Menjadi mahasiswa sering kali terasa seperti mengendarai roller coaster dengan banyak jalur. Ada kuliah yang menuntut perhatian penuh, tugas yang menumpuk, rapat organisasi, magang, hingga kehidupan sosial yang tak kalah penting. Jika tidak pandai mengatur, semua itu bisa menumpuk dan akhirnya membuat kelelahan. Oleh Karena itu, keseimbangan bukan sesuatu yang datang kebetulan, tetapi perlu dirancang secara sadar. Ide inilah yang saya sebut sebagai Balance by Design, sebuah konsep yang terinspirasi dari teori Psikologi Industri dan Organisasi, namun diarahkan khusus pada konteks kehidupan mahasiswa. 

Salah satu teoru dari Psikologi Industri dan Organisasi, keseimbangan dipahami melalui Job Demands–Resources (JD-R) Model (Bakker & Demerouti, 2007). Model ini menjelaskan bahwa kesejahteraan seseorang ditentukan oleh tuntutan (demands) dan sumber daya (resources). Tuntutan yang tinggi tanpa dukungan akan menimbulkan stres, tetapi dengan adanya sumber daya yang kuat justru dapat membuat individu tetap bersemangat meski beban besar. Kerangka ini kemudian diadaptasi oleh peneliti untuk mahasiswa melalui Study Demands–Resources (SD-R) Theory (Bakker & Mostert, 2024). Fokusnya bergeser menjadi tuntutan belajar meliputi beban kuliah, ujian, hingga aktivitas organisasi. Untuk sumber daya belajar berupa dukungan teman, fleksibilitas dosen, keterampilan manajemen waktu, hingga feedback akademik. 

Dari kerangka itulah gagasan Balance by Design muncul. Jika JD-R dan SD-R lebih menekankan hubungan antara demands dan resources, Balance by Design mengajak mahasiswa untuk secara aktif merancang keseimbangannya sendiri. Prinsipnya sederhana yaitu keseimbangan tidak sekadar terjadi, tetapi harus didesain sesuai kebutuhan dan konteks pribadi. Dengan desain yang tepat, tuntutan tinggi tidak lagi identik dengan stres, melainkan dapat menjadi peluang berkembang. Dalam praktiknya, Balance by Design bisa diwujudkan lewat langkah kecil yang konkret. Tugas besar dapat dipecah menjadi target mingguan agar lebih ringan dikerjakan. Dosen dapat memberi pilihan bentuk tugas esai, presentasi, atau poster penelitian, sehingga mahasiswa bisa menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Kelompok belajar menjadi wadah saling mendukung, misalnya melalui simulasi kuis sebelum ujian yang tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga membangun solidaritas. Bahkan organisasi mahasiswa bisa mengadakan sesi refleksi rutin agar anggota bisa mengidentifikasi sumber stres sekaligus mencari solusi bersama. 

Contoh nyata juga terlihat pada mahasiswa yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa sekaligus mengerjakan skripsi, dengan menerapkan konsep Balance by Design ia menyusun jadwal harian, pagi digunakan untuk penelitian, sore untuk rapat organisasi, dan malam untuk istirahat. Hasilnya, skripsi tetap berjalan tanpa mengorbankan peran organisasi maupun kesehatan pribadi. Kasus lain, dalam kelas Psikologi Industri, mahasiswa diberikan pilihan tugas akhir. Mereka yang lebih visual memilih membuat poster, sementara yang lain menulis artikel. Kebebasan memilih ini membuat setiap mahasiswa dapat menampilkan performa terbaiknya sesuai kekuatan masing-masing. 

Barr (2014) menemukan bahwa tuntutan akademik yang tinggi memang dapat menurunkan kesejahteraan mahasiswa, tetapi sumber daya yang memadai dapat meningkatkan keterlibatan, kepuasan, dan prestasi. Temuan Bakker dan Mostert (2024) juga menegaskan bahwa study resources adalah kunci dalam menjaga well-being. Balance By Desaign menekankan mahasiswa bukan sekadar bereaksi pada tuntutan dan sumber daya, tetapi aktif merancang strategi yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, Balance by Design dapat dilihat sebagai jembatan antara teori akademik dan praktik sehari-hari mahasiswa. Ia memberi panduan bahwa sukses di kampus tidak hanya soal bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas, menjaga diri, dan menata keseimbangan secara sadar. 

 

Lalu, seperti apa Balance by Desain versi kamu sendiri dalam kehidupan kampus? Yuk komentar.

Sumber :  

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The Job Demands–Resources model: State of the art.  Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328. 

Bakker, A. B., & Mostert, K. (2024). Study Demands–Resources Theory: Understanding Student  Well-Being in Higher Education. Educational Psychology Review, 36(3). https://doi.org/10.1007/s10648-024-09940-8 

Barr, T. D. (2014). The Demands-Resources Model: Theory Expansion and Introduction to the Influence on College Students. Doctoral Dissertation, Montclair State University.