{"id":500,"date":"2025-12-24T03:54:30","date_gmt":"2025-12-24T03:54:30","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=500"},"modified":"2025-12-24T03:54:30","modified_gmt":"2025-12-24T03:54:30","slug":"anak-handphone-hilang-fokus-yuk-bedah-otaknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/12\/24\/anak-handphone-hilang-fokus-yuk-bedah-otaknya\/","title":{"rendered":"Anak + Handphone = Hilang Fokus?    Yuk Bedah Otaknya!"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-501 aligncenter\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/1.jpg\" alt=\"\" width=\"502\" height=\"332\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kalian pernah\u00a0nggak\u00a0sih lihat anak kecil bisa\u00a0diem\u00a0lama banget kalau dikasih\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Handphone<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">,\u00a0tapi kalau disuruh\u00a0duduk dan\u00a0fokus\u00a0untuk\u00a0mengerjakan tugas\u00a0sekolah\u00a0sebentar\u00a0aja\u00a0langsung gelisah?\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Sebenernya\u00a0otak anak itu berubah\u00a0ngga\u00a0sih kalau terlalu sering\u00a0nonton\u00a0video pendek kayak\u00a0TikTok\u00a0atau\u00a0YouTube\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Kids<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">?<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pertanyaan itu bisa dijawab sama\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cognitive\u00a0development<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cognitive\u00a0development<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0adalah bagaimana proses berpikir otak yang dipakai untuk pemahaman, pengetahuan, penalaran. Dalam mata kuliah psikologi perkembangan,\u00a0menurut\u00a0Vygotsky\u00a0kemampuan kognitif adalah kemampuan kita dalam memecahkan masalah, memudahkan kita dalam mengambil tindakan, dan memperluas kemampuan kita.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Lalu kognitif itu terletak\u00a0dibagian\u00a0otak mana? Banyak. Perkembangan kognitif terjadi menyebar, tidak berpusat satu bagian saja.\u00a0Salah\u00a0satunya di\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">prefrontal\u00a0cortex<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Orkestra\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">prefrontal\u00a0cortex\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">di otak di ibaratkan sebagai dirigen,\u00a0dimana\u00a0tugasnya untuk mengatur cara kerja bagian otak kita yang\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">memanage<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0dari\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">recall<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0memori\u00a0nyambung\u00a0dengan bagian otak yang mengatur emosi, mengatur impuls, dan lainnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">Media Lama vs Media Baru: Cara Otak\u00a0Merespon<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dulu pada tahun 19an tontonan di TV itu teratur banget, pakai skrip, ada yang\u00a0ngatur\u00a0seperti sutradara dan produser, dan durasinya lama, biasanya antara 30 menit sampai 1 jam. Tapi sekarang, media yang kita tonton biasanya pendek-pendek, paling lama 10 menit di\u00a0TikTok, terus kalau\u00a0ga\u00a0suka tinggal geser ke video lain. Ini ternyata berpengaruh ke cara kinerja otak anak\u00a0merespon. Di masa kecil, otak anak lagi berkembang cepat. Kita pasti sering dengar \u201cwaktu fokus anak itu sebentar.\u201d Nah, karena tontonan sekarang pendek-pendek banget, ini bikin anak jadi susah belajar buat fokus lama. Media baru kayak\u00a0gitu\u00a0bikin perhatian anak gampang lompat-lompat dan bergerak cepat. Ini juga ada hubungannya sama cara berpikir yang namanya\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">bottom-up<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0dan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">top-down<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Kalau\u00a0nonton\u00a0TV, otak bagian bawah aktif, karena kita cuma\u00a0nerima\u00a0gambar, suara, atau warna tanpa\u00a0mikir\u00a0banyak. Tapi sekarang beda. Kalau buka\u00a0TikTok\u00a0atau\u00a0YouTube, kita yang pilih video apa, kapan lanjut, kapan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">skip<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, jadi otak bagian atas yang aktif,\u00a0mikir\u00a0dan buat keputusan cepat. Sekilas ini terlihat bagus karena otak kita jadi aktif. Tapi sebenarnya, anak jadi gampang bosan, susah fokus lama, dan terus cari hal yang seru secara cepat. Di\u00a0TikTok, kita juga\u00a0gak\u00a0tahu video berikutnya bakal seperti apa, dan perubahan emosi di setiap video itu sebenarnya kurang baik buat anak.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Supaya lebih spesifik kita bahas\u00a0menjadi 3 bagian:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i><span data-contrast=\"auto\">Infants\u00a0and\u00a0Toddlers<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a0(<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"auto\">Ages<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a00\u20133)<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-502 alignleft\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/2.jpg\" alt=\"\" width=\"289\" height=\"329\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Ada ibu rumah tangga (IRT) yang dulu\u00a0nya\u00a0bekerja menjadi guru bahasa Inggris. Dia iseng bikin video yang isinya boneka dan mainan dengan latar musik klasik. Tujuan awalnya cuma ingin mengenalkan seni ke anaknya. Ternyata videonya menjadi\u00a0viral\u00a0dan bahkan dibeli sama Disney dengan label \u201cvideo edukatif.\u201d Videonya dikenal dengan judul Baby\u00a0Einstein. Banyak ibu-ibu yang kasih tontonan video tersebut ke anak-anak mereka karena berharap anaknya bisa belajar dari video itu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Penelitian menunjukkan kalau bayi usia 8\u201318 bulan menonton video terlalu lama, misalnya satu jam setiap hari, itu justru membuat kemampuan bahasa mereka jadi lebih lambat berkembang. Dampaknya lebih terasa pada bayi yang masih sangat kecil. Jadi, bukan berarti bayi belajar bahasa lebih cepat lewat video, malah sebaliknya, mereka jadi tertinggal dalam perkembangan bahasa.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Kenapa bisa begitu?\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pertama, bayi dan balita walaupun bisa\u00a0ngerti\u00a0isi video, mereka belum bisa menghubungkan apa yang mereka lihat di layar dengan dunia nyata. Artinya, walaupun mereka tertawa atau menunjukkan ekspresi saat menonton, itu belum tentu berarti mereka benar-benar paham atau belajar dari video itu.\u00a0Misalnya, di video muncul gambar kuda, gajah, atau bola, tapi kalau di dunia nyata ditunjukkan kuda, gajah, atau bola yang asli, anak belum tahu kalau itu sama dengan yang mereka lihat di video. Karena bagian otak yang namanya\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">prefrontal\u00a0cortex<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0pada anak usia kecil ini belum matang. Karena otaknya belum matang, anak jadi sulit mengontrol perhatian, ingat sesuatu dengan baik, dan belum bisa berpikir abstrak atau menggunakan simbol dengan baik.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Kedua, Karena waktu yang dihabiskan untuk\u00a0nonton\u00a0video adalah waktu\u00a0dimana\u00a0mereka\u00a0sebenernya\u00a0bisa belajar secara nyata untuk perkembangan kognitif mereka,\u00a0surveynya\u00a0anak-anak\u00a0yang menonton\u00a0video menghabiskan waktu 3 jam\u00a0perhari, itu lumayan banget kan\u00a0sebenernya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">American\u00a0Academy\u00a0of\u00a0Pediatrics\u00a0(AAP) bahkan menyarankan supaya anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak diberikan tontonan sama sekali. Jadi, sebaiknya 0 jam\u00a0nonton\u00a0video per hari untuk anak usia\u00a0segitu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><b><i><span data-contrast=\"auto\">The Impact of Background<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a0<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"auto\">Media<\/span><\/i><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kalau di ruang keluarga TV-nya nyala terus walaupun anaknya\u00a0nggak\u00a0nonton\u00a0dan cuma main mainan, suara dan gambar dari TV itu tetap bisa mengganggu anak. Ini bisa membuat anak jadi susah belajar mengontrol diri dan fokus memperhatikan sesuatu karena otak mereka terus terganggu oleh suara dan gambar yang datang dari TV. Jadi, meskipun anak main mainan nyata, lingkungan sekitar yang ada TV nyala tetap berpengaruh buruk untuk perkembangan perhatian dan kontrol diri anak usia dini.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">TV selain memperlihatkan gambar\u00a0(<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), juga mengeluarkan suara (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">auditory<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">). Ketika TV menampilkan gambar atau suara yang baru dan mencolok, itu bisa mengalihkan perhatian anak. Anak jadi sering melirik TV sehingga fokusnya pada mainan atau kegiatan yang sedang dilakukan jadi terganggu. Ini disebut\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">orienting\u00a0response<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, yaitu reaksi otak anak yang otomatis tertarik sama hal baru yang muncul, sehingga anak sulit konsentrasi penuh pada satu hal. Jadi, meskipun anak mainan nyata, suara dan gambar dari TV bisa membuat anak susah fokus dan susah belajar mengontrol diri.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Secara keseluruhan, TV punya dampak positif dan negatif untuk anak. Dampak positifnya bisa meningkatkan imajinasi, bahasa, dan kreativitas anak. Tapi kalau terlalu sering atau tanpa pengawasan, TV bisa bikin anak mudah terganggu, susah fokus, dan kurang bisa mengontrol diri.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><i><span data-contrast=\"auto\">The New\u00a0Wonder\u00a0Years<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a0(<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"auto\">Ages<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a03\u20135)<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-503 alignright\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/3.jpg\" alt=\"\" width=\"504\" height=\"340\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Anak-anak usia dini, terutama balita, diperbolehkan mendapatkan\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">screen\u00a0time<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0maksimal 1 jam per hari. Contohnya, penulis buku &#8220;<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Rewired<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">,&#8221; Dr.\u00a0Carl, memberi\u00a0iPad\u00a0ke anaknya selama 1 jam sehari. Namun, saat waktu itu habis dan\u00a0iPad\u00a0diambil, anaknya sering mengalami\u00a0tantrum\u00a0atau marah-marah. Awalnya dianggap kebetulan atau karena anak sedang\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">bad\u00a0mood<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, tapi hal ini terus terjadi terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa anak bisa menjadi sangat tergantung dan sulit\u00a0lepas dari penggunaan perangkat layar walau dalam waktu yang sudah dibatasi.\u00a0Rekomendasi dari para ahli, termasuk American\u00a0Academy\u00a0of\u00a0Pediatrics\u00a0(AAP), ialah membatasi\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">screen\u00a0time\u00a0<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">terutama untuk anak di bawah 2 tahun sebaiknya 0 jam, kecuali untuk\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">video\u00a0call<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Untuk anak usia 2-5 tahun maksimal 1 jam dengan pengawasan dan konten yang edukatif.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Screen\u00a0time<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0yang berlebihan atau tanpa pengawasan dapat membuat anak jadi sulit mengontrol diri, mudah terganggu, dan susah fokus.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pada usia tiga tahun, otak anak berkembang secara pesat, terutama dalam kemampuan bahasa dan kesadaran diri. Anak mulai lebih bersemangat dan penasaran untuk mengeksplorasi dunia sekitar mereka. Otak anak di usia ini mengatur tiga kemampuan penting yang dikendalikan oleh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">prefrontal\u00a0cortex<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, yaitu: kemampuan untuk mengingat hal yang penting (memori kerja), kemampuan untuk fokus dan berpindah tugas dengan mudah, serta kemampuan menahan diri dari gangguan. Jadi, pada usia tiga tahun, anak mulai bisa mengatur pikiran, bicara, dan perilaku mereka dengan lebih baik dan fleksibel dibandingkan sebelumnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Namun, ketika anak sering menonton video yang cepat berganti gambar, suara keras, dan gerakan terus-menerus, otak mereka terus terstimulasi tanpa jeda. Akibatnya, ketika anak ingin beralih ke aktivitas yang lebih tenang seperti bermain atau berbicara langsung, mereka kesulitan menyesuaikan diri. Anak jadi bingung dan sulit mengatur peralihan dari tontonan yang penuh rangsangan ke hal yang lebih santai. Saat orang tua mencoba menghentikan tontonan itu, anak yang sudah terbiasa dengan stimulasi konstan dari media ini bisa jadi marah atau\u00a0tantrum\u00a0karena kesulitan mengendalikan emosi dan adaptasi perubahan tersebut. Jadi, paparan media yang berlebihan membuat anak susah untuk rileks dan fokus pada hal lain yang lebih tenang.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Secara keseluruhan, paparan media yang berlebihan pada anak usia dini dapat mengganggu perkembangan kognitif, kreativitas, kontrol diri, kesehatan mentalnya, kesulitan mengatur emosi, dan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Oleh karena itu, pembatasan waktu menonton dan pengawasan orang tua sangat penting agar anak tetap bisa belajar dan berkembang secara optimal. Akibatnya, saat kegiatan yang menarik perhatian mereka dihentikan, anak mudah merasa frustrasi atau marah. Media yang penuh rangsangan cepat dan suara keras bisa membuat anak sulit\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">rileks<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0atau fokus pada hal yang lebih tenang. Ini bisa memicu reaksi emosional yang berlebihan seperti\u00a0tantrum. Jadi, terlalu banyak menonton atau terpapar media bisa mengganggu perkembangan kontrol diri dan keseimbangan emosi anak.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">Katanya, Aplikasi Edukatif<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559739&quot;:0,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Coba\u00a0deh\u00a0kalian\u00a0pihatikan\u00a0baik-baik. Media yang sering\u00a0dipakai di usia\u00a0&#8211; usia\u00a0ini.\u00a0Misalnya\u00a0Aplikasi\u00a0Abjad,\u00a0\u00a0mengenal\u00a0tata surya,\u00a0atau\u00a0Nusa\u00a0dan\u00a0rara,\u00a0dan masih banyak banget\u00a0yang dibilang\u00a0sebutan \u201cedukatif\u201d.\u00a0Tapi sebelumnya,\u00a0nggak\u00a0ada informasi\u00a0penelitian\u00a0yang\u00a0beneran\u00a0buktiin\u00a0kalau\u00a0media itu\u00a0didukung oleh aspek-aspek\u00a0perkembangan anak saat ini.\u00a0Contohnya,\u00a0mendorong anaknya\u00a0buat cerita\u00a0bareng orang tua\u00a0(interaksi\u00a0sama\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">caregiver<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">)\u00a0yang menonjolkan\u00a0biasanya\u00a0warna-warni heboh, dar-der-dor, biar\u00a0anak\u00a0menjadi tertarik.\u00a0Ada fitur\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Autoplay<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0juga, supaya\u00a0anak\u00a0gak\u00a0berhenti\u00a0nonton,\u00a0Ini\u00a0 hanya sekedar bisnis toh!.\u00a0Ini\u00a0beneran\u00a0serius\u00a0tau.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><i><span data-contrast=\"auto\">The\u00a0Intuitive\u00a0Thought\u00a0Substage<\/span><\/i><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Mulai beranjak usia\u00a04 tahun,\u00a0Anak\u00a0&#8211;\u00a0anak itu\u00a0banyak banget pertanyaan\u00a0di\u00a0kepalanya.\u00a0Mereka\u00a0suka\u00a0nanya\u00a0&#8211;\u00a0nanya\u00a0\u00a0mengenai\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">caregiver<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">-nya.\u00a0Nah,\u00a0kalau anak\u00a0suka belajar baca\u00a0atau bernalar,\u00a0misalnya\u00a0dengerin\u00a0cerita di Youtube, atau belajar\u00a0baca di\u00a0aplikasi,\u00a0ini\u00a0justru\u00a0malah kurang\u00a0kualitas belajar\u00a0mereka.\u00a0Nggak\u00a0adanya interaksi\u00a0anak, membuat\u00a0jadinya pasif banget.\u00a0Mamanya kalau\u00a0mau pakai\u00a0media\u00a0online\u00a0untuk belajar, orang tuanya harus dampingi.\u00a0Jawab pertanyaan anak\u00a0dengan aktif, biar mereka\u00a0bisa\u00a0nanya\u00a0&#8211;\u00a0nanya\u00a0serta belajar bareng.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\"> \u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jadi,\u00a0Anak usia ini\u00a0nggak\u00a0dapet\u00a0manfaat apa\u00a0apa\u00a0di tayangan video\u00a0meski dibilang, \u201cvideo edukatif\u201d.\u00a0Tapi\u00a0American\u00a0Academy\u00a0of\u00a0Pediatrics\u00a0(AAP),\u00a0ngasihin\u00a0pengecualian:\u00a0anak\u00a0boleh\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">screen\u00a0time<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0buat\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">video\u00a0call<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0atau\u00a0zoom, kenapa?,\u00a0Karena di situ ada hubungan timbal-balik, komunikasi\u00a0secara\u00a0langsung.\u00a0Walaupun\u00a0kualitasnya\u00a0nggak\u00a0sama\u00a0kayak\u00a0ngobrol\u00a0seperti\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">face<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0&#8211;\u00a0\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">to<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0&#8211;\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">face<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Jadi\u00a0iya,\u00a0media\u00a0online\u00a0itu\u00a0cuma alat.\u00a0Orang tua harus interaktif\u00a0ngelupain\u00a0TV\u00a0(Televisi) atau\u00a0Media\u00a0online, biar\u00a0ngebantu\u00a0anak\u00a0ngembangin\u00a0citra\u00a0mental\u00a0juga.\u00a0Kita\u00a0sebagai orang tua harus\u00a0aktif,\u00a0ya!<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i><span data-contrast=\"auto\">The\u00a0Rise\u00a0of\u00a0Media\u00a0Multitasking<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a0(<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"auto\">Ages<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"auto\">\u00a05\u201312)<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;335559738&quot;:281,&quot;335559739&quot;:281}\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-504\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/4.jpg\" alt=\"\" width=\"403\" height=\"265\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Di usia ini,\u00a0anak-anak\u00a0udah\u00a0masuk\u00a0sekolah,\u00a0dari\u00a0Tk\u00a0ke SD.\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Screen\u00a0time<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0ngebantu\u00a0mereka\u00a0kembangin\u00a0tugas-tugas sekolah\u00a0dan aspek lain\u00a0dari fungsi eksekutif\u00a0otak. Beberapa\u00a0studi pakai\u00a0pemindahan otak (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">neuroimaging<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">)\u00a0buat liat perbedaan\u00a0aktivitas dan\u00a0konektivitas antar\u00a0bagian otak yang\u00a0terlibat dalam\u00a0perhatian dan pengambilan\u00a0keputusan.\u00a0Hasilnya?,\u00a0Multitasking\u00a0media yang berlebihan\u00a0berkaitan\u00a0sama\u00a0kemampuan\u00a0\u00a0perhatian yang\u00a0lebih rendah, kontrol\u00a0implus\u00a0yang jelek, dan kesulitan\u00a0buat fokus\u00a0di tugas\u00a0&#8211; tugas anak\u00a0&#8211;\u00a0anak yang\u00a0sering\u00a0multitasking\u00a0media\u00a0gampang\u00a0terdistraksi,\u00a0susah nyaring\u00a0informasi yang\u00a0nggak\u00a0relevan,\u00a0dan sering\u00a0kewalahan\u00a0di lingkungan belajar yang\u00a0kompleks. Kita harus\u00a0hati- hati, biar\u00a0nggak\u00a0bikin anak\u00a0susah fokus di sekolah.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jadi,\u00a0Dampak media terhadap perkembangan kognitif anak tergantung pada usia anak\u00a0dan\u00a0jenis\u00a0media\u00a0konten.\u00a0Media harus dianggap sebagai pendamping, bukan pengganti proses belajar anak. Dengan pengawasan dan pemilihan konten yang tepat, media bisa membantu merangsang perhatian, kreativitas, dan kemampuan kognitif anak. Namun, penggunaan media yang berlebihan tanpa pendampingan orang tua bisa memberikan efek negatif, seperti menurunnya kemampuan fokus dan kontrol diri. Jadi, media harus digunakan dengan bijak dan selalu didampingi agar mendukung perkembangan anak secara optimal.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Sumber utama:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335559738&quot;:281,&quot;335559739&quot;:281}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">John W.\u00a0Santrock. (2013).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Life-Span Development.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a014.\u00a0McGraw\u00a0Hill. New\u00a0York. ISBN: 9780071318686.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:281,&quot;335559739&quot;:281,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Marci, C. D. (2022).\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Rewired:\u00a0Protecting\u00a0your\u00a0brain\u00a0in\u00a0the\u00a0digital\u00a0age<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Harvard Business\u00a0Review\u00a0Press.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:281,&quot;335559739&quot;:281,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis:<\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jihan Faridatul\u00a0Azkia\/2710010594<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Intan Noor Habibah Haryono\/2810011244<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Manuelia\u00a0Oktavina\u00a0Sitohang\/2810011710<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalian pernah\u00a0nggak\u00a0sih lihat anak kecil bisa\u00a0diem\u00a0lama banget kalau dikasih\u00a0Handphone,\u00a0tapi kalau disuruh\u00a0duduk dan\u00a0fokus\u00a0untuk\u00a0mengerjakan tugas\u00a0sekolah\u00a0sebentar\u00a0aja\u00a0langsung gelisah?\u00a0\u00a0Sebenernya\u00a0otak anak itu berubah\u00a0ngga\u00a0sih kalau terlalu sering\u00a0nonton\u00a0video pendek kayak\u00a0TikTok\u00a0atau\u00a0YouTube\u00a0Kids?\u00a0 Pertanyaan itu bisa dijawab sama\u00a0cognitive\u00a0development.\u00a0Cognitive\u00a0development\u00a0adalah bagaimana proses berpikir otak yang dipakai untuk pemahaman, pengetahuan, penalaran. Dalam mata kuliah psikologi perkembangan,\u00a0menurut\u00a0Vygotsky\u00a0kemampuan kognitif adalah kemampuan kita dalam memecahkan masalah, memudahkan kita dalam mengambil tindakan, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-500","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=500"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":505,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500\/revisions\/505"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}