Self-Leadership, Ketika Kita Belajar Menjadi Pemimpin bagi Diri Sendiri
Pernah merasa tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tetap sulit memulainya?
Kita tahu harus belajar, tetapi malah membuka media sosial. Kita tahu pekerjaan harus segera diselesaikan, tetapi terus menundanya. Kita sudah menetapkan target, tetapi ketika menghadapi kesulitan, motivasi tiba-tiba hilang. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa mengetahui apa yang harus dilakukan belum tentu berarti mampu mengarahkan diri untuk benar-benar melakukannya.
Di sinilah konsep self-leadership menjadi penting. Self-leadership pada dasarnya berbicara tentang kemampuan seseorang untuk memimpin dirinya sendiri. Manz (1986) memperkenalkan self-leadership sebagai proses self-influence, yaitu bagaimana seseorang memberikan pengaruh terhadap dirinya sendiri untuk mengarahkan perilaku dan mencapai tujuan. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Houghton dan Neck (2002), yang menjelaskan self-leadership sebagai proses kognitif dan perilaku yang memungkinkan individu mencapai self-direction dan self-motivation untuk memperoleh kinerja dan hasil perilaku yang diinginkan.
Jadi, self-leadership bukan sekadar tentang “bisa mengatur diri”.
Lebih dari itu, self-leadership berbicara tentang bagaimana seseorang mampu mengatakan kepada dirinya sendiri:
Saya tahu apa yang ingin saya capai, saya tahu apa yang perlu saya lakukan, dan saya mampu mengarahkan diri saya untuk sampai ke sana.
Self-leadership sering kali dianggap sama dengan disiplin diri. Padahal, keduanya tidak sepenuhnya sama. Disiplin memang penting. Namun, seseorang dapat saja disiplin karena adanya tekanan dari luar. Misalnya, seseorang mengerjakan tugas karena takut dimarahi dosen atau mendapat nilai buruk. Self-leadership bekerja lebih dalam, individu tidak hanya melakukan sesuatu karena “harus”, tetapi mampu mengarahkan dirinya melalui tujuan, motivasi, dan cara berpikirnya sendiri.
Karena itu, self-leadership mencakup tiga hal besar:
Bagaimana saya mengatur perilaku saya?
Bagaimana saya membuat diri saya tetap termotivasi?
Bagaimana saya mengarahkan cara berpikir saya?
Ketiga pertanyaan tersebut kemudian tercermin dalam tiga dimensi utama self-leadership, yaitu behavior-focused strategies, natural-reward strategies, dan constructive thought pattern strategies. 
Neck dan Manz (1992) menjelaskan bahwa self-talk merupakan salah satu bagian penting dari thought self-leadership. Individu dapat menggunakan dialog internal untuk mengarahkan pikiran dan perilakunya ketika menghadapi suatu situasi. Pada akhirnya, self-leadership bukan tentang menjadi sempurna, selalu produktif, atau tidak pernah mengalami kegagalan. Self-leadership adalah tentang kemampuan untuk mengarahkan perilaku, menemukan motivasi, dan mengelola pikiran agar tetap bergerak menuju tujuan. Karena dalam perjalanan mencapai apa yang kita inginkan, tidak akan selalu ada orang lain yang mengingatkan, memotivasi, atau menunjukkan jalan.
Comments :