Self-Freedom: How Can Psychology Help You Break Free from Toxic Relationships ?
Merdeka itu bukan hanya masalah lepas dari penjajah, bebas dari rasa takut karena akan ditindas, mandiri dan terbebas dari kontrol dari pihak luar. Namun kemerdekaan dalam sudut pandang Psikologi memiliki arti terbebas dari pengaruh emosi akibat berada dalam tekanan, pikiran negative ataupun toxic relationship. Bebas menentukan dan memilih Keputusan yang akan dibuat sesuai dengan pertimbangan peribadi merupakan makna lain kemerdekaan dalam sudut pandang Psikologi.
Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai kemerdekaan diri adalah melepaskan diri dari toxic relationships—hubungan yang merugikan, menyakiti, atau menghambat perkembangan psikologis seseorang. Sebelum membahas tips bagaimana lepas dari toxic relationship, kita bahas terlebih dahulu mengenai ciri-ciri toxic relationship.
- Manipulasi dan Gaslighting – Pasangan atau teman membuat Anda meragukan realitas dan perasaan sendiri. Seperti yang kalian rasakan atau alami, seringkali kalian mempertanyakan apa benar ini jadinya salah aku?
- Ketidakseimbangan Kekuasaan – Satu pihak selalu dominan, sementara yang lain terus mengalah. “Hari ini kita makan di Sushi X ya. Kamu dulu yang bayar oke. Besok kita makan terserah kamu, tapi aku yang nanti bayarin.” Nyatanya, makan siang keesokan harinya harus sesuai dengan keinginan dia dan kita yang tetap harus bayar makan siangnya.
- Emosi yang Tidak Stabil – Hubungan dipenuhi konflik, rasa cemas, atau ketakutan. Biasanya muncul saat pasangan tidak ada di samping kita, mereka minta dikabari dan harus membalas dengan cepat. Terlambat 1 menit membalas, bisa jadi masalah besar. Sedangkan jika pasangan kita yang sedang ada perlu tanpa mengajak kita, saat mereka balas pesan dan kita marah wah… udah deh kita yang jadi kena marah. Bilangnya, “Kok aku dikekang banget sih sama kamu?” padahal dia duluan yang membuat pola seperti itu.
- Isolasi Sosial – Anda dijauhkan dari keluarga atau teman-teman. “Pokoknya kamu kemana-mana harus sama kamu. Kamu gak usah lah temenin mama kamu. Gak usahlah jalan bareng sama si C. Emang aku kurang buat kamu, sampai kamu harus pergi sama C atau mama kamu?”
- Eksploitasi Emosional – Anda terus memberi, tetapi tidak pernah mendapat dukungan yang seimbang. Saat pasangan sedang kesal karena sesuatu hal, kamu yang menenangkan mereka. Tapi saat kamu kesal karena sesuatu hal, kamu dimarahi. “Kenapa sih masalah sepele gitu aja kamu harus kesal? Kaya aku dong, santai aja. Masih bisa nanti kan?”
Dampak Toxic Relationships pada Kesehatan Mental
Menurut penelitian, hubungan toksik dapat menyebabkan:
- Kecemasan dan depresi
- Rendahnya self-esteem (harga diri)
- Sindrom trauma bonding (ketergantungan emosional pada pelaku toxic)
- Gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dalam kasus ekstrem
Langkah-Langkah Melepaskan Diri dengan Pendekatan Psikologi
- Self-Awareness. Terapi kognitif membantu seseorang mengenali pola pikir yang membuatnya terjebak dalam hubungan toksik.
- Journaling (mencatat perasaan) bisa menjadi alat refleksi untuk melihat dinamika hubungan secara objektif.
- Membangun Boundaries. Psikologi sosial mengajarkan pentingnya boundaries (batasan) dalam hubungan. Komunikasi asertif membantu seseorang menyampaikan kebutuhan tanpa rasa bersalah. Misalnya, “Aku tidak bisa ikut pergi dengan kamu hari ini. Aku sudah buat janji dengan Mama. Kita atur ulang jadwalnya ya.”
- Mencari Support System. Support system mempercepat pemulihan pada inidvidu yang merupakan korban dari toxic relationship.
- Proses Detachment (Melepaskan Ikatan Emosional). Mindfulness melatih fokus pada masa kini, bukan trauma masa lalu. Biasanya individu dengan attachement terhadap pelaku toxic, saat setelah putus masih dibawah bayang-bayang pasangannya. Namun dengan mindfulness, ketergantungan terhadap “perhatian” dan pola yang biasa diterima oleh mereka, perlahan akan mulai berkurang dan menghilang.
Comments :