Program Psikologi Universitas Satu kembali menyelenggarakan kuliah tamu. Kali ini, kami kedatangan narasumber ahli, seorang praktisi yaitu Pak Nadim Alfan Assa, S.Psi, perwakilan dari Faxtor Indonesia, sebuah perusahaan test publisher terkemuka. Acara yang berlangsung penuh semangat ini membawa mahasiswa menyelami salah satu fondasi terpenting dalam dunia Psikometri, yaitu Validitas.  

Sebelum masuk ke inti pembahasan, Pak Nadim mengajak mahasiswa untuk merefleksikan ulang, “Apa sebenarnya tes psikologi itu?” Dengan pemaparan yang jelas, beliau menekankan bahwa tes adalah alat ukur yang harus memenuhi standar ilmiah, bukan sekadar kumpulan pertanyaan atau tugas belaka. Fondasi inilah yang menjadi batu pijakan untuk memahami mengapa validitas menjadi kunci dari kredibilitas sebuah tes. 

Salah satu highlight dari materi ini adalah penjelasan Pak Nadim tentang evolusi konsep validitas. Mahasiswa diajak untuk memahami perjalanan pemikiran dalam dunia psikometri, di mana awalnya dikenal lima jenis validitas (seperti validitas isi, konstruk, prediktif, konkuren, dan face), yang kemudian disederhanakan menjadi tiga pilar utama berdasarkan standar Standards for Educational and Psychological Testing. 

Ketiga pilar tersebut adalah: 

  1. Content Validity: Sejauh mana item-item dalam tes merepresentasikan ranah perilaku atau konstruk yang hendak diukur.
  2. 2.  Criterion Validity: Bagaimana kinerja tes dalam memprediksi atau berkorelasi dengan outcome atau kriteria tertentu di dunia nyata.
  3. 3.  Construct Validity: Inti dari segalanya. Ini adalah sejauh mana tes benar-benar mengukur konstruk teoritis yang dimaksudkannya.

 

Pak Nadim dengan lugas menjelaskan bahwa ketiganya bukanlah kotak yang terpisah, melainkan bukti-bukti yang saling melengkapi untuk membangun argumen bahwa sebuah tes memang “valid” untuk penggunaannya. 

Antusiasme terpancar dari wajah mahasiswa yang mengikuti sesi ini. Proses tanya jawab berlangsung dinamis, menandakan betapa materi yang disampaikan menyentuh rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, diakui oleh banyak peserta, memahami validitas ternyata tidak semudah yang dibayangkan. 

“Seru sih, dapat insight baru yang dalam, tapi sedikit bikin pusing karena kami menyadari tanggung jawab besar di balik penggunaan sebuah alat tes.”  

Perasaan “pusing” ini justru merupakan bagian penting dari pembelajaran. Ini menandakan bahwa mahasiswa tidak hanya menerima informasi mentah-mentah, tetapi telah mulai berpikir kritis dan menghargai kompleksitas ilmu psikometri. Kehadiran Pak Nadim Alfan Assa, S.Psi., dan Faxtor Indonesia dalam kuliah tamu ini telah berhasil menjembatani kesenjangan antara teori di bangku kuliah dengan dinamika dan tantangan di dunia praktis. Acara ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa tentang validitas tetapi juga membuka mata mereka akan profesi di balik pengembangan alat tes psikologi. 

Dengan bekal ini, diharapkan mahasiswa Prodi Psikologi dapat menjadi calon psikolog atau peneliti yang lebih kritis, teliti, dan etis dalam memilih dan menggunakan alat asesmen di masa depan.