{"id":741,"date":"2026-06-24T03:53:43","date_gmt":"2026-06-24T03:53:43","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/?p=741"},"modified":"2026-06-24T03:53:53","modified_gmt":"2026-06-24T03:53:53","slug":"mengapa-orang-rela-antre-berjam-jam-untuk-produk-yang-belum-tentu-dibutuhkan-memahami-fenomena-fomo-marketing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/2026\/06\/24\/mengapa-orang-rela-antre-berjam-jam-untuk-produk-yang-belum-tentu-dibutuhkan-memahami-fenomena-fomo-marketing\/","title":{"rendered":"Mengapa Orang Rela Antre Berjam-jam untuk Produk yang Belum Tentu Dibutuhkan? Memahami Fenomena FOMO Marketing"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"143\" data-end=\"449\">Pernahkah Anda melihat orang rela mengantre berjam-jam untuk membeli produk edisi terbatas? Atau mungkin menyaksikan tiket konser habis hanya dalam hitungan menit? Bahkan tidak jarang seseorang membeli suatu barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena takut kehabisan atau tertinggal tren.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" data-start=\"7421\" data-end=\"8426\">\n<li data-start=\"7937\" data-end=\"8052\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-742\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2026\/06\/5-menit-abis.jpeg\" alt=\"\" width=\"1536\" height=\"1024\" \/><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"451\" data-end=\"707\">Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Mulai dari mainan koleksi yang viral, produk kolaborasi terbatas, tiket konser, hingga promo <em data-start=\"596\" data-end=\"608\">flash sale<\/em> di marketplace, semuanya mampu menciptakan antrean panjang dan lonjakan pembelian yang luar biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"709\" data-end=\"780\">Pertanyaannya, apakah konsumen benar-benar membutuhkan produk tersebut?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"782\" data-end=\"959\">Dalam banyak kasus, jawabannya belum tentu. Yang sering kali mendorong keputusan pembelian adalah sebuah fenomena psikologis yang dikenal sebagai <strong data-start=\"928\" data-end=\"958\">Fear of Missing Out (FOMO)<\/strong>.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"966\" data-end=\"982\">Apa Itu FOMO?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"984\" data-end=\"1141\">FOMO (<em data-start=\"990\" data-end=\"1011\">Fear of Missing Out<\/em>) adalah perasaan khawatir atau takut tertinggal pengalaman, kesempatan, tren, atau sesuatu yang sedang dinikmati oleh orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1143\" data-end=\"1309\">Di era media sosial, FOMO menjadi semakin kuat karena masyarakat terus-menerus terpapar informasi mengenai apa yang sedang populer, viral, atau diminati banyak orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1311\" data-end=\"1528\">Ketika seseorang melihat teman-temannya menghadiri konser tertentu, membeli produk yang sedang tren, atau mengunjungi tempat yang sedang viral, muncul dorongan psikologis untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1530\" data-end=\"1821\">Fenomena ini telah menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku konsumen modern. Penelitian menunjukkan bahwa FOMO dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif, terutama ketika konsumen merasa ada peluang yang terbatas atau sedang menjadi tren di lingkungan sosialnya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"1828\" data-end=\"1863\">Dari Kebutuhan Menjadi Keinginan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1865\" data-end=\"1954\">Dalam teori pemasaran klasik, konsumen membeli produk karena memiliki kebutuhan tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"1956\" data-end=\"2038\">Namun dalam praktiknya, keputusan pembelian sering kali tidak sepenuhnya rasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2040\" data-end=\"2050\">Contohnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\" data-start=\"2052\" data-end=\"2298\">\n<li data-start=\"2052\" data-end=\"2108\">Membeli tiket konser karena semua teman ikut menonton.<\/li>\n<li data-start=\"2109\" data-end=\"2164\">Membeli produk edisi terbatas karena takut kehabisan.<\/li>\n<li data-start=\"2165\" data-end=\"2224\">Mengikuti tren koleksi tertentu karena ramai dibicarakan.<\/li>\n<li data-start=\"2225\" data-end=\"2298\">Berbelanja saat <em data-start=\"2243\" data-end=\"2255\">flash sale<\/em> meskipun barang tersebut belum diperlukan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2300\" data-end=\"2428\">Dalam situasi seperti ini, keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi oleh faktor emosional dibandingkan kebutuhan fungsional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2430\" data-end=\"2578\">Konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli rasa aman secara sosial, rasa memiliki, dan perasaan menjadi bagian dari kelompok tertentu.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"2585\" data-end=\"2630\">Bagaimana FOMO Menjadi Strategi Pemasaran?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2632\" data-end=\"2742\">Menariknya, banyak perusahaan memahami perilaku ini dan menggunakannya sebagai bagian dari strategi pemasaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2744\" data-end=\"2801\">Fenomena ini kemudian dikenal sebagai <strong data-start=\"2782\" data-end=\"2800\">FOMO Marketing<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2803\" data-end=\"2963\">Strategi ini dirancang untuk menciptakan persepsi bahwa kesempatan yang tersedia bersifat terbatas sehingga konsumen terdorong untuk segera mengambil keputusan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"2965\" data-end=\"3028\">Beberapa bentuk FOMO Marketing yang sering ditemui antara lain:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\" data-start=\"3030\" data-end=\"3052\">1. Limited Edition<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3054\" data-end=\"3135\">Produk dibuat dalam jumlah terbatas sehingga meningkatkan persepsi eksklusivitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3137\" data-end=\"3147\">Contohnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\" data-start=\"3148\" data-end=\"3221\">\n<li data-start=\"3148\" data-end=\"3168\">Merchandise konser<\/li>\n<li data-start=\"3169\" data-end=\"3196\">Kolaborasi merek tertentu<\/li>\n<li data-start=\"3197\" data-end=\"3221\">Koleksi khusus musiman<\/li>\n<\/ul>\n<h3 style=\"text-align: justify\" data-start=\"3223\" data-end=\"3240\">2. Flash Sale<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3242\" data-end=\"3360\">Promo hanya berlangsung dalam waktu singkat sehingga konsumen merasa harus segera membeli sebelum kesempatan berakhir.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\" data-start=\"3362\" data-end=\"3384\">3. Countdown Timer<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3386\" data-end=\"3464\">Banyak marketplace menampilkan hitungan mundur untuk menciptakan rasa urgensi.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\" data-start=\"3466\" data-end=\"3496\">4. Informasi Stok Terbatas<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3498\" data-end=\"3514\">Kalimat seperti:<\/p>\n<blockquote data-start=\"3516\" data-end=\"3534\">\n<p data-start=\"3518\" data-end=\"3534\">&#8220;Tersisa 3 unit&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3536\" data-end=\"3540\">atau<\/p>\n<blockquote data-start=\"3542\" data-end=\"3580\">\n<p data-start=\"3544\" data-end=\"3580\">&#8220;50 orang sedang melihat produk ini&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3582\" data-end=\"3634\">dirancang untuk memicu tindakan cepat dari konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3636\" data-end=\"3840\">Menurut berbagai studi pemasaran digital, strategi kelangkaan (<em data-start=\"3699\" data-end=\"3719\">scarcity marketing<\/em>) terbukti dapat meningkatkan minat beli karena konsumen menganggap produk yang langka memiliki nilai yang lebih tinggi.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"3847\" data-end=\"3890\">Peran Media Sosial dalam Memperkuat FOMO<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"3892\" data-end=\"4016\">Jika dahulu FOMO terjadi dalam lingkup pertemanan yang terbatas, kini media sosial memperluas pengaruhnya secara signifikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4018\" data-end=\"4141\">Platform seperti Instagram, TikTok, dan X memungkinkan seseorang melihat aktivitas ribuan orang hanya dalam beberapa menit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4143\" data-end=\"4194\">Akibatnya, tren dapat menyebar dengan sangat cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4196\" data-end=\"4375\">Ketika sebuah produk menjadi viral, konsumen tidak hanya melihat produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk tersebut digunakan, dipamerkan, dan dibicarakan oleh banyak orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4377\" data-end=\"4481\">Semakin banyak eksposur yang diterima, semakin besar pula dorongan untuk ikut memiliki produk yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4483\" data-end=\"4618\">Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai mesin pembentuk perilaku konsumen.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"4625\" data-end=\"4663\">Mengapa Konsumen Takut Ketinggalan?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4665\" data-end=\"4748\">Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4750\" data-end=\"4887\">Ketika melihat orang lain memperoleh pengalaman yang dianggap menarik, muncul kekhawatiran bahwa dirinya kehilangan sesuatu yang penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"4889\" data-end=\"4920\">Perasaan tersebut dapat berupa:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\" data-start=\"4922\" data-end=\"5069\">\n<li data-start=\"4922\" data-end=\"4946\">Takut tertinggal tren.<\/li>\n<li data-start=\"4947\" data-end=\"4977\">Takut kehilangan kesempatan.<\/li>\n<li data-start=\"4978\" data-end=\"5024\">Takut dianggap tidak mengikuti perkembangan.<\/li>\n<li data-start=\"5025\" data-end=\"5069\">Takut kehilangan pengalaman yang berharga.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5071\" data-end=\"5156\">Karena itulah, FOMO sering kali memicu pembelian yang bersifat spontan dan emosional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5158\" data-end=\"5360\">Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO yang tinggi cenderung lebih sering melakukan pembelian impulsif dibandingkan mereka yang memiliki kontrol diri yang lebih baik.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"5367\" data-end=\"5395\">Apakah FOMO Selalu Buruk?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5397\" data-end=\"5410\">Tidak selalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5412\" data-end=\"5550\">Dari perspektif bisnis, FOMO merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan konsumen dan mempercepat keputusan pembelian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5552\" data-end=\"5710\">Bagi konsumen, FOMO juga dapat menjadi pendorong untuk mencoba pengalaman baru, menghadiri acara yang menarik, atau memanfaatkan peluang yang memang bernilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5712\" data-end=\"5801\">Namun masalah muncul ketika keputusan pembelian dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"5803\" data-end=\"5982\">Jika konsumen membeli sesuatu hanya karena takut tertinggal, bukan karena benar-benar membutuhkan atau menginginkannya, maka risiko penyesalan pasca-pembelian menjadi lebih besar.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"5989\" data-end=\"6039\">Pelajaran bagi Mahasiswa dan Calon Entrepreneur<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6041\" data-end=\"6143\">Fenomena FOMO Marketing memberikan pelajaran penting bagi mahasiswa manajemen dan calon pelaku bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6145\" data-end=\"6223\">Pertama, perilaku konsumen tidak selalu didasarkan pada logika ekonomi semata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6225\" data-end=\"6303\">Kedua, emosi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan pembelian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6305\" data-end=\"6443\">Ketiga, strategi pemasaran yang berhasil sering kali mampu memahami motivasi psikologis konsumen, bukan hanya menawarkan produk yang baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6445\" data-end=\"6594\">Inilah sebabnya mengapa banyak bisnis modern lebih fokus membangun pengalaman, komunitas, dan rasa eksklusivitas dibandingkan sekadar menjual produk.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\" data-start=\"6601\" data-end=\"6611\">Penutup<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6613\" data-end=\"6751\">Fenomena orang rela mengantre berjam-jam untuk produk yang belum tentu dibutuhkan bukanlah sesuatu yang aneh dalam dunia pemasaran modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6753\" data-end=\"6937\">Di balik perilaku tersebut terdapat kombinasi antara kebutuhan sosial, pengaruh media sosial, persepsi kelangkaan, dan strategi pemasaran yang dirancang untuk menciptakan rasa urgensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"6939\" data-end=\"7169\">Melalui konsep FOMO Marketing, kita dapat memahami bahwa konsumen tidak selalu membeli karena membutuhkan sesuatu. Terkadang, mereka membeli karena takut kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang sedang terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"7171\" data-end=\"7396\">Bagi pelaku bisnis, memahami fenomena ini dapat membantu merancang strategi pemasaran yang lebih efektif. Namun bagi konsumen, pemahaman yang sama dapat menjadi pengingat untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan pembelian.<\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify\" data-start=\"7403\" data-end=\"7419\"><\/h1>\n<h1 style=\"text-align: justify\" data-start=\"7403\" data-end=\"7419\">Daftar Pustaka<\/h1>\n<ol data-start=\"7421\" data-end=\"8426\">\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"7421\" data-end=\"7605\">Alt, D. (2023). <em data-start=\"7440\" data-end=\"7565\">Students\u2019 Wellbeing, Fear of Missing Out, and Social Media Engagement for Leisure in Higher Education Learning Environments<\/em>. Current Psychology, 42(20), 1701\u20131715.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"7607\" data-end=\"7763\">Zhang, X., Zhao, Y., &amp; Lee, J. (2024). <em data-start=\"7649\" data-end=\"7731\">Fear of Missing Out and Impulsive Buying Behavior in the Digital Consumption Era<\/em>. Journal of Consumer Behaviour.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"7765\" data-end=\"7935\">Kumar, V., Gupta, S., &amp; Sharma, A. (2024). <em data-start=\"7811\" data-end=\"7890\">Scarcity Marketing and Consumer Purchase Intention in Online Retail Platforms<\/em>. International Journal of Marketing Studies.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"7937\" data-end=\"8052\">Statista. (2025). <em data-start=\"7958\" data-end=\"8013\">Social Media Usage Worldwide and Consumer Trends 2025<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"8054\" data-end=\"8151\">Deloitte. (2025). <em data-start=\"8075\" data-end=\"8112\">Digital Consumer Trends Survey 2025<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"8153\" data-end=\"8247\">PwC. (2024). <em data-start=\"8169\" data-end=\"8208\">Global Consumer Insights Pulse Survey<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\" data-start=\"8249\" data-end=\"8426\">Djafarova, E., &amp; Bowes, T. (2023). <em data-start=\"8287\" data-end=\"8381\">Instagram Influencers and Consumer Purchase Decisions: The Role of FOMO in Digital Marketing<\/em>. Journal of Retailing and Consumer Services.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah Anda melihat orang rela mengantre berjam-jam untuk membeli produk edisi terbatas? Atau mungkin menyaksikan tiket konser habis hanya dalam hitungan menit? Bahkan tidak jarang seseorang membeli suatu barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena takut kehabisan atau tertinggal tren. Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Mulai dari mainan koleksi yang viral, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":742,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[62,104,105],"class_list":["post-741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-fomo","tag-ga-mau-ketinggalan","tag-habis-dalam-5-menit"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=741"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/741\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":744,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/741\/revisions\/744"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/media\/742"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/manajemen\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}