{"id":472,"date":"2025-11-21T05:39:07","date_gmt":"2025-11-21T05:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=472"},"modified":"2025-11-21T05:39:50","modified_gmt":"2025-11-21T05:39:50","slug":"bingung-hidup-di-20-an-tenang-kamu-ga-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/11\/21\/bingung-hidup-di-20-an-tenang-kamu-ga-sendiri\/","title":{"rendered":"Bingung Hidup di 20-an? Tenang, Kamu Ga Sendiri"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pernah merasa bingung tentang masa depan, tidak yakin dengan pilihan karier, atau cemas karena merasa tertinggal dibanding teman-teman yang \u201csudah lebih dulu berhasil\u201d? Jika iya, kemungkinan besar kamu sedang mengalami fase <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">quarter-life crisis.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Fenomena ini umum terjadi pada kelompok usia 20-35 tahun, yang dikenal sebagai e<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">merging adulthood<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> atau dewasa awal. Pada masa ini, kita sedang berada di titik transisi antara remaja dan dewasa. Banyak hal yang harus dijelajahi, mulai dari identitas diri, pilihan karier, hingga hubungan sosial. Jadi, kebingungan dan ketidakpastian yang muncul sebenarnya adalah hal yang wajar dalam proses menemukan arah hidup.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Menurut Erik Erikson, dewasa awal termasuk tahap <\/span><i><span data-contrast=\"none\">\u201cintimacy vs isolation\u201d<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">. Pada fase ini, individu dituntut untuk membangun hubungan yang dekat, baik secara romantis maupun sosial serta menjalani peran dalam pekerjaan dengan komitmen. Jika gagal membentuk hubungan yang bermakna, seseorang bisa mengalami isolasi sosial, kesepian, dan perasaan terasing.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Pada kenyataannya, dewasa awal memang penuh ketidakpastian. Banyak tekanan yang muncul, seperti mencari pekerjaan tetap, menjalin hubungan serius, hingga membangun kemandirian finansial. Tekanan \u201caku harus tahu mau jadi apa sekarang\u201d sering membuat kita merasa tertinggal atau kurang berhasil dibanding teman sebaya.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">J<\/span><span data-contrast=\"none\">adi berada di usia 20-an memang terkadang bakalan kacau. Kita bingung, panik, dan terlalu banyak memikirkan segala hal tentang hidup. Banyak orang merasa hidup mereka belum &#8220;beres&#8221;, meskipun tekanan terus menumpuk. Semua ini disebut krisis seperempat abad.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Untuk memahami mengapa hal ini sering terjadi, ada istilah <\/span><i><span data-contrast=\"none\">&#8220;emerging adulthood&#8221;<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> dari Arnett (2000). Istilah ini membahas fase peralihan yang aneh di mana tidak ada yang terasa stabil. Kita punya banyak pilihan, tetapi juga banyak harapan.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Rasanya seperti terjebak dalam transisi ini, mencoba mencari tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sementara semuanya terasa tidak pasti. Masuk akal mengapa banyak orang panik selama masa ini.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Nah, beberapa hal utama yang berkaitan langsung dengan <\/span><i><span data-contrast=\"none\">quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> menurut Arnett antara lain:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Eksplorasi Identitas (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Identity Exploration<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Di usia 20-an, orang lagi rajin-rajinnya cari tahu: <\/span><i><span data-contrast=\"none\">\u201cGue ini sebenernya mau jadi apa sih?\u201d<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> atau <\/span><i><span data-contrast=\"none\">\u201cNilai hidup gue apa?\u201d<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">. Proses mikir ini sering bikin overthinking.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Contohnya aja kayak <\/span><i><span data-contrast=\"none\">Fresh graduate<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> yang tiba-tiba ngerasa jurusan kuliahnya \u201cnggak gue banget\u201d, akhirnya nyobain banyak kerjaan atau ikut <\/span><i><span data-contrast=\"none\">bootcamp<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> buat cari jalan lain.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Ketidakstabilan Hidup (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Instability<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Kerjaan pindah-pindah, tempat tinggal nggak tetap, relationship naik turun \u2014 semua bikin hidup kerasa kayak \u201clagi loading terus\u201d.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Ya misalkan ada anak muda yang tahun ini udah tiga kali ganti kerja karena belum nemu yang pas, jadi ngerasa hidupnya <\/span><i><span data-contrast=\"none\">chaos<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.<\/span> <span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Merasa \u201cDi Antara\u201d (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Feeling In-Between<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Udah nggak remaja, tapi juga belum ngerasa \u201cdewasa beneran\u201d. Jadinya apa dong? Bingung, insecure, dan ngerasa belum siap sama tuntutan. orang-orang.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Misalnya aja kalau dikasih pertanyaan \u201ckapan nikah?\u201d atau \u201ckerja di mana sekarang?\u201d langsung bikin mereka mikir, <\/span><i><span data-contrast=\"none\">\u201cgue sendiri aja belum yakin.\u201d<\/span><\/i><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Tekanan Menuju Kemandirian (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Striving for Independence<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Tuntutan buat mandiri finansial dan emosional itu real banget. Kadang bikin cemas soal masa depan.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Kayak misalnya kita baru lulus, belum ada kerjaan tetap, tapi udah harus bisa bantu ekonomi keluarga \u2014 Yang ada malah stresnya jadi <\/span><i><span data-contrast=\"none\">double<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Ketidakpastian Arah Hidup (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Uncertainty and Exploration of Possibilities<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Pilihan hidup makin banyak, tapi justru bikin makin pusing \u2014 takut salah pilih, takut nyesel, takut ini, takut itu.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Contohnya aja kayak ngegalau-in mau lanjut S2, kerja ke luar negeri, atau buka bisnis sendiri, karena semuanya punya risiko.<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Eksperimen dalam Hubungan dan Cinta (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Romantic Exploration<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">)<\/span><\/b><span data-contrast=\"none\"> \u2013 Cari pasangan yang cocok atau gagal dalam hubungan sering bikin mental goyah dan ngerasa \u201ckenapa cinta ribet banget sih?\u201d.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Sampai misalnya udah beberapa kali gagal pacaran, terus jadi kepikiran \u201cgue susah dicintai ya?\u201d atau \u201cgue siap komitmen nggak sih sebenernya?\u201d<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"none\">Optimisme dan Harapan (<\/span><\/b><b><i><span data-contrast=\"none\">Possibilities\/Optimism<\/span><\/i><\/b><b><span data-contrast=\"none\">) <\/span><\/b><span data-contrast=\"none\">\u2013 Walau penuh drama dan krisis, anak 20-an tetap punya vibe: <\/span><i><span data-contrast=\"none\">\u201cGue bisa kok nge-restart hidup.\u201d<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> Optimisme ini justru yang bikin mereka bisa bangkit.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"none\">Contohnya tuh pas misalnya abis gagal di pekerjaan pertama, malah mutusin buat mulai usaha kecil sesuai sama passionnya dan yakin kegagalan nya itu sebenernya <\/span><i><span data-contrast=\"none\">stepping stone<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Ketika mengalami <\/span><i><span data-contrast=\"none\">quarter-life crisis, <\/span><\/i><span data-contrast=\"none\">kamu akan mempertanyakan diri kamu sendiri (ragu), kurang percaya diri, merasa tidak berdaya, memiliki emosi yang tidak stabil, takut mengalami kegagalan, stres, dan merasa diasingkan oleh lingkungan. Kamu yang mengalami <\/span><i><span data-contrast=\"none\">quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> juga bisa merasa cemas karena kegagalan yang mungkin terjadi di masa depan, Selain itu, dalam merespon krisis yang sedang dialami, kamu bisa saja memilih untuk berhenti\u00a0 dari pekerjaan, menunda keputusan karir, bahkan ada yang sampai mengalami depresi atau mengembangkan gangguan kecemasan loh(Pamungkas &amp; Hendrastomo, 2024).\u00a0\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"none\">Jadi, apa yang harus dilakukan agar kamu bisa melalui masa <\/span><i><span data-contrast=\"none\">quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"none\"> ini? Ada beberapa cara atau strategi yang efektif nih yang bisa bantu kamu melewati masa krisis ini.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><b><span data-contrast=\"auto\"> Penguatan Diri &amp; Refleksi Personal. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Kadang, cara terbaik buat nguatin diri itu ya menyendiri dulu.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"auto\">Pas emosi lagi naik-turun, ngambil waktu buat diri sendiri bisa bantu kamu untuk introspeksi, nenangin kepala, dan ngerti apa yang sebenarnya kamu rasain. Momen \u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">me time<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u201d ini juga bantu kamu mikir ulang arah hidup dan nemuin makna dari pengalaman yang lagi kamu jalanin.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\"> Penguatan Religiusitas &amp; Spiritualitas. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Religiusitas sering jadi cara paling ampuh buat dapetin ketenangan batin. Lewat ibadah dan doa, banyak orang merasa lebih kuat menghadapi stres dan lebih mudah bersyukur. <\/span><span data-contrast=\"auto\">Melati (2024) dalam jurnal <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Quarter Life Crisis: Apa Penyebab dan Solusinya Dilihat dari Perspektif Psikologi?<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bilang kalau religiusitas yang sehat terbukti bisa ningkatin kesehatan mental positif, dan itu bisa jadi \u201ctameng\u201d yang kuat banget pas seseorang lagi ada di fase krisis hidup.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\"> Dukungan Sosial &amp; Lingkungan. <\/span><\/b><i><span data-contrast=\"auto\">Support system<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> itu penting banget. Berinteraksi, main bareng, atau sekadar curhat sama orang yang kamu percaya bisa bantu ngurangin rasa tertekan dan bikin semangat balik lagi. Pas kamu lagi pusing sama hidup, cerita ke orang lain bisa bikin kamu dapat perspektif baru dan lihat masalahmu dari sudut pandang yang lebih jernih.<\/span> <span data-contrast=\"auto\">Keluarga juga punya peran besar karena mereka adalah pendukung emosional dan sosial utama yang bisa bantu menurunkan intensitas <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang kamu rasain.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\"> Pengembangan Diri &amp; Adaptasi. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Fokus ke diri sendiri, ngembangin potensi, dan ningkatin kualitas diri juga penting banget.<\/span><br \/>\n<span data-contrast=\"auto\">Dengan ngembangin kemampuan adaptif dan belajar nerima ketidakpastian, kamu bakal nggak gampang cemas sama masa depan yang masih abu-abu. Intinya sih upgrade diri biar lebih tahan banting menghadapi ekspektasi sosial dan tekanan hidup.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\"> Penggunaan Media Sosial yang Sehat. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Media sosial adalah salah satu faktor eksternal paling kuat yang bikin <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">quarter life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> makin parah. Soalnya, yang sering kita lihat di sana cuma \u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">best version<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">\u201d orang lain. Akhirnya, kita jadi banding-bandingin diri sendiri, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">overthinking<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, bahkan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">FOMO<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. <\/span><span data-contrast=\"auto\">Makanya, penting buat batasi waktu <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">scroll<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, filter konten yang kamu konsumsi, dan hati-hati sama apa yang kamu percaya. Soalnya, kalau kamu bijak dalam pakai media sosial, konten yang positif justru bisa bikin kamu termotivasi jadi pribadi yang lebih baik dan bantu kamu lewat fase <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> ini dengan lebih kuat.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">Kesimpulannya<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">,<\/span> <i><span data-contrast=\"auto\">Quarter-life crisis<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bukan tanda kegagalan, tapi bagian alami dari perjalanan dewasa awal. Perasaan bingung, cemas, atau tertinggal adalah sinyal bahwa kita sedang mengeksplorasi diri, mencari arah, dan menyesuaikan hidup dengan nilai-nilai pribadi. Penting banget untuk kita buat memberi ruang bagi diri sendiri, fokus pada proses, dan tidak membandingkan perjalanan kita dengan orang lain. Menghadapi fase ini dengan kesadaran dan refleksi bisa membantu kita tumbuh menjadi individu yang lebih matang dan percaya diri.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">Penulis:<\/span><\/b><br \/>\n<span data-contrast=\"auto\">Faith Esperanza Ai Tanauma | 2710010354<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Faradila Alifya | 2810011231<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Larasati Maulana Yusuff | 2710010202<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Azis Abdul Rohim | 2810010954<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"none\">DAFTAR PUSTAKA<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">American Psychologist, 55<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(5), 469\u2013480. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1037\/0003-066X.55.5.469\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.1037\/0003-066X.55.5.469<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Melati, I. S. (2024). Quarter life crisis: Apa penyebab dan solusinya dilihat dari perspektif psikologi? <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">INNER: Journal of Psychological Research, 4<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 52\u201357. <\/span><a href=\"https:\/\/aksiologi.org\/index.php\/inner\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/aksiologi.org\/index.php\/inner<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Nugsria, A. (2023). Quarter life crisis pada dewasa awal: Bagaimana peranan kecerdasan emosi? <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">INNER: Journal of Psychological Research, 3<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 1-10.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pamungkas, P. R., &amp; Hendrastomo, G. (2024). Quarter life crisis di kalangan mahasiswa. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Asean International Journal of Research in Science and Humanities (AIJRS), 4<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 174\u2013190. Universitas Negeri Yogyakarta.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Vayla Mahira. (2024). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Quarter-life crisis pada dewasa muda dalam perspektif teori Erikson Intimacy vs Isolation.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Kompasiana.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah merasa bingung tentang masa depan, tidak yakin dengan pilihan karier, atau cemas karena merasa tertinggal dibanding teman-teman yang \u201csudah lebih dulu berhasil\u201d? Jika iya, kemungkinan besar kamu sedang mengalami fase quarter-life crisis.\u00a0\u00a0 Fenomena ini umum terjadi pada kelompok usia 20-35 tahun, yang dikenal sebagai emerging adulthood atau dewasa awal. Pada masa ini, kita sedang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":473,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-472","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=472"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":475,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472\/revisions\/475"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/473"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=472"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=472"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=472"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}