{"id":440,"date":"2025-08-28T07:10:50","date_gmt":"2025-08-28T07:10:50","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=440"},"modified":"2025-08-28T07:11:16","modified_gmt":"2025-08-28T07:11:16","slug":"how-can-students-design-balance-in-campus-life","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/08\/28\/how-can-students-design-balance-in-campus-life\/","title":{"rendered":"HOW CAN STUDENTS DESIGN BALANCE IN CAMPUS LIFE?\u00a0"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Menjadi mahasiswa sering kali terasa seperti mengendarai roller coaster dengan banyak jalur. Ada kuliah yang menuntut perhatian penuh, tugas yang menumpuk, rapat organisasi, magang, hingga kehidupan sosial yang tak kalah penting. Jika tidak pandai mengatur, semua itu bisa menumpuk dan akhirnya membuat kelelahan. Oleh Karena itu, keseimbangan bukan sesuatu yang datang kebetulan, tetapi perlu dirancang secara sadar. Ide inilah yang saya sebut sebagai <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">, sebuah konsep yang terinspirasi dari teori Psikologi Industri dan Organisasi, namun diarahkan khusus pada konteks kehidupan mahasiswa.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Salah satu teoru dari Psikologi Industri dan Organisasi, keseimbangan dipahami melalui <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">Job Demands\u2013Resources (JD-R) Model<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> (Bakker &amp; Demerouti, 2007). Model ini menjelaskan bahwa kesejahteraan seseorang ditentukan oleh tuntutan (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">demands<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">) dan sumber daya (<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">resource<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">s). Tuntutan yang tinggi tanpa dukungan akan menimbulkan stres, tetapi dengan adanya sumber daya yang kuat justru dapat membuat individu tetap bersemangat meski beban besar. Kerangka ini kemudian diadaptasi oleh peneliti untuk mahasiswa melalui <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">Study Demands\u2013Resources (SD-R) Theory<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> (Bakker &amp; Mostert, 2024). Fokusnya bergeser menjadi tuntutan belajar meliputi beban kuliah, ujian, hingga aktivitas organisasi. Untuk sumber daya belajar berupa dukungan teman, fleksibilitas dosen, keterampilan manajemen waktu, hingga <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">feedback<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> akademik.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dari kerangka itulah gagasan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> muncul. Jika JD-R dan SD-R lebih menekankan hubungan antara demands dan resources, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> mengajak mahasiswa untuk <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">secara aktif merancang keseimbangannya sendiri<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">. Prinsipnya sederhana yaitu keseimbangan tidak sekadar terjadi, tetapi harus didesain sesuai kebutuhan dan konteks pribadi. Dengan desain yang tepat, tuntutan tinggi tidak lagi identik dengan stres, melainkan dapat menjadi peluang berkembang. Dalam praktiknya, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bisa diwujudkan lewat langkah kecil yang konkret. Tugas besar dapat dipecah menjadi target mingguan agar lebih ringan dikerjakan. Dosen dapat memberi pilihan bentuk tugas esai, presentasi, atau poster penelitian, sehingga mahasiswa bisa menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Kelompok belajar menjadi wadah saling mendukung, misalnya melalui simulasi kuis sebelum ujian yang tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga membangun solidaritas. Bahkan organisasi mahasiswa bisa mengadakan sesi refleksi rutin agar anggota bisa mengidentifikasi sumber stres sekaligus mencari solusi bersama.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Contoh nyata juga terlihat pada mahasiswa yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa sekaligus mengerjakan skripsi, dengan menerapkan konsep <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> ia menyusun jadwal harian, pagi digunakan untuk penelitian, sore untuk rapat organisasi, dan malam untuk istirahat. Hasilnya, skripsi tetap berjalan tanpa mengorbankan peran organisasi maupun kesehatan pribadi. Kasus lain, dalam kelas Psikologi Industri, mahasiswa diberikan pilihan tugas akhir. Mereka yang lebih visual memilih membuat poster, sementara yang lain menulis artikel. Kebebasan memilih ini membuat setiap mahasiswa dapat menampilkan performa terbaiknya sesuai kekuatan masing-masing.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Barr (2014) menemukan bahwa tuntutan akademik yang tinggi memang dapat menurunkan kesejahteraan mahasiswa, tetapi sumber daya yang memadai dapat meningkatkan keterlibatan, kepuasan, dan prestasi. Temuan Bakker dan Mostert (2024) juga menegaskan bahwa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">study resources<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> adalah kunci dalam menjaga well-being. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance By Desaign <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">menekankan mahasiswa bukan sekadar bereaksi pada tuntutan dan sumber daya, tetapi aktif merancang strategi yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Balance by Design<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dapat dilihat sebagai jembatan antara teori akademik dan praktik sehari-hari mahasiswa. Ia memberi panduan bahwa sukses di kampus tidak hanya soal bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas, menjaga diri, dan menata keseimbangan secara sadar.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Lalu, seperti apa Balance by Desain versi kamu sendiri dalam kehidupan kampus? Yuk komentar.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sumber :\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Bakker, A. B., &amp; Demerouti, E. (2007). The Job Demands\u2013Resources model: State of the art.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:276}\"> \u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Journal of Managerial Psychology, 22<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(3), 309\u2013328.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Bakker, A. B., &amp; Mostert, K. (2024). Study Demands\u2013Resources Theory: Understanding Student<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:276}\"> \u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Well-Being in Higher Education. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Educational Psychology Review, 36<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(3).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s10648-024-09940-8\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/s10648-024-09940-8<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Barr, T. D. (2014). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">The Demands-Resources Model: Theory Expansion and Introduction to the<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Influence on College Students<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Doctoral Dissertation, Montclair State University.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:276}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi mahasiswa sering kali terasa seperti mengendarai roller coaster dengan banyak jalur. Ada kuliah yang menuntut perhatian penuh, tugas yang menumpuk, rapat organisasi, magang, hingga kehidupan sosial yang tak kalah penting. Jika tidak pandai mengatur, semua itu bisa menumpuk dan akhirnya membuat kelelahan. Oleh Karena itu, keseimbangan bukan sesuatu yang datang kebetulan, tetapi perlu dirancang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-440","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/440","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=440"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/440\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":441,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/440\/revisions\/441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=440"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=440"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=440"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}