Apakah benar orang yang terlihat menarik juga baik?
Pernahkah kamu bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan langsung menganggap bahwa ia adalah orang yang menyenangkan? Entah dari senyumnya yang ramah, penampilannya yang menarik, aroma parfumnya yang cheerful, atau candaan yang diselipkannya saat berbicara dan membuatmu tertawa. Tanpa perlu mengenalnya lebih jauh, kamu mungkin sudah memiliki kesimpulan sendiri mengenai kepribadian orang tersebut.
Akan tetapi, pernahkah kamu menganggap seseorang sebagai orang yang sombong hanya karena ekspresi wajahnya yang datar atau karena ia tidak banyak berbicara? Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sering kali membentuk penilaian terhadap orang lain, bahkan sebelum benar-benar mengenal mereka.
First impression, cepat namun bertahan lama.
Saat pertama kali bertemu seseorang, kita membentuk first impression berdasarkan hal-hal yang dapat kita lihat dan dengar, seperti penampilan, ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Kesan ini terbentuk dengan sangat cepat, bahkan sebelum kita mengenal orang tersebut lebih jauh.
Menariknya, kesan pertama yang terbentuk dalam waktu singkat dapat bertahan cukup lama dan memengaruhi penilaian kita terhadap orang tersebut untuk seterusnya. Contohnya, “what is beautiful is good” stereotype, yaitu kecenderungan menganggap orang yang berpenampilan menarik juga memiliki sifat positif, seperti ramah dan cerdas. Padahal, penampilan tidak selalu mencerminkan kepribadian seseorang.
Mengapa orang yang berpenampilan menarik sering dianggap baik?
Seseorang yang berpenampilan menarik memiliki kecenderungan untuk dianggap lebih ramah, cerdas, atau bahkan dapat dipercaya juga, meskipun kita belum memiliki bukti yang cukup untuk menyimpulkan hal tersebut. Kecenderungan ini berkaitan dengan halo effect.
Misalnya, seorang mahasiswa baru terlihat percaya diri, berpakaian rapi dan mudah tersenyum. Teman-temannya mungkin langsung menganggapnya sebagai pribadi yang baik dan menyenangkan. Padahal, penampilan dan keramahan pada pertemuan pertama belum tentu menggambarkan bagaimana ia memperlakukan orang lain dalam situasi berbeda. Artinya, seseorang yang terlihat menarik belum tentu baik, sebagaimana orang yang terlihat pendiam belum tentu tidak ramah. Penting bagi kita untuk membedakan antara kesan yang kita dapatkan dan karakter yang benar-benar dimiliki seseorang.
Jadi, apakah first impression itu penting?
Walaupun tidak selalu akurat, first impression tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Ketika bertemu orang baru, kita biasanya menggunakan informasi awal untuk menentukan bagaimana kita akan berinteraksi dengannya.
Karena itu, membangun kesan pertama yang positif dapat membantu kita memulai hubungan dengan lebih baik. Hal ini tidak berarti kita harus selalu tampil sempurna atau berusaha menyenangkan semua orang. Hal-hal sederhana seperti menyapa dengan sopan, menunjukkan ekspresi yang bersahabat, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan menjaga bahasa tubuh dapat membantu menciptakan kesan yang baik. Akan tetapi, kesan pertama yang positif dapat menjadi tidak berarti jika tidak diikuti dengan perilaku yang konsisten. Keramahan pada pertemuan pertama akan kehilangan maknanya jika seseorang terus-menerus bersikap tidak menghargai orang lain.
Pada akhirnya, apakah orang yang terlihat menarik juga baik? Jawabannya belum tentu. Penampilan dapat memengaruhi penilaian awal kita, tetapi tidak cukup untuk menentukan karakter, apalagi kepribadian seseorang. Kita perlu belajar membangun first impression yang positif sekaligus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa seseorang baik hanya karena ia terlihat menarik, atau menganggap seseorang tidak menyenangkan hanya karena ia tampak berbeda dari harapan kita.
Referensi:
Aronson, Wilson, Akert & Fehr. (2021). Introduction to Social Psychology. (7th Canadian Ed.). Pearson Canada
Comments :