{"id":454,"date":"2025-10-21T03:36:06","date_gmt":"2025-10-21T03:36:06","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=454"},"modified":"2025-10-21T03:36:06","modified_gmt":"2025-10-21T03:36:06","slug":"belajar-jadi-lebih-mudah-kalau-kamu-tahu-gaya-belajarmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/10\/21\/belajar-jadi-lebih-mudah-kalau-kamu-tahu-gaya-belajarmu\/","title":{"rendered":"Belajar Jadi Lebih Mudah Kalau Kamu Tahu Gaya Belajarmu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pernah merasa sudah belajar keras, begadang, bahkan sampai lupa makan tapi hasilnya belum maksimal? Tenang, kamu tidak sendiri. Banyak siswa kesulitan belajar bukan karena kurang pintar, tapi karena belum menemukan cara belajar yang paling cocok untuk dirinya. Dalam psikologi, ini disebut gaya belajar, yaitu cara unik setiap orang menerima, mengolah, dan mengingat informasi. Mengetahui gaya belajar bukan cuma tren, tapi bisa jadi kunci untuk memaksimalkan kemampuan yang kamu punya, atau bahkan kemampuan yang belum kamu sadari.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Menurut DePorter dan Hernacki (2005), ada pendekatan yang disebut <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Quantum Learning<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Pendekatan ini menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika cara mengajarnya disesuaikan dengan bagaimana otak mereka menerima dan mengolah informasi. ada tiga gaya belajar utama menurut DePorter dan Hernacki (2005) yaitu <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Auditory<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Visual<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Gaya belajar ini buat kamu yang jago menangkap informasi lewat apa yang kamu lihat. Kamu biasanya lebih gampang paham kalau ada gambar, warna-warna menarik, diagram, grafik, atau catatan yang tertata rapi. Belajar dengan nonton video, atau lihat ilustrasi bisa bikin kamu lebih cepat memahami isi materi dan lebih lama inget materinya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Nah, gaya belajar ini nyambung banget sama teori <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Multiple Intelligences<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dari Howard Gardner, khususnya kecerdasan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual-spasial<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Menurut Gardner, setiap orang punya beragam jenis kecerdasan, dan salah satunya adalah kemampuan untuk memahami dunia lewat gambar, bentuk, dan ruang. Orang dengan kecerdasan ini biasanya jago bikin representasi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, mikir dalam bentuk tiga dimensi, dan mengolah informasi lewat citra atau imajinasi. Jadi, kalau kamu lebih nyaman belajar lewat tampilan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> daripada teks panjang, artinya kamu kekuatan di bidang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang bisa diasah dan dimaksimalkan.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"2\">\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Auditory<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Nahh, kalau kamu termasuk orang yang lebih gampang nyangkut materinya itu pas dengerin guru ngomong daripada ngebaca sendiri bukunya. Berarti kamu mungkin orang dengan tipe belajar yang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">auditory<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">! Di mana suara adalah senjata utama agar mereka lebih cepat menangkap informasi dengan obrolan, diskusi, atau bahkan nada dan intonasi guru.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dalam Psikologi Kognitif, kemampuan ini nyambung banget sama teori memori kerja (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">working memory<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) milik Alan Baddeley. Di situ beliau ngejelasin ada bagian di otak kita yang disebut <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">phonological loop<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, itu tuh semacam \u201cruang dengar\u201d internal yang nyimpen kata-kata atau suara buat sementara waktu. Jadi, waktu kamu denger pengajar ngomong \u201ctrigonometri\u201d, otakmu langsung ngulang kata itu dalam hati, kayak kaset yang lagi nge<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">replay<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> musik. Karena sistem itu, makanya kamu bisa mengingat informasi lebih lama.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"3\">\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Kinesthetics<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Gaya belajar <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> cocok banget buat kamu yang nggak betah duduk diam dan lebih suka \u201cbergerak sambil mikir\u201d! Dalam gaya ini, belajar jadi lebih seru lewat aktivitas fisik\u2014kayak praktik langsung, eksperimen, drama, atau bahkan olahraga. Konsep ini dikenal luas lewat gagasan Neil Fleming lewat teorinya VARK (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Visual, Auditory, Reading\/Writing, Kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), yang menunjukkan bahwa tiap orang punya cara belajar favorit. Buat kamu yang <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, belajar sambil jalan-jalan, bikin proyek, atau main peran bisa bikin materi lebih nempel di otak. Jadi, kalau kamu tipe yang suka \u201cmerasakan\u201d daripada cuma membaca, gaya ini bisa jadi senjata rahasiamu buat sukses belajar!<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Mengetahui gaya belajar bukan berarti kamu hanya belajar dengan satu cara saja. Justru, kalau kamu tahu cara belajar yang paling cocok untukmu, kamu bisa menggabungkan cara-cara belajar yang paling efektif. Contohnya, jika kamu suka belajar dengan melihat (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), kamu juga bisa menambahkan suara (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">audio<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) supaya lebih mudah mengerti. Atau kalau kamu suka belajar dengan bergerak (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">), kamu bisa membuat contoh atau latihan dari materi yang dipelajari.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Setiap siswa punya cara belajar yang berbeda dan tidak ada cara yang paling benar untuk semua orang. Yang penting adalah menemukan cara belajar yang cocok untuk diri sendiri. Siswa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">visual<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> belajar lebih mudah dengan gambar dan warna, siswa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">auditory<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> belajar lewat mendengarkan atau berdiskusi, dan siswa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kinesthetics<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> belajar dengan langsung mencoba atau praktik. Teori belajar kognitif (Wisman, 2020) bilang otak punya batas untuk memproses informasi. Jadi, belajar yang baik itu teratur, tidak terburu-buru, dan pakai cara yang pas.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jadi, belajar yang bagus bukan berarti harus belajar lebih keras, tapi belajar lebih cerdas. Dengan tahu gaya belajar sendiri dan pakai cara yang tepat, siswa bisa lebih gampang mengerti pelajaran, tidak cepat bosan, dan hasil belajarnya jadi lebih baik. Ayo mulai kenali gaya belajar kamu dan jadikan belajar jadi petualangan yang seru dan penuh makna!<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><span data-contrast=\"auto\">DAFTAR PUSTAKA<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Baddeley, A. D. (2000). The episodic buffer: A new component of working memory? <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Trends in Cognitive Sciences, 4<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(11), 417\u2013423.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dendodi, Wulan Puspita, Mirna, &amp; Rosi Sakira. (2025). Analisis gaya belajar siswa untuk meningkatkan hasil belajar pada jenjang SMA menurut psikologi pendidikan. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 3<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(4), 1734\u20131741. <\/span><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/392141561_Analisis_Gaya_Belajar_Siswa_Untuk_Meningkatkan_Hasil_Belajar_pada_Jenjang_SMA_Menurut_Psikologi_Pendidikan_Penelitian\/fulltext\/6836b2efdf0e3f544f5b3d94\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/392141561_Analisis_Gaya_Belajar_Siswa_Untuk_Meningkatkan_Hasil_Belajar_pada_Jenjang_SMA_Menurut_Psikologi_Pendidikan_Penelitian\/fulltext\/6836b2efdf0e3f544f5b3d94<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">DePorter, B., &amp; Hernacki, M. (2005). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Quantum learning: Membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (A. Abdurrahman, Trans.). Bandung: Kaifa. <\/span><a href=\"https:\/\/www.scribd.com\/document\/490725239\/Quantum-Learning-pdf\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/www.scribd.com\/document\/490725239\/Quantum-Learning-pdf<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Faalikhah, Z. K. (2025, January 9). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Mengenal gaya belajar siswa: Pendekatan psikologi pendidikan.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Kompasiana. <\/span><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/zkarenfaalikhah1104\/677fd7a834777c3ce9651012\/mengenal-gaya-belajar-siswa-pendektan-psikologi-pendidikan\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/www.kompasiana.com\/zkarenfaalikhah1104\/677fd7a834777c3ce9651012\/mengenal-gaya-belajar-siswa-pendektan-psikologi-pendidikan<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Nurlaeliyah. (2023). Gaya berpikir dan gaya belajar peserta didik pada proses pembelajaran dalam persepsi psikologi pendidikan. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Risalah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 9<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 337\u2013346. <\/span><a href=\"https:\/\/jurnal.faiunwir.ac.id\/index.php\/Jurnal_Risalah\/article\/download\/511\/314\/2900\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/jurnal.faiunwir.ac.id\/index.php\/Jurnal_Risalah\/article\/download\/511\/314\/2900<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ruiz-Mart\u00edn, A., Blanco, E., &amp; Ferrero, M. (2024). Which learning techniques supported by cognitive research do students use at secondary school? Prevalence and associations with students\u2019 beliefs and achievement. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cognitive Research: Principles and Implications, 9<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(2), 45\u201360. <\/span><a href=\"https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC11227488\/\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC11227488\/<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Syarifah. (2019). Konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal Ilmiah Sustainable, 2<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(2), 154\u2013175. <\/span><a href=\"https:\/\/jurnal.lp2msasbabel.ac.id\/index.php\/sus\/article\/view\/987\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/jurnal.lp2msasbabel.ac.id\/index.php\/sus\/article\/view\/987<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Wisman, Y. (2020). Cognitive learning theory and implementation in learning process.<\/span><i><span data-contrast=\"auto\"> Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Teknologi, 2<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(1), 12\u201318. <\/span><a href=\"https:\/\/www.neliti.com\/publications\/459324\/cognitive-learning-theory-and-implementation-in-learning-process\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/www.neliti.com\/publications\/459324\/cognitive-learning-theory-and-implementation-in-learning-process<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360,&quot;335559991&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis:<\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Fillyana Cindy \u2013 2710010120<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233279&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Azis Abdul Rohim \u2013 2810010954<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233279&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Astri Herlisnawati \u2013 2810011553<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233279&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Christa Avianna \u2013 2710010373<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233279&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah merasa sudah belajar keras, begadang, bahkan sampai lupa makan tapi hasilnya belum maksimal? Tenang, kamu tidak sendiri. Banyak siswa kesulitan belajar bukan karena kurang pintar, tapi karena belum menemukan cara belajar yang paling cocok untuk dirinya. Dalam psikologi, ini disebut gaya belajar, yaitu cara unik setiap orang menerima, mengolah, dan mengingat informasi. Mengetahui gaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-454","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=454"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":455,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions\/455"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}