{"id":652,"date":"2026-06-09T01:00:53","date_gmt":"2026-06-09T01:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=652"},"modified":"2026-06-09T04:24:00","modified_gmt":"2026-06-09T04:24:00","slug":"halo-effect-di-media-sosial-kenapa-kita-mudah-percaya-influencer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2026\/06\/09\/halo-effect-di-media-sosial-kenapa-kita-mudah-percaya-influencer\/","title":{"rendered":"Halo Effect di Media Sosial , Kenapa Kita Mudah Percaya Influencer?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Pernah merasa tertarik membeli suatu produk hanya karena direkomendasikan oleh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0di media sosial? Atau merasa percaya pada suatu merek meskipun belum pernah mencobanya secara langsung? Jika iya, kemungkinan besar keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepercayaan, persepsi positif, dan kedekatan emosional dengan figur yang diikuti. Fenomena ini semakin umum terjadi di era digital, di mana media sosial menjadi ruang utama bagi konsumen untuk mencari informasi sekaligus membentuk preferensi terhadap suatu produk (Y\u0131lmaz\u00a0&amp;\u00a0Demir, 2023).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Saat ini, penggunaan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0dalam strategi pemasaran telah menjadi tren yang sangat kuat di masyarakat. Banyak individu, terutama generasi muda, menjadikan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0sebagai sumber referensi utama dalam menentukan pilihan konsumsi. Hal ini terjadi karena adanya interaksi\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">parasosial<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, yaitu hubungan satu arah yang terasa dekat dan personal antara pengikut dengan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">. Meskipun hubungan tersebut tidak terjadi secara nyata, konsumen sering kali merasa mengenal dan mempercayai\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0layaknya teman sendiri. Akibatnya, rekomendasi yang diberikan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0cenderung lebih mudah diterima dan diyakini tanpa banyak pertimbangan kritis (Y\u0131lmaz\u00a0&amp;\u00a0Demir, 2023).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Selain itu, terdapat fenomena\u202f<\/span><i><span data-contrast=\"none\">halo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, yaitu kecenderungan seseorang untuk menilai sesuatu secara keseluruhan hanya berdasarkan kesan awal yang positif. Dalam konteks ini, ketika seorang\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0dianggap menarik, sukses, atau memiliki citra yang baik, maka produk yang mereka promosikan juga ikut dinilai positif. Ditambah dengan adanya persepsi kepercayaan yang terbentuk melalui konten yang konsisten dan autentik, hal ini semakin memperkuat pengaruh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0terhadap keputusan pembelian konsumen (Y\u0131lmaz\u00a0&amp;\u00a0Demir, 2023).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini dapat dengan mudah ditemukan, misalnya ketika seseorang membeli produk\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">skincare<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0karena melihat hasil yang ditampilkan oleh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, atau tertarik mencoba suatu\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">brand<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0hanya karena sering muncul di konten media sosial. Tanpa disadari, keputusan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi antara kepercayaan, persepsi positif, dan kedekatan emosional yang terbentuk secara tidak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen di era digital tidak lagi sepenuhnya rasional, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis dan sosial.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Berdasarkan fenomena tersebut, penting untuk memahami bagaimana faktor-faktor psikologis seperti persepsi kepercayaan dan\u202f<\/span><i><span data-contrast=\"none\">halo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u202fbekerja dalam membentuk interaksi\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">parasosial<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada niat pembelian dan advokasi merek. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis peran persepsi kepercayaan dan\u202f<\/span><i><span data-contrast=\"none\">halo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u202fdalam membentuk interaksi\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">parasosial<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen di era pemasaran digital. Dengan memahami hal ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai mekanisme psikologis dalam pengambilan keputusan konsumen serta menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran yang lebih efektif.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Secara\u00a0teoritis, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">halo\u00a0effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">Menurut\u00a0edward\u00a0Thorndike\u00a0(1920),\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Hallo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0adalah kecenderungan seseorang membentuk kesan umum terhadap individu berdasarkan satu\u00a0artibut\u00a0dominan, merupakan\u00a0bias psikologi\u00a0ketika penilaian terhadap satu aspek mempengaruhi penilaian terhadap aspek lainnya. Dalam media sosial, seseorang yang memiliki penampilan menarik atau sejumlah pengikut yang banyak sering dianggap lebih pintar, terpercaya, dan\u00a0kompenten. Akibatnya,\u00a0audiens\u00a0cenderung menerima informasi dari\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0tanpa melakukan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">verifikasi<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0lebih lanjut karena sudah percaya terhadap para\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"none\">Influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0Media Sosial adalah individu yang memiliki kemampuan mempengaruhi opini, sikap, dan perilaku\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">audiens\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">melalui platform digital seperti\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Instagram<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">,\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">TikTok<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">,\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Youtube<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">, atau\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">X<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">. Mereka mempengaruhi\u00a0para\u00a0audiens\u00a0dengan berbagai bentuk seperti Video konten atau pun komentar yang dapat mengiring opini.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0sering dianggap sebagai \u201copinion\u00a0leader\u201d karena\u00a0mampun\u00a0membangun hubungan emosional dengan pengikutnya melalui konten yang personal dan konsisten.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Menurut Liu dan\u00a0Zheng\u00a0(2004), citra positif yang dibangun\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0di media sosial dapat meningkatkan rasa percaya para pengikut terhadap mereka.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0biasanya menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna sehingga membuat banyak orang terkagum dan mudah terpengaruh oleh apa yang mereka katakan atau lakukan.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"none\">Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui beberapa teori yang relevan berikut ini :\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">1.Teori Kredibilitas Sumber<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Source\u00a0Credibility\u00a0Theory\u00a0menjelaskan bahwa tingkat\u00a0kepercaayaan\u00a0seseorang akan lebih mudah pada informasi jika orang yang menyampaikan informasi tersebut kredibel dan\u00a0menyakikankan. Teori\u00a0Source\u00a0Credibility\u00a0dikembangkan oleh\u00a0Carl\u00a0Hovland\u00a0dan\u00a0Walter\u00a0Weiss\u00a0pada tahun 1951, menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan\u00a0audiens\u00a0dipengaruhi oleh: Daya tarik, Kepercayaan, Keahlian. Dalam media sosial,\u00a0influencer\u00a0yang memiliki penampilan menarik, dianggap jujur, dan memiliki kemampuan dalam bidang tertentu cenderung lebih mudah dipercaya oleh\u00a0audiens. Oleh karena itu,\u00a0followers\u00a0sering menerima rekomendasi\u00a0influencer\u00a0tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut karena telah terbentuk persepsi positif terhadap\u00a0influencer\u00a0tersebut.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">2. Teori Interaksi Parasosial<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Parasocial\u00a0Interaction\u00a0adalah hubungan emosional satu arah antara\u00a0audiens\u00a0dengan figur media. Menurut\u00a0Horton\u00a0&amp;\u00a0Wohl\u00a0(1956), Interaksi\u00a0parasosial\u00a0membuat\u00a0audiens\u00a0merasa memiliki hubungan nyata dengan figur media walaupun sebenarnya tidak terjadi komunikasi dua arah secara langsung.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">3.Teori Aliran Dua langkah<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Two-step\u00a0Flow\u00a0Theory\u00a0menjelaskan bahwa informasi dari media tidak langsung memengaruhi masyarakat, tetapi melalui\u00a0opinion\u00a0leader\u00a0terlebih dahulu. Dalam era digital,\u00a0influencer\u00a0bertindak sebagai\u00a0opinion\u00a0leader\u00a0yang menerjemahkan informasi kepada\u00a0followers\u00a0sehingga opini mereka lebih dipercaya dibanding media biasa.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Penelitian mengenai pengaruh\u00a0influencer\u00a0di media sosial telah banyak dilakukan, terutama yang berkaitan dengan hubungan\u00a0parasosial, dan perilaku\u00a0audiens. Berbagai penelitian telah\u00a0membukttikan\u00a0bahwa\u00a0followers\u00a0cenderung akan mudah percaya kepada\u00a0influencer\u00a0yang dianggap menarik, ahli dan memiliki hubungan yang dekat dengan\u00a0audiensnya. Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep \u201cHalo\u00a0Effect\u201d, yaitu\u00a0dimana\u00a0seseorang cenderung memberikan penilaian positif terhadap individu hanya berdasarkan satu karakteristik tertentu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Penelitian yang telah dilakukan oleh Aji Yudha (2023)\u00a0menunjukan\u00a0bahwa kredibilitas\u00a0influencer\u00a0memiliki pengaruh signifikan \u201cSource\u00a0Credibility\u00a0Theory\u201d yang\u00a0menekannya\u00a0tiga aspek utama, yaitu\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Attractiveness<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0(daya tarik),\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Trustworthiness\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(kepercayaan), dan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Expertise<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0(keahlian). Hasil penelitian\u00a0menunjukan\u00a0bahwa\u00a0followers\u00a0atau\u00a0audiens\u00a0lebih mudah mempercayai\u00a0influencer\u00a0yang memiliki citra positif dan dianggap\u00a0kompenten\u00a0dalam\u00a0bindang\u00a0tertentu. Selain itu, dalam\u00a0penilitian\u00a0Aji Yudha\u00a0menunjukan\u00a0hubungan\u00a0parasosial\u00a0antara\u00a0influencer\u00a0dengan\u00a0followersnya\u00a0juga memperkuat bahwa persepsi positif terhadap keputusan\u00a0audiens. Penelitian ini membuktikan bahwa persepsi positif terhadap\u00a0influencer\u00a0dapat mempengaruhi cara\u00a0audiens\u00a0menerima informasi maupun rekomendasi produk yang\u00a0ditunjukan\u00a0atau direkomendasikan oleh\u00a0influencer.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Media sosial saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja dan dewasa muda. Banyak orang menggunakan media sosial untuk mencari hiburan, informasi, hingga rekomendasi produk. Pada kondisi ini,\u00a0influencer\u00a0memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan keputusan pengikutnya. Salah satu penyebabnya adalah\u00a0hallo\u00a0effect.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Hallo\u00a0effect\u00a0adalah kondisi ketika seseorang menilai orang lain positif hanya karena melihat satu karakteristik yang dianggap baik. Dalam media sosial,\u00a0influencer\u00a0yang memiliki penampilan menarik, gaya hidup mewah, atau banyak pengikut sering dianggap lebih pintar, terpercaya, dan ahli dalam banyak hal. Akibatnya, pengguna media sosial lebih mudah percaya pada apa yang dikatakan\u00a0influencer\u00a0tanpa mencari tahu lebih lanjut tentang informasi tersebut apakah benar atau tidak.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Menurut Liu dan\u00a0Zheng\u00a0(2004), citra positif yang dibangun\u00a0influencer\u00a0di media sosial dapat meningkatkan rasa percaya para pengikut terhadap mereka.\u00a0Influencer\u00a0biasanya menampilkan\u00a0kehifupan\u00a0lyang\u00a0terlihat sempurna sehingga membuat banyak orang\u00a0terkagun\u00a0dan mudah terpengaruh\u00a0ileh\u00a0apa yang mereka katakan atau lakukan.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Ada beberapa hal utama yang berkaitan secara langsung dengan hallo effect pada influencer adalah :<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>1.Daya Tarik Fisik dan Tampilan Konten \u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Influencer\u00a0yang memiliki wajah menarik, cara berbicara yang percaya diri, dan tampilan konten yang rapi atau unik biasanya lebih mudah disukai. Karena kesan positif tersebut, banyak orang yang menganggap\u00a0influencer\u00a0itu juga pintar dan dapat dipercaya. Contohnya seperti\u00a0beauty\u00a0influencer\u00a0yang memiliki\u00a0kulih\u00a0ajah\u00a0sehat sering\u00a0dianggpa\u00a0benar-benar ahli dalam dunia\u00a0skincare. Sehingga banyak pengikut membeli produk yang sama dengan\u00a0influencer\u00a0tersebut tanpa mencari tahu apakah produk itu cocok atau aman.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>2.Jumlah Followers dan Popularitas\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jumlah\u00a0followers,\u00a0likes, dan komentar sering dianggap sebagai tanda bahwa\u00a0influencer\u00a0tersebut memiliki kualitas dan pengetahuan yang baik. Semakin terkenal seorang\u00a0influencer, semakin mudah orang percaya terhadap pendapatnya.\u00a0 Misalnya,\u00a0influencer\u00a0dengan jutaan\u00a0followers\u00a0sering dipercaya saat\u00a0 mempromosikan makanan sehat, investasi, atau produk kesehatan. Walaupun belum tentu memiliki latar belakang pendidikan di bidang tersebut.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>3.Hubungan Parasosial\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Media sosial membuat pengikut merasa dekat dengan\u00a0influencer\u00a0walaupun sebenarnya tidak saling mengenal secara langsung hal itu disebut dengan hubungan\u00a0parasosial. Pengikut bisa melihat aktivitas sehari-hari\u00a0influencer\u00a0melalui\u00a0vlog,\u00a0live\u00a0streaming,\u00a0atau\u00a0stroy\u00a0yang diunggahnya sehingga merasa seperti teman sendiri.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Balaban\u00a0dan\u00a0Szambolics\u00a0(2022) menjelaskan bahwa hubungan\u00a0parasosial\u00a0membuat pengikut lebih mudah percaya karena merasa nyaman dan dekat dengan\u00a0influencer\u00a0tersebut. Contohnya, banyak orang membeli pakaian, makanan, atau produk\u00a0tertantu\u00a0dengan melihat\u00a0influencer\u00a0favorit mereka menggunakannya. Pengikut merasa bahwa rekomendasi dari\u00a0influencer\u00a0tersebut lebih meyakinkan dibanding iklan biasa.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>4.Pengaruh Terhadap Keputusan Pengikut. \u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Hallo\u00a0effect\u00a0memberikan banyak\u00a0pegguna\u00a0media sosial lebih fokus pada siapa yang menyampaikan informasi dibanding isi informasinya. Ketika\u00a0influencer\u00a0terlihat sukses dan terkenal, orang cenderung langsung percaya tanpa berpikir kritis.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Yudha (2023) menjelaskan bahwa daya tarik, rasa percaya, dan anggapan bahwa\u00a0influencer\u00a0memiliki kemampuan tertentu dapat memengaruhi keputusan pengikut dalam membeli produk atau mengikuti tren.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Akibatnya\u00a0hallo\u00a0effect\u00a0bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya,\u00a0influencer\u00a0dapat membantu menyebarkan informasi dan kampanye sosial dengan cepat. Namun, dampak negatifnya adalah munculnya perilaku konsumtif, mudah terpengaruh tren, dan percaya pada informasi yang belum tentu benar.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jadi, penting bagi pengguna media sosial untuk lebih kritis dalam menerima informasi dari\u00a0influencer. Popularitas dan penampilan menarik tidak selalu berarti seseorang benar-benar ahli atau dapat dipercaya dalam semua bidang.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Di era digital saat ini, banyak orang yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat banyaknya konten di berbagai platform. Dari sana, banyak juga muncul berbagai publik figur yang dikenal sebagai\u00a0influencer<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Tidak hanya menghibur, tetapi mempengaruhi gaya hidup, cara berpikir, bahkan menjadi patokan untuk mengambil keputusan. Tanpa disadari, banyak\u00a0yang mudah percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh\u00a0influencer\u00a0dibandingkan dengan pendapat dari para ahli atau sumber yang sudah resmi.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Di media sosial,\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Hallo\u00a0Effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">semakin meningkat karena banyaknya orang-orang melihat kehidupan\u00a0influencer\u00a0yang tampak sempurna. Akibatnya, banyak pengguna media sosial yang lebih mudah memandang bahwa\u00a0influencer\u00a0sebagai sosok yang cocok untuk dijadikan acuan hidup, kompeten, dan dipercaya, meskipun di bidang yang bukan keahlian mereka.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Berikut dampak dan permasalahan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Hallo\u00a0Effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">di media sosial :<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">1.Masyarakat Menjadi Mudah Percaya Tanpa Verifikasi<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">Hallo\u00a0Effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">menjadikan seseorang berpikir bahwa\u00a0influencer\u00a0pasti mempunyai pengetahuan yang benar di berbagai bidang. Maka dari itu, akibatnya para pengguna media sosial sering menganggap informasi yang diberikan oleh para\u00a0influencer\u00a0adalah benar tanpa mencari tahu terlebih dahulu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">2.Meningkatnya Perilaku Konsumtif<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Banyak\u00a0influencer\u00a0yang dijadikan media promosi karena faktor dari pengikut yang cenderung percaya akan rekomendasi mereka. Hal tersebut dapat menjadi faktor perilaku yang konsumtif, terutama di kalangan remaja dan dewasa.\u00a0Tak jarang hal ini dapat memunculkan perilaku FOMO\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(Fear\u00a0of\u00a0Missing\u00a0Out).<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">3.Standar Hidup dan Kecantikan Menjadi Tidak Realistis<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Media sosial di era digital sering menunjukkan banyak kehidupan yang sudah diilusikan agar terlihat sempurna, Oleh karena itu, pengaruh pada\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hallo\u00a0effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">ini menjadikan para pengguna media sosial memandang hal tersebut sebagai realitas. Akibatnya, banyak yang merasa tidak percaya diri dan adanya tekanan untuk terlihat sempurna atau disebut\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Low\u00a0Self-Esteem.<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">4.Penyebaran Misinformasi<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ketenaran\u00a0influencer\u00a0menjadikan informasi yang mereka sampaikan lebih mudah dipercaya dan dapat mempengaruhi pemikiran para pengguna media sosial, meski informasi tersebut belum tentu benar. Hal ini dapat memicu munculnya\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Confirmation\u00a0Bias.<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">5.Ketergantungan Validasi Sosial<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Media sosial menjadikan para influencer sosial para influencer menilai diri berdasarkan jumlah likes, pengikut dan komentar orang-orang. <\/span><span data-contrast=\"auto\">Sehingga hal tersebut menjadikan dirinya pribadi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Need\u00a0for\u00a0validation,\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">kecemasan sosial, dan ketergantungan pada media sosial.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Untuk mengurangi pengaruh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hallo\u00a0effect\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">di media sosial, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menerima informasi dari\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">influncer<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Konsumen sebaiknya tidak langsung percaya terhadap suatu produk hanya karena dipromosikan oleh figur yang dianggap menarik, populer, atau terpercaya. Sebelum membeli produk, penting untuk mencari informasi tambahan, seperti membaca ulasan dari pengguna lain, membandingkan dengan merek lain, serta memeriksa fakta dan kandungan produk secara objektif.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Selain itu, pengguna media sosial juga perlu memahami bahwa hubungan dengan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0bersifat\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">parasosial<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0atau hubungan satu arah. Kedekatan emosional yang terbentuk melalui konten media sosial dapat membuat\u00a0audiens\u00a0merasa mengenal\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">influencer\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">secara pribadi sehingga lebih mudah menerima rekomendasi tanpa mempertimbangkan secara rasional. Dengan menyadari adanya bias psikologis tersebut, individu dapat menjadi lebih selektif dan tidak mudah terpengaruh oleh citra positif yang ditampilkan di media sosial.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Strategi lainnya adalah meningkatkan\u00a0literasi\u00a0digital melalui edukasi di sekolah maupun lingkungan keluarga. Edukasi mengenai cara kerja media sosial, iklan digital, dan teknik\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">persuasi\u00a0influencer\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">dapat membantu masyarakat memahami bahwa tidak semua konten yang terlihat\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">autentik\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">benar-benar mencerminkan kenyataan. <\/span><span data-contrast=\"auto\">Dengan demikian, konsumen dapat mengambil keputusan\u00a0secaralebih\u00a0rasional dan bijak.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Penelitian mengenai\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">parasocial\u00a0interaction\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">menunjukkan bahwa kedekatan emosional dan persepsi kesamaan antara\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">audiens<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0dengan figur media dapat meningkatkan rasa percaya dan memengaruhi proses persuasi. Oleh karena itu, kesadaran terhadap mekanisme psikologis tersebut penting agar pengguna media sosial tidak mudah terjebak dalam\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">hallo\u00a0effect.<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kesimpulannya, f<\/span><span data-contrast=\"none\">enomena\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">halo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0dan interaksi\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">parasosial\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">menunjukkan bahwa pengaruh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0di media sosial dapat membentuk kepercayaan, persepsi positif, dan niat beli konsumen. Keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada kualitas produk, tetapi juga pada citra, popularitas, dan kedekatan emosional yang dibangun oleh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"none\">Dengan demikian,\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"none\">influencer<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">\u00a0memiliki peran penting dalam pemasaran digital karena mampu memengaruhi perilaku konsumen, baik secara positif maupun negatif. Oleh karena itu, konsumen perlu lebih kritis dan selektif dalam menerima rekomendasi agar tidak mudah terjebak dalam bias psikologis dan perilaku konsumtif.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:120,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Penulis :<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Agustine Lucyana\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">|\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">2910012752<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Faradila\u00a0Alifya\u00a0| 2810011231<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Oktavia Ramadhani Qurotulain Hermawan\u00a0|\u00a0 2910012153<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Shirin\u00a0Prakhairunisa\u00a0| 2910011945<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span data-contrast=\"auto\">Shonnya Meilawati Salim | 2910012273<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">DAFTAR PUSTAKA<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span data-contrast=\"auto\">Balaban, <\/span><span data-contrast=\"auto\">D. C., &amp;\u00a0Szambolics, J. (2022).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Parasocial\u00a0relations\u00a0and\u00a0social\u00a0media\u00a0influencers\u2019\u00a0persuasive\u00a0power<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0Journal\u00a0of\u00a0Media\u00a0Research, 15(3), 5\u201319.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.24193\/jmr.45.1\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.24193\/jmr.45.1<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><i><span data-contrast=\"auto\">Halo\u00a0effect<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. (n.d.). In\u00a0Wikipedia.\u00a0Retrieved\u00a0May 7, 2026,\u00a0from\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Halo_effect?utm_source=chatgpt.com\"><span data-contrast=\"none\">Wikipedia\u00a0Halo\u00a0Effect<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span data-contrast=\"auto\">Liu, X., &amp; Zheng, X.(2024). The persuasive power of social media influencers in brand credibility and purchase intention.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Humanities\u00a0and\u00a0Social\u00a0Sciences\u00a0Communications, 11<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 1\u201312.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1057\/s41599-023-02512-1\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.1057\/s41599-023-02512-1<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span data-contrast=\"auto\">M\u00f6ri, M., &amp;\u00a0Fahr, A. (2023).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Parasocial interactions with media characters:The role of perceived and actual sociodemographic and psychological similarity.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0Frontiers\u00a0in\u00a0Psychology, 14, 1297687.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2023.1297687\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2023.1297687<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span data-contrast=\"none\">Y\u0131lmaz, M., &amp; Demir, Z. (2023). The effect of trust and halo effect on purchase intention and brand advocacy:The mediating role of parasocial interaction.\u202f<\/span><i><span data-contrast=\"none\">Journal\u00a0of\u00a0Business\u00a0Research<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.\u202f<\/span><a href=\"https:\/\/dergipark.org.tr\/en\/download\/article-file\/5271353\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/dergipark.org.tr\/en\/download\/article-file\/5271353<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Yudha, A. (2023). <\/span><span data-contrast=\"auto\">A source effect theory perspective on how opinion leadership, parasocial relationship, and credibility influencers affect purchase intention. <em>J<\/em><\/span><i><span data-contrast=\"auto\">urnal Manajemen Teori dan Terapan, 16<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(2), 134\u2013148.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.20473\/jmtt.v16i2.48099\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.20473\/jmtt.v16i2.48099<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559740&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah merasa tertarik membeli suatu produk hanya karena direkomendasikan oleh\u00a0influencer\u00a0di media sosial? Atau merasa percaya pada suatu merek meskipun belum pernah mencobanya secara langsung? Jika iya, kemungkinan besar keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepercayaan, persepsi positif, dan kedekatan emosional dengan figur yang diikuti. Fenomena ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-652","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=652"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":661,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/652\/revisions\/661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}