{"id":811,"date":"2026-07-14T02:48:34","date_gmt":"2026-07-14T02:48:34","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/?p=811"},"modified":"2026-07-14T02:50:33","modified_gmt":"2026-07-14T02:50:33","slug":"situs-yang-membuat-penerbit-terbesar-di-dunia-gemetar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/2026\/07\/14\/situs-yang-membuat-penerbit-terbesar-di-dunia-gemetar\/","title":{"rendered":"Situs yang Membuat Penerbit Terbesar di Dunia Gemetar"},"content":{"rendered":"<p>Bayangkan kamu sedang mengerjakan skripsi. Kamu menemukan judul jurnal yang sempurna, persis dengan topik yang kamu butuhkan. Kamu klik. Sebuah halaman muncul: &#8220;Purchase this article \u2014 $39.95.&#8221;<\/p>\n<p>Empat puluh dolar. Untuk satu artikel. Yang mungkin hanya kamu butuhkan satu paragrafnya.<\/p>\n<p>Kamu menutup tab itu. Lalu membuka tab baru, mengetikkan judul artikel di kolom pencarian sebuah situs, menekan Enter. Dalam tiga detik, PDF-nya sudah terbuka di layarmu. Gratis.<\/p>\n<p>Situs itu bernama Sci-Hub. Dan keberadaannya \u2014 ilegal menurut hukum Amerika Serikat, diblokir di puluhan negara, dikejar oleh penerbit-penerbit raksasa dengan denda ratusan miliar rupiah \u2014 telah menjadi salah satu pertanyaan paling mengganggu dalam dunia ilmu pengetahuan modern.<\/p>\n<p>Bukan pertanyaan tentang apakah Sci-Hub salah secara hukum. Itu sudah jelas jawabannya.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang lebih sulit adalah ini: mengapa jutaan peneliti di seluruh dunia \u2014 termasuk dari universitas-universitas terkaya di planet ini \u2014 tetap menggunakannya?<\/p>\n<h2>Gadis dari Kazakhstan yang Muak dengan Tembok Bayar<\/h2>\n<p>Alexandra Elbakyan lahir pada 6 November 1988 di Almaty, Kazakhstan, ketika Uni Soviet sedang dalam tahap-tahap akhir keruntuhannya. Ia tumbuh dengan buku-buku sains Soviet yang menjelaskan fenomena alam dengan bahasa yang lugas dan tanpa mistifikasi \u2014 dan sejak kecil, ia jatuh cinta pada cara sains bekerja.<\/p>\n<p>Di universitas di Astana, ia menemukan bakat alami untuk pemrograman komputer dan keamanan siber. Bukan sekadar coding konvensional \u2014 ia tertarik pada lapisan paling dalam dari bagaimana sistem komputer bekerja, pada matematika dan assembly language yang menjadi fondasi segala sesuatu.<\/p>\n<p>Tahun 2009, saat mengerjakan proyek penelitiannya, Elbakyan menghadapi tembok yang sangat familiar bagi mahasiswa di negara berkembang: paywall. Paper demi paper yang ia butuhkan tersembunyi di balik harga yang mustahil ia bayar secara individual. Ia belajar cara menembusnya \u2014 dan mulai berbagi caranya dengan peneliti lain yang menghadapi masalah serupa.<\/p>\n<p>Dua tahun kemudian, pada 2011, ia membangun sistem yang lebih permanen. Bukan sekadar cara melewati paywall satu per satu, tapi sebuah perpustakaan bayangan yang menyimpan jutaan paper dan mengaksesnya secara otomatis menggunakan kredensial login universitas-universitas di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Ia menamakannya Sci-Hub.<\/p>\n<p>Motivasinya, dalam suratnya kepada hakim federal Amerika Serikat bertahun-tahun kemudian, ia jelaskan dengan sederhana: ia tidak mampu membayar ratusan paper yang ia butuhkan untuk penelitiannya. Jadi ia membangun sistem agar orang lain tidak perlu menghadapi masalah yang sama.<\/p>\n<p>Majalah Science menggambarkan proyek itu sebagai &#8220;tindakan altruisme yang menakjubkan atau kejahatan kriminal masif, tergantung pada siapa yang kamu tanya.&#8221;<\/p>\n<h2>Mesin yang Mustahil Dihentikan<\/h2>\n<p>Pertumbuhan Sci-Hub mengikuti trajektori yang sulit dijelaskan dengan logika bisnis konvensional \u2014 karena ia memang bukan bisnis.<\/p>\n<p>Dalam delapan tahun pertamanya, Sci-Hub tumbuh dari nol menjadi lebih dari 76 juta artikel ilmiah yang tersedia untuk diunduh secara gratis, melayani hingga 400.000 pengguna per hari. Mekanismenya elegan: ketika seseorang meminta paper yang belum ada di database Sci-Hub, sistem secara otomatis mengambilnya menggunakan kredensial login universitas yang telah dikompromikan, menyimpan salinannya, lalu melayani semua permintaan berikutnya dari cache.<\/p>\n<p>Hasilnya adalah perpustakaan ilmiah terbesar yang pernah ada \u2014 dengan lebih dari 88 juta paper dalam databasenya, melayani peneliti, mahasiswa, dan pikiran-pikiran ingin tahu dari lebih dari 200 negara setiap harinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-814\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-093943.png\" alt=\"\" width=\"728\" height=\"316\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Gambar 1. Pertumbuhan jumlah paper dalam database Sci-Hub, 2011\u20132024.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: Sci-Hub.ee, LittleBee.org, Academia Insider<\/p>\n<p>Yang mengejutkan para peneliti adalah siapa penggunanya. Ekspektasi awal adalah bahwa Sci-Hub terutama digunakan oleh peneliti dari negara berkembang yang tidak mampu membayar akses. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Ketika Elbakyan menyerahkan log server selama enam bulan kepada jurnalis sains John Bohannon pada 2016, analisis terhadap 28 juta unduhan menghasilkan judul artikel yang langsung menjadi terkenal: &#8220;Who&#8217;s downloading pirated papers? Everyone.&#8221;<\/p>\n<p>China memimpin dengan lebih dari 71 juta artikel yang diunduh. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan lebih dari 20 juta unduhan, diikuti India, Brasil, dan Rusia. Bahkan peneliti dari universitas-universitas paling bergengsi di dunia \u2014 institusi yang membayar jutaan dolar per tahun untuk langganan jurnal \u2014 menggunakan Sci-Hub, karena lebih cepat dan lebih mudah dari sistem akses resmi kampus mereka sendiri.<\/p>\n<h2>Bisnis yang Paling Menguntungkan yang Tidak Pernah Kamu Dengar<\/h2>\n<p>Untuk memahami mengapa Sci-Hub ada, kita perlu memahami sistem yang membuatnya terasa perlu.<\/p>\n<p>Penerbitan akademik adalah industri dengan logika bisnis yang tidak seperti industri lain manapun. Bayangkan sebuah model usaha di mana bahan bakunya diberikan gratis, kontrol kualitasnya dilakukan gratis, dan pelanggannya tidak punya banyak pilihan selain membeli. Inilah yang terjadi di penerbitan jurnal ilmiah.<\/p>\n<p>Para peneliti \u2014 yang gajinya sebagian besar dibayar oleh pajak masyarakat \u2014 menghasilkan paper mereka, lalu menyerahkannya kepada penerbit tanpa bayaran. Peneliti lain menjadi peer reviewer \u2014 memeriksa dan memvalidasi paper tersebut \u2014 juga tanpa bayaran. Penerbit kemudian menjual akses ke paper-paper itu kembali kepada universitas-universitas, yang juga sebagian besar dibiayai pajak publik.<\/p>\n<p>Elsevier menerbitkan sekitar 3.000 jurnal dan pada 2023 perusahaan induknya mencatat keuntungan sekitar $3,6 miliar. Margin keuntungannya hampir 40% \u2014 menyaingi raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google.<\/p>\n<p>Pasar didominasi oleh lima penerbit besar: Elsevier, Wiley, Taylor &amp; Francis, Springer Nature, dan SAGE, yang bersama-sama menguasai lebih dari 50% pasar. Dan selama 14 tahun, harga jurnal naik 260% sementara jumlah langganan hanya naik 14%.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-813 aligncenter\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-093811.png\" alt=\"\" width=\"724\" height=\"331\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Gambar 2. Perbandingan margin keuntungan operasional (%).<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: PublishingState.com, Molecular Weights, laporan tahunan RELX 2024<\/p>\n<p>Model ini memiliki satu fitur yang tidak biasa: penerbit mengunci universitas dalam paket langganan masif yang dikenal sebagai &#8220;Big Deal&#8221; \u2014 sebuah bundel take-it-or-leave-it yang memaksa institusi membayar untuk koleksi jurnal yang sangat besar, termasuk banyak judul yang hampir tidak pernah dibaca, hanya untuk mendapatkan akses ke sejumlah kecil jurnal yang benar-benar penting. Praktik ini diibaratkan seperti memaksa konsumen membeli seluruh paket kabel TV hanya karena ingin menonton satu saluran.<\/p>\n<p>Pada 2012, Harvard University membayar lebih dari $16 juta kepada penerbit akademik. Harvard. Universitas dengan endowment terbesar di dunia. Dan mereka merasa terbebani.<\/p>\n<h2>Perang yang Tidak Bisa Dimenangkan dengan Pengadilan<\/h2>\n<p>Pada 2015, Elsevier mengajukan gugatan terhadap Sci-Hub di pengadilan federal Amerika Serikat, menuduh pelanggaran hak cipta dan akses komputer ilegal.<\/p>\n<p>Pengadilan distrik New York menganugerahkan Elsevier $15 juta dalam ganti rugi untuk pelanggaran hak cipta oleh Sci-Hub. Hakim Robert Sweet telah memutuskan pada Oktober 2015 bahwa situs tersebut melanggar hak cipta AS.<\/p>\n<p>Tapi ada satu masalah: Elbakyan tinggal di Rusia. Sci-Hub beroperasi di server yang tersebar di berbagai yurisdiksi. Tidak ada satu sen pun dari $15 juta itu yang pernah dibayarkan.<\/p>\n<p>Domain Sci-Hub diblokir. Sci-Hub muncul dengan domain baru. Domain itu diblokir lagi. Sci-Hub muncul lagi. Proses ini berulang berkali-kali, seperti permainan whack-a-mole yang tidak ada habisnya.<\/p>\n<p>Elbakyan sendiri tidak hadir dalam persidangan, tidak diwakili oleh pengacara, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dalam wawancara-wawancaranya, ia berbicara tentang Sci-Hub sebagai sebuah proyek ideologis, bukan bisnis. Ia menyebutnya &#8220;komunistik secara terbuka&#8221; \u2014 sebuah keyakinan bahwa pengetahuan ilmiah seharusnya menjadi milik bersama umat manusia, bukan komoditas yang diperjualbelikan.<\/p>\n<p>Majalah Nature pada 2016 memasukkannya dalam daftar &#8220;10 orang paling penting dalam sains&#8221; tahun itu. Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat mendakwanya atas tuduhan hacking. Dua pengakuan yang tidak bisa hadir bersamaan dalam satu sistem \u2014 tapi keduanya nyata.<\/p>\n<h2>Siapa yang Sebenarnya Membayar?<\/h2>\n<p>Ada ironi besar yang jarang dibicarakan dalam debat Sci-Hub.<\/p>\n<p>Sebagian besar penelitian ilmiah yang tersimpan di balik paywall penerbit besar dibiayai oleh dana publik \u2014 uang pajak yang dikumpulkan dari warga negara biasa. Peneliti menerima hibah dari lembaga pemerintah, menggunakan fasilitas universitas negeri, lalu menghasilkan paper yang diserahkan ke penerbit swasta \u2014 yang kemudian menjual akses ke paper itu kembali ke universitas-universitas yang sama dengan harga yang terus meningkat.<\/p>\n<p>Peneliti atau tim peneliti menghasilkan pengetahuan, sering menggunakan dana publik, dan peneliti lain memberikan masukan kritis sebagai wasit dan editor, juga sering tanpa bayaran. Peneliti membayar biaya pengajuan untuk diterbitkan, dan kemudian universitas membayar biaya langganan untuk mendapatkan akses ke jurnal. Publik membayar untuk mendanai penelitian, dan membayar lagi \u2014 sebagai pembayar pajak yang mendanai universitas negeri \u2014 untuk mendanai anggaran perpustakaan universitas.<\/p>\n<p>Dari perspektif ini, pertanyaan tentang Sci-Hub menjadi lebih kompleks. Bukan sekadar &#8220;apakah ini pencurian?&#8221; tapi juga &#8220;siapa yang sebenarnya mencuri dari siapa?&#8221;<\/p>\n<p>Para penerbit berargumen bahwa mereka menyediakan layanan nyata: peer review management, typesetting, distribusi, pengarsipan jangka panjang, dan infrastruktur digital. Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Sistem ini memang membutuhkan infrastruktur dan koordinasi.<\/p>\n<p>Tapi kritik utamanya bukan pada keberadaan penerbit \u2014 melainkan pada margin 37-40% yang mereka pertahankan, jauh di atas rata-rata industri mana pun yang sebanding.<\/p>\n<h2>Ketika Sistem Mulai Bergerak \u2014 Karena Terpaksa<\/h2>\n<p>Kemunculan Sci-Hub bukan hanya mempermalukan industri penerbitan akademik. Ia juga memaksa percepatan perubahan yang sudah lama tertunda.<\/p>\n<p>Gerakan Open Access \u2014 yang mendorong agar paper ilmiah tersedia gratis untuk semua orang \u2014 sebenarnya sudah ada sebelum Sci-Hub. Tapi gerakannya lamban, penuh negosiasi, dan sering kali kalah dalam pertarungan dengan kepentingan komersial penerbit besar.<\/p>\n<p>Sci-Hub mengubah dinamika itu. Ketika peneliti tahu bahwa mereka bisa mendapatkan paper apa pun secara gratis dalam tiga detik, kekuatan tawar universitas dalam bernegosiasi dengan penerbit meningkat drastis. Beberapa konsorsium universitas besar mulai berani membatalkan &#8220;Big Deal&#8221; mereka \u2014 sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.<\/p>\n<p>Pada 2018, sebuah koalisi lembaga pendanaan penelitian Eropa meluncurkan Plan S \u2014 sebuah mandat yang mewajibkan semua penelitian yang didanai anggota koalisi tersebut untuk diterbitkan dalam akses terbuka. Ini adalah pergeseran kebijakan paling signifikan dalam sejarah penerbitan akademik modern.<\/p>\n<p>Server preprint seperti arXiv, bioRxiv, dan medRxiv \u2014 yang memungkinkan peneliti berbagi temuan sebelum melalui peer review formal \u2014 meledak popularitasnya, sebagian karena peneliti semakin mempertanyakan apakah sistem penerbitan berbayar memang sepadan.<\/p>\n<p>Apakah ini semua terjadi karena Sci-Hub? Tidak sepenuhnya. Tapi tidak ada yang bisa menyangkal bahwa keberadaan Sci-Hub mempercepat tekanan terhadap sistem yang sudah lama dianggap tidak adil.<\/p>\n<h2>Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab dengan Sederhana<\/h2>\n<p>Dan di sinilah ambiguitas yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Secara hukum, Sci-Hub adalah pelanggaran hak cipta. Tidak ada yang memperdebatkan itu. Elbakyan sendiri tidak pernah menyangkal bahwa ia melanggar hukum \u2014 ia hanya mempertanyakan apakah hukum itu adil.<\/p>\n<p>Tapi ambiguitas moralnya jauh lebih sulit.<\/p>\n<p>Di satu sisi: hak cipta ada untuk alasan yang baik. Tanpa insentif finansial, infrastruktur penerbitan \u2014 termasuk peer review, pengarsipan, dan distribusi \u2014 akan lebih sulit dipertahankan. Penerbit berargumen bahwa mereka memberikan nilai nyata, dan bahwa model bisnis mereka memungkinkan investasi dalam teknologi dan standar kualitas.<\/p>\n<p>Di sisi lain: ketika paper tentang perawatan kanker tersimpan di balik paywall $40 per artikel, dan ketika dokter di rumah sakit negara berkembang tidak mampu membayarnya, ada sesuatu yang terasa tidak pada tempatnya dalam sistem tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dengan uang publik, divalidasi oleh tenaga kerja sukarela, lalu dijual kembali kepada publik dengan margin 40% \u2014 itu bukan sistem yang lahir dari niat baik.<\/p>\n<p>Apakah Sci-Hub solusinya? Hampir pasti tidak \u2014 setidaknya bukan solusi yang berkelanjutan dan sistemik. Ia adalah tambal sulam yang luar biasa efektif, tapi tambal sulam tetaplah bukan perbaikan struktural.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang lebih penting yang ditinggalkan Sci-Hub bukan tentang apakah tindakan Elbakyan benar atau salah. Pertanyaannya adalah: mengapa sistem penerbitan akademik yang ada \u2014 yang dibangun di atas tenaga kerja gratis peneliti dan uang publik \u2014 bisa menghasilkan margin keuntungan yang lebih besar dari Apple?<\/p>\n<p>Dan mengapa dibutuhkan seorang perempuan berusia 23 tahun dari Kazakhstan untuk membuat dunia mulai mengajukan pertanyaan itu dengan serius?<\/p>\n<h2>Warisan yang Belum Selesai<\/h2>\n<p>Hari ini, Sci-Hub masih beroperasi \u2014 meski dengan domain yang terus berganti dan status hukum yang semakin terjepit di berbagai negara. India memblokir aksesnya pada 2023. Inggris dan Prancis juga telah memblokirnya. Tapi VPN tersedia, mirror site bermunculan, dan database yang sudah terlanjur tersebar di seluruh internet tidak mudah dipadamkan.<\/p>\n<p>Elbakyan sendiri hidup dalam persembunyian yang tidak ia sembunyikan \u2014 ia berbicara kepada media, aktif di media sosial, tapi lokasi pastinya tidak pernah diungkap. Ia masih dianggap sebagai buronan oleh sistem hukum Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Sementara itu, perdebatan tentang sistem penerbitan akademik semakin mengeras. Beberapa editorial board jurnal besar melakukan &#8220;walkout&#8221; massal \u2014 mengundurkan diri secara kolektif dari penerbit komersial dan mendirikan jurnal open access baru. Beberapa negara mulai menegosiasikan ulang kontrak mereka dengan penerbit besar dengan posisi tawar yang lebih kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-812\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-14-093701.png\" alt=\"\" width=\"687\" height=\"323\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Gambar 3. Distribusi unduhan Sci-Hub per negara. China (71 juta), Amerika Serikat (20 juta), India, Brasil, Rusia masuk 5 teratas.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: Sci-Hub Statistics, Nature 2022, Assay Genie 2023<\/p>\n<p>Apakah Open Access yang sesungguhnya akan terwujud? Atau apakah penerbit besar akan menemukan cara baru untuk mempertahankan dominasi mereka \u2014 mungkin dengan menggantikan biaya langganan dengan &#8220;article processing charges&#8221; yang dibebankan kepada peneliti, yang pada dasarnya hanya memindahkan siapa yang membayar tanpa mengubah siapa yang mendapat untung?<\/p>\n<p>Tidak ada yang tahu jawabannya. Yang jelas adalah ini: satu situs yang dibangun oleh satu mahasiswi yang frustrasi dengan paywall telah mengubah cara dunia berbicara tentang akses terhadap pengetahuan ilmiah. Ia mungkin ilegal. Ia mungkin tidak sempurna.<\/p>\n<p>Tapi ia menunjukkan sebuah kebenaran yang tidak nyaman: kadang-kadang, sistem yang ada harus diusik terlebih dahulu sebelum ia mau berubah.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ol>\n<li>Science (AAAS) \u2014 &#8220;The frustrated science student behind Sci-Hub&#8221; \u2014 https:\/\/www.science.org\/content\/article\/frustrated-science-student-behind-sci-hub<\/li>\n<li>Wikipedia \u2014 &#8220;Alexandra Elbakyan&#8221; \u2014 https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Alexandra_Elbakyan<\/li>\n<li>Wikipedia \u2014 &#8220;Sci-Hub&#8221; \u2014 https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Sci-Hub<\/li>\n<li>The Dataist \u2014 &#8220;Sci-Hub and Alexandra Elbakyan, The Pirate Who Freed Science&#8221; \u2014 https:\/\/www.thedataist.org\/article\/sci-hub-alexandra-elbakyan-the-pirate-who-freed-science<\/li>\n<li>The Conversation \u2014 &#8220;Academic publishing is a multibillion-dollar industry. It&#8217;s not always good for science&#8221; \u2014 https:\/\/theconversation.com\/academic-publishing-is-a-multibillion-dollar-industry-its-not-always-good-for-science-250056<\/li>\n<li>Tidsskrift for Den norske legeforening \u2014 &#8220;The money behind academic publishing&#8221; \u2014 https:\/\/tidsskriftet.no\/en\/2020\/08\/kronikk\/money-behind-academic-publishing<\/li>\n<li>ProMarket \u2014 &#8220;High Prices and Market Power of Academic Publishing Reduce Article Citations&#8221; \u2014 https:\/\/www.promarket.org\/2024\/04\/24\/high-prices-and-market-power-of-academic-publishing-reduce-article-citations\/<\/li>\n<li>PublishingState \u2014 &#8220;How Academic Publishers Make Insane Profits by Making Others Pay for Publicly-Funded Research&#8221; \u2014 https:\/\/publishingstate.com\/how-academic-publishers-make-insane-profits-by-making-others-pay-for-publicly-funded-research-publications\/2025\/<\/li>\n<li>Molecular Weights \u2014 &#8220;Academic Publishing&#8217;s $28 Billion Business Model&#8221; \u2014 https:\/\/www.molecularweights.com\/p\/academic-publishing-profit-margins-big-five<\/li>\n<li>Nature \u2014 &#8220;US court grants Elsevier millions in damages from Sci-Hub&#8221; \u2014 https:\/\/www.nature.com\/news\/us-court-grants-elsevier-millions-in-damages-from-sci-hub-1.22196<\/li>\n<li>DelveInsight \u2014 &#8220;Elsevier and Sci-Hub \u2014 The Battle Is Over with Elsevier&#8217;s Win&#8221; \u2014 https:\/\/www.delveinsight.com\/blog\/elsevier-granted-millions-damages-sci-hub-us-court<\/li>\n<li>Editage Insights \u2014 &#8220;Elsevier awarded $15 million in damages from Sci-Hub for copyright infringement&#8221; \u2014 https:\/\/www.editage.com\/insights\/elsevier-awarded-15-million-in-damages-from-sci-hub-for-copyright-infringement<\/li>\n<li>Publishers Weekly \u2014 &#8220;Elsevier Awarded $15M in Lawsuit Against Pirate Sites&#8221; \u2014 https:\/\/www.publishersweekly.com\/pw\/by-topic\/digital\/content-and-e-books\/article\/74058-elsevier-awarded-15m-in-lawsuit-against-pirate-sites.html<\/li>\n<li>Nature \u2014 &#8220;Sci-Hub downloads show countries where pirate paper site is most used&#8221; \u2014 https:\/\/www.nature.com\/articles\/d41586-022-00556-y<\/li>\n<li>ResearchHub Docs \u2014 &#8220;The business model of for-profit academic publishers&#8221; \u2014 https:\/\/docs.researchhub.com\/welcome\/the-problem\/research-grants-incentivize-waste\/the-business-model-of-for-profit-academic-publishers<\/li>\n<li>PubMed Central \u2014 &#8220;Looking into Pandora&#8217;s Box: The Content of Sci-Hub and its Usage&#8221; \u2014 https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC5428489\/<\/li>\n<li>Nature \u2014 &#8220;Open-access reformers launch next bold publishing plan&#8221; \u2014 https:\/\/www.nature.com\/articles\/d41586-023-03342-6<\/li>\n<li>Institute of Network Cultures \u2014 &#8220;Celebrating a Decade of Knowledge: H C-(M) in conversation with Sci-Hub&#8217;s Alexandra Elbakyan&#8221; \u2014 https:\/\/networkcultures.org\/blog\/2021\/04\/20\/alexandra-elbakyan\/<\/li>\n<li>Assay Genie \u2014 &#8220;Sci-Hub: Your Proxy to Unrestricted Knowledge&#8221; \u2014 https:\/\/www.assaygenie.com\/blog\/sci-hub<\/li>\n<li>Academia Insider \u2014 &#8220;Working Sci-Hub Proxy in 2024&#8221; \u2014 https:\/\/academiainsider.com\/working-sci-hub-proxy-links\/<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayangkan kamu sedang mengerjakan skripsi. Kamu menemukan judul jurnal yang sempurna, persis dengan topik yang kamu butuhkan. Kamu klik. Sebuah halaman muncul: &#8220;Purchase this article \u2014 $39.95.&#8221; Empat puluh dolar. Untuk satu artikel. Yang mungkin hanya kamu butuhkan satu paragrafnya. Kamu menutup tab itu. Lalu membuka tab baru, mengetikkan judul artikel di kolom pencarian sebuah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":815,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,5],"tags":[778,783,773,779,776,784,777,781,788,787,774,786,785,782,775,780,772,526],"class_list":["post-811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita","tag-akses-ilmu-pengetahuan","tag-aktivisme-digital","tag-alexandra-elbakyan","tag-big-five-publishers","tag-elsevier","tag-guerrilla-open-access","tag-hak-cipta","tag-jurnal-ilmiah","tag-kazakhstan","tag-kebebasan-informasi","tag-open-access","tag-paywall","tag-peer-review","tag-pembajakan-digital","tag-penerbitan-akademik","tag-plan-s","tag-sci-hub","tag-sejarah-internet"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=811"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":818,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/811\/revisions\/818"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/media\/815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/informatika\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}