{"id":406,"date":"2025-06-12T01:10:17","date_gmt":"2025-06-12T01:10:17","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=406"},"modified":"2025-06-12T01:13:09","modified_gmt":"2025-06-12T01:13:09","slug":"bagaimana-upaya-generasi-z-membangun-citra-positif-untuk-melawan-stigma-mudah-resign-di-dunia-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/06\/12\/bagaimana-upaya-generasi-z-membangun-citra-positif-untuk-melawan-stigma-mudah-resign-di-dunia-kerja\/","title":{"rendered":"Bagaimana Upaya Generasi Z Membangun Citra Positif Untuk Melawan Stigma \u201cMudah Resign di Dunia Kerja"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Istilah \u201c<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">kabur aja dulu\u201d <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">adalah ungkapan yang popular di kalangan Generasi Z dan sering digunakan yang menggambarkan sikap menghindar sementara dari tekanan atau situasi yang dianggap tidak nyaman, melelahkan atau tidak sesuai ekspektasi mereka. Sebagai bagian dari Generasi Z, mungkin kamu pernah merasa tidak dipahami oleh lingkungan kerja atau dianggap tidak sabar, mudah menyerah atau terlalu cepat mengambil keputusan untuk resign.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Stereotype<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> ini bukan tanpa data, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Vidante dan Isaputra (2024) mengatakan bahwa 61% Gen Z berpindah pekerjaan dalam kurun waktu dua tahun, tetapi data ini belum secara lengkap mengugkapkan alasan dari Gen Z ini pindah pekerjaan. <strong>Apakah karena ingin pekerjaan yang lebih memiliki nilai yang sesuai ? ingin lingkungan yang sehat ? pemimpin yang suppotid dan diberikan peluang untuk berkembang ?<\/strong><\/span><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Putri (2024) menjelaskan bahwa Gen Z bekerja bukan hanya untuk gaji, tapi juga untuk memiliki makna, keseimbangan hidup, dan aktualisasi diri. Gen Z ingin bisa berkembang tanpa mengorbankan kesehatan mental. Hal ini bukan menjadi kelemahan tetapi hal tersebut adalah tanda Gen Z memiliki punya kesadaran diri.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Lingkungan kerja yang suportif akan menciptakan karyawan yang cenderung loyal untuk\u00a0 Generasi Z (Fajriyanti et. al, 2023), artinya bukan Gen Z yang tidak bisa berkomitmen tetapi sistemnya mungkin saja belum siap mendukung cara Gen Z bekerja. Sebagai Gen Z ada beberapa tips untuk membantu kamu melawan stigma dan tetap membangun citra professional yang kuat sebagai genarsi Z :\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\">Bangun Personal Bradinhg yang konsisten. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Gunakan media sosial professional seperti Linkedln untuk menunjukkan keahlianmu, proyek yang pernah dikerjakan atau pelatihan yang kamu ikut. Ini adalah cara konkret untuk menunjukkkan bahwa kamu serius dalam kariermu, meskipun jalannya tidak selalu mulus.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:1080,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\">Pahami alasanmu, jangan asal resign. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Sebelum memutuskan untuk keluar dari pekerjaa, coba refleksikan dulu, apakah kamu pergi karena masalah yang bisa diatasi ? apakah kamu sudah mencoba berdiskusi dengan atasanmu? Langkah pertama menunjukkan komitmen adalah dengan mencari solusi, bukan langsung mundur.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:1080,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><b><span data-contrast=\"auto\">Cari tempat kerja yang sesuai nilai dan tujuanmu. <\/span><\/b><span data-contrast=\"auto\">Menurut Syahdi, Sugiarti, dan Suhariadi (2024), Gen Z cenderung puas bekerja jika pekerjaan mereka bermakna. Jadi, ketika mencari pekerjaan, jangan hanya lihat gajinya. Lihat juga budaya perusahaannya, gaya kepemimpinannya, dan apakah mereka mendukung pengembangan diri.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:1080,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\"><strong>Terus belajar dan tunjukkan antusiasme.<\/strong> <\/span><span data-contrast=\"auto\">Mengikuti pelatihan daring, membaca tren industri, atau ikut komunitas profesional adalah cara efektif untuk menunjukkan bahwa kamu tidak stagnan. Wibowo et al. (2024) menyebut bahwa banyak Gen Z resign karena merasa tidak berkembang. Jadi, pastikan kamu aktif membangun kapasitasmu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:1080,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\"><strong>Bicara dengan cara yang konstuktif.<\/strong> <\/span><span data-contrast=\"auto\">Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan sistem kerja, sampaikan dengan cara yang profesional. Kritik yang dibarengi dengan solusi akan membuatmu dipandang sebagai pribadi dewasa yang punya kepedulian terhadap kemajuan bersama.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:1080,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Menjadi bagian dari Generasi Z bukan bearti harus tunduk pada <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">stereotype <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">yang ada. Kamu bisa memilih jalur karier yang sesuai dengan siapa dirimu, sambil tetap membangun reputasi sebagai pribadi yang memiliki integritas, komitmen, dan semangat belajar. Dunia kerja memang berubah dan mari kita menjadi bagian dari perubahan tersebut.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><span data-contrast=\"auto\">DAFTAR PUSTAKA\u00a0<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fajriyanti, Y., Handayani Rahmah, A., &amp; Ulfa Eka Hadiyanti, S. (2023). Analisis Motivasi<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Kerja Generasi Z Yang Dipengaruhi Oleh Lingkungan Kerja dan Komitmen Kerja. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Journal of Trends Economics and Accounting Research<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, 4(1), 107\u2013115. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.47065\/jtear.v4i1.808\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.47065\/jtear.v4i1.808<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559685&quot;:1440,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Putri, P. K. (2024). GEN Z DI DUNIA KERJA: Kepribadian dan Motivasi Jadi Penentu<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Produktivitas Kerja. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Ekonomi &amp; Bisnis<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, 4(1), 30\u201338. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.37481\/jmeb.v4i1.65\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.37481\/jmeb.v4i1.65<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559685&quot;:1440,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Vidante, C., &amp; Isaputra, S. A. (2024). Dianggap Mudah Resign, Benarkah Generasi Z kurang<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Berkomitmen dalam Pekerjaannya? <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Jurnal Psikologi Terapan<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">, 10(22).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559685&quot;:720,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Wibowo, F., Sosilowati, E., &amp; Setiyawan, A. A. (2024). Fenomena turnover intention pada<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Generasi Z dalam revolusi industri 5.0. <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Journal of Management and Digital Business<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">,<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">4(2), 313\u2013325. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.53088\/jmdb.v4i2.1120\"><span data-contrast=\"none\">https:\/\/doi.org\/10.53088\/jmdb.v4i2.1120<\/span><\/a><span data-contrast=\"auto\">\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335559731&quot;:720,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:0}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah \u201ckabur aja dulu\u201d adalah ungkapan yang popular di kalangan Generasi Z dan sering digunakan yang menggambarkan sikap menghindar sementara dari tekanan atau situasi yang dianggap tidak nyaman, melelahkan atau tidak sesuai ekspektasi mereka. Sebagai bagian dari Generasi Z, mungkin kamu pernah merasa tidak dipahami oleh lingkungan kerja atau dianggap tidak sabar, mudah menyerah atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":407,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-406","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=406"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":408,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406\/revisions\/408"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/407"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=406"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=406"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=406"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}