Perkembangan media sosial telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, khususnya pada Generasi Z yang menjadikan platform digital sebagai sumber utama informasi sehari-hari. Kemudahan akses tersebut memungkinkan individu memperoleh berbagai informasi secara cepat, termasuk berita mengenai krisis, konflik sosial, bencana, maupun isu-isu negatif lainnya. Pola hidup Generasi Z yang erat kaitannya dengan penggunaan internet memunculkan perilaku doomscrolling, yaitu kebiasaan mengakses berita negatif secara terus-menerus meskipun aktivitas tersebut menimbulkan ketidaknyamanan emosional. 

Menurut Pandya dkk. (2024), doomscrolling merupakan perilaku yang semakin umum terjadi pada mahasiswa dan dapat memicu maupun memperburuk kecemasan akibat kecenderungan individu untuk terus mengonsumsi berita buruk melalui media sosial. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara waktu yang dihabiskan untuk melakukan doomscrolling dan peningkatan tingkat kecemasan pada mahasiswa. Mahasiswa yang lebih sering terlibat dalam perilaku tersebut cenderung melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang melakukannya. Natalia dkk. (2026) menjelaskan bahwa perilaku doomscrolling pada Generasi Z terutama dipicu oleh rasa ingin tahu, kebutuhan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi, serta ketertarikan emosional terhadap konten negatif. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki korelasi negatif dengan kesehatan mental. Satici dkk. (2022) menyatakan bahwa psychological distress memediasi hubungan antara doomscrolling dengan life satisfaction, mental well-being, dan harmony in life. Selain itu, Shabahang dkk. (2023) menemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, ketidakstabilan kesejahteraan psikologis, serta rendahnya kepuasan hidup. Temuan tersebut menunjukkan bahwa paparan informasi negatif secara berulang tidak hanya memengaruhi kondisi emosional sesaat, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan psikologis individu dalam jangka panjang. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa doomscrolling berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, terutama dalam bentuk peningkatan kecemasan dan stres, kelelahan mental, serta gangguan tidur. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi informasi negatif yang berlebihan dapat menciptakan beban kognitif dan emosional yang berkepanjangan. 

Berdasarkan berbagai temuan tersebut, dapat dipahami bahwa doomscrolling merupakan fenomena digital yang berpotensi menurunkan kualitas kesehatan mental Generasi Z. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi pada kelompok usia ini menjadikan mereka lebih rentan terpapar arus informasi negatif secara berulang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek psikologis, mulai dari suasana hati hingga kesejahteraan mental secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk memahami lebih lanjut dampak perilaku doomscrolling terhadap kondisi psikologis individu sebagai upaya meningkatkan kesadaran dalam menggunakan media sosial secara sehat, bijak, dan adaptif. 

Doomscrolling merupakan perilaku mengonsumsi informasi negatif secara berulang dan kompulsif melalui media digital. Kebiasaan ini umumnya muncul karena adanya dorongan untuk terus memperoleh informasi mengenai situasi yang dianggap penting atau mengancam. Namun, alih-alih memberikan rasa aman, perilaku tersebut justru dapat meningkatkan tekanan psikologis. Pada Generasi Z yang memiliki intensitas penggunaan media sosial tinggi, doomscrolling sering kali dipicu oleh rasa ingin tahu, kebutuhan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi, serta ketertarikan emosional terhadap konten negatif. Faktor-faktor tersebut membuat individu sulit menghentikan kebiasaan menggulir berita buruk meskipun mereka menyadari dampak emosional yang ditimbulkannya. 

Dari perspektif psikologis, doomscrolling dapat dipahami sebagai upaya individu untuk mengurangi ketidakpastian terhadap suatu situasi. Seseorang terus mencari informasi guna memahami ancaman yang sedang terjadi, tetapi proses tersebut justru dapat memperkuat kecemasan dan perasaan tidak berdaya. Selain itu, algoritma media sosial yang terus menampilkan konten serupa menciptakan siklus konsumsi informasi yang sulit dihentikan. Akibatnya, pengguna terjebak dalam pola pencarian berita negatif yang berlangsung terus-menerus dan berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu dampak utama doomscrolling adalah meningkatnya kecemasan dan stres. Paparan berita negatif secara berulang membuat individu lebih mudah merasa khawatir, gelisah, serta terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Pada Generasi Z, kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dan kebutuhan untuk selalu terhubung dengan informasi terkini. Akibatnya, individu dapat mengalami tekanan emosional yang berkepanjangan serta kesulitan mengalihkan perhatian dari informasi yang telah dikonsumsi. 

Selain memengaruhi kondisi emosional, doomscrolling juga dapat berdampak pada fungsi kognitif. Paparan informasi negatif yang berlebihan berpotensi menimbulkan mental fatigue (kelelahan mental), yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi, berkurangnya motivasi, serta munculnya rasa lelah setelah menggunakan media sosial dalam waktu yang lama. Bahkan, beberapa penelitian menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat berkembang menjadi fenomena brain rot, yaitu penurunan kapasitas atensi dan meningkatnya sensitivitas emosional akibat stimulasi digital yang berlebihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas akademik maupun aktivitas sehari-hari individu. 

Dampak lain yang tidak kalah penting dari doomscrolling adalah gangguan tidur. Banyak individu tetap mengakses berita negatif sebelum tidur sehingga pikiran terus aktif memproses berbagai informasi yang diperoleh. Kondisi ini membuat seseorang lebih sulit untuk rileks, membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur, dan mengalami penurunan kualitas istirahat. Dalam jangka panjang, akumulasi kecemasan, kelelahan mental, dan kurangnya kualitas tidur dapat menurunkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dalam mengelola penggunaan media sosial, seperti membatasi waktu layar, melakukan kurasi terhadap konten yang dikonsumsi, serta memperbanyak aktivitas di luar dunia digital sebagai upaya menjaga kesehatan mental di era informasi saat ini. 

Secara lebih spesifik, mekanisme dampak doomscrolling terhadap kondisi psikologis Generasi Z dapat dipahami melalui model empiris yang dikembangkan oleh Hansya (2024). Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa pengaruh doomscrolling terhadap mental well-being tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga dimediasi oleh psychological distress atau distres psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan kesejahteraan mental akibat doomscrolling merupakan konsekuensi dari meningkatnya tekanan psikologis yang dialami individu terlebih dahulu. Dengan kata lain, distres psikologis menjadi faktor perantara yang memperkuat dampak negatif paparan berita buruk terhadap kesehatan mental. 

Karakteristik media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat proses tersebut pada Generasi Z. Berbeda dengan platform lain yang lebih banyak berfokus pada konten visual atau hiburan, X didominasi oleh penyebaran informasi secara real-time, tren yang bergerak cepat, serta diskusi publik yang sering kali berkaitan dengan konflik sosial, krisis global, maupun polarisasi opini. Kondisi ini membuat pengguna lebih mudah terpapar berbagai informasi yang memicu kekhawatiran. Ketika individu terus-menerus melakukan scrolling pada platform tersebut, paparan informasi negatif yang berulang dapat meningkatkan tekanan psikologis dalam bentuk kecemasan, stres, maupun kelelahan emosional. 

Peran psychological distress sebagai mediator memberikan penjelasan mengapa doomscrolling dapat berdampak besar terhadap mental well-being. Mental well-being tidak hanya mencakup emosi positif, tetapi juga kepuasan hidup, fungsi psikologis yang optimal, dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Ketika distres psikologis meningkat akibat paparan informasi negatif yang berlebihan, kemampuan individu untuk mempertahankan emosi positif dan menilai kehidupannya secara seimbang menjadi terganggu. Akibatnya, berbagai aspek penting dalam kesejahteraan mental, seperti rasa percaya diri, pertumbuhan diri, dan ketenangan batin, dapat mengalami penurunan. 

Secara keseluruhan, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa penanganan fenomena doomscrolling pada Generasi Z tidak cukup hanya dengan mengurangi durasi penggunaan media sosial. Upaya yang dilakukan juga perlu mencakup pengelolaan distres psikologis yang muncul akibat paparan informasi negatif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengaturan perilaku digital, seperti membatasi konsumsi konten tertentu, tetapi juga pada penguatan strategi koping yang adaptif untuk mengelola stres dan kecemasan. Dengan memahami peran penting psychological distress dalam fenomena ini, Generasi Z diharapkan mampu menggunakan media sosial secara lebih sehat tanpa mengorbankan kesejahteraan mental dan kualitas hidup mereka. 

Di tengah derasnya arus informasi digital, doomscrolling menjadi fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan Generasi Z. Apa yang awalnya hanya berupa kebiasaan mencari informasi ternyata dapat berkembang menjadi pola konsumsi berita negatif yang berulang dan sulit dihentikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, kelelahan mental, gangguan tidur, hingga menurunnya mental well-being. Kondisi tersebut diperkuat oleh karakteristik media sosial yang memungkinkan informasi tersebar dengan cepat dan terus-menerus muncul di hadapan pengguna. 

Meskipun demikian, solusi dari fenomena ini bukanlah menghindari media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dalam mengelola cara kita berinteraksi dengan informasi. Membatasi waktu layar, melakukan kurasi terhadap konten yang dikonsumsi, serta memberi ruang bagi diri untuk beristirahat dari paparan informasi negatif dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental di era digital. 

Lalu, bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah selama ini kita pernah merasa sulit berhenti menggulir media sosial meskipun informasi yang dibaca justru membuat cemas dan lelah? Atau mungkin kita pernah mengorbankan waktu istirahat hanya untuk terus mengikuti perkembangan berita terbaru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk direnungkan, karena langkah pertama dalam menghadapi doomscrolling adalah menyadari bahwa kebiasaan tersebut mungkin sedang terjadi pada diri kita. Pada akhirnya, menjadi individu yang melek informasi bukan berarti harus selalu terhubung setiap saat, melainkan mampu memilih kapan harus mencari informasi dan kapan perlu memberi jeda bagi kesehatan mental. 

DAFTAR PUSTAKA 

Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad Is Stronger Than Good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370. https://doi.org/10.1037/1089-2680.5.4.323  

Hansya, M. R. (2024). Pengaruh doomscrolling terhadap mental well-being yang dimediasi oleh psychological distress pada pengguna media sosial Generasi Z [Artikel Ilmiah, Repository Universitas Airlangga]. 

Natalia, A. E. S., Safitri, D., & Sujarwo. (2026). Doomscrolling pada Kesehatan Mental Generasi Z. JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 2(6). 13609-13618 

Pandya, J. K. et al (2024). Studi Kasus Dampak Doomscrolling terhadap Kecemasan Mental Mahasiswa Gen Z di Fakultas Ilmu Pendidikan & Psikologi. Jurnal Of FamilyLife Education. 3(3), Hal 73-84.