Pada 2 Oktober 2026, Psikologi SATU University kembali menggelar serangkaian bentuk pengabdian kepada masyarakat secara onsite yang diselenggarakan di SMA Budi Mulia, Bogor. Kegiatan kali ini ditujukan untuk siswa/i kelas XI di SMA Budi Mulia sebagai peserta utama dengan mengusung tema “FOMO vs JOMO: Memilih Bahagia Tanpa Ikut Semua”. Kegiatan ini berbentuk seminar yang dipandu oleh Suhaya Havisza Wachyudi, S.Psi., M.Psi. sebagai narasumber. Melalui kegiatan ini, para siswa/i diajak mengenali perasaan “takut ketinggalan” atau FOMO yang kerap muncul dalam keseharian mereka, sekaligus belajar bahwa ada pilihan lain yang lebih menyenangkan.

Memahami Fenomena FOMO di Kalangan Remaja, Apa itu FOMO dan JOMO?

Fenomena FOMO atau Fear Of Missing Out , merupakan istilah yang sangat populer khususnya pada Gen Z yang lahir dan tumbuh di era digital. Istilah tersebut sebenarnya mengacu pada perasaan cemas atau takut tertinggal akan suatu peristiwa menyenangkan yang dialami oleh orang lain. Fear of Missing Out (FOMO) pada remaja di era digital merupakan fenomena

psikologis yang dipengaruhi oleh kebutuhan akan keterhubungan sosial, intensitas penggunaan media sosial, serta lingkungan sosial individu. Tingginya paparan media digital membuat remaja lebih rentan mengalami kecemasan, perbandingan sosial, dan ketergantungan terhadap validasi dari lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis, kontrol diri, serta pola interaksi sosial remaja.

Sesi materi dibawakan untuk membimbing siswa mengenali perasaan ketakutan akan tertinggal. Melalui sesi interaktif Myth or Fact, para siswa/i diajak merefleksikan berbagai situasi sehari-hari seperti perbandingan kehidupan di media sosial. Apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah gambaran parsial dari kehidupan seseorang, seperti foto liburan, momen nongkrong, atau pencapaian. Sementara dibalik layar, proses seperti rasa lelah, tumpukan tugas, dan kecemasan lainnya tidak diperlihatkan. Salah satu sisi lain yang tidak pernah terlihat secara langsung yaitu tekanan kelompok. Mengikuti tren atau ajakan teman sering kali didasari rasa takut dianggap tidak relevan atau takut tertinggal, bukan karena murni keinginan dalam diri. Sebagai solusi atas kecemasan FOMO, materi dilanjutkan dengan pengenalan konsep JOMO (Joy of Missing Out). JOMO atau Joy Of Missing Out adalah sebuah perasaan tenang, bahagia saat memilih melewatkan tren sosial media demi menjaga kesehatan mental itu sendiri. JOMO dan FOMO adalah dua kondisi psikologis yang saling bertolak belakang dalam mengikuti sebuah tren, informasi, dan aktivitas sosial di era digital ini.

Diskusi Interaktif: Apakah JOMO Memiliki Sisi Negatif?

Suasana kegiatan menjadi semakin hidup ketika salah satu siswa kelas XI mengajukan pertanyaan kritis, “Apakah JOMO juga memiliki sisi negatif?” Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan bahwa JOMO pada dasarnya bukanlah hal yang negatif. Namun, sikap ini dapat menjadi tidak adaptif apabila disalahgunakan. JOMO menjadi kurang tepat ketika digunakan secara berlebihan sekadar untuk memvalidasi keinginan tidak mau bersosialisasi, atau bahkan menolak kegiatan-kegiatan sosial yang sebenarnya memiliki tujuan dan dampak positif.

“JOMO bukan berarti kita antisosial, tidak peduli dengan orang lain, atau menarik diri sepenuhnya. JOMO adalah tentang keberanian menetapkan batasan yang sehat dan memilih prioritas secara bijak,” tegas narasumber dalam sesi diskusi.

Sebagai penerapan JOMO secara sehat, siswa diperkenalkan panduan praktis. Ada empat langkah evaluasi sebelum mengambil keputusan yaitu Pause Before You Join. Yang berarti menanyakan apakah benar-benar ingin melakukan kegiatan atau hal tersebut, memahami alasan dibalik keinginan tersebut, memahami konsekuensi atau dampak terhadap tugas, waktu, dan energi. serta memastikan kegiatan tersebut sesuai dengan prioritas diri. Dengan langkah tersebut, siswa diharapkan dapat lebih bijak dalam menentukan pilihan dengan bijak dan tidak mengambil keputusan hanya karena takut tertinggal.

Melalui kegiatan seminar ini, diharapkan para siswa/i SMA Budi Mulia Bogor dapat lebih paham terkait fenomena FOMO dan JOMO, serta menyadari bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa/i juga diharapkan mampu menggunakan media sosial dengan lebih bijak, tidak mudah terbawa arus untuk selalu mengikuti tren, serta belajar untuk percaya diri dengan pilihan mereka tanpa merasa takut tertinggal. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu siswa/i menjaga kesehatan mental dalam menggunakan media sosial, terutama dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Dengan demikian, mereka dapat membangun kebiasaan digital yang lebih sehat