{"id":727,"date":"2026-09-04T07:45:29","date_gmt":"2026-09-04T07:45:29","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=727"},"modified":"2026-09-04T07:45:29","modified_gmt":"2026-09-04T07:45:29","slug":"self-disclosure-di-balik-second-account-mengapa-kita-lebih-jujur-di-akun-kedua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2026\/09\/04\/self-disclosure-di-balik-second-account-mengapa-kita-lebih-jujur-di-akun-kedua\/","title":{"rendered":"Self-Disclosure di Balik Second Account: Mengapa Kita Lebih Jujur di Akun Kedua?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Punya lebih dari satu akun Instagram sudah menjadi hal yang biasa bagi banyak anak muda. Selain akun utama, banyak yang menggunakan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> untuk membagikan hal-hal yang tidak selalu ingin ditampilkan di akun utama. Jika di akun utama kita cenderung lebih memilih foto, memikirkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">caption<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan mempertimbangkan siapa saja yang akan melihatnya, di <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> kita biasanya lebih bebas membagikan cerita sehari-hari, perasaan, hingga keluhan. Penggunaan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> pun semakin menarik karena akun ini sering kali hanya diikuti oleh orang-orang tertentu yang dianggap dekat dan dipercaya (Prihantoro et al., 2020).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Perbedaan tersebut menimbulkan pertanyaan: <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">mengapa seseorang justru lebih nyaman untuk jujur dan terbuka di <\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">?<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> Padahal, kedua akun tersebut digunakan oleh orang yang sama. Perbedaannya terletak pada ruang dan orang-orang yang melihatnya. Hal ini membuat <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> menarik untuk dilihat dari sisi psikologis, terutama berkaitan dengan keterbukaan diri seseorang.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Artikel ini akan membahas alasan seseorang lebih terbuka di <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dengan melihat faktor-faktor psikologis yang memengaruhinya. Selain itu, pembahasan juga akan melihat dampak dari penggunaan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, baik sebagai ruang untuk mengekspresikan diri maupun risiko yang dapat muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada ruang tersebut. Konsep <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan teori <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">Johari Window<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> akan digunakan untuk membantu menjelaskan fenomena tersebut.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Penggunaan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Instagram merupakan fenomena di mana pengguna terutama remaja membuka akun tambahan selain akun utama (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">first account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas dan autentik tanpa tekanan sosial yang terasa pada akun utama. Karakteristik <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">dapat dibuat dengan nama samaran, privasi yang lebih ketat, dan audiens yang terbatas memungkinkan pengguna memposting konten spontan, personal, serta curhat keseharian yang sering kali tidak ingin dibagi ke publik luas. Dalam kerangka teori dramaturgi Goffman, akun utama berperan sebagai \u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">front stage<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u201d yang menampilkan citra ideal, sedangkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> adalah \u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">backstage<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u201d yang menjadi ruang aman untuk ekspresi diri yang lebih jujur dan tanpa ekspektasi sosial (Sidqiyah &amp; Ahwan, 2025).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kondisi tersebut berkaitan erat dengan konsep <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> atau keterbukaan diri. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> merupakan proses ketika seseorang mengungkapkan informasi mengenai dirinya kepada orang lain, termasuk informasi pribadi yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang lain (Prihantoro et al., 2020). Keterbukaan diri tidak terjadi dengan tingkat yang sama kepada setiap orang. Seseorang cenderung mempertimbangkan kepada siapa informasi tersebut akan disampaikan, seberapa dekat hubungan yang dimiliki, serta bagaimana kemungkinan orang lain memberikan respons terhadap informasi tersebut. Oleh karena itu, ketika individu merasa bahwa audiensnya merupakan orang-orang yang dapat dipercaya, hambatan untuk mengungkapkan informasi pribadi dapat menjadi lebih rendah.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Hal tersebut dapat dijelaskan melalui teori Johari Window yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Teori ini membagi pemahaman mengenai diri ke dalam empat bagian, yaitu <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">open area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">blind area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hidden area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">unknown area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Dalam konteks <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, bagian yang paling berkaitan adalah <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hidden area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, yaitu informasi mengenai diri yang diketahui oleh individu tetapi belum diketahui oleh orang lain. Melalui keterbukaan diri, sebagian informasi yang sebelumnya berada dalam <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hidden area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dapat dibagikan kepada orang lain sehingga menjadi bagian dari informasi yang diketahui bersama (Arifa, 2022). <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jika dikaitkan dengan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, individu cenderung menyimpan informasi pribadi di akun utama karena mempertimbangkan audiens dan penilaian sosial, sehingga tetap berada dalam <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hidden area<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Namun, audiens yang lebih terbatas dan dipercaya pada <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dapat menciptakan rasa aman untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pemikiran pribadi. Dengan demikian, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> menjadi ruang yang mendorong terjadinya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Rasa aman tersebut menjadi salah satu faktor psikologis yang mendorong <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Ketika individu merasa minim risiko mendapat penilaian negatif, ia cenderung lebih bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Aulia et al. (2025) menunjukkan bahwa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dapat menjadi ruang yang lebih aman karena pengguna memiliki kontrol dalam menentukan siapa yang dapat melihat kontennya, sehingga lebih leluasa menampilkan sisi diri yang tidak ditunjukkan di akun utama.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dari perspektif psikologi, penggunaan akun kedua ini tidak lepas dari dinamika kesehatan mental remaja. Media sosial memberi peluang katarsis melalui ekspresi perasaan, namun di sisi lain menimbulkan resiko tekanan sosial baru, kecemasan identitas, dan gejala depresi, apabila pengelolaannya tidak sehat. Penggunaan beberapa akun sekaligus menimbulkan implikasi psikososial yang kompleks\u00a0 mulai dari tekanan sosial ganda hingga potensi konflik internal identitas. Dengan meningkatnya kebutuhan remaja atas ruang ekspresi yang lebih privat dan minimnya literasi risiko psikologi digital. (Sidqiyah &amp; Ahwan, 2025).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dengan akun media sosial yang dikunci serta pengikut yang hanya terdiri atas orang-orang terdekat dan dipercaya, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> menciptakan ruang komunikasi yang lebih intim. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam menentukan hal-hal yang ingin dibagikan (Prihantoro et al., 2020). Kebebasan yang lebih besar tersebut memberikan keleluasaan bagi individu untuk membagikan hal-hal yang sebelumnya belum pernah mereka ungkapkan. Semakin besar kesamaan yang dirasakan seseorang dengan orang lain, semakin besar pula kecenderungan untuk berkomunikasi.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Tidak hanya dalam ruang digital, penggunaan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> juga dapat membantu seseorang merasa lebih percaya diri dalam kehidupan nyata. Terbentuknya ruang untuk mengekspresikan diri secara bebas, serta adanya perasaan \u201cdidengar\u201d dan \u201cdipahami\u201d oleh komunitas kecil di akun kedua, dapat mengurangi beban untuk tampil sempurna di akun utama dan memperkuat rasa kebermaknaan dalam relasi sosial. Selain itu, minimnya risiko penilaian dari orang lain membuat seseorang cenderung lebih terbuka dalam menyuarakan keresahan, mengolah pengalaman, dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Proses ini memungkinkan individu untuk melakukan refleksi diri secara lebih mendalam, membentuk kesadaran diri, serta mengembangkan sikap asertif dalam menyampaikan emosi (Aulia et al., 2025).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">Second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> juga memiliki peran penting dalam proses negosiasi identitas dan penguatan rasa keterikatan pada kelompok kecil di media sosial. Sidqiyah dan Ahwan (2025) dalam penelitiannya menyatakan bahwa proses <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">sharing<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang terbatas dapat meningkatkan rasa diterima, kepercayaan diri, dan validasi terhadap pengalaman diri. Interaksi semacam ini dapat memperkuat harga diri sekaligus memperbaiki kualitas relasi sosial di dunia nyata.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">Second accoun<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">t dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-disclosure Audience<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang dimiliki lebih sedikit sehingga individu lebih merasa diterima, didengar, dan bebas mengekspresikan dirinya tanpa ada tekanan dari orang lain maupun individu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan diri dipengaruhi oleh rasa percaya dan lingkungan sosial yang dibangun oleh individu. Dengan begitu, lebih jujur di <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">second account<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bukan berarti memiliki identitas berbeda dari apa yang ditunjukkan, melainkan karena adanya ruang lain yang dimiliki seseorang untuk menampilkan sisi dirinya yang lebih personal dan apa adanya tanpa harus memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Penulis:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Apriani Dinda Kuswara | 2910012140<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Astri Herlisnawati | 2810011553<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Azmiati Jauhar Nafisah | 2910012323<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jasmine Achir | 2910012790<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Shania Hijriah | 2910012286<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">REFERENSI<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sidqiyah, N. L., &amp; Ahwan, Z. (2025). Secound account Instagram sebagai ruang ekspresi alternatif remaja pada fenomenologi kesehatan mental dan identitas sosial di Kota Surabaya. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(3), 121\u2013130. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.9963\/mr7j2p94\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.9963\/mr7j2p94<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Prihantoro, E., Damintana, K. P. I., &amp; Ohorella, N. R. (2020). Self disclosure generasi milenial melalui second account Instagram. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal Ilmu Komunikasi, 18<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(3), 312\u2013323. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.31315\/jik.v18i3.3919\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.31315\/jik.v18i3.3919<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Aulia, K. P., Ramadhani, S. P., &amp; Agitashera, D. (2025). Penggunaan second account Instagram sebagai ruang aman untuk presentasi diri Gen Z. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal Ilmu Komunikasi, 15<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(2), 84\u201393. <\/span><a href=\"https:\/\/jurnal.akmrtv.ac.id\/jik\/article\/view\/409\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/jurnal.akmrtv.ac.id\/jik\/article\/view\/409<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Arifa, M. (2022). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Konsep diri dan self disclosure laki-laki dalam multi account Instagram<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> [Skripsi sarjana, Universitas Islam Indonesia]. DSpace UII. <\/span><a href=\"https:\/\/dspace.uii.ac.id\/handle\/123456789\/43359?utm_source=chatgpt.com\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/dspace.uii.ac.id\/handle\/123456789\/43359<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Punya lebih dari satu akun Instagram sudah menjadi hal yang biasa bagi banyak anak muda. Selain akun utama, banyak yang menggunakan second account untuk membagikan hal-hal yang tidak selalu ingin ditampilkan di akun utama. Jika di akun utama kita cenderung lebih memilih foto, memikirkan caption, dan mempertimbangkan siapa saja yang akan melihatnya, di second account [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-727","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/727","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=727"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/727\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":728,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/727\/revisions\/728"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=727"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}