{"id":664,"date":"2026-06-08T11:00:10","date_gmt":"2026-06-08T11:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=664"},"modified":"2026-06-17T03:04:23","modified_gmt":"2026-06-17T03:04:23","slug":"challenging-prejudice-in-modern-society-a-guest-lecture-from-binus-university-prof-dr-juneman-abraham-s-psi-m-si","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2026\/06\/08\/challenging-prejudice-in-modern-society-a-guest-lecture-from-binus-university-prof-dr-juneman-abraham-s-psi-m-si\/","title":{"rendered":"Challenging Prejudice in Modern Society: A Guest Lecture from BINUS UNIVERSITY : Prof. Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Pada tanggal 3 Juni 2026, mahasiswa Binusian 29 kedatangan seorang dosen tamu dari Binus University. Beliau adalah seorang dosen yang senang mendalami dan melakukan penelitian mengenai Korupsi Psikologi. Supaya lebih akrab, kita akan menyebut beliau dengan Prof Jun ya. Prof Jun, sebelum bergabung di Binus, banyak mengajar di beberapa kampus swasta lainnya. Salah satunya adalah Universitas Bhayangkara, Atma Jaya dan masih banyak lagi. Kali ini Prof Jun akan membagikan pengalamannnya untuk membahas mengenai <em>Prejudice<\/em>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-666\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/06\/Screenshot-383.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berdasarkan pemarapan materi yang disampaikan oleh Prof Jun. <em>Prejudice <\/em>itu sebenarnya bisa terjadi karena kita tidak mengenal dan tahu mengenai orang lain atau kelompok lain. Loh kok bisa? Iya lah, kalau kita paham, kenal dan juga dekat dengan orang lain atau kelompok lain mana mungkin timbul prasangka atau <em>prejudice? <\/em>Hehehe. Berdasarkan definisinya, <em>prejudice <\/em>adalah sebuah sikap bermusuhan terhadap kelompok yang berbeda dengan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Coba teman-teman lihat kalimat yang sebelumnya. Sikap bermusuhan karena berbeda dengan kita. Aneh kan? Kok bisa kita bermusuhan dengan orang lain hanya karena kelompok kita berbeda dengan kelompok lain? Tentu bisa, salah satu hal yang membuat kenapa orang bisa seperti itu adalah karena pada dasarnya manusia memiliki cara berpikir yang bias, malas berpikir secara rasional, suka mengingat sesuatu hal yang salah. Itu lah yang menyebabkan mengapa bisa muncul sikap bermusuhan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-665\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/06\/Capture.png\" alt=\"\" width=\"834\" height=\"540\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jadi harus gimana dong supaya tidak bermusuhan? Prof Jun, mengatakan bahwa hal yang paling mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang adalah dengan cara sering-seringlah berinteraksi, bertemu, berkenalan orang-orang yang berasal dari <em>out-group <\/em>kita. Semakin sering bertemu, berkenalan, berinteraksi, kemungkinan akan muncul perasaan atau sikap benci akan menurun. Sangat tidak mungkin, kalau kita tidak ada perbedaan apalagi zaman sekarang. Dari semboyan negara Indonesia saja sudah jelas, Bhineka Tunggal Ika. Indonesia terdiri atas beragam suku, adat, bahasa, kepercayaan dan juga nilai-nilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yuk kenali <em>out-group <\/em>kita, supaya pikiran dan hati kita bebas dari <em>prejudice. <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tanggal 3 Juni 2026, mahasiswa Binusian 29 kedatangan seorang dosen tamu dari Binus University. Beliau adalah seorang dosen yang senang mendalami dan melakukan penelitian mengenai Korupsi Psikologi. Supaya lebih akrab, kita akan menyebut beliau dengan Prof Jun ya. Prof Jun, sebelum bergabung di Binus, banyak mengajar di beberapa kampus swasta lainnya. Salah satunya adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-664","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=664"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/664\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":671,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/664\/revisions\/671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}