Artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan manusia, termasuk dalam bidang psikologi. Teknologi ini kini tidak hanya digunakan untuk mengolah data, tetapi juga mulai dimanfaatkan untuk mengenali pola kondisi mental, memantau perubahan psikologis, membantu penelitian, hingga mengembangkan intervensi berbasJustru perkembangan AI dalam psikologi menunjukkan bahwa teknologi ini lebih tepat dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga profesional.

Salah satu penggunaan AI yang berkembang adalah dalam deteksi dan monitoring kesehatan mental. Systematic review Cruz-Gonzalez et al. (2025) terhadap 85 penelitian menunjukkan bahwa AI telah digunakan dalam tiga area utama, yaitu diagnosis, monitoring, dan intervensi. Dalam proses diagnosis, machine learning digunakan untuk mendeteksi dan memprediksi berbagai kondisi mental, termasuk depresi dan skizofrenia. Sementara dalam monitoring, AI digunakan untuk membantu mengamati perkembangan kondisi psikologis dan respons terhadap treatment. Potensi ini menarik karena AI dapat membantu menemukan pola dari data dalam jumlah besar. Akan tetapi,  menemukan pola bukan berarti memahami manusia secara utuh. Hasil yang diberikan AI tetap membutuhkan interpretasi dan pertimbangan profesional. Hal yang lebih menarik muncul ketika AI mulai digunakan dalam bentuk chatbot.

Penelitian Heinz et al. (2025) menguji Therabot, chatbot berbasis generative AI, pada 210 orang dewasa dengan gejala depresi, kecemasan, atau risiko klinis tinggi terhadap gangguan makan. Peserta yang menggunakan Therabot menunjukkan penurunan gejala yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol setelah empat minggu dan pada follow-up delapan minggu. Temuan tersebut memang menjanjikan. Tetapi ada konteks yang tidak boleh dilewatkan.

Therabot dikembangkan menggunakan dialog yang disusun dengan keterlibatan psikiater dan psikolog klinis, menggunakan pendekatan berbasis bukti, serta dilengkapi mekanisme pengamanan. Dalam penelitian tersebut, respons chatbot juga tetap berada dalam pengawasan klinisi dan peneliti. Artinya, penelitian tersebut bukan bukti bahwa chatbot sudah dapat menggantikan psikolog atau melakukan terapi secara mandiri. Penelitian tersebut lebih tepat dibaca sebagai bukti awal bahwa AI-assisted mental health intervention berpotensi menjadi salah satu bentuk dukungan digital yang dapat diteliti lebih lanjut.

Bahkan, systematic review Cruz-Gonzalez et al. menunjukkan bahwa AI chatbot masih memiliki sejumlah keterbatasan. Chatbot dapat kesulitan memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun intonasi suara; terkadang salah memahami respons pengguna; memberikan respons yang kurang relevan; serta memiliki keterbatasan dalam menangkap motivasi dan keterlibatan pengguna. Persoalan keamanan, privasi, bias, empati, dan kemungkinan hallucination juga menjadi perhatian. Oleh Karena itu, semakin dekat AI dengan persoalan psikologis manusia, semakin penting pula peran manusia di dalamnya.

AI dapat membantu psikolog membaca data, menemukan pola, melakukan monitoring, atau mengembangkan teknologi intervensi. Namun psikolog tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mempertimbangkan kondisi individu, mengevaluasi hasil, dan mengambil keputusan profesional.

Menariknya, AI juga mulai digunakan untuk membantu psikolog sebagai peneliti. Ke et al. (2025) menunjukkan bahwa LLM dapat membantu literature review, menghasilkan hipotesis, merancang eksperimen, menganalisis data, serta mendukung penulisan ilmiah.

Tetapi lagi-lagi, AI bukan berarti selalu benar. LLM dapat menghasilkan informasi yang bias, keliru, atau menyesatkan. Dalam konteks kesehatan mental, kesalahan seperti ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Ke et al. menekankan pentingnya verifikasi terhadap sumber ilmiah atau ahli serta penggunaan AI untuk membantu, bukan menggantikan, penilaian manusia, terutama pada area sensitif seperti kesehatan mental.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Apakah AI bisa menggantikan psikolog?”

Melainkan:

“Bagaimana psikolog dapat menggunakan AI tanpa kehilangan aspek manusiawi dari psikologi?”

AI mungkin semakin pintar membaca bahasa, mengenali pola, dan menghasilkan respons yang terlihat manusiawi. Namun memahami manusia bukan hanya persoalan membaca data. Ada konteks, pengalaman, budaya, relasi, emosi, dan makna yang perlu dipahami. Oleh Karena itu, masa depan psikologi mungkin bukan tentang psikolog versus AI, tetapi tentang psikolog yang mampu menggunakan AI secara kritis, ilmiah, dan tetap manusiawi.

Daftar Pustaka

Cruz-Gonzalez, P., He, A. W.-J., Lam, E. P., Ng, I. M. C., Li, M. W., Hou, R., Chan, J. N.-M., Sahni, Y., Vinas Guasch, N., Miller, T., Lau, B. W.-M., & Sánchez Vidaña, D. I. (2025). Artificial intelligence in mental health care: A systematic review of diagnosis, monitoring, and intervention applications. Psychological Medicine, 55, e18, 1–52. https://doi.org/10.1017/S0033291724003295. artificial-intelligence-in-ment…

Heinz, M. V., Mackin, D. M., Trudeau, B. M., Bhattacharya, S., Wang, Y., Banta, H. A., Jewett, A. D., Salzhauer, A. J., Griffin, T. Z., & Jacobson, N. C. (2025). Randomized trial of a generative AI chatbot for mental health treatment. NEJM AI, 2(4). https://doi.org/10.1056/AIoa2400802. Randomized-Trial-of-a-Generativ…

Ke, L., Tong, S., Cheng, P., & Peng, K. (2025). Exploring the frontiers of LLMs in psychological applications: A comprehensive review. Artificial Intelligence Review, 58, 305. https://doi.org/10.1007/s10462-025-11297-5.