Ekspektasi vs Realita: Kita Pilih yang Mana?
Dalam kehidupan, kita sering memiliki gambaran mengenai bagaimana sesuatu seharusnya berjalan. Kita membuat rencana pendidikan, membayangkan karier yang diinginkan, menetapkan target, dan berharap berbagai usaha yang dilakukan membawa kita pada hasil tertentu. Namun, kenyataan tidak selalu mengikuti rencana. Ada kalanya kesempatan tidak datang ketika diharapkan, hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan usaha yang diberikan, atau rencana yang telah disusun harus berubah karena keadaan di luar kendali.
Hal inilah yang menjadi salah satu pesan dalam kegiatan CUPDATE bersama suxesstories pada 13 Agustus 2026. Melalui sesi Insight Cupdate, Chef Ronny Gunawan founder Salt Beard menyampaikan bahwa modal sukses bukan hanya pencapaian, tetapi juga bagaimana seseorang menghadapi jarak antara ekspektasi dan kenyataan. Jarak tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan. Justru, di dalamnya terdapat kesempatan untuk belajar, menyesuaikan arah, dan berkembang.
Pesan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan konsep hardiness dalam psikologi. Hardiness merupakan karakteristik psikologis yang membantu individu menghadapi situasi penuh tekanan dan perubahan. Konsep ini diperkenalkan oleh Kobasa (1979) melalui tiga komponen utama, yaitu commitment, control, dan challenge. Ketiga komponen tersebut menjelaskan bagaimana seseorang tetap terlibat dalam kehidupannya, mengenali ruang yang masih dapat dikendalikan, serta memandang perubahan sebagai bagian dari proses yang dapat memberikan kesempatan untuk berkembang.
Hardiness bukan berarti seseorang tidak pernah merasa kecewa, takut, atau tertekan. Individu yang tangguh tetap dapat mengalami berbagai emosi tersebut. Yang membedakan adalah bagaimana ia memaknai pengalaman dan menentukan respons setelah menghadapinya. Kajian terbaru mengenai cognitive hardiness menunjukkan bahwa hardiness berkaitan dengan bagaimana individu menilai dan merespons stresor secara adaptif, terutama melalui aspek commitment, control, dan challenge (Senewiratne et al., 2025).
Tetap Terlibat ketika Rencana Tidak Berjalan
Komponen pertama, commitment, berkaitan dengan kemampuan individu untuk tetap terlibat dalam hal-hal yang dianggap bermakna. Ketika seseorang mengalami kegagalan, commitment membantu dirinya untuk tidak langsung melepaskan tujuan atau aktivitas yang penting baginya. Misalnya, seseorang yang gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan dapat tetap mengembangkan kompetensi, mencari pengalaman baru, dan mempertimbangkan kesempatan lain yang masih sejalan dengan tujuan kariernya.
Commitment bukan berarti seseorang harus mempertahankan tujuan dengan cara yang sama. Ketika kondisi berubah, strategi juga dapat berubah. Seseorang dapat mengubah rute tanpa harus kehilangan arah. Dalam konteks ini, pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan justru dapat menjadi kesempatan untuk memahami kembali apa yang benar-benar penting dan menentukan langkah berikutnya.
Menemukan Apa yang Masih Bisa Dikendalikan
Komponen kedua adalah control, yaitu keyakinan bahwa individu masih memiliki ruang untuk memengaruhi respons dan tindakannya sendiri. Control bukan berarti semua keadaan dapat dikendalikan. Sebaliknya, individu perlu mampu membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendalinya dan hal-hal yang memang berada di luar kendali.
Ketika seseorang gagal dalam proses seleksi kerja, misalnya, ia tidak dapat mengendalikan keputusan perusahaan. Namun, ia masih dapat mengendalikan bagaimana merespons hasil tersebut, mencari umpan balik, meningkatkan keterampilan, dan menentukan langkah selanjutnya. Kesadaran mengenai ruang kendali ini membantu individu mengalihkan energi dari hal-hal yang tidak dapat diubah menuju hal-hal yang masih dapat dilakukan.
Dengan demikian, control bukan tentang kemampuan mengendalikan keadaan, tetapi tentang menyadari bahwa diri sendiri masih memiliki peran dalam menentukan bagaimana menghadapi keadaan tersebut.
Melihat Perubahan sebagai Kesempatan
Komponen ketiga, challenge, berkaitan dengan kecenderungan untuk melihat perubahan dan kesulitan sebagai bagian dari kehidupan yang dapat memberikan kesempatan untuk belajar. Perubahan memang tidak selalu nyaman. Kegagalan, perpindahan lingkungan, tuntutan pekerjaan, maupun ketidakpastian masa depan dapat menimbulkan tekanan. Namun, pengalaman tersebut juga dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan baru.
Seseorang yang gagal mencapai target, misalnya, dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk mengevaluasi strategi yang digunakan, mengetahui keterampilan yang masih perlu dikembangkan, dan mencoba pendekatan yang berbeda. Dengan demikian, kegagalan tidak berhenti sebagai pengalaman yang mengecewakan, tetapi dapat menjadi sumber informasi bagi perkembangan diri.
Perspektif ini sejalan dengan kajian Senewiratne et al. (2025) yang menunjukkan bahwa challenge merupakan bagian penting dari cognitive hardiness, khususnya dalam bagaimana individu menilai situasi yang sulit dan melihat kemungkinan untuk menghadapinya sebagai kesempatan untuk berkembang.
Dari Ekspektasi menuju Pengembangan Diri
Jika ketiga komponen tersebut dilihat bersama, hardiness memberikan cara untuk memahami bagaimana seseorang menghadapi jarak antara ekspektasi dan kenyataan. Commitment membantu individu tetap terhubung dengan hal-hal yang bermakna, control membantu menemukan ruang yang masih dapat dipengaruhi, sedangkan challenge membantu melihat perubahan sebagai bagian dari proses belajar.
Karena itu, menjadi tangguh bukan berarti selalu terlihat kuat atau tidak pernah mengalami kegagalan. Ketangguhan justru terlihat ketika seseorang mampu tetap mencari arah setelah mengalami situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Ia dapat merasa kecewa, tetapi tidak berhenti. Ia dapat mengubah rencana, tetapi tetap memiliki tujuan. Ia dapat menghadapi tekanan, sekaligus menggunakan pengalaman tersebut untuk memahami dirinya dengan lebih baik.
Pada akhirnya, pesan CUPDATE mengenai jarak antara ekspektasi dan kenyataan membawa kita pada pemahaman bahwa pengembangan diri tidak hanya terjadi ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Justru, ketika kenyataan memaksa kita untuk berhenti, mengevaluasi, dan menyesuaikan arah, di situlah kapasitas diri dapat berkembang.
Kita mungkin tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi, tetapi kita dapat terus mengembangkan kemampuan untuk menghadapi apa yang terjadi. Karena bertumbuh bukan berarti selalu mendapatkan apa yang kita harapkan, melainkan mampu menggunakan setiap pengalaman untuk menjadi lebih siap menghadapi perjalanan berikutnya.
Daftar Pustaka
Kobasa, S. C. (1979). Stressful life events, personality, and health: An inquiry into hardiness. Journal of Personality and Social Psychology, 37(1), 1–11. https://doi.org/10.1037/0022-3514.37.1.1
Maddi, S. R. (2002). The story of hardiness: Twenty years of theorizing, research, and practice. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 54(3), 173–185. https://doi.org/10.1037/1061-4087.54.3.173
Schäfer, S. K., Supke, M., Kausmann, C., Schaubruch, L. M., Lieb, K., & Cohrdes, C. (2024). A systematic review of individual, social, and societal resilience factors in response to societal challenges and crises. Communications Psychology, 2, 92. https://doi.org/10.1038/s44271-024-00138-w
Senewiratne, S., Sendjaya, S., Gunasekara, A., & Newman, A. (2025). Cognitive hardiness in the workplace: A systematic review and call for future research. Management Review Quarterly. https://doi.org/10.1007/s11301-025-00512-w
Comments :