Sedang ramai di platform Tiktok tentang sebuah trend when the alarm goes off. Setelah scrolling tentang artinya, ternyata sedih ya. Membicarakan tentang kehilangan sesuatu, orang, atau seuatu yang berubahh secara drastis dalam hidup. Kali ini kita akan bahas tentang kehilangan seseorang dalam sudut pandang Psikologi. Pernah dengar istilah grieving?

Asal kata grieving adalah grief yang artinya kesedihan yang dialami setelah kehilangan yang signifikan, biasanya kematian orang yang dicintai. Tapi menariknya, tidak semua orang merasakan kesedihan dan kehilangan setelah ditinggalkan orang terkasih. Bukan hanya merasakan tapi juga mengungkapkan perasaan dukanya. Bisa terbayangkan seperti apa keadaan orang itu saat menghadapi atau menjalani masa duka?

Duka cita seringkali meliputi gangguan fisiologis, kecemasan perpisahan, kebingungan, kerinduan, obsesi terhadap masa lalu, dan kekhawatiran tentang masa depan. Duka cita yang intens dapat mengancam jiwa melalui gangguan sistem kekebalan tubuh, pengabaian diri, dan pikiran bunuh diri. Duka cita juga dapat berupa penyesalan atas sesuatu yang hilang, penyesalan atas sesuatu yang telah dilakukan, atau kesedihan atas kemalangan yang menimpa diri sendiri.

Yes, grieving bisa bersifat maladaptive ternyata. Menjadi maladaptive jika sudah mulai mengganggu kesehatan fisik, psikologis dan sosial bahkan spiritual. Jadi bagaimana proses grief ini berlangsung dalam hidup? Kita harus apa saat menghadapi atau menjalani proses duka ini? Apa yang tidak boleh kita lakukan saat sedang grief? Sumber apa yang bisa membuat kita merasakan grief? Secara teori bisa kita bahas, tapi pada saat kita mengalaminya langsung, kebanyakan orang suka lupa akan ini. But it’s okay. That’s makes us human, right? So let’s talk about all.

Sources grief

Berdasarkan sumber, grief ini bisa disebabkan oleh 13 hal. Bisa disebabkan oleh kematian orang yang kita sayang, hewan peliharaan, perceraian atau perpisahan, sakit, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan, keguguran/ kehilangan anak, pensiun, kehilangan mimpi atau harapan yang sudah dibuat, kehilangan teman/ persahabatan, kehilangan rasa aman setelah mengalami kejadian yang traumatis serta menjual rumah kesayangan. Tapi sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa menjadi penyebab duka dalam hidup kan?

The grieving process

Berduka adalah pengalaman yang sangat individual, tidak ada cara yang benar atau salah untuk berduka. Cara kita berduka bergantung pada banyak faktor, termasuk kepribadian dan gaya mengatasi masalah, pengalaman hidup, keyakinan, dan seberapa signifikan kehilangan itu bagi kita. Proses berduka membutuhkan waktu. Penyembuhan terjadi secara bertahap; tidak dapat dipaksakan atau dipercepat dan tidak ada jadwal “normal” untuk berduka. Beberapa orang mulai merasa lebih baik dalam beberapa minggu atau bulan. Bagi yang lain, proses berduka diukur dalam tahun-tahun. Apa pun pengalaman berduka kalian, penting untuk bersabar dengan diri sendiri dan membiarkan prosesnya berjalan secara alami. 

What to do if you grieving

Mencari teman yang aman dan nyaman untuk berbagi rasa duka, bisa dengan keluarga atau sahabat adalah salah satu cara yang paling umum dilakukan oleh individu yang mengalami duka. Hal lain yang bisa dilakukan adalah mencari support group, menemukan orang-orang yang sama menghadapi duka disaat yang bersamaan akan membuat kita merasa tidak sendiri dalam menjalani proses grief ini. Seringkali yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang berduka, menutup dirinya dari bantuan teman, keluarga atau lingkungan sekitar.

Saat menerima perhatian, ucapan belasungkawa dari orang lain bagi beberapa orang terasa sulit dan aneh. Namun, cobalah perlahan untuk menerimanya. Berduka memang tidak ada tahu kapan duka itu selesai atau menghilang. Tapi, hal yang bisa kita lakukan adalah mencari bantuan orang lain jika merasa sudah tidak sanggup menanggungnya sendirian.

What not to do?

Jangan melawan rasa duka yang menghantam dengan keras. Seringkali, kita tidak diperbolehkan berduka dan berekspresi duka saat kehilangan. Padahal salah satu cara untuk mengatasi rasa duka tersebut adalah dengan mengekspresikannya. Hal lainnya adalah yang biasanya dilakukan saat orang lain berduka, menolak bantuan dan dukungan dari orang terdekat. Bagi yang menjadi support system perlu memiliki kemampuan untuk membaca situasi. Ada batasan yang tidak terlihat, yang perlu dijaga.

Jadi, berduka adalah hal yang pasti akan terjadi pada seua orang. Jika saat ini dirimu sedang berduka, biarkanlah dirimu berduka dan berproses dengan duka itu. Menangislah jika itu yang perlu dilakukan. Memendam tangis hanya akan menundah proses duka.