuat pengguna harus menebak fungsi sebuah menu hanya karena kamu ingin menggunakan istilah yang terdengar keren.<\/p>\n<p>Dalam UI\/UX, kejelasan biasanya lebih berguna daripada kreativitas yang justru membingungkan.<\/p>\n<h2>2. Terlalu Banyak Informasi: Aplikasi atau Papan Pengumuman?<\/h2>\n<p>Pernah membuka aplikasi lalu langsung disambut lima banner promosi, tiga pop-up, notifikasi diskon, dan berbagai tombol berwarna mencolok?<\/p>\n<p>Belum sempat melakukan apa-apa, layar smartphone sudah terasa penuh.<\/p>\n<p>Semua informasi seolah-olah berteriak:<\/p>\n<p><em>&#8220;LIHAT AKU DULU!&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Masalahnya, kalau semua elemen ingin menjadi pusat perhatian, pengguna justru sulit menentukan mana yang penting.<\/p>\n<p>Dalam dunia desain, kondisi ini berkaitan dengan <strong>information overload<\/strong>, yaitu ketika terlalu banyak informasi membuat proses memahami atau mengambil keputusan menjadi lebih sulit.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Setiap elemen dalam aplikasi membutuhkan perhatian pengguna.<\/p>\n<p>Kalau terlalu banyak informasi ditampilkan sekaligus, pengguna bisa mengalami kesulitan menemukan konten atau tindakan yang relevan.<\/p>\n<p>Misalnya, seseorang membuka aplikasi makanan karena ingin memesan makan siang.<\/p>\n<p>Namun, hampir seluruh layar berisi promosi, iklan, dan penawaran tambahan.<\/p>\n<p>Akibatnya, daftar menu makanan yang seharusnya menjadi fitur utama justru sulit ditemukan.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Gunakan prinsip <strong>Visual Hierarchy<\/strong> atau hierarki visual.<\/p>\n<p>Artinya, elemen pada halaman disusun berdasarkan tingkat kepentingannya.<\/p>\n<p>Beberapa cara yang bisa dilakukan:<\/p>\n<ul>\n<li>Tampilkan informasi paling penting terlebih dahulu.<\/li>\n<li>Gunakan ukuran teks yang berbeda untuk membentuk hierarki.<\/li>\n<li>Berikan ruang kosong atau <em>white space<\/em> agar tampilan tidak terlalu padat.<\/li>\n<li>Batasi penggunaan warna mencolok.<\/li>\n<li>Kelompokkan informasi yang saling berhubungan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, pada halaman detail produk, informasi nama barang, harga, foto, dan tombol pembelian sebaiknya lebih mudah ditemukan daripada elemen promosi tambahan.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan takut menggunakan ruang kosong dalam desain.<\/p>\n<p>White space bukan berarti halamanmu kurang menarik. Justru ruang kosong yang digunakan dengan tepat dapat membantu pengguna fokus pada informasi penting.<\/p>\n<p>Ingat, <strong>desain yang bagus bukan tentang seberapa banyak elemen yang bisa dimasukkan ke layar, tetapi seberapa jelas informasi yang ingin disampaikan.<\/strong><\/p>\n<h2>3. Tombol Nggak Jelas: Ini Bisa Diklik atau Cuma Hiasan?<\/h2>\n<p>Coba bayangkan kamu sedang mengisi formulir pendaftaran sebuah aplikasi.<\/p>\n<p>Setelah semua data selesai dimasukkan, kamu mencari tombol untuk melanjutkan.<\/p>\n<p>Tapi ternyata ada tiga tombol dengan warna yang hampir sama.<\/p>\n<p>Satu bertuliskan <em>Submit<\/em>.<\/p>\n<p>Satu lagi <em>Continue<\/em>.<\/p>\n<p>Dan satu lagi cuma menggunakan ikon panah.<\/p>\n<p>Sekarang pertanyaannya: tombol mana yang harus ditekan?<\/p>\n<p>Kalau sampai harus menebak, berarti ada masalah pada desain antarmukanya.<\/p>\n<p>Dalam UI\/UX, tombol yang mendorong pengguna melakukan tindakan penting sering disebut <strong>Call to Action (CTA)<\/strong>.<\/p>\n<p>Contohnya adalah tombol <em>Daftar Sekarang<\/em>, <em>Tambah ke Keranjang<\/em>, atau <em>Bayar Pesanan<\/em>.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Tombol yang tidak jelas bisa menyebabkan pengguna salah memilih tindakan atau bahkan tidak melanjutkan proses.<\/p>\n<p>Masalah juga bisa terjadi ketika tombol terlihat seperti teks biasa sehingga pengguna tidak menyadari bahwa elemen tersebut dapat diklik.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Coba perhatikan beberapa prinsip berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Gunakan teks tombol yang menjelaskan tindakan.<\/li>\n<li>Berikan tampilan yang membedakan tombol dari elemen biasa.<\/li>\n<li>Buat tombol cukup besar dan mudah ditekan pada layar smartphone.<\/li>\n<li>Pastikan tombol utama lebih menonjol daripada tombol sekunder.<\/li>\n<li>Gunakan label yang konsisten di seluruh aplikasi.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, daripada menggunakan tombol bertuliskan &#8220;OK&#8221; pada halaman keranjang, lebih jelas jika menggunakan &#8220;Lanjut ke Pembayaran&#8221;.<\/p>\n<p>Pengguna jadi tahu apa yang akan terjadi setelah menekan tombol tersebut.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan menggunakan warna sebagai satu-satunya petunjuk fungsi tombol.<\/p>\n<p>Pastikan teks, ukuran, bentuk, dan kontrasnya juga membantu pengguna memahami tindakan yang tersedia.<\/p>\n<p>Karena tombol yang terlihat keren tetapi nggak jelas fungsinya hanya akan menambah kebingungan.<\/p>\n<h2>4. Formulir Terlalu Panjang: Mau Daftar Akun atau Isi Biodata Seumur Hidup?<\/h2>\n<p>Pernah ingin mendaftar ke sebuah aplikasi, tapi setelah membuka halaman registrasi, kamu langsung kehilangan semangat?<\/p>\n<p>Nama lengkap.<\/p>\n<p>Alamat rumah.<\/p>\n<p>Tanggal lahir.<\/p>\n<p>Nomor telepon.<\/p>\n<p>Pekerjaan.<\/p>\n<p>Nama perusahaan.<\/p>\n<p>Hobi.<\/p>\n<p>Makanan favorit.<\/p>\n<p>Sebentar, ini mau bikin akun atau sedang diwawancara calon mertua?<\/p>\n<p>Formulir yang terlalu panjang merupakan salah satu masalah yang bisa membuat pengguna enggan menyelesaikan proses pendaftaran.<\/p>\n<p>Apalagi jika aplikasi meminta informasi yang sebenarnya belum dibutuhkan.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Semakin banyak data yang harus dimasukkan, semakin besar usaha yang diperlukan pengguna.<\/p>\n<p>Belum lagi kalau pengguna melakukan kesalahan pada salah satu kolom dan harus mengulang pengisian.<\/p>\n<p>Pengalaman seperti ini bisa membuat proses registrasi terasa melelahkan.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Mulailah dengan prinsip sederhana: <strong>minta informasi yang benar-benar diperlukan<\/strong>.<\/p>\n<p>Misalnya, untuk membuat akun aplikasi belanja, mungkin cukup meminta email dan metode autentikasi yang sesuai.<\/p>\n<p>Informasi alamat pengiriman bisa diminta ketika pengguna melakukan pembelian.<\/p>\n<p>Beberapa tips lain yang bisa dicoba:<\/p>\n<ul>\n<li>Kurangi jumlah kolom yang tidak penting.<\/li>\n<li>Gunakan pilihan jawaban ketika sesuai.<\/li>\n<li>Berikan contoh format input yang benar.<\/li>\n<li>Tampilkan pesan kesalahan yang spesifik.<\/li>\n<li>Pertahankan data yang sudah diisi ketika terjadi kesalahan.<\/li>\n<li>Gunakan pengisian otomatis jika aman dan relevan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kalau formulir memang harus panjang, pertimbangkan membaginya menjadi beberapa tahap yang jelas.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan meminta data pribadi hanya karena suatu saat mungkin akan berguna.<\/p>\n<p>Selain membuat proses lebih sederhana, membatasi pengumpulan data juga merupakan praktik yang baik untuk menjaga privasi pengguna.<\/p>\n<p>Semakin sedikit informasi yang benar-benar perlu dikumpulkan, semakin mudah pula pengelolaannya.<\/p>\n<h2>5. Desain Nggak Nyaman di Smartphone: Cantik di Laptop, Berantakan di HP!<\/h2>\n<p>Bayangkan seorang developer berhasil membuat website dengan tampilan luar biasa di laptop.<\/p>\n<p>Layout-nya rapi, animasinya halus, dan semua elemen terlihat sempurna.<\/p>\n<p>Tapi ketika dibuka melalui smartphone&#8230;<\/p>\n<p>Teksnya terlalu kecil.<\/p>\n<p>Gambar terpotong.<\/p>\n<p>Tombolnya susah ditekan.<\/p>\n<p>Pengguna harus menggeser layar ke kanan dan kiri hanya untuk membaca satu paragraf.<\/p>\n<p>Selamat, desainnya keren di laptop, tapi pengguna smartphone harus berjuang sendiri!<\/p>\n<p>Masalah ini terjadi ketika aplikasi atau website tidak dirancang dengan memperhatikan berbagai ukuran layar dan kebutuhan aksesibilitas.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Pengguna mengakses layanan digital melalui perangkat yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Ada yang menggunakan laptop, tablet, dan smartphone dengan berbagai ukuran layar.<\/p>\n<p>Selain itu, tidak semua pengguna memiliki kemampuan visual, motorik, atau kondisi penggunaan yang sama.<\/p>\n<p>Desain yang sulit dibaca atau dioperasikan dapat menghambat akses terhadap informasi dan fitur aplikasi.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah <strong>Responsive Design<\/strong>.<\/p>\n<p>Responsive Design memungkinkan tata letak menyesuaikan ukuran layar perangkat yang digunakan.<\/p>\n<p>Beberapa hal yang perlu diperhatikan:<\/p>\n<ul>\n<li>Gunakan ukuran font yang nyaman dibaca.<\/li>\n<li>Pastikan kontras teks dan latar belakang memadai.<\/li>\n<li>Buat tombol dan elemen interaktif mudah ditekan.<\/li>\n<li>Hindari konten yang terpotong atau keluar dari layar.<\/li>\n<li>Pastikan tata letak tetap jelas pada layar kecil.<\/li>\n<li>Gunakan label dan petunjuk yang tidak hanya bergantung pada warna.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, tampilan katalog produk yang terdiri dari empat kolom pada laptop bisa berubah menjadi dua atau satu kolom pada smartphone.<\/p>\n<p>Dengan begitu, produk tetap mudah dilihat tanpa harus memperbesar layar secara manual.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan hanya menguji website melalui laptop yang kamu gunakan untuk mengembangkannya.<\/p>\n<p>Coba buka melalui smartphone dengan ukuran layar berbeda. Periksa juga apakah pengguna tetap bisa membaca dan mengoperasikan fitur penting dengan nyaman.<\/p>\n<p>Dalam UI\/UX, desain yang baik bukan cuma menarik secara visual, tetapi juga <strong>mudah diakses oleh berbagai pengguna<\/strong>.<\/p>\n<h2>6. Nggak Ada Feedback: Tombol Sudah Diklik, Tapi Kok Diam Aja?<\/h2>\n<p>Pernah memesan sesuatu melalui aplikasi, lalu menekan tombol pembayaran?<\/p>\n<p>Setelah diklik, layar nggak menunjukkan perubahan apa pun.<\/p>\n<p>Kamu mulai bingung.<\/p>\n<p><em>&#8220;Ini sudah berhasil atau belum, ya?&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Akhirnya, tombolnya ditekan sekali lagi.<\/p>\n<p>Dan sekali lagi.<\/p>\n<p>Tiba-tiba muncul tiga pesanan sekaligus!<\/p>\n<p>Masalah seperti ini bisa terjadi ketika sistem tidak memberikan feedback yang cukup kepada pengguna.<\/p>\n<p>Dalam UI\/UX, <strong>feedback<\/strong> adalah respons dari sistem yang membantu pengguna memahami hasil suatu tindakan.<\/p>\n<h3>Kenapa ini jadi masalah?<\/h3>\n<p>Ketika pengguna melakukan sesuatu, mereka perlu mengetahui apakah tindakan tersebut berhasil, sedang diproses, atau mengalami kesalahan.<\/p>\n<p>Tanpa informasi yang jelas, pengguna bisa merasa ragu dan mengulangi tindakan yang sama.<\/p>\n<p>Contohnya, ketika mengunggah dokumen, pengguna perlu tahu apakah file sedang diproses atau berhasil diunggah.<\/p>\n<p>Begitu juga ketika melakukan pembayaran, menyimpan perubahan, atau mengirim formulir.<\/p>\n<h3>Gimana cara memperbaikinya?<\/h3>\n<p>Berikan feedback yang sesuai dengan aktivitas pengguna.<\/p>\n<p>Contohnya:<\/p>\n<p><strong>Saat proses berlangsung:<\/strong><\/p>\n<p>Tampilkan indikator loading atau pesan &#8220;Pesanan sedang diproses&#8221;.<\/p>\n<p><strong>Saat proses berhasil:<\/strong><\/p>\n<p>Tampilkan pesan &#8220;Pesanan berhasil dibuat&#8221; beserta informasi yang relevan.<\/p>\n<p><strong>Saat terjadi kesalahan:<\/strong><\/p>\n<p>Jelaskan masalah dengan bahasa yang mudah dipahami dan berikan petunjuk tindakan berikutnya.<\/p>\n<p>Misalnya, daripada hanya menampilkan tulisan &#8220;Error 400&#8221;, lebih baik menggunakan pesan seperti:<\/p>\n<p><em>&#8220;Data belum lengkap. Periksa kembali alamat pengiriman sebelum melanjutkan.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Selain itu, sistem juga perlu dirancang agar tindakan penting tidak diproses berkali-kali secara tidak sengaja.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Feedback yang baik bukan sekadar menampilkan notifikasi sebanyak mungkin.<\/p>\n<p>Berikan informasi yang tepat, pada waktu yang tepat, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.<\/p>\n<p>Karena tujuan feedback adalah membantu pengguna merasa yakin bahwa sistem merespons tindakannya dengan benar.<\/p>\n<h2>Bonus Challenge: Coba Jadi UI\/UX Detective!<\/h2>\n<p>Sekarang kamu sudah mengenal enam kesalahan UI\/UX yang sering terjadi.<\/p>\n<p>Tapi daripada cuma membaca teorinya, bagaimana kalau kamu mencoba mengamati aplikasi yang sering digunakan sehari-hari?<\/p>\n<p>Pilih satu aplikasi yang biasa kamu gunakan.<\/p>\n<p>Bisa aplikasi belanja online, layanan pesan makanan, platform belajar, atau aplikasi pemesanan tiket.<\/p>\n<p>Kemudian coba lakukan beberapa aktivitas sederhana.<\/p>\n<p>Misalnya:<\/p>\n<ol start=\"1\">\n<li>Cari sebuah produk atau informasi tertentu.<\/li>\n<li>Temukan fitur utama yang tersedia.<\/li>\n<li>Coba isi formulir atau lakukan simulasi proses pemesanan tanpa menyelesaikan transaksi.<\/li>\n<li>Perhatikan apakah tampilan nyaman digunakan di smartphone.<\/li>\n<li>Amati feedback yang diberikan setelah kamu menekan tombol.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Setelah itu, coba jawab beberapa pertanyaan:<\/p>\n<p><strong>Apakah navigasinya mudah dipahami?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah informasi penting mudah ditemukan?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah tombol utama terlihat jelas?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah prosesnya terasa terlalu panjang?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah ada bagian yang membuatmu bingung?<\/strong><\/p>\n<p>Kalau menemukan masalah, coba buat rekomendasi perbaikannya.<\/p>\n<p>Misalnya, kamu menemukan bahwa tombol checkout terlalu sulit ditemukan karena posisinya berada di bagian bawah halaman yang panjang.<\/p>\n<p>Kamu bisa mengusulkan agar tombol tersebut ditempatkan pada posisi yang lebih mudah diakses, lalu menguji apakah perubahan tersebut membantu pengguna.<\/p>\n<p>Menariknya, aktivitas sederhana seperti ini mirip dengan proses <strong>Usability Evaluation<\/strong>, yaitu mengevaluasi seberapa mudah sebuah produk digunakan untuk menyelesaikan tugas tertentu.<\/p>\n<h3>Mau Naik Level? Coba Buat Redesign!<\/h3>\n<p>Kalau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang, gunakan Figma untuk membuat desain ulang salah satu halaman yang menurutmu kurang nyaman digunakan.<\/p>\n<p>Bandingkan tampilan sebelum dan sesudah perbaikan.<\/p>\n<p>Kemudian minta beberapa teman mencoba desain tersebut melalui prototype interaktif.<\/p>\n<p>Jangan langsung menganggap desain barumu lebih baik hanya karena terlihat lebih aesthetic.<\/p>\n<p>Lihat apakah pengguna benar-benar lebih mudah menyelesaikan aktivitas yang diberikan.<\/p>\n<p>Karena dalam UI\/UX, <strong>desain yang baik sebaiknya didukung oleh kebutuhan dan hasil pengujian pengguna, bukan hanya selera pribadi<\/strong>.<\/p>\n<p>Siapa tahu, dari latihan sederhana ini kamu justru menemukan ketertarikan pada dunia UI\/UX Design atau System Analysis.<\/p>\n<h2>Ternyata Desain Aplikasi Nggak Cuma Soal Warna dan Tampilan, Ya?<\/h2>\n<p>Betul banget!<\/p>\n<p>Ketika melihat sebuah aplikasi, kita mungkin langsung memperhatikan warna, ikon, ilustrasi, atau animasinya.<\/p>\n<p>Tapi di balik pengalaman menggunakan aplikasi yang nyaman, ada banyak proses perancangan yang perlu dipikirkan.<\/p>\n<p>Mulai dari memahami kebutuhan pengguna, menyusun navigasi, menentukan informasi penting, merancang tombol, hingga memastikan setiap tindakan mendapatkan respons yang jelas.<\/p>\n<p>Semua itu merupakan bagian dari proses merancang solusi digital.<\/p>\n<p>Dan menariknya, dunia UI\/UX juga sangat dekat dengan bidang <strong>Sistem Informasi<\/strong>.<\/p>\n<p>Kenapa?<\/p>\n<p>Karena sebelum sebuah aplikasi dikembangkan, kita perlu memahami masalah apa yang ingin diselesaikan dan bagaimana pengguna akan berinteraksi dengan sistem tersebut.<\/p>\n<p>Dalam sebuah tim pengembangan, proses ini bisa melibatkan berbagai peran, seperti System Analyst, UI\/UX Designer, dan Software Developer.<\/p>\n<p>Seorang System Analyst membantu memahami kebutuhan dan proses bisnis.<\/p>\n<p>UI\/UX Designer merancang pengalaman dan antarmuka yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.<\/p>\n<p>Sementara Software Developer mengimplementasikan rancangan menjadi aplikasi yang bisa digunakan.<\/p>\n<p>Masing-masing punya peran berbeda, tetapi saling berkaitan.<\/p>\n<p>Karena aplikasi yang berhasil bukan sekadar aplikasi yang punya banyak fitur.<\/p>\n<p><strong>Aplikasi yang berhasil adalah aplikasi yang mampu membantu pengguna mencapai tujuannya dengan mudah, efektif, dan nyaman.<\/strong><\/p>\n<p>Jadi, lain kali ketika menemukan aplikasi yang bikin kamu kebingungan, jangan cuma mengeluh.<\/p>\n<p>Coba pikirkan, bagian mana yang sebenarnya bermasalah?<\/p>\n<p>Apakah navigasinya? Informasinya? Tombolnya? Atau mungkin sistemnya tidak memberikan feedback yang jelas?<\/p>\n<p>Siapa tahu, kebiasaan mengamati aplikasi seperti ini justru menjadi langkah awalmu memahami dunia perancangan sistem digital.<\/p>\n<h2>Suka Ngulik Aplikasi dan Teknologi? Yuk, Eksplorasi Sistem Informasi SATU University!<\/h2>\n<p>Kalau kamu sering penasaran kenapa sebuah aplikasi terasa nyaman digunakan, suka memikirkan bagaimana sebuah sistem bisa dibuat lebih baik, atau tertarik mengembangkan aplikasi yang bermanfaat, mungkin dunia <strong>Sistem Informasi<\/strong> cocok banget buat kamu!<\/p>\n<p>Di <strong>Program Studi Sistem Informasi SATU University<\/strong>, kamu bisa mempelajari bagaimana teknologi, data, proses bisnis, dan kebutuhan manusia saling terhubung untuk menciptakan solusi digital.<\/p>\n<p>Nggak hanya belajar coding, kamu juga berkesempatan mengembangkan kemampuan dalam <strong>System Analysis, Web Application Development, Database Management, dan Data Analysis<\/strong>.<\/p>\n<p>Melalui pembelajaran berbasis proyek, kamu dapat mengenal bagaimana sebuah ide dikembangkan menjadi rancangan sistem, kemudian diimplementasikan menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.<\/p>\n<p>Ditambah kesempatan memperoleh pengalaman industri selama satu tahun melalui program enrichment, kamu juga bisa memperluas pemahaman mengenai penerapan teknologi di lingkungan profesional.<\/p>\n<p>Karena di dunia digital, yang dibutuhkan bukan hanya orang yang mampu membuat aplikasi.<\/p>\n<p>Tetapi juga orang yang bisa memahami masalah, merancang solusi, dan memastikan teknologi memberikan manfaat nyata bagi penggunanya.<\/p>\n<p>Siapa tahu, dari kebiasaanmu mengkritisi tampilan aplikasi hari ini, kamu justru menemukan minat untuk menjadi <strong>System Analyst, Web Application Developer, atau profesional di bidang pengembangan produk digital<\/strong> di masa depan.<\/p>\n<p><strong>Penasaran bagaimana serunya belajar merancang dan mengembangkan solusi digital?<\/strong><\/p>\n<p>Yuk, kenali lebih jauh <a href=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/\">Program Studi Sistem Informasi SATU University<\/a> dan temukan berbagai kesempatan untuk mengembangkan ide serta kemampuan teknologimu!<\/p>\n<p><strong>SATU langkah lebih maju, ciptakan teknologi yang bukan cuma keren, tapi juga bermanfaat!<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah nggak, membuka aplikasi yang tampilannya keren banget, tapi begitu ingin menggunakan salah satu fiturnya, kamu malah kebingungan? Mau mencari produk, tombol pencariannya nggak kelihatan. Mau checkout, harus melewati banyak halaman. Mau kembali ke halaman sebelumnya, eh malah keluar dari aplikasi! Akhirnya, setelah beberapa menit mencoba, kamu menyerah dan memilih aplikasi lain. Padahal, mungkin aplikasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":577,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=576"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/576\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":578,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/576\/revisions\/578"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/577"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}