{"id":381,"date":"2025-04-28T02:25:30","date_gmt":"2025-04-28T02:25:30","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/?p=381"},"modified":"2025-04-28T02:27:16","modified_gmt":"2025-04-28T02:27:16","slug":"lomba-video-edukasi-mengatasi-cyberbullying-untuk-kesejahteraan-mental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/2025\/04\/28\/lomba-video-edukasi-mengatasi-cyberbullying-untuk-kesejahteraan-mental\/","title":{"rendered":"Lomba Video Edukasi Mengatasi Cyberbullying untuk Kesejahteraan Mental"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Pada bulan Februari lalu, Mahasiswi Psikologi dari Satu University mengikuti ajang <\/span><strong><i>Psyche Competition<\/i><\/strong><span data-contrast=\"auto\"> yang diselenggarakan oleh <strong>Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indoensia (ILMPI) Nasional.<\/strong> Kompetensi ini mengusung tema besar <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">\u201c<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">Membangun Inovasi Kreatif untuk Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Upaya Menjaga Kesejahteraan Mental melalui Pengembangan Keterampilan Psikologis<\/span><i><span data-contrast=\"auto\">.\u201d<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> Para peserta diberi kesempatan untuk memilih salah satu dari cabang lomba, yaitu Video Edukasi, Poster Digital, dan Olimpiade Psikologi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-383\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/04\/WhatsApp-Image-2025-04-28-at-09.24.36_c0270a99.jpg\" alt=\"\" width=\"603\" height=\"330\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Satu Univeristy sendiri diwakili oleh <strong>Jihan Faridatul Azkia dan Larasati Maulana Yusuff<\/strong>, dengan memilih berpartisipasi dalam kategori video edukasi. Dalam cabang ini, peserta diminta membuat konten yang tidak hanya kreatif dan menarik, tetapi juga memiliki muatan edukatif yang kuat dalam mendukung kesehatan mental masyarakat. Dari berbagai pilihan topik yang disediakan panitia, kami memustuskan untuk mengangkat isu \u201cMengatasi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cyberbullying <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">untuk Kesejahteraan Mental.\u201d keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan bagaimana fenomena <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> semkain sering terjadi di era digital, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Pada era digital yang serba cepat dan terbuka ini, perudungan tidak lagi terbatas pada ruang fisik tetapi menyasar ke dunia maya. Sosial media yang seharusnya menjadi wadah ekspresi dan koneksi positif, justru sering kali menjadi tempat yang tidak aman bagi banyak orang. Fenomena <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cyberbullying <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">bukan hal yang baru, tapi dampaknya terhadap kesejahteraan mental seseorang sering kali diabaikan dan dianggap remeh. Banyak individu yang tidak menyadari bahwa komentar yang mereka anggap \u201cbiasa aja\u201d bisa menyakiti seseorang secara mendalam. Melalui video edukasi yang kami buat, kami ingin mengajak berbagai kalangan untuk lebih sadar akan bahaya <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cyberbullying,<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> mengenali bentuk-bentuknya, memahami dampaknya, dan mengetahui langkah apa yang bisa dilakukan saat mengalami atau melihatnya terjadi.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559737&quot;:0,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">Cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> sering kali bermula dari kritik yang bersifat rasional, tetapi kemudian berkembang menjadi serangan personal yang tidak relevan. Kasus Abizard menjadi salah satu contoh nyata bagaimana opini yang pada awalnya netral dapat bergeser menjadi tindakan perundungan di dunia online.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa mayoritas korban cyberbullying berada pada rentang usia 18\u201325 tahun (57%), diikuti oleh kelompok usia di bawah 18 tahun (26%).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Mengapa banyak pihak mempermasalahkan Abizard karena dinilai kurang maksimal dalam mendalami perannya? Kritik yang seharusnya terbatas pada kualitas akting justru melebar hingga menyerang aspek pribadi yang tentunya tidak relevan, seperti fisik dan keluarganya. Perlu dicatat bahwa fenomena serupa tidak hanya menimpa Abizard. Banyak figur publik, bahkan masyarakat biasa, mengalami hal yang sama. sulit dibatasi. Lalu, apa yang membuat seseorang merasa memiliki kebebasan tanpa batas untuk mengomentari orang lain?<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dalam kasus Abizard, prosesnya dimulai dari bentuk <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">trolling<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> yang tidak disengaja, yakni saat seseorang berupaya mengungkapkan opini tetapi kemudian bergeser menjadi <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">flaming<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> dan <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">harassment<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><i><span data-contrast=\"auto\">Cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> bukan hanya sebatas komentar negatif, tetapi juga mencakup berbagai bentuk lain seperti:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Denigration<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (menyebarkan informasi negatif tentang seseorang),<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Impersonation<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (menyamar sebagai orang lain untuk merusak reputasinya),<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Outing<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (membocorkan informasi pribadi tanpa izin),<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Trickery <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(memanipulasi korban agar membocorkan informasi pribadi),<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Exclusion<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> (mengeluarkan seseorang dari grup secara disengaja),<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><i><span data-contrast=\"auto\">Cyberstalking <\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">(menguntit atau mengintimidasi korban secara terus-menerus di dunia maya).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Dampak dari <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> juga tidak bisa dianggap remeh. Dalam banyak kasus, efek dari perundungan daring jauh lebih parah dibanding perundungan langsung (in-person bullying), dikarenakan konten berupa meme, video, tulisan, atau komentar akan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Seseorang yang menjadi korban <i>cyberbullying<\/i> umumnya mengalami empat fase:\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fase awal: timbul perasaan marah, malu, cemas, dan merasa bodoh, yang menyerang aspek mental.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fase kedua: terganggunya stabilitas emosional, hilangnya rasa percaya diri, dan penurunan minat terhadap aktivitas sehari-hari.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fase ketiga: kecemasan berlebih yang mulai berdampak secara fisik.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fase keempat: jika kondisi ini tidak ditangani, korban bisa mengalami depresi mendalam, yang dapat mendorong mereka untuk mengambil keputusan ekstrem dan membahayakan diri, seperti bunuh diri.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Apabila kamu menjadi korban, langkah pertama yang dapat diambil adalah berbicara dengan orang dewasa yang kamu percaya, yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman untuk bercerita. Pelaku <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> biasanya bertujuan untuk memancing emosi korban agar membalas, sehingga konflik semakin memanas. Maka dari itu, penting bagi korban untuk tetap tenang, tidak terpancing, dan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang lebih positif.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Langkah selanjutnya adalah menghindari interaksi dengan pelaku, seperti memblokir akun dan melaporkan tindakan tersebut. Penting juga untuk menyimpan bukti berupa tangkapan layar <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">(screenshot)<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\"> komentar, pesan, atau ancaman yang diterima, sebagai bahan laporan kepada pihak berwenang.<\/span> <span data-contrast=\"auto\">Faktor anonimitas di media online memengaruhi keberanian pelaku. Identitas yang tersembunyi memberikan rasa bebas kepada seseorang untuk mengungkapkan pendapat, bahkan hinaan, tanpa memikirkan dampaknya. Ketidakhadiran respon emosional secara langsung dari korban membuat pelaku gagal untuk merasakan empati dan tidak terdorong untuk menghentikan perbuatannya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span data-contrast=\"auto\">Kembali pada pertanyaan awal tentang kasus Abizard, dapat disimpulkan bahwa komentar-komentar di media sosial, yang terbatas pada bentuk tulisan tanpa ekspresi atau intonasi, bisa disalahartikan dan berujung pada perundungan. Dalam situasi ini, yang dapat kita kendalikan bukanlah komentar orang lain, tetapi respon diri kita sendiri karena sejatinya kesejahteraan mental kita adalah tanggung jawab kita sendiri.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559737&quot;:0,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka\u00a0<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Effendy, M. (2022, 19 April). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Menko PMK sebut 45 persen anak di RI jadi korban cyber bullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Detik.com. <\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6039817\/menko-pmk-sebut-45-persen-anak-di-ri-jadi-korban-cyber-bullying\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6039817\/menko-pmk-sebut-45-persen-anak-di-ri-jadi-korban-cyber-bullying<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Fauziah, L. (2024, September 12). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cara mengatasi kasus cyberbullying yang sering terjadi di Indonesia<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. BINUS University. <\/span><a href=\"https:\/\/binus.ac.id\/malang\/2024\/09\/cara-mengatasi-kasus-cyberbullying-yang-sering-terjadi-di-indonesia\/\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/binus.ac.id\/malang\/2024\/09\/cara-mengatasi-kasus-cyberbullying-yang-sering-terjadi-di-indonesia\/<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Kurniawan, A. (2023, 15 Maret). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Dampak cyber bullying lebih fatal dari perundungan dunia nyata<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Validnews.id. <\/span><a href=\"https:\/\/validnews.id\/kultura\/dampak-cyber-bullying-lebih-fatal-dari-perundungan-dunia-nyata\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/validnews.id\/kultura\/dampak-cyber-bullying-lebih-fatal-dari-perundungan-dunia-nyata<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Nugroho, R. (2023, 20 Mei). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Pahami fenomena cyberbullying di Indonesia: Bentuk kekerasan digital yang perlu diatasi<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. GoodStats.id. <\/span><a href=\"https:\/\/data.goodstats.id\/statistic\/pahami-fenomena-cyberbullying-di-indonesia-bentuk-kekerasan-digital-yang-perlu-diatasi-X4EuP\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/data.goodstats.id\/statistic\/pahami-fenomena-cyberbullying-di-indonesia-bentuk-kekerasan-digital-yang-perlu-diatasi-X4EuP<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Putri, D. A. (2023). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Pengaruh cyberbullying di media sosial terhadap kesehatan mental<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Jurnal Actual Insight, 2(3), 45-56. <\/span><a href=\"https:\/\/journal.actual-insight.com\/index.php\/decive\/article\/view\/298\/1689\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/journal.actual-insight.com\/index.php\/decive\/article\/view\/298\/1689<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Rahmawati, S. (2022). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Cyberbullying dan dampaknya terhadap remaja<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. Jurnal Muhafadhah, 5(1), 12-25. <\/span><a href=\"https:\/\/e-journal.uin-al-azhaar.ac.id\/index.php\/muhafadhah\/article\/view\/430\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/e-journal.uin-al-azhaar.ac.id\/index.php\/muhafadhah\/article\/view\/430<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">UNICEF Indonesia. (2022). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Apa itu cyberbullying dan bagaimana menghentikannya?<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/www.unicef.org\/indonesia\/id\/child-protection\/apa-itu-cyberbullying\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/www.unicef.org\/indonesia\/id\/child-protection\/apa-itu-cyberbullying<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span data-contrast=\"auto\">Yayasan Sejiwa. (2023). <\/span><i><span data-contrast=\"auto\">Apa yang harus dilakukan jika Anda menjadi korban cyberbullying<\/span><\/i><span data-contrast=\"auto\">. End Cyberbullying. <\/span><a href=\"https:\/\/www.endcyberbullying.net\/what-to-do-if-youre-a-victim\"><span data-contrast=\"auto\">https:\/\/www.endcyberbullying.net\/what-to-do-if-youre-a-victim<\/span><\/a><span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559738&quot;:240,&quot;335559739&quot;:240}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis :<\/p>\n<ul>\n<li><span class=\"TextRun SCXW203381773 BCX0\" lang=\"EN-US\" xml:lang=\"EN-US\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"TextRun SCXW203381773 BCX0\" lang=\"EN-US\" xml:lang=\"EN-US\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SCXW203381773 BCX0\">Jihan <\/span><span class=\"NormalTextRun SpellingErrorV2Themed SCXW203381773 BCX0\">Faridatul<\/span> <span class=\"NormalTextRun SpellingErrorV2Themed SCXW203381773 BCX0\">Azkia \/<\/span><\/span><\/span>2710010594<\/li>\n<li>Larasati Maulana Yusuff \/2710010202<span data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:false,&quot;134233118&quot;:false,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559685&quot;:0,&quot;335559737&quot;:0,&quot;335559738&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada bulan Februari lalu, Mahasiswi Psikologi dari Satu University mengikuti ajang Psyche Competition yang diselenggarakan oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indoensia (ILMPI) Nasional. Kompetensi ini mengusung tema besar \u201cMembangun Inovasi Kreatif untuk Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Upaya Menjaga Kesejahteraan Mental melalui Pengembangan Keterampilan Psikologis.\u201d Para peserta diberi kesempatan untuk memilih salah satu dari cabang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":383,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-karya-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":384,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions\/384"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}