Satu Video yang Mengubah Cara Dunia Melihat Perang
5 April 2010. Sebuah video berdurasi 39 menit diunggah ke internet.
Tidak ada musik dramatik. Tidak ada narasi. Hanya rekaman hitam-putih dari kamera bidik helikopter Apache militer Amerika Serikat, beresolusi rendah, dengan suara radio para pilot yang terdengar santai — hampir seperti percakapan biasa.
Di layar, sekelompok orang berjalan di jalan Baghdad. Salah satu dari mereka membawa kamera. Para pilot mengira itu senjata.
“Light ’em all up,” kata suara di radio. Tembak semuanya.
Helikopter itu menembakkan meriam kanon 30mm. Dua belas orang tewas dalam hitungan detik, termasuk dua jurnalis Reuters — Namir Noor-Eldeen dan Saeed Chmagh. Ketika sebuah van sipil berhenti untuk mengevakuasi yang terluka, helikopter itu kembali menembak. Di dalam van itu ada dua anak kecil.
Reuters selama tiga tahun telah meminta rekaman ini melalui Freedom of Information Act. Militer Amerika menolak setiap permintaan. Mereka mengatakan tidak tahu bagaimana para jurnalis itu tewas.
Kemudian WikiLeaks mempublikasikan videonya. Dan kebohongan itu terlihat jelas oleh seluruh dunia.
Seorang Anak Australia yang Terobsesi pada Rahasia
Julian Paul Assange lahir 3 Juli 1971 di Townsville, Queensland, Australia, dengan nama lahir Hawkins — ia mengambil nama Assange dari ayah tirinya. Masa kecilnya tidak menetap: ia dan ibunya berpindah lebih dari tiga puluh kali sebelum ia dewasa, mengikuti kehidupan nomaden yang tidak biasa.
Di usia remaja, ia menemukan komputernya dan langsung jatuh cinta. Bukan pada permainan, tapi pada struktur sistem — bagaimana keamanan komputer bekerja, di mana celahnya, dan bagaimana menembus lapisan demi lapisan perlindungan yang disusun manusia. Pada usia 16, dengan nama samaran “Mendax,” ia mulai masuk ke sistem-sistem komputer di seluruh dunia — termasuk jaringan NASA dan Pentagon.
Pada 1991, ia ditangkap dan didakwa atas puluhan tuduhan hacking. Karena usianya yang masih muda dan pengakuan bahwa ia tidak mencuri data untuk keuntungan finansial, ia hanya dijatuhi denda. Tapi pengalaman itu tidak menghentikannya — ia membentuk cara berpikirnya tentang kekuasaan, rahasia, dan apa yang terjadi ketika keduanya bertemu.
Satu pemikiran terus menghantuinya: mengapa pemerintah dan organisasi besar menyembunyikan begitu banyak hal? Dan apa yang akan terjadi jika tembok-tembok itu runtuh?
Ia terinspirasi oleh Daniel Ellsberg — analis pemerintah Amerika yang pada 1971 membocorkan Pentagon Papers, sebuah kajian rahasia tentang keterlibatan Amerika di Vietnam yang membuktikan bahwa pemerintah telah berbohong kepada publik selama bertahun-tahun. Ellsberg membawa dokumen-dokumen itu ke New York Times. Dua tahun berlalu sebelum mereka diterbitkan.
Assange ingin membangun sistem yang mempersingkat jeda itu menjadi nol.
Kelahiran WikiLeaks: Mesin yang Memakan Rahasia
Desember 2006. WikiLeaks mempublikasikan dokumen pertamanya: sebuah perintah pembunuhan yang diklaim ditandatangani oleh pemimpin pemberontak Somalia. Keasliannya tidak pernah diverifikasi, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah sistemnya sudah berjalan.
WikiLeaks tidak seperti media biasa. Ia tidak memiliki redaksi yang besar, tidak memiliki kantor tetap, tidak memiliki sumber pendanaan yang jelas. Assange mendeskripsikan pendirinya sebagai “campuran dari para pembangkang Asia, jurnalis, matematikawan, dan teknolog startup dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia, dan Afrika Selatan.”
Yang membedakan WikiLeaks adalah filosofinya yang radikal: transparansi total. Assange menulis dalam esainya “Conspiracy as Governance” bahwa semakin rahasia sebuah organisasi, semakin banyak kebocoran akan menimbulkan ketakutan dan paranoia di dalam kepemimpinannya — dan ketakutan itu akan membuat organisasi tersebut semakin tidak efisien. WikiLeaks, dalam teorinya, bukan sekadar membocorkan dokumen. Ia merancang ulang bagaimana kekuasaan bekerja.
Selama empat tahun pertamanya, WikiLeaks menerbitkan satu demi satu kisah yang menarik perhatian: daftar prosedur operasi standar penjara Guantanamo Bay yang menunjukkan bahwa tahanan diisolasi berpekan-pekan untuk membuat mereka lebih mudah dikendalikan; dokumen tentang korupsi di Kenya yang mengungkap miliaran dolar yang dicuri oleh keluarga presiden; laporan tentang kerusuhan Tibet 2008.
Tapi semua itu hanyalah pembuka. Babak yang sebenarnya dimulai ketika seorang analis intelijen muda bernama Chelsea Manning mulai mengunduh file-file dari server militer Amerika.
Chelsea Manning dan Muatan yang Paling Berat
Chelsea Manning — yang saat itu masih bernama Bradley Manning — adalah seorang prajurit Angkatan Darat Amerika berusia 22 tahun yang ditempatkan di Irak. Ia cerdas tapi kesepian, terjebak dalam lingkungan militer yang tidak pernah ia rasa sebagai tempatnya.
Ia memiliki akses ke ratusan ribu dokumen rahasia. Dan semakin ia membaca, semakin ia tidak bisa tidur nyenyak.
Antara Januari dan Mei 2010, Manning mengunduh dan mengirimkan ke WikiLeaks serangkaian dokumen yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan dampaknya. Di dalamnya: video Collateral Murder; lebih dari 75.000 dokumen tentang Perang Afghanistan — yang kemudian dikenal sebagai “Afghan War Logs”; hampir 400.000 dokumen tentang Perang Irak; dan lebih dari 250.000 kabel diplomatik dari kedutaan-kedutaan Amerika di seluruh dunia.
Afghan War Logs mengungkapkan sesuatu yang selama ini disembunyikan: jumlah korban sipil yang jauh lebih besar dari yang pernah diakui pemerintah Amerika. Dokumen-dokumen itu juga mengungkapkan detail operasi badan intelijen Pakistan dalam mendukung Taliban — informasi yang memperumit secara signifikan hubungan Amerika dengan sekutu regional yang kompleks itu.
Iraq War Logs lebih jauh lagi: 66.000 warga sipil Irak tewas dalam perang itu, jauh lebih banyak dari angka yang pernah diakui publik. Dokumen-dokumen itu juga merinci keterlibatan pasukan keamanan Irak dalam penyiksaan tahanan — dan fakta bahwa pasukan Amerika mengetahuinya, lalu memilih untuk tidak bertindak.

Gambar 1. Timeline utama WikiLeaks dan Julian Assange, 2006–2024.
Sumber: NPR, Britannica, Al Jazeera, DOJ
Kabel diplomatik adalah bocoran yang paling meledak dalam dampak diplomatisnya. Tiba-tiba, percakapan pribadi antara diplomat Amerika dengan pemimpin-pemimpin dunia menjadi konsumsi publik global. Pemimpin Arab yang secara publik mendukung Palestina ternyata secara pribadi mendorong Amerika untuk menyerang Iran. Pejabat-pejabat yang secara terbuka berbicara tentang stabilitas kawasan ternyata secara diam-diam mendeskripsikan tetangga mereka dengan kata-kata yang jauh lebih kasar.
Reaksinya langsung: demonstrasi pecah di Tunisia ketika dokumen yang mengungkap korupsi masif keluarga Presiden Ben Ali tersebar. Beberapa analis berpendapat bahwa kebocoran WikiLeaks memberikan kontribusi nyata terhadap percikan Arab Spring.
Video yang Tidak Bisa Dilupakan
Dari semua yang pernah diterbitkan WikiLeaks, Collateral Murder tetap menjadi yang paling ikonik — dan paling diperdebatkan.
Faktanya tidak bisa dibantah: dua jurnalis Reuters tewas. Militer Amerika selama tiga tahun menyembunyikan rekaman itu dan memberikan informasi yang menyesatkan kepada Reuters tentang kematian karyawan mereka. WikiLeaks memperoleh rekaman itu dan menerbitkannya ketika semua permintaan resmi gagal.
Dean Yates, kepala biro Reuters di Irak saat itu, bersaksi bahwa ketika ia akhirnya melihat video lengkapnya, jelas bahwa apa yang diklaim militer Amerika — bahwa semua pihak yang ditembak adalah kombatan bersenjata — tidak sepenuhnya benar. Para jurnalis membawa kamera, bukan senjata. Van yang berhenti untuk mengevakuasi yang terluka adalah kendaraan sipil biasa.
Namun WikiLeaks tidak mempublikasikan video itu secara netral. Mereka memberinya judul “Collateral Murder” — sebuah framing editorial yang tegas, bukan deskriptif. Mereka juga mempublikasikan versi yang telah diedit, yang tidak menampilkan salah satu pria dalam kelompok itu yang memang membawa peluncur granat. The New York Times mengkritik keputusan ini: dengan tidak menampilkan konteks itu, WikiLeaks telah mengubah jurnalisme menjadi propaganda anti-perang.
Dan di situlah tegangan yang tidak pernah selesai: apakah Collateral Murder adalah jurnalisme publik dalam bentuknya yang paling murni — atau advokasi berselubung objektivitas?
Assange dan Pengepungan yang Berlangsung Bertahun-tahun
Agustus 2010. Dua bulan setelah kebocoran besar Afghan War Logs, dua perempuan di Swedia mengajukan tuduhan kekerasan seksual terhadap Assange. Ia menyangkal semua tuduhan.
Polisi Swedia mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional. Assange menyerahkan diri kepada polisi Inggris pada Desember 2010 dan ditahan selama sembilan hari sebelum dibebaskan dengan jaminan. Selama proses banding ekstradisi, pada Juni 2012, ia masuk ke Kedutaan Besar Ekuador di London dan meminta suaka.
Suaka dikabulkan. Dan selama hampir tujuh tahun, Assange tinggal dalam empat dinding kedutaan itu — sebuah ruang yang semakin menyempit, baik secara fisik maupun diplomatik.
Selama masa itu, WikiLeaks terus beroperasi. Pada 2015, lebih dari dua juta email pejabat pemerintah Suriah dibocorkan. Pada 2016, dokumen-dokumen tentang transaksi keuangan Arab Saudi. Dan kemudian datang momen yang paling kontroversial dalam sejarah WikiLeaks: pemilihan presiden Amerika Serikat 2016.
2016: Ketika WikiLeaks Memilih Sisi
7 Oktober 2016. Hari yang sama video rekaman Donald Trump membanggakan dirinya melecehkan perempuan tersebar ke publik, WikiLeaks menerbitkan ribuan email dari John Podesta, ketua kampanye Hillary Clinton.
Bukan kebetulan yang menyenangkan bagi siapa pun yang memperhatikan.
Email-email itu diperoleh melalui serangan phishing terhadap akun Gmail Podesta — serangan yang oleh komunitas intelijen Amerika kemudian dikaitkan dengan kelompok hacker yang terhubung dengan badan intelijen Rusia, Fancy Bear. WikiLeaks menjadi kanal distribusi untuk bahan-bahan itu, menerbitkan ribuan email dalam cicilan harian selama pekan-pekan terakhir kampanye.
Apa yang dibocorkan memang nyata dan mengungkap hal-hal yang relevan: DNC telah berpihak pada Clinton selama pemilihan primer, yang berujung pada pengunduran diri ketua DNC. Ada pertanyaan tentang konflik kepentingan dalam yayasan Clinton. Ada transkrip pidato berbayar yang kontradiktif dengan posisi publik Clinton.
Tapi ada dua pertanyaan besar yang membayangi semuanya.
Pertama: apakah WikiLeaks mengetahui bahwa sumber materialnya adalah operasi intelijen Rusia? Investigasi Mueller menyimpulkan bahwa Assange “secara tidak benar mengisyaratkan” bahwa sumber bocoran DNC adalah Seth Rich, seorang staf DNC yang terbunuh — tampaknya untuk menyembunyikan fakta bahwa Rusia adalah sumber sesungguhnya.
Kedua: mengapa WikiLeaks tidak mempublikasikan material serupa tentang Trump? Assange menyatakan bahwa mereka tidak menerima material yang cukup signifikan. Banyak pengamat tidak menerima penjelasan itu begitu saja.
Bagi banyak pendukung awal WikiLeaks — yang mendukung organisasi itu karena percaya pada transparansi tanpa memandang pihak — momen 2016 adalah pengkhianatan yang sulit diampuni. WikiLeaks yang dulu mengekspos perang Amerika kini tampak seperti alat dalam perang informasi yang dimainkan oleh kekuatan lain.
Belmarsh dan Akhir yang Bukan Akhir
April 2019. Pemerintah Ekuador — di bawah kepemimpinan baru yang kurang bersimpati pada Assange — mencabut suaka dan mengizinkan polisi Inggris masuk ke kedutaan.
Gambar-gambar Assange diseret keluar oleh petugas kepolisian beredar ke seluruh dunia. Ia tampak lebih tua, lebih tipis, dan ia memegang buku karya Gore Vidal — “The History of the National Security State.” Detail kecil yang mungkin ia sengajakan.
Ia dipenjara di Belmarsh, penjara keamanan tinggi Inggris yang biasanya menampung teroris dan penjahat paling berbahaya. Di sana ia menghabiskan 1.901 hari.
Pemerintah Amerika mengajukan dakwaan terhadapnya: awalnya satu tuduhan hacking, kemudian diperluas menjadi 18 dakwaan — 17 di antaranya berdasarkan Espionage Act 1917, undang-undang yang tidak pernah sebelumnya digunakan untuk mendakwa seorang penerbit. Jika diekstradisi dan terbukti bersalah atas semua dakwaan, ia menghadapi hingga 175 tahun penjara.
Inilah yang membuat kasus Assange menjadi lebih dari sekadar kasus satu orang. Committee to Protect Journalists, Amnesty International, PEN International, Reporters Without Borders — semuanya menyatakan kekhawatiran bahwa penggunaan Espionage Act terhadap seorang penerbit asing menciptakan preseden yang berbahaya. Jika Assange bisa diadili karena mempublikasikan dokumen rahasia yang diberikan kepadanya oleh sumber, apa bedanya dengan jurnalis mana pun yang menerima dan menerbitkan dokumen rahasia?

Gambar 2. Perjalanan hukum Julian Assange, 2010–2024.
Sumber: Al Jazeera, DOJ, PEN International
Saipan, 26 Juni 2024
Sebuah pengadilan di Saipan — pulau terpencil di Kepulauan Mariana Utara, wilayah Amerika di Pasifik yang dipilih karena lebih dekat ke Australia dan karena Assange menolak pergi ke Amerika daratan — menjadi panggung akhir drama hukum yang berlangsung hampir 15 tahun.
Assange mengaku bersalah atas satu dakwaan: konspirasi untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi pertahanan nasional yang diklasifikasikan. Hukumannya: 62 bulan — persis sama dengan waktu yang sudah ia habiskan di Belmarsh.
Hakim menerima pengakuan itu. Assange bebas.
Ia terbang ke Australia dan dibebaskan dari kewajiban hukum Amerika dengan status bersalah atas satu dakwaan espionase — menjadikannya orang pertama yang dihukum di bawah Espionage Act karena mempublikasikan dokumen yang diberikan kepadanya oleh sumber.
Itu adalah kemenangan baginya secara personal. Dan pada saat yang sama, sebuah kekalahan bagi preseden kebebasan pers yang tidak mudah diperbaiki.
Dampak yang Tidak Bisa Diukur Secara Sederhana
Selama lebih dari satu dekade keberadaannya, WikiLeaks mengubah beberapa hal secara nyata dan permanen.
Ia memperlihatkan kepada publik global bagaimana perang dijalankan di balik pernyataan resmi — dan angka korban yang lebih tinggi dari yang pernah diakui. Ia memaksa percakapan tentang apa yang boleh dan tidak boleh disembunyikan pemerintah dari warga negaranya sendiri. Ia menginspirasi generasi baru platform whistleblowing, termasuk SecureDrop yang sekarang digunakan oleh The New York Times, The Washington Post, dan puluhan media besar lainnya.
Tapi ia juga meninggalkan warisan yang lebih rumit.
Ketika WikiLeaks mempublikasikan nama-nama sumber Afghanistan tanpa redaksi, para pejabat intelijen Amerika berargumen bahwa ini menempatkan nyawa orang dalam bahaya. Kepala divisi investigasi di Pentagon yang mengevaluasi dampak kebocoran itu kemudian bersaksi bahwa tim yang melibatkan hingga 125 orang tidak menemukan satu pun contoh orang yang kehilangan nyawa sebagai langsung akibat kebocoran. Tapi “tidak ada yang mati yang bisa dibuktikan” berbeda dari “tidak ada yang terancam.”
Dan kemudian ada 2016 — ketika transparansi menjadi senjata yang dipegang dengan jelas oleh satu sisi.
Apakah WikiLeaks selalu merupakan proyek transparansi? Atau ia telah menjadi sesuatu yang berbeda — sebuah platform yang awalnya melayani kebenaran, lalu secara bertahap melayani agenda yang lebih sempit?
Sebuah Pertanyaan yang Tidak Selesai
Persidangan penggunaan Espionage Act terhadap Assange menciptakan sebuah pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah: di mana batas antara jurnalisme dan spionase?
Seorang wartawan yang menerima dokumen rahasia dari seorang sumber, lalu menerbitkannya karena dianggap bernilai untuk kepentingan publik — apakah itu jurnalisme atau kejahatan? Jika itu kejahatan ketika dilakukan oleh Assange, mengapa bukan kejahatan ketika dilakukan oleh The New York Times saat menerbitkan Pentagon Papers?
Perbedaannya, menurut pendukung dakwaan, adalah bahwa Assange tidak hanya menerima dokumen — ia secara aktif mendorong Manning untuk mencuri lebih banyak, menyediakan infrastruktur pengambilan data, dan kemudian mempublikasikan tanpa redaksi. Ia lebih dari sekadar penerbit.
Perbedaannya, menurut pendukung Assange, adalah bahwa semua itu adalah bagian dari jurnalisme investigatif — bahwa wartawan memang mengarahkan sumber mereka, membangun saluran aman, dan memutuskan apa yang dipublikasikan.
Tidak ada pengadilan yang pernah memutuskan pertanyaan ini secara penuh. Plea deal 2024 mengakhiri kasus Assange secara praktis, tapi justru meninggalkan pertanyaan hukum yang lebih besar dalam keadaan terbuka.
“Penggunaan Espionage Act yang terus-menerus terhadap Assange kemungkinan besar telah menciptakan chilling effect terhadap orang-orang yang tergoda untuk mengekspos kesalahan pemerintah,” tulis Bloomberg, “pada saat ketika teknologi-teknologi yang berkembang seperti AI membuat kebutuhan akan pengawasan publik yang efektif terhadap kekuasaan negara semakin mendesak dari sebelumnya.”
Assange hari ini bebas, tinggal di Australia. WikiLeaks sendiri praktis tidak aktif sejak 2021. Tapi dokumen-dokumen yang pernah ia terbitkan masih ada. Video Collateral Murder masih bisa ditonton. Kabel-kabel diplomatik masih bisa dibaca.
Dan pertanyaan yang paling sulit yang ia tinggalkan — apakah dunia berhak tahu apa yang dilakukan pemerintahnya atas namanya, bahkan ketika pemerintah itu menyebutnya berbahaya — belum pernah dijawab dengan tuntas.
Mungkin tidak akan pernah.
Sumber
- Wikipedia — “Julian Assange” — https://en.wikipedia.org/wiki/Julian_Assange
- Wikipedia — “WikiLeaks” — https://en.wikipedia.org/wiki/WikiLeaks
- Britannica — “WikiLeaks” — https://www.britannica.com/topic/WikiLeaks
- Britannica — “Julian Assange” — https://www.britannica.com/biography/Julian-Assange
- NPR — “WikiLeaks Timeline: 12 Years of Disruption” — https://www.npr.org/2019/04/11/712306713/12-years-of-disruption-a-wikileaks-timeline
- US Department of Justice — “WikiLeaks Founder Pleads Guilty and Is Sentenced” — https://www.justice.gov/archives/opa/pr/wikileaks-founder-pleads-guilty-and-sentenced-conspiring-obtain-and-disclose-classified
- WikiLeaks — “Collateral Murder” — https://collateralmurder.wikileaks.org/
- Wikipedia — “July 12, 2007 Baghdad Airstrike” — https://en.wikipedia.org/wiki/July_12,_2007,_Baghdad_airstrike
- The Dissenter — “In Assange Case, US Still Covering Up ‘Collateral Murder'” — https://thedissenter.org/us-still-trying-to-bury-collateral-murder-video-that-wikileaks-released/
- Al Jazeera — “WikiLeaks founder Julian Assange released from prison after US plea deal” — https://www.aljazeera.com/news/2024/6/25/julian-assange-is-free-wikileaks-founder-freed-in-deal-with-us
- Al Jazeera — “Julian Assange freed: What’s the deal the WikiLeaks founder struck with US?” — https://www.aljazeera.com/news/2024/6/25/julian-assange-freed-whats-the-deal-the-wikileaks-founder-struck-with-us
- Committee to Protect Journalists — “CPJ welcomes reports that Assange will be released in plea deal” — https://cpj.org/2024/06/cpj-welcomes-reports-that-assange-will-be-released-in-plea-deal/
- Amnesty International — “Fight for media freedom continues as Assange reaches plea deal” — https://www.amnesty.org/en/latest/news/2024/06/media-freedom-continues-assange-plea-deal/
- PEN International — “Julian Assange” — https://www.pen-international.org/cases/julian-assange
- Euronews — “Why is WikiLeaks founder Julian Assange facing extradition to the US?” — https://www.euronews.com/next/2024/03/26/why-is-wikileaks-founder-and-hacker-julian-assange-facing-extradition-to-the-us
- Wikipedia — “2016 DNC Email Leak” — https://en.wikipedia.org/wiki/2016_Democratic_National_Committee_email_leak
- IJOC — “WikiLeaks and the Afterlife of Collateral Murder” — https://ijoc.org/index.php/ijoc/article/download/3209/1243
- The Week — “Julian Assange free after agreeing to guilty plea” — https://theweek.com/law/julian-assange-free-plea-deal
Comments :