Kenapa Manusia Makin Digital, Psikologi Mempelajari Apa?
Dari kesehatan mental, media sosial, dunia kerja, hingga artificial intelligence, psikologi terus berkembang mengikuti perubahan kehidupan manusia. Ketika mendengar kata “PSIKOLOGi”, sebagaian orang mungkin langsung membayangkan konseling, tes kepribadian, atau pembahasan mengenai kesehatan mental. Tidak salah, tetapi gambaran tersebut belum sepenuhnya menggambarkan luasnya ilmu Psikologi saat ini.
Psikologi pada dasarnya mempelajari bagaimana cara manusia berfikir, merasakan dan berperilaku. Tidak hanya itu Psikologi juga menelaah bagaimana individu tersebut mengambil keputusan dan berinteraksi dengan orang lain. Adaptasi individu terhadap llingkungan juga menjadi salah satu yang di pelajari dalam psikologi.
Kehidupan mannusia terus mengalami perubahan termasuk ilmu yang mempelajari manusia pun ikut berkembang.Hari ini manusia hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Kita belajar dengan bantuan teknologi dan bekerja sama dengan sistem digital. Kehadiran media sosial, berbagai platform digital dan adanya kecerdasan buatan (artificial inteliigece/AI) tidak hanya mengubah cara manusia menggunakan teknologi, tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir untuk berinteraksi dan mengambil keputusan dalam menjalani kesehariannya.
Adanya fenomena tersebut ilmu psikologi pun berkembang sehingga muncul pertanyaan kalau manusia semakin digital psikologi mempelajari apa ?

Kesehatan mental tetap menjadi salah satu bidang penting dalam Psikologi. Namun, pendekatan Psikologi tidak hanya berfokus pada ketika seseorang mengalami masalah. Psikologi juga mempelejari bagaimana manusia dapat berkembang, beradaptasi dan membangun relasi yang sehat dengan orang lain. Selain itu juga, pendekatan psikologi juga berfokus pada pengelolaan stres hingga ia dapat mencapai kesejahteraan psikologis.
Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah perangkat yang digunkan oleh manusianya, tetapi juga mengubah cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Cara komunikasi dan mencari informasi hingga membangun hubungan sosial kini semakin banyak berlangsung melalui ruang digital. Perubahan lingkungan tersebut pada akhirnya turut mempengaruhi bagaimana cara manusia berpikir dan mengambil keputusan, tidak hanya itu hal tersebut juga mempengaruhi bagaimana individu menampilkan dirinya dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, ketika lingkungan kehidupan manusia berubah, perilaku manusia di dalamnya juga ikut mengalami perubahan. Perubahan ini membuat teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat yang digunakan manusia, tetapi telah menjadi bagian dari lingkungan tempat manusia menjalani kehidupannya. Karena itu, ketika lingkungan manusia berubah, cara manusia berpikir, merasakan, dan berperilaku juga menjadi hal yang menarik untuk dipahami dalam kajian Psikologi (Suryoadji et al., 2024).
Perubahan tersebut juga membuat ruang kerja psikologi menjadi semakin luas. Psikologi tidak hanya hadir untuk memahami individu ketika menghadapi masalah, tetapi juga untuk memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Di tengah kehidupan yang semakin terhubung dengan teknologi, psikologi dapat membantu melihat bagaimana kebiasaan digital terbentuk, bagaimana manusia mengelola informasi yang begitu banyak, serta bagaimana interaksi dengan teknologi dapat memengaruhi emosi, perhatian, motivasi, dan pengambilan keputusan.
Salah satu perkembangan yang menarik adalah munculnya kajian mengenai hubungan manusia dengan artificial intelligence (AI). Ketika seseorang mulai menggunakan AI untuk mencari informasi, belajar, bekerja, bahkan berdiskusi, muncul dinamika psikologis baru yang sebelumnya tidak banyak ditemukan dalam interaksi manusia dengan teknologi. Manusia dapat memberikan kepercayaan kepada AI, bergantung pada rekomendasinya, atau bahkan mengubah cara mengambil keputusan karena adanya informasi yang diberikan sistem tersebut. Karena itu, AI tidak hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga menjadi fenomena yang perlu dipahami dari perspektif perilaku manusia.
Yalcin Williams dan Lim (2024) menjelaskan bahwa psychology of AI semakin penting untuk memahami bagaimana AI dapat memengaruhi cara manusia merasakan, berpikir, dan berperilaku. Kajian ini mencakup berbagai proses psikologis, mulai dari bagaimana manusia mempersepsikan AI, bagaimana kepercayaan terhadap AI terbentuk, hingga bagaimana penggunaan AI dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan perilaku manusia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi justru membuka pertanyaan-pertanyaan baru bagi psikologi. Ketika seseorang menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas, misalnya, psikologi dapat melihat bagaimana penggunaan tersebut memengaruhi proses berpikir dan rasa percaya diri individu. Ketika AI digunakan dalam proses rekrutmen, psikologi dapat mempertanyakan bagaimana manusia mempersepsikan keadilan dan keputusan yang dihasilkan oleh sistem. Sementara ketika AI digunakan sebagai teman berdiskusi, muncul pertanyaan mengenai bagaimana manusia membangun persepsi dan hubungan dengan teknologi yang dapat memberikan respons menyerupai manusia.
Pada saat yang sama, perkembangan digital juga membuat isu kesehatan mental menjadi semakin kompleks. Media sosial dapat menjadi ruang untuk mendapatkan dukungan sosial dan membangun komunitas, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat berkaitan dengan tekanan sosial, perbandingan diri, paparan informasi yang berlebihan, dan berbagai pengalaman psikologis lainnya. Karena itu, psikologi perlu melihat teknologi secara lebih seimbang. Teknologi bukan sesuatu yang sepenuhnya baik atau buruk, melainkan bagian dari lingkungan yang dapat memberikan pengalaman berbeda tergantung pada bagaimana, mengapa, dan dalam konteks apa teknologi tersebut digunakan (Suryoadji et al., 2024).
Pada akhirnya, perkembangan psikologi mengikuti satu hal yang tidak pernah berhenti berubah: manusia itu sendiri. Ketika cara manusia belajar berubah, psikologi ikut mempelajarinya. Ketika cara manusia bekerja berubah, psikologi kembali bertanya bagaimana perubahan tersebut memengaruhi manusia. Ketika manusia mulai membangun hubungan dengan teknologi dan AI, psikologi juga hadir untuk memahami pengalaman baru tersebut. Jadi, kalau manusia semakin digital, psikologi tidak menjadi semakin tidak relevan. Justru sebaliknya, semakin kompleks kehidupan manusia, semakin banyak hal yang perlu dipahami oleh psikologi. Bukan hanya tentang bagaimana manusia menghadapi masalah, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar, bekerja, beradaptasi, membangun hubungan, mengambil keputusan, dan tetap berkembang di tengah dunia yang terus berubah.
Daftar Pustaka
Suryoadji, K. A., Ali, N., Sutanto, R. L., & Christian, C. (2024). Kesehatan mental di era digital: Tinjauan naratif dampak media sosial dan teknologi digital pada kesehatan mental dan upaya untuk mengatasinya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 23(1), 46–55.
Yalcin Williams, G., & Lim, S. (2024). Psychology of AI: How AI impacts the way people feel, think, and behave. Current Opinion in Psychology, 58, 101835. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2024.101835
Van Bavel, J. J., Robertson, C. E., del Rosario, K., Rasmussen, J., & Rathje, S. (2024). Social media and morality. Annual Review of Psychology, 75, 311–340. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-022123-110258
Comments :