{"id":421,"date":"2025-07-07T01:37:23","date_gmt":"2025-07-07T01:37:23","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=421"},"modified":"2025-07-07T01:37:49","modified_gmt":"2025-07-07T01:37:49","slug":"ai-fatigue-ai-memudahkan-atau-menjadi-tekanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/07\/07\/ai-fatigue-ai-memudahkan-atau-menjadi-tekanan\/","title":{"rendered":"AI Fatigue, AI memudahkan atau menjadi tekanan ?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Mari kita lihat dulu, sebenarnya AI atau kepanjangannya yang disebut sebagai Artifical Intelligence (AI) seperti itu apasih. AI merpuakan alat canggih yang sebenarnya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">tools <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">yang dapat mempermudah kita dalam pekerjaan maupun perkuliahan. Bahkan bisa digunankan oleh semua kalangan untuk mencari informasi yang dinginkan. Saat ini, berbagai <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">tools <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">berbasis Artifical Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Grammarly AI, hingga AI design tools semakin sering digunakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas kuliah. Memang, AI ini bisa membantu mempercepat pekerjaan, tapi tahukah kamu bahwa penggunaan AI yang tertalu intens bisa memunculkan fenomena yang disebut sebagai <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">AI Fatigue. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Fenomena ini bukan hanya sekedar istilah baru, namun AI fatigue ini sebenarnya menggambarkan <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">kelelahan mental, stres, hingga kecemasan<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> akibat terlalu sering mengendalkan teknologi AI, baik untuk belajar maupun menyelesaikan pekerjaan.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Apa itu AI Fatigue ? Menurut Klimova &amp; Pikhart (2025), AI Fatigue terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan digital, stres teknologi atau yang biasa disebut sebagai <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">technostress<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, hingga berkurangnya interaksi sosial akibat penggunaan AI yang berlelebihan. Meskipun AI membawa kemudahan, ada resiko baru yang muncul jika penggunaanya jika tidak dikendalikan. Selain itu, Studi dai Romania (2025) mengungkapkan bahwa <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">AI-related technostress <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">berhubungan dengan meningkatnya kecemasan dan gejala depresi di kalangan pelajar. Resiko lainnya adalah terlalu bergantung pada AI bisa melemahkan daya pikir seseroang atau disebut sebaagai <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cognitive off-loading. <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Penelitian yang lebih jauh melihat bagaimana mahasiswa yang memiliki tingkat <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">self-efficacy<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> akademeik yang rendah atau yang masih kurang dalam literasi digital, lebih mudah terjebak dalam ketergantungan, dimana Al.Pitts et al. (2025) menyebutkan\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">\u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Students with low self-efficacy are more likely to rely heavily on AI tools without<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">verifying the information, which can increase dependence on technology\u201d<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dengan kata lain, jika kita belum cukup percaya diri atau terbiasan berpikir mandiri maka kita akan lebih rentang mengalami AI fatigue.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Ditengah berbagai risiko tersebut, pada kenyataannya saat ini AI bukan sesuatu yang bisa dihindari. Tidak bisa dipungkiri, AI telah menjadi alat bantu penting dalam kehidupan akademik. Hamper semua orang kini menggunakan AI, baik untuk sekedar mencari ide, Menyusun esai, menganalisis data ataupun mempercepat proses desain. Bahkan beberapa penelitian seperti yangdi sebutkan oleh Klimova &amp; Pikhart (2025) menegeaskan manfaat AI dalam meningkatkan efektivitas belajar dan mendukung pembelajaran yang lebih personal. Artinya, melarang diri sendiri sepenuhnya dari AI mungkin justrus tidak realistis di era sekarang.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kuncinya adalah kita bukan mengindari AI, tetapi <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">bagaimana kita menggunakannya secara cerdas dan bijak. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Mahasiswa perlu belajar mengatur batasan, tetap mengasah kemampuan berpikir mandiri, dan memastikan bahwa AI hanya menjadi alat bantu bukan penentu utama. Berikut tips praktis yang bisa dlikakuan :\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><strong>Batasi Penggunaan AI. <\/strong><span data-contrast=\"auto\">Gunakanlah AI hanya untuk brainstorming atau cek ide, jangan langsung <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">copy-paste<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><strong>Tingkatkan <i>self-efficacy. <\/i><\/strong><span data-contrast=\"auto\">Bangun kepercayaan diri akademik melalui belajar manuak dulu sebelum menggunakan AI.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><strong><i>Mindful Tech Use. <\/i><\/strong><span data-contrast=\"auto\">Terapkan pola 45\/10 (45 menit fokus, 10 menit tanpa layar) agar pikiran tetap segar.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\"><strong>Gunakan AI untuk belajar, bukan sekedar menjawab.<\/strong> <\/span><span data-contrast=\"auto\">Pakai AI untuk memahami konsep atau mencari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">insight <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">tambahan, bukan hanya untuk mendapat jawaban instan. Misalnya, gunakan AI untuk bertanya \u201cmengapa\u201d atau \u201cbagaimana\u201d bukan hanya \u201capa\u201d.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\"><strong>Buat waktu diskusi tanpa AI.<\/strong> <\/span><span data-contrast=\"auto\">Latih diri untuk berdiskusi atau brainstorming dengan teman tanpa AI. Diskusi tatap muka atau kelompok belajar tetap penting untuk melatih empati, komunikasi dan kreativitas.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Jadi AI, Kawan atau beban? AI memang membantu mahasiswa untuk belajar lebih cepat, kreatif, dan produktif. Namun, jika tanpa kendali AI bisa menjadi boomerang yang memicu stres, kelelahan mental dan penurunan aktivitas. Menggunakan AI secara bijak dan seimbang adalah kunci agar kita tetap mendapatkan manfaatnya, tanpa terjebak dalam tekanan yang diam-diam menggerogoti kesejahteraan mental.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p><span data-contrast=\"auto\">Referensi :\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Klimova, B., &amp; Pikhart, M. (2025). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Exploring the effects of artificial intelligence on student and<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">academic well-being in higher education: a mini-review.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Frontiers in Psychology.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Chukwuere, J. E. (2025). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Technostress factors among students in the adoption of Generative<\/span><\/i><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">AI in higher education: A rapid review narrative.<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> NorthWest University.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Pitts, G., Rani, N., Mildort, W., &amp; Cook, E.-M. (2025, June 16). <\/span><b><span data-contrast=\"auto\">Students&#8217; reliance on AI in higher<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6}\">\u00a0<\/span><b><span data-contrast=\"auto\">education: Identifying contributing factors<\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\"> [Preprint]. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">arXiv<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720}\">\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.48550\/arXiv.2506.13845\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.48550\/arXiv.2506.13845<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mari kita lihat dulu, sebenarnya AI atau kepanjangannya yang disebut sebagai Artifical Intelligence (AI) seperti itu apasih. AI merpuakan alat canggih yang sebenarnya tools yang dapat mempermudah kita dalam pekerjaan maupun perkuliahan. Bahkan bisa digunankan oleh semua kalangan untuk mencari informasi yang dinginkan. Saat ini, berbagai tools berbasis Artifical Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Grammarly AI, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-421","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=421"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":423,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/421\/revisions\/423"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}