{"id":544,"date":"2026-09-10T07:09:37","date_gmt":"2026-09-10T07:09:37","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/?p=544"},"modified":"2026-10-14T07:50:49","modified_gmt":"2026-10-14T07:50:49","slug":"data-berantakan-ini-7-trik-excel-yang-bikin-kamu-terlihat-seperti-data-analyst-profesional-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/2026\/09\/10\/data-berantakan-ini-7-trik-excel-yang-bikin-kamu-terlihat-seperti-data-analyst-profesional-2\/","title":{"rendered":"Punya Ide Aplikasi Keren? Coba 5 Langkah Ini Sebelum Kamu Mulai Coding!"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-550\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/10\/5-Steps-to-Plan-a-Great-App.jpg\" alt=\"\" width=\"1672\" height=\"941\" \/><\/p>\n<p>Pernah nggak, tiba-tiba kepikiran ide aplikasi yang menurut kamu bakal keren banget?<\/p>\n<p>Misalnya, aplikasi buat cari teman belajar, aplikasi pesan makanan di kantin kampus, atau aplikasi yang bisa membantu mahasiswa mengatur deadline tugas supaya nggak panik setiap minggu.<\/p>\n<p>Dalam pikiran, aplikasinya sudah kebayang lengkap. Ada halaman login, dashboard yang aesthetic, fitur notifikasi, sampai Artificial Intelligence (AI) yang bisa membantu penggunanya.<\/p>\n<p>Terus muncul satu pertanyaan besar: <strong>&#8220;Oke, sekarang mulai coding dari mana?&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Eits, tunggu dulu!<\/p>\n<p>Punya ide aplikasi bukan berarti kamu harus langsung membuka laptop, menjalankan Visual Studio Code, lalu mengetik ratusan baris kode.<\/p>\n<p>Justru, salah satu kesalahan yang sering dilakukan developer pemula adalah <strong>terlalu semangat membuat aplikasi sebelum benar-benar memahami apa yang ingin dibuat.<\/strong><\/p>\n<p>Hasilnya? Sudah capek coding berminggu-minggu, ternyata fiturnya nggak dibutuhkan pengguna. Atau lebih parah lagi, aplikasinya selesai, tapi orang-orang malah bingung cara menggunakannya.<\/p>\n<p>Nah, supaya ide aplikasimu nggak berakhir jadi folder proyek yang terlupakan di laptop, yuk coba <strong>5 langkah penting sebelum mulai coding!<\/strong><\/p>\n<h2>1. Cari Masalahnya Dulu, Jangan Langsung Jatuh Cinta Sama Ide Sendiri!<\/h2>\n<p>Bayangkan kamu punya ide membuat aplikasi pemesanan makanan khusus mahasiswa.<\/p>\n<p>Kedengarannya keren, kan?<\/p>\n<p>Tapi sebelum mulai membangun aplikasinya, coba pikirkan:<\/p>\n<p><strong>&#8220;Sebenarnya masalah apa yang ingin diselesaikan?&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Apakah mahasiswa kesulitan mencari makanan? Apakah antrean kantin terlalu panjang? Atau mereka sering kehabisan menu favorit karena nggak tahu stok makanan yang tersedia?<\/p>\n<p>Ketiga masalah tersebut mungkin membutuhkan solusi yang berbeda.<\/p>\n<p>Kalau masalah utamanya adalah antrean panjang, mungkin solusi yang dibutuhkan bukan aplikasi delivery makanan yang superkompleks, melainkan fitur pemesanan terlebih dahulu sebelum mengambil makanan.<\/p>\n<p>Nah, proses mencari dan memahami masalah ini dikenal sebagai <em>Problem Identification<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Coba praktikkan!<\/strong><\/p>\n<p>Ambil kertas atau buka aplikasi Notes, lalu jawab tiga pertanyaan berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Masalah apa yang sering terjadi?<\/li>\n<li>Siapa yang mengalami masalah tersebut?<\/li>\n<li>Bagaimana mereka menyelesaikannya sekarang?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Contohnya:<\/p>\n<p><strong>Masalah:<\/strong> Mahasiswa menghabiskan terlalu banyak waktu mengantre makanan saat jam istirahat.<\/p>\n<p><strong>Pengguna:<\/strong> Mahasiswa yang punya waktu istirahat terbatas.<\/p>\n<p><strong>Solusi awal:<\/strong> Aplikasi untuk memesan makanan sebelum datang ke kantin.<\/p>\n<p>Sederhana? Memang!<\/p>\n<p>Tapi dari sinilah sebuah ide aplikasi mulai berubah menjadi solusi yang punya tujuan jelas.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Aplikasi yang bermanfaat nggak harus punya teknologi paling canggih. Kadang, solusi sederhana untuk masalah sehari-hari justru lebih dibutuhkan.<\/p>\n<h2>2. Kenali Calon Penggunamu: Jangan Sampai Bikin Aplikasi yang Cuma Kamu Sendiri Suka!<\/h2>\n<p>Oke, sekarang kamu sudah menemukan masalah yang ingin diselesaikan.<\/p>\n<p>Langkah berikutnya adalah memahami siapa yang akan menggunakan aplikasimu.<\/p>\n<p>Dalam dunia pengembangan aplikasi, mereka biasa disebut <em>users<\/em> atau pengguna.<\/p>\n<p>Masalahnya, kita sering merasa sudah tahu apa yang dibutuhkan orang lain.<\/p>\n<p>Padahal, belum tentu!<\/p>\n<p>Misalnya, kamu ingin membuat aplikasi pemesanan makanan kantin.<\/p>\n<p>Menurutmu, fitur yang paling menarik adalah rekomendasi makanan menggunakan AI.<\/p>\n<p>Tapi setelah ngobrol dengan beberapa mahasiswa, ternyata mereka lebih membutuhkan informasi sederhana seperti:<\/p>\n<ul>\n<li>Harga makanan yang jelas.<\/li>\n<li>Estimasi waktu pesanan selesai.<\/li>\n<li>Ketersediaan menu.<\/li>\n<li>Metode pembayaran yang praktis.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Plot twist! Ternyata fitur AI yang kamu pikir paling keren justru bukan prioritas utama.<\/p>\n<p>Inilah alasan mengapa proses <em>User Research<\/em> penting dilakukan sebelum mulai coding.<\/p>\n<p><strong>Coba praktikkan!<\/strong><\/p>\n<p>Ajak ngobrol 3\u20135 orang yang berpotensi menggunakan aplikasimu.<\/p>\n<p>Tanyakan pengalaman mereka, misalnya:<\/p>\n<ul>\n<li>Apa kesulitan yang sering kamu alami saat membeli makanan di kantin?<\/li>\n<li>Biasanya kamu mengatasi masalah itu dengan cara apa?<\/li>\n<li>Kalau ada aplikasi pemesanan, informasi apa yang paling kamu butuhkan?<\/li>\n<li>Apa yang membuatmu tertarik atau justru malas menggunakan aplikasi tersebut?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Jangan hanya bertanya, <em>&#8220;Kalau aku bikin aplikasi ini, kamu mau pakai nggak?&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Pertanyaan seperti itu sering menghasilkan jawaban yang terlalu positif karena orang ingin menghargai idemu.<\/p>\n<p>Lebih baik cari tahu kebiasaan dan masalah nyata yang mereka alami.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Jangan langsung membuat semua fitur yang diminta pengguna. Cari pola kebutuhan yang paling sering muncul, lalu tentukan mana yang paling penting untuk diselesaikan terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Di sinilah kamu mulai belajar salah satu kemampuan penting seorang <strong>System Analyst<\/strong>, yaitu memahami kebutuhan pengguna sebelum menentukan solusi teknologi.<\/p>\n<h2>3. Buat Flowchart: Biar Alur Aplikasimu Nggak Bikin Pengguna Tersesat<\/h2>\n<p>Sekarang kamu sudah tahu masalahnya dan sudah mengenal calon pengguna.<\/p>\n<p>Saatnya mulai merancang bagaimana aplikasi akan bekerja.<\/p>\n<p>Tapi jangan coding dulu!<\/p>\n<p>Coba buat <strong>flowchart<\/strong>, yaitu diagram yang menggambarkan urutan proses atau langkah-langkah dalam sebuah sistem.<\/p>\n<p>Anggap saja flowchart seperti peta perjalanan pengguna ketika menggunakan aplikasi.<\/p>\n<p>Misalnya, untuk aplikasi pemesanan makanan kantin, alurnya bisa seperti ini:<\/p>\n<ol start=\"1\">\n<li>Mahasiswa membuka aplikasi.<\/li>\n<li>Mahasiswa memilih menu makanan.<\/li>\n<li>Mahasiswa memasukkan pesanan ke keranjang.<\/li>\n<li>Mahasiswa melakukan checkout.<\/li>\n<li>Sistem memeriksa ketersediaan menu.<\/li>\n<li>Jika tersedia, pesanan diproses.<\/li>\n<li>Jika tidak tersedia, mahasiswa diminta mengubah pesanannya.<\/li>\n<li>Mahasiswa menerima informasi status pesanan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dari alur sederhana ini, kamu mulai bisa membayangkan apa saja yang harus dilakukan oleh sistem.<\/p>\n<p><strong>Kenapa flowchart penting?<\/strong><\/p>\n<p>Karena terkadang, ide yang terlihat sederhana ternyata punya banyak kemungkinan kondisi.<\/p>\n<p>Contohnya, bagaimana kalau mahasiswa memesan makanan yang sudah habis? Bagaimana kalau pembayaran gagal? Bagaimana kalau pesanan dibatalkan?<\/p>\n<p>Kalau masalah seperti ini baru terpikir saat coding, kamu mungkin harus mengubah banyak bagian aplikasi yang sudah dibuat.<\/p>\n<p><strong>Coba praktikkan!<\/strong><\/p>\n<p>Gunakan kertas dan pulpen, atau tools diagram seperti diagrams.net untuk menggambar alur aplikasimu.<\/p>\n<p>Kamu bisa mulai dengan tiga simbol dasar:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Oval:<\/strong> Menandakan awal atau akhir proses.<\/li>\n<li><strong>Persegi panjang:<\/strong> Menandakan aktivitas atau proses.<\/li>\n<li><strong>Belah ketupat:<\/strong> Menandakan keputusan, biasanya memiliki cabang Ya atau Tidak.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Nggak perlu langsung membuat flowchart yang rumit. Mulailah dari satu proses utama yang paling penting.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Kalau kamu kesulitan menjelaskan bagaimana aplikasimu bekerja melalui sebuah flowchart sederhana, mungkin alur aplikasinya masih perlu dipikirkan kembali.<\/p>\n<h2>4. Rancang Wireframe: Gambar Dulu Tampilan Aplikasinya, Nggak Harus Jago Desain!<\/h2>\n<p>Nah, setelah alur aplikasi mulai jelas, sekarang waktunya memikirkan tampilannya.<\/p>\n<p>Tapi jangan buru-buru memilih warna, font, atau animasi yang estetik.<\/p>\n<p>Kita mulai dari <strong>wireframe<\/strong>.<\/p>\n<p>Wireframe adalah gambaran sederhana mengenai struktur dan susunan elemen pada halaman aplikasi.<\/p>\n<p>Bayangkan kamu sedang membuat sketsa rumah. Sebelum memilih warna cat dinding, kamu harus tahu dulu di mana posisi pintu, jendela, kamar, dan ruang tamu.<\/p>\n<p>Prinsip yang sama berlaku saat membuat aplikasi.<\/p>\n<p>Untuk aplikasi pemesanan makanan kantin, misalnya, kamu bisa membuat beberapa sketsa halaman:<\/p>\n<p><strong>Halaman Beranda<\/strong><\/p>\n<p>Berisi daftar menu makanan, pencarian, kategori makanan, serta informasi harga.<\/p>\n<p><strong>Halaman Detail Produk<\/strong><\/p>\n<p>Berisi foto makanan, deskripsi, harga, pilihan jumlah pesanan, dan tombol tambah ke keranjang.<\/p>\n<p><strong>Halaman Checkout<\/strong><\/p>\n<p>Berisi daftar pesanan, total pembayaran, metode pembayaran, dan tombol konfirmasi pesanan.<\/p>\n<p><strong>Halaman Status Pesanan<\/strong><\/p>\n<p>Menampilkan apakah pesanan sedang diproses, siap diambil, atau sudah selesai.<\/p>\n<p>Kamu bisa menggambar semuanya menggunakan kertas biasa. Serius, nggak perlu langsung pakai software mahal!<\/p>\n<p>Kalau ingin membuatnya secara digital, kamu bisa mencoba tools seperti Figma yang banyak digunakan untuk merancang antarmuka aplikasi.<\/p>\n<p><strong>Coba praktikkan!<\/strong><\/p>\n<p>Mulailah dengan membuat tiga tampilan utama aplikasi menggunakan kotak, garis, teks, dan tombol sederhana.<\/p>\n<p>Fokuslah pada pertanyaan berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Apakah pengguna mudah menemukan fitur utama?<\/li>\n<li>Apakah informasi yang ditampilkan sudah cukup?<\/li>\n<li>Apakah tombol penting mudah ditemukan?<\/li>\n<li>Apakah pengguna tahu langkah berikutnya?<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Desain yang bagus bukan hanya soal tampilan yang menarik, tetapi juga soal seberapa mudah pengguna menyelesaikan kebutuhannya.<\/p>\n<p>Dalam dunia teknologi, hal ini berkaitan erat dengan bidang <strong>User Interface (UI)<\/strong> dan <strong>User Experience (UX)<\/strong>.<\/p>\n<h2>5. Tes Prototype: Sebelum Coding Berjam-jam, Pastikan Idenya Memang Bisa Dipakai!<\/h2>\n<p>Sekarang kamu sudah punya gambaran masalah, kebutuhan pengguna, alur aplikasi, dan rancangan tampilannya.<\/p>\n<p>Langkah terakhir sebelum mulai coding adalah membuat dan menguji <em>prototype<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Prototype<\/strong> adalah model awal aplikasi yang digunakan untuk mencoba ide, alur, atau interaksi sebelum produk dikembangkan sepenuhnya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan aplikasi jadi, prototype nggak harus punya database, server, atau sistem yang benar-benar berfungsi.<\/p>\n<p>Bahkan, kamu bisa membuat prototype interaktif menggunakan Figma dengan menghubungkan beberapa tampilan halaman.<\/p>\n<p>Contohnya, ketika pengguna menekan tombol &#8220;Pesan Sekarang&#8221;, prototype akan berpindah ke halaman checkout.<\/p>\n<p>Kelihatannya seperti aplikasi sungguhan, padahal belum ada coding di belakangnya.<\/p>\n<p><strong>Terus, apa yang harus dilakukan?<\/strong><\/p>\n<p>Coba minta beberapa teman mencoba prototype tersebut.<\/p>\n<p>Berikan tugas sederhana seperti:<\/p>\n<p><em>&#8220;Coba pesan satu nasi ayam dan lihat bagaimana cara menyelesaikan pesanannya.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Setelah itu, perhatikan bagaimana mereka menggunakan prototype.<\/p>\n<p>Apakah mereka langsung tahu tombol mana yang harus diklik? Apakah ada informasi yang membingungkan? Apakah mereka bisa menyelesaikan tugas tanpa terlalu banyak bantuan?<\/p>\n<p>Kalau ternyata mereka kesulitan, berarti ada bagian desain atau alur yang perlu diperbaiki.<\/p>\n<p>Dan itu justru kabar baik!<\/p>\n<p>Kenapa? Karena memperbaiki rancangan sebelum coding biasanya jauh lebih mudah daripada mengubah aplikasi yang sudah telanjur dikembangkan.<\/p>\n<p><strong>Pro tip:<\/strong> Ketika melakukan pengujian, jangan terlalu banyak memberi petunjuk. Biarkan pengguna mencoba sendiri supaya kamu bisa melihat bagian mana yang benar-benar membingungkan.<\/p>\n<p>Ingat, tujuan pengujian bukan untuk membuktikan bahwa idemu sempurna, tetapi untuk menemukan apa yang masih perlu diperbaiki.<\/p>\n<h2>Bonus: Nggak Semua Fitur Harus Dibuat Sekaligus!<\/h2>\n<p>Setelah mencoba lima langkah tadi, biasanya akan muncul banyak ide fitur tambahan.<\/p>\n<p>Mulai dari fitur chat, notifikasi, pembayaran digital, rekomendasi AI, sistem poin, hingga leaderboard.<\/p>\n<p>Tapi hati-hati, jangan sampai aplikasimu berubah menjadi proyek yang terlalu besar untuk diselesaikan.<\/p>\n<p>Ada konsep menarik dalam pengembangan produk digital yang disebut <strong>Minimum Viable Product (MVP)<\/strong>.<\/p>\n<p>Sederhananya, MVP adalah versi awal produk dengan fitur secukupnya untuk memberikan manfaat kepada pengguna sekaligus memperoleh feedback nyata.<\/p>\n<p>Untuk aplikasi pemesanan makanan kantin, misalnya, kamu bisa memulai dari fitur utama seperti:<\/p>\n<ul>\n<li>Melihat daftar menu.<\/li>\n<li>Memilih makanan.<\/li>\n<li>Membuat pesanan.<\/li>\n<li>Melihat status pesanan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Fitur tambahan seperti rekomendasi makanan menggunakan AI bisa dipertimbangkan setelah fungsi utamanya berjalan dengan baik dan memang dibutuhkan pengguna.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan seperti ini, kamu bisa lebih fokus membuat solusi yang benar-benar berguna.<\/p>\n<p>Karena dalam pengembangan aplikasi, <strong>lebih banyak fitur belum tentu berarti lebih baik.<\/strong><\/p>\n<h2>Ternyata Bikin Aplikasi Nggak Cuma Soal Coding, Ya?<\/h2>\n<p>Betul banget!<\/p>\n<p>Menulis kode memang merupakan bagian penting dalam pengembangan aplikasi. Tapi sebelum sampai ke sana, ada banyak proses yang nggak kalah penting.<\/p>\n<p>Mulai dari menemukan masalah, memahami kebutuhan pengguna, merancang alur sistem, membuat desain antarmuka, sampai menguji apakah solusi yang dirancang sudah mudah digunakan.<\/p>\n<p>Bahkan, dalam sebuah tim pengembangan aplikasi profesional, proses-proses tersebut bisa melibatkan berbagai peran seperti <strong>System Analyst, UI\/UX Designer, Product Manager, dan Software Developer<\/strong>.<\/p>\n<p>Masing-masing punya tanggung jawab berbeda, tetapi semuanya bekerja sama untuk menghasilkan solusi digital yang bermanfaat.<\/p>\n<p>Jadi, kalau kamu punya ide aplikasi keren, jangan langsung panik karena belum jago coding.<\/p>\n<p>Mulailah dengan memahami masalah dan mencoba menuangkan idemu menjadi rancangan sederhana.<\/p>\n<p>Siapa tahu, ide yang awalnya cuma muncul saat ngobrol santai bersama teman justru bisa berkembang menjadi proyek digital yang bermanfaat bagi banyak orang.<\/p>\n<h2>Punya Banyak Ide Digital? Yuk, Kembangkan di Sistem Informasi SATU University!<\/h2>\n<p>Kalau kamu suka memikirkan solusi kreatif, tertarik membuat aplikasi, atau penasaran bagaimana teknologi bisa membantu menyelesaikan masalah sehari-hari, <strong>Program Studi Sistem Informasi SATU University<\/strong> bisa jadi tempat yang menarik untuk mengembangkan potensimu.<\/p>\n<p>Di Sistem Informasi, kamu nggak hanya belajar coding, tetapi juga memahami bagaimana sebuah sistem dirancang, bagaimana kebutuhan pengguna dianalisis, dan bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung proses bisnis.<\/p>\n<p>Melalui pembelajaran berbasis proyek, kamu bisa mengembangkan kemampuan di bidang <strong>System Analysis, Web Application Development, Data Analysis<\/strong>, serta berbagai keterampilan digital lainnya.<\/p>\n<p>Ditambah dengan kesempatan mengikuti program pengalaman industri selama satu tahun, kamu bisa mempersiapkan diri untuk mengenal lebih dekat bagaimana teknologi diterapkan di dunia kerja.<\/p>\n<p>Karena siapa tahu, ide aplikasi yang sekarang masih berupa coretan di buku catatan bisa menjadi langkah awal perjalananmu sebagai pengembang solusi digital masa depan.<\/p>\n<p><strong>Penasaran seperti apa serunya belajar Sistem Informasi?<\/strong><\/p>\n<p>Yuk, kenali lebih jauh <a href=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/\">Program Studi Sistem Informasi SATU University<\/a> dan temukan berbagai kesempatan untuk mengembangkan ide, kreativitas, serta kemampuan teknologimu!<\/p>\n<p><strong>SATU langkah lebih maju, mulai dari idemu hari ini!<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah nggak, tiba-tiba kepikiran ide aplikasi yang menurut kamu bakal keren banget? Misalnya, aplikasi buat cari teman belajar, aplikasi pesan makanan di kantin kampus, atau aplikasi yang bisa membantu mahasiswa mengatur deadline tugas supaya nggak panik setiap minggu. Dalam pikiran, aplikasinya sudah kebayang lengkap. Ada halaman login, dashboard yang aesthetic, fitur notifikasi, sampai Artificial Intelligence [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":550,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-544","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=544"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":556,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/544\/revisions\/556"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/sistem-informasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}