{"id":571,"date":"2026-03-09T10:00:01","date_gmt":"2026-03-09T10:00:01","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=571"},"modified":"2026-03-10T06:48:57","modified_gmt":"2026-03-10T06:48:57","slug":"seni-bertanya-dalam-psikologi-cara-psikolog-menggali-cerita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2026\/03\/09\/seni-bertanya-dalam-psikologi-cara-psikolog-menggali-cerita\/","title":{"rendered":"Seni Bertanya dalam Psikologi: Cara Psikolog Menggali Cerita"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-578 aligncenter\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/serious-businesswoman-businessman-talking-boardroom_1262-18034.jpg\" alt=\"\" width=\"626\" height=\"417\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Souces: Jobstreet<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bayangkan Anda sedang diwawancarai oleh seorang psikolog.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertanyaan pertama mungkin terdengar sederhana: <strong><em>\u201cCeritakan pengalaman Anda selama kuliah.\u201d<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah Anda mulai bercerita, pewawancara mungkin melanjutkan dengan pertanyaan yang semakin spesifik seperti:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em>\u201cApa yang paling menantang selama kuliah?\u201d<\/em><\/li>\n<li><em>\u201cBagaimana Anda biasanya mengatasi tekanan akademik?\u201d<\/em><\/li>\n<li><em>\u201cSeberapa sering Anda merasa stres?\u201d<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Urutan pertanyaan seperti ini <strong>bukan kebetulan<\/strong>. Dalam psikologi dan penelitian sosial, pewawancara biasanya menggunakan strategi tertentu dalam menyusun pertanyaan agar informasi yang diperoleh lebih lengkap, akurat, dan mendalam. Strategi ini disebut <strong>question sequences<\/strong> (pola urutan pertanyaan dalam wawancara).<\/p>\n<hr \/>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><strong>Tunnel: Pertanyaan Terarah dan Sistematis<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Teknik tunnel (terowongan) adalah pola wawancara yang menggunakan serangkaian pertanyaan dengan jenis yang sama, biasanya semua pertanyaan terbuka atau semua pertanyaan tertutup. Setiap pertanyaan mengarah pada informasi spesifik yang ingin diketahui pewawancara.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Contoh wawancara dengan seorang atlet maraton: <em>\u201cKapan Anda memutuskan untuk mengikuti maraton ini?&#8221;, <\/em><em>\u201cSiapa pelatih Anda?&#8221;, <\/em><em>\u201cBerapa lama Anda mempersiapkan diri untuk perlombaan?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Dalam pola ini, pewawancara bergerak lurus seperti terowongan, menggali satu topik dengan serangkaian pertanyaan yang fokus.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\"><strong>2. Funnel: Dari Umum ke Spesifik<\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Teknik funnel dimulai dengan pertanyaan terbuka yang luas, kemudian secara bertahap mengarah pada pertanyaan yang lebih spesifik. Contoh dalam wawancara pengalaman magang: <em>\u201cCeritakan pengalaman magang Anda di perusahaan tersebut.\u201d <\/em><em>\u201cApa kesan Anda tentang perusahaan itu?\u201d, <\/em><em>\u201cApa saja tugas yang biasanya Anda kerjakan setiap hari?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Teknik ini memungkinkan responden bercerita secara bebas terlebih dahulu, lalu pewawancara mempersempit topik untuk mendapatkan informasi yang lebih spesifik.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\"><strong>3. Inverted Funnel: Dari Spesifik ke Cerita<\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Teknik ini dimulai dengan <strong>pertanyaan tertutup atau spesifik<\/strong>, kemudian beralih ke pertanyaan yang lebih terbuka.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Contoh wawancara saksi kejadian: <em>\u201cKapan Anda mendengar suara tembakan pertama?\u201d, <\/em><em>\u201cBerapa kali tembakan yang Anda dengar?\u201d, <\/em><em>\u201cApa yang Anda lihat ketika keluar dari rumah?<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\"><strong>4.\u00a0\u00a0Kombinasi Pola Wawancara<\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">Dalam praktik nyata, pewawancara jarang menggunakan satu pola saja. Mereka sering mengombinasikan beberapa pola agar wawancara lebih fleksibel.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"list-style-type: none\">\n<ol>\n<li>Hourglass Sequence. Urutan pertanyaannya: Terbuka \u2192 Tertutup \u2192 Terbuka<\/li>\n<li>Diamond Sequence. Urutan pertanyaannya: Tertutup \u2192 Terbuka \u2192 Tertutup<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ol>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Mengapa Urutan Pertanyaan Itu Penting?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam wawancara psikologi, urutan pertanyaan tidak hanya mempengaruhi informasi yang diperoleh, tetapi juga kenyamanan responden.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Urutan pertanyaan yang tepat dapat:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>membantu responden merasa lebih nyaman<\/li>\n<li>mendorong mereka untuk berbicara lebih terbuka<\/li>\n<li>menghasilkan data yang lebih akurat<\/li>\n<li>memudahkan pewawancara memahami pengalaman seseorang secara mendalam<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Karena itu, kemampuan menyusun pertanyaan bukan sekadar teknik komunikasi, tetapi juga keterampilan penting dalam penelitian dan praktik psikologi. Bertanya adalah aktivitas yang kita lakukan setiap hari. Namun dalam konteks psikologi, cara bertanya memiliki peran yang sangat besar dalam menggali informasi dan memahami pengalaman manusia. Dengan memahami strategi ini, mahasiswa psikologi tidak hanya belajar mengajukan pertanyaan, tetapi juga belajar mendengarkan, memahami, dan menghargai cerita orang lain.<\/p>\n<h1 data-section-id=\"6rul9t\" data-start=\"6803\" data-end=\"6814\">Referensi<\/h1>\n<p data-start=\"6816\" data-end=\"6935\">Creswell, J. W. (2013). <em data-start=\"6840\" data-end=\"6913\">Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches<\/em>. Sage Publications.<\/p>\n<p data-start=\"6937\" data-end=\"7029\">Coolican, H. (2019). <em data-start=\"6958\" data-end=\"7005\">Research Methods and Statistics in Psychology<\/em> (7th ed.). Routledge.<\/p>\n<p data-start=\"7031\" data-end=\"7148\">Sattler, J. M. (2002). <em data-start=\"7054\" data-end=\"7116\">Assessment of Children: Behavioral and Clinical Applications<\/em>. Jerome M. Sattler Publisher.<\/p>\n<p data-start=\"7150\" data-end=\"7303\">Stewart, C. J., &amp; Cash, W. B. (2018). <em data-start=\"7188\" data-end=\"7228\">Interviewing: Principles and Practices<\/em> (15th ed.). McGraw-Hill Education.<\/p>\n<p data-start=\"7305\" data-end=\"7377\">Yeung, R. (2010). <em data-start=\"7323\" data-end=\"7364\">Successful Interviewing and Recruitment<\/em>. Kogan Page.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Souces: Jobstreet Bayangkan Anda sedang diwawancarai oleh seorang psikolog. Pertanyaan pertama mungkin terdengar sederhana: \u201cCeritakan pengalaman Anda selama kuliah.\u201d Setelah Anda mulai bercerita, pewawancara mungkin melanjutkan dengan pertanyaan yang semakin spesifik seperti: \u201cApa yang paling menantang selama kuliah?\u201d \u201cBagaimana Anda biasanya mengatasi tekanan akademik?\u201d \u201cSeberapa sering Anda merasa stres?\u201d Urutan pertanyaan seperti ini bukan kebetulan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":584,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-571","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=571"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":581,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571\/revisions\/581"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}