Self-Disclosure di Balik Second Account: Mengapa Kita Lebih Jujur di Akun Kedua?
Punya lebih dari satu akun Instagram sudah menjadi hal yang biasa bagi banyak anak muda. Selain akun utama, banyak yang menggunakan second account untuk membagikan hal-hal yang tidak selalu ingin ditampilkan di akun utama. Jika di akun utama kita cenderung lebih memilih foto, memikirkan caption, dan mempertimbangkan siapa saja yang akan melihatnya, di second account kita biasanya lebih bebas membagikan cerita sehari-hari, perasaan, hingga keluhan. Penggunaan second account pun semakin menarik karena akun ini sering kali hanya diikuti oleh orang-orang tertentu yang dianggap dekat dan dipercaya (Prihantoro et al., 2020).
Perbedaan tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa seseorang justru lebih nyaman untuk jujur dan terbuka di second account? Padahal, kedua akun tersebut digunakan oleh orang yang sama. Perbedaannya terletak pada ruang dan orang-orang yang melihatnya. Hal ini membuat second account menarik untuk dilihat dari sisi psikologis, terutama berkaitan dengan keterbukaan diri seseorang.
Artikel ini akan membahas alasan seseorang lebih terbuka di second account dengan melihat faktor-faktor psikologis yang memengaruhinya. Selain itu, pembahasan juga akan melihat dampak dari penggunaan second account, baik sebagai ruang untuk mengekspresikan diri maupun risiko yang dapat muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada ruang tersebut. Konsep self-disclosure dan teori Johari Window akan digunakan untuk membantu menjelaskan fenomena tersebut.
Penggunaan second account Instagram merupakan fenomena di mana pengguna terutama remaja membuka akun tambahan selain akun utama (first account) untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas dan autentik tanpa tekanan sosial yang terasa pada akun utama. Karakteristik second account dapat dibuat dengan nama samaran, privasi yang lebih ketat, dan audiens yang terbatas memungkinkan pengguna memposting konten spontan, personal, serta curhat keseharian yang sering kali tidak ingin dibagi ke publik luas. Dalam kerangka teori dramaturgi Goffman, akun utama berperan sebagai “front stage” yang menampilkan citra ideal, sedangkan second account adalah “backstage” yang menjadi ruang aman untuk ekspresi diri yang lebih jujur dan tanpa ekspektasi sosial (Sidqiyah & Ahwan, 2025).
Kondisi tersebut berkaitan erat dengan konsep self-disclosure atau keterbukaan diri. Self-disclosure merupakan proses ketika seseorang mengungkapkan informasi mengenai dirinya kepada orang lain, termasuk informasi pribadi yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang lain (Prihantoro et al., 2020). Keterbukaan diri tidak terjadi dengan tingkat yang sama kepada setiap orang. Seseorang cenderung mempertimbangkan kepada siapa informasi tersebut akan disampaikan, seberapa dekat hubungan yang dimiliki, serta bagaimana kemungkinan orang lain memberikan respons terhadap informasi tersebut. Oleh karena itu, ketika individu merasa bahwa audiensnya merupakan orang-orang yang dapat dipercaya, hambatan untuk mengungkapkan informasi pribadi dapat menjadi lebih rendah.
Hal tersebut dapat dijelaskan melalui teori Johari Window yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Teori ini membagi pemahaman mengenai diri ke dalam empat bagian, yaitu open area, blind area, hidden area, dan unknown area. Dalam konteks self-disclosure, bagian yang paling berkaitan adalah hidden area, yaitu informasi mengenai diri yang diketahui oleh individu tetapi belum diketahui oleh orang lain. Melalui keterbukaan diri, sebagian informasi yang sebelumnya berada dalam hidden area dapat dibagikan kepada orang lain sehingga menjadi bagian dari informasi yang diketahui bersama (Arifa, 2022).
Jika dikaitkan dengan second account, individu cenderung menyimpan informasi pribadi di akun utama karena mempertimbangkan audiens dan penilaian sosial, sehingga tetap berada dalam hidden area. Namun, audiens yang lebih terbatas dan dipercaya pada second account dapat menciptakan rasa aman untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pemikiran pribadi. Dengan demikian, second account menjadi ruang yang mendorong terjadinya self-disclosure. Rasa aman tersebut menjadi salah satu faktor psikologis yang mendorong self-disclosure. Ketika individu merasa minim risiko mendapat penilaian negatif, ia cenderung lebih bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Aulia et al. (2025) menunjukkan bahwa second account dapat menjadi ruang yang lebih aman karena pengguna memiliki kontrol dalam menentukan siapa yang dapat melihat kontennya, sehingga lebih leluasa menampilkan sisi diri yang tidak ditunjukkan di akun utama.
Dari perspektif psikologi, penggunaan akun kedua ini tidak lepas dari dinamika kesehatan mental remaja. Media sosial memberi peluang katarsis melalui ekspresi perasaan, namun di sisi lain menimbulkan resiko tekanan sosial baru, kecemasan identitas, dan gejala depresi, apabila pengelolaannya tidak sehat. Penggunaan beberapa akun sekaligus menimbulkan implikasi psikososial yang kompleks mulai dari tekanan sosial ganda hingga potensi konflik internal identitas. Dengan meningkatnya kebutuhan remaja atas ruang ekspresi yang lebih privat dan minimnya literasi risiko psikologi digital. (Sidqiyah & Ahwan, 2025).
Dengan akun media sosial yang dikunci serta pengikut yang hanya terdiri atas orang-orang terdekat dan dipercaya, second account menciptakan ruang komunikasi yang lebih intim. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam menentukan hal-hal yang ingin dibagikan (Prihantoro et al., 2020). Kebebasan yang lebih besar tersebut memberikan keleluasaan bagi individu untuk membagikan hal-hal yang sebelumnya belum pernah mereka ungkapkan. Semakin besar kesamaan yang dirasakan seseorang dengan orang lain, semakin besar pula kecenderungan untuk berkomunikasi.
Tidak hanya dalam ruang digital, penggunaan second account juga dapat membantu seseorang merasa lebih percaya diri dalam kehidupan nyata. Terbentuknya ruang untuk mengekspresikan diri secara bebas, serta adanya perasaan “didengar” dan “dipahami” oleh komunitas kecil di akun kedua, dapat mengurangi beban untuk tampil sempurna di akun utama dan memperkuat rasa kebermaknaan dalam relasi sosial. Selain itu, minimnya risiko penilaian dari orang lain membuat seseorang cenderung lebih terbuka dalam menyuarakan keresahan, mengolah pengalaman, dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Proses ini memungkinkan individu untuk melakukan refleksi diri secara lebih mendalam, membentuk kesadaran diri, serta mengembangkan sikap asertif dalam menyampaikan emosi (Aulia et al., 2025).
Second account juga memiliki peran penting dalam proses negosiasi identitas dan penguatan rasa keterikatan pada kelompok kecil di media sosial. Sidqiyah dan Ahwan (2025) dalam penelitiannya menyatakan bahwa proses sharing yang terbatas dapat meningkatkan rasa diterima, kepercayaan diri, dan validasi terhadap pengalaman diri. Interaksi semacam ini dapat memperkuat harga diri sekaligus memperbaiki kualitas relasi sosial di dunia nyata.
Second account dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk self-disclosure Audience yang dimiliki lebih sedikit sehingga individu lebih merasa diterima, didengar, dan bebas mengekspresikan dirinya tanpa ada tekanan dari orang lain maupun individu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan diri dipengaruhi oleh rasa percaya dan lingkungan sosial yang dibangun oleh individu. Dengan begitu, lebih jujur di second account bukan berarti memiliki identitas berbeda dari apa yang ditunjukkan, melainkan karena adanya ruang lain yang dimiliki seseorang untuk menampilkan sisi dirinya yang lebih personal dan apa adanya tanpa harus memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya.
Penulis:
Apriani Dinda Kuswara | 2910012140
Astri Herlisnawati | 2810011553
Azmiati Jauhar Nafisah | 2910012323
Jasmine Achir | 2910012790
Shania Hijriah | 2910012286
REFERENSI
Sidqiyah, N. L., & Ahwan, Z. (2025). Secound account Instagram sebagai ruang ekspresi alternatif remaja pada fenomenologi kesehatan mental dan identitas sosial di Kota Surabaya. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(3), 121–130. https://doi.org/10.9963/mr7j2p94
Prihantoro, E., Damintana, K. P. I., & Ohorella, N. R. (2020). Self disclosure generasi milenial melalui second account Instagram. Jurnal Ilmu Komunikasi, 18(3), 312–323. https://doi.org/10.31315/jik.v18i3.3919
Aulia, K. P., Ramadhani, S. P., & Agitashera, D. (2025). Penggunaan second account Instagram sebagai ruang aman untuk presentasi diri Gen Z. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(2), 84–93. https://jurnal.akmrtv.ac.id/jik/article/view/409
Arifa, M. (2022). Konsep diri dan self disclosure laki-laki dalam multi account Instagram [Skripsi sarjana, Universitas Islam Indonesia]. DSpace UII. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/43359
Comments :