Pertama Kalinya Komputer Trading…
19 Oktober 1987: Ketika Mesin Menghancurkan Wall Street
Senin pagi, 19 Oktober 1987. Pasar saham New York baru saja dibuka.
Di lantai perdagangan New York Stock Exchange, suasana sudah terasa berbeda. Bukan panik — belum. Lebih seperti kegelisahan yang menahan napas. Pekan sebelumnya, Dow Jones sudah turun sekitar 10%. Akhir pekan baru saja diwarnai berita buruk: Sabtu malam, kapal perang Amerika menyerang platform minyak Iran di Teluk Persia. Ketegangan geopolitik meningkat. Nilai tukar dolar terus melemah.
Tapi tidak ada yang menduga apa yang akan terjadi dalam delapan jam ke depan.
Begitu bel pembukaan berbunyi, Dow Jones langsung anjlok lebih dari 100 poin hanya dalam satu jam pertama. Tidak ada intervensi terorganisir — tidak ada konsorsium bank besar yang masuk untuk membeli, tidak ada “pasukan penyelamat” institusional. Yang ada hanya satu hal: jual, jual, jual.
Dan di balik gelombang penjualan itu, ada sesuatu yang belum pernah dilihat Wall Street sebelumnya. Sesuatu yang tidak bisa dinegosiasi, tidak bisa diajak bicara, tidak bisa dimintai tolong.
Komputer.
Sebelum Bencana: Lima Tahun yang Terlalu Sempurna
Untuk memahami Black Monday, kita perlu mundur sejenak ke awal dekade 1980-an.
Amerika Serikat sedang dalam euforia ekonomi. Antara 1982 dan 1987, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan deregulasi besar-besaran mendorong harga saham meroket. Dow Jones Industrial Average naik tiga kali lipat dalam periode itu, dengan valuasi yang jauh melampaui kondisi ekonomi nyata dan laba korporasi.
Dari awal tahun hingga Black Monday, Dow Jones sudah naik hampir 38%. Investor baru bermunculan. Dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer aset dari seluruh dunia menuangkan modal ke pasar Amerika. Semua orang ingin bagian dari pesta ini.
Tapi di balik pesta itu, ada dua inovasi baru yang sedang diadopsi secara masif oleh Wall Street — dua alat yang dijanjikan akan membuat pasar lebih efisien, lebih aman, lebih terlindungi dari risiko.
Janji itu, seperti yang akan segera terbukti, adalah ilusi berbahaya.

Gambar 1. Rekonstruksi pergerakan intraday Dow Jones Industrial Average, 19 Oktober 1987
Sumber: Federal Reserve History, Britannica
Dua Alat yang Seharusnya Menyelamatkan, Justru Membunuh
Inovasi pertama disebut “program trading.” Penggunaan komputer memungkinkan broker menempatkan order dalam jumlah besar dan mengeksekusi transaksi jauh lebih cepat. Perangkat lunak yang dikembangkan oleh bank, broker, dan berbagai firma keuangan dirancang untuk secara otomatis mengeksekusi perintah jual jika saham turun melewati persentase tertentu.
Logikanya sederhana dan masuk akal: daripada menunggu manusia panik dan membuat keputusan buruk, biarkan komputer bertindak cepat dan rasional berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan.
Inovasi kedua disebut “portfolio insurance.” Ini adalah produk manajemen risiko berbasis komputer yang pada 1987 sudah digunakan oleh manajer aset di seluruh dunia. Cara kerjanya: sistem komputer memantau data pasar secara terus-menerus, lalu mengirimkan perintah otomatis kepada semua pengelola aset yang menggunakannya.
Portfolio insurance memberikan investor rasa aman yang palsu — mereka percaya bahwa praktik ini membatasi risiko mereka. Keyakinan itu tidak sepenuhnya salah, tapi investor justru mengambil risiko yang lebih besar karena merasa terlindungi, sehingga ketika bencana datang, kerugiannya jauh lebih parah.
Dan bencana itu datang pada pagi hari Senin, 19 Oktober 1987.
Malam sebelumnya, sistem portfolio insurance telah menyerap semua data dari pekan lalu — level-level teknikal yang sudah jebol dan berbagai indikator makro dari seluruh dunia — lalu memberikan satu perintah spesifik kepada semua manajer aset yang menggunakannya: jual. Jual 2% dari seluruh portofolio untuk meningkatkan cadangan kas.
Perintah itu dikirimkan secara serentak. Kepada semua orang. Pada saat yang bersamaan.
Lingkaran Setan yang Tidak Ada Tombol Berhentinya
Yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk yang lahir dari logika yang sempurna.
Ketika harga saham mulai turun, program trading secara otomatis memicu gelombang order jual berikutnya. Tekanan jual di pasar futures mendorong tekanan jual lebih lanjut di pasar saham. Saham turun, menyebabkan lebih banyak penjualan di pasar futures, yang menyebabkan lebih banyak investor menjual saham, yang menyebabkan lebih banyak penjualan futures. Begitu seterusnya, tanpa henti.
Tidak ada seorang pun yang memutuskan untuk menjual sebesar itu. Tidak ada kepanikan manusia yang terorganisir. Yang ada hanya ribuan komputer yang masing-masing melaksanakan instruksinya dengan sempurna — dan secara kolektif menciptakan malapetaka yang tidak pernah direncanakan siapa pun.
Ekonom Robert Shiller kemudian mendeskripsikannya dengan tepat: “Penurunan harga awal memulai lingkaran setan — menyebabkan program portfolio insurance menjual, menyebabkan harga turun lebih jauh, menyebabkan portfolio insurance menjual lagi, dan seterusnya.”
[Gambar 2. Diagram lingkaran setan program trading dan portfolio insurance. Ilustrasi oleh penulis.]
Dari 2.257 saham yang terdaftar di NYSE, terdapat 195 penundaan dan penghentian perdagangan hari itu. Volume transaksi begitu besar sehingga sistem komputer dan komunikasi kewalahan, meninggalkan order yang tidak tereksekusi selama lebih dari satu jam. Transfer dana besar tertunda, dan sistem Fedwire serta NYSE SuperDot mati untuk waktu yang cukup lama — semakin menambah kebingungan para trader.
Ketika bel penutupan berbunyi, Dow Jones berdiri di angka 1.738,74 — turun 508 poin, atau 22,6% dalam satu sesi. Sekitar 604 juta saham diperdagangkan di NYSE, lebih dari dua kali rekor sebelumnya.
[Gambar 1. Rekonstruksi pergerakan intraday Dow Jones Industrial Average, 19 Oktober 1987. Sumber: Federal Reserve History, Britannica.]
Untuk konteks: penurunan satu hari terburuk selama Crash 1929 — yang memicu Depresi Besar — hanya sedikit di atas 12%. Black Monday hampir dua kali lipatnya.
“Rasanya sangat menakutkan,” kata Thomas Thrall, seorang trader di Chicago Mercantile Exchange yang ada di sana hari itu.

Gambar 2. Mekanisme lingkaran setan program trading pada Black Monday
Dunia Ikut Jatuh
Black Monday bukan sekadar krisis Amerika.
Ini adalah krisis keuangan global kontemporer pertama — sebuah reaksi berantai yang mengirimkan bursa saham dunia terjun bebas dalam hitungan jam, membuktikan sejauh mana pasar keuangan dunia sudah saling terjalin dan terkoneksi secara teknologi.
Crash dimulai di Asia, menyebar ke Eropa, lalu menghantam Amerika. Australia mengalami kejatuhan pasar lebih dari 40%, sementara Selandia Baru menderita pukulan paling parah — hampir dua pertiga nilai pasarnya menguap dari puncak tertinggi 1987. Total kerugian di seluruh dunia diperkirakan mencapai $1,71 triliun.
[Gambar 3. Perbandingan penurunan terbesar satu hari pada empat krisis pasar saham besar. Sumber: Federal Reserve History, Britannica.]
Di tengah kepanikan itu, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun: kapan ini akan berhenti? Tidak ada mekanisme untuk menghentikan komputer. Tidak ada tombol darurat. Tidak ada wasit.
Yang ada hanya satu institusi yang bergerak cepat — dan keputusannya pada pagi hari 20 Oktober 1987 mungkin yang mencegah bencana ini berubah menjadi depresi baru.
Satu Kalimat yang Menyelamatkan Pasar
Selasa pagi, 20 Oktober 1987. Satu hari setelah Black Monday.
Alan Greenspan, Ketua Federal Reserve yang baru menjabat tiga bulan, mengeluarkan pernyataan yang hanya terdiri dari satu kalimat pendek: Federal Reserve siap bertindak sebagai sumber likuiditas untuk mendukung sistem ekonomi dan keuangan.
Tidak lebih dari itu.
Tapi pasar membaca pesan di baliknya: bank sentral Amerika tidak akan membiarkan sistem keuangan runtuh. Jika bank-bank kehabisan uang untuk menopang posisi mereka, Fed akan menyediakannya. Respons Federal Reserve ini kemudian menjadi preseden bagi peran bank sentral dalam menggunakan “likuiditas” untuk meredam krisis keuangan — sebuah playbook yang digunakan kembali pada krisis 2008 dan pandemi 2020.
Pasar AS berhasil merebut kembali hampir 60% kerugiannya hanya dalam dua sesi perdagangan. Dow Jones bahkan mengakhiri keseluruhan tahun 1987 dengan sedikit kenaikan.
Krisis yang terasa seperti akhir dunia pada Senin sore, sudah sebagian besar teratasi pada Rabu. Kecepatan pemulihan ini memukau — dan juga menimbulkan pertanyaan baru.
Perbaikan, Tapi Untuk Masalah yang Mana?
Segera setelah Black Monday, regulasi bergerak cepat.
Tiga minggu setelah crash, Presiden Ronald Reagan membentuk Presidential Task Force on Market Mechanisms. Gugus tugas ini, yang dipimpin mantan Menteri Keuangan Nicholas Brady, menghasilkan Laporan Brady Commission 1988 yang merekomendasikan penerapan circuit breakers — mekanisme yang akan secara otomatis menghentikan perdagangan sementara jika pasar jatuh melampaui ambang batas tertentu.
Aturan circuit breaker pertama mulai berlaku akhir 1987 dan awal 1988. Awalnya, penurunan 250 poin pada Dow akan menghentikan perdagangan selama satu jam, dan penurunan 400 poin selama dua jam — ambang batas yang pada saat itu setara dengan penurunan sekitar 12-19%.
Di atas kertas, ini terdengar seperti solusi yang tepat: jika komputer tidak bisa dihentikan secara logis, hentikan pasar secara mekanis. Berikan waktu bagi manusia untuk berpikir. Putuskan lingkaran setan sebelum ia menghancurkan segalanya.
Tapi pertanyaannya kemudian adalah: apakah circuit breakers benar-benar menyelesaikan masalah? Atau hanya menempel plester di atas luka yang jauh lebih dalam?
Ketika Solusi Bertemu Realita
Dua puluh tiga tahun setelah Black Monday, pada 6 Mei 2010, terjadi sesuatu yang aneh.
Dalam waktu sekitar 36 menit, Dow Jones jatuh hampir 1.000 poin — hampir 9% — lalu pulih kembali hampir seluruhnya sebelum hari berakhir. Harga saham perusahaan-perusahaan besar sempat menyentuh angka yang tidak masuk akal: saham Accenture, perusahaan konsultan besar, dijual seharga satu sen. Saham Apple melonjak ke $100.000 per lembar. Semuanya dalam hitungan detik.
Peristiwa ini disebut “Flash Crash.”
Penyebabnya? Bukan kepanikan manusia. Flash Crash 2010 adalah episode kegagalan teknologi lainnya — algoritma trading kecepatan tinggi yang saling berinteraksi dengan cara yang tidak diprediksi oleh siapa pun.
Circuit breakers yang lahir dari Black Monday 1987 gagal menghentikan Flash Crash 2010. SEC kemudian memperbarui sistemnya dengan menerapkan circuit breaker pasar-lebar baru pada Februari 2013.
Sistem yang berlaku saat ini menggunakan indeks S&P 500 sebagai acuan, dengan tiga tingkat pemicu: jika S&P 500 turun 7% atau 13% sebelum pukul 15.25, perdagangan dihentikan 15 menit. Jika turun 20% kapan saja sepanjang hari, perdagangan dihentikan untuk sisa hari itu.
Lebih canggih dari sebelumnya. Tapi apakah ini cukup?
James Angel, profesor di Georgetown’s McDonough School of Business yang pernah bersaksi di hadapan Kongres setelah Flash Crash, menawarkan pandangan yang membuat tidak nyaman: circuit breakers sendiri bisa memperparah crash, karena trader bisa menjadi semakin panik jika mereka khawatir pasar akan ditutup paksa. “Kalau mereka menutup pasar di titik terendah Flash Crash, bayangkan kepanikan yang akan terjadi.”
Pertanyaan yang Masih Belum Terjawab
Di sinilah kita tiba pada ambiguitas yang tidak nyaman — dan itulah yang membuat Black Monday tetap relevan untuk dibicarakan hingga hari ini.
Regulasi pasca-1987 jelas berhasil dalam beberapa hal. Circuit breakers diuji selama periode penuh tekanan, termasuk Flash Crash 2010 dan lonjakan volatilitas 2020. Setiap peristiwa mendorong penyempurnaan bertahap. Pasar tidak pernah lagi mengalami kehancuran satu hari sebesar 22%.
Tapi masalah dasarnya — komputer yang berinteraksi dengan cara yang tidak bisa diprediksi manusia — tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ia hanya berevolusi.
Meski pasar saham global dan perdagangan telah menjadi sangat teknis dan terkomputerisasi, ketiadaan elemen manusia tidak membuat gangguan menjadi jarang. High-frequency trading, yang menggunakan perangkat lunak untuk menempatkan transaksi dalam hitungan milidetik, telah menjadi tersangka dalam sejumlah gangguan besar di pasar saham global.
Para pembela program trading berargumen bahwa praktik ini tidak adil disalahkan pada 1987 — bahwa program-program itu hanya merespons hilangnya kepercayaan investor yang lebih luas. Tapi para ahli lain tetap merasa khawatir: “Kita tidak aman dari elemen manusia dulu, dan saya tidak pikir kita aman dari elemen itu sekarang.”
Di satu sisi, ada argumen kuat bahwa regulasi pasca-Black Monday adalah keberhasilan nyata: tidak ada lagi crash satu hari sebesar 22%. Circuit breakers bekerja sebagai peredam kepanikan. Sistem keuangan lebih transparan dan lebih diawasi.
Di sisi lain, setiap generasi teknologi baru membawa risiko baru yang belum pernah dibayangkan regulasi sebelumnya. Portfolio insurance 1987 digantikan oleh high-frequency trading, lalu algorithmic trading, dan sekarang AI-driven trading yang kecepatannya jauh melampaui kapasitas manusia untuk memahaminya secara real-time.
Pertanyaan yang diajukan Black Monday — dapatkah regulasi manusia benar-benar mengontrol sistem yang bergerak lebih cepat dari yang bisa direspons manusia? — belum pernah benar-benar dijawab. Ia hanya dipindahkan ke generasi berikutnya untuk dihadapi.

Gambar 3. Penurunan terbesar satu hari (%). Flash Crash 2010 pulih hampir sepenuhnya di hari yang sama
Sumber: Federal Reserve History, Britannica
Warisan Hari yang Terlupakan
Black Monday sering dilupakan dibandingkan Crash 1929 atau Krisis 2008. Tidak ada Depresi Besar yang menyusul. Tidak ada bank yang kolaps dalam skala masif. Pasar pulih dalam hitungan minggu.
Tapi justru itulah yang membuatnya penting secara berbeda.
Black Monday adalah demonstrasi pertama kepada dunia tentang sejauh mana pasar keuangan global telah saling terjalin — dan betapa rentannya keterjalingan itu. Bukan karena perang, bukan karena resesi, bukan karena skandal besar. Tapi karena komputer-komputer di seluruh dunia melaksanakan instruksi mereka dengan sempurna — dan tidak ada yang memerintahkan mereka untuk berhenti.
Kita telah membangun sistem yang lebih cepat dari kemampuan kita untuk mengawasinya. Kita telah menciptakan alat-alat yang dirancang untuk mengurangi risiko — dan alat-alat itu menjadi risiko itu sendiri.
Regulasi yang lahir dari Black Monday adalah nyata dan bermakna. Tapi setiap babak baru teknologi keuangan menghadirkan pertanyaan lama dalam bentuk yang baru: siapa yang mengawasi mesin? Dan apakah mesin itu tahu kapan harus berhenti?
Pada pukul 16.00 tanggal 19 Oktober 1987, tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu.
Tiga puluh delapan tahun kemudian, jawabannya masih belum sempurna.
Sumber
- Federal Reserve History — “Stock Market Crash of 1987” — https://www.federalreservehistory.org/essays/stock-market-crash-of-1987
- Britannica — “Black Monday (1987)” — https://www.britannica.com/topic/Black-Monday-1987
- Corporate Finance Institute — “Black Monday Market Crash” — https://corporatefinanceinstitute.com/resources/equities/black-monday/
- DayTrading.com — “Black Monday 1987: Causes & Lessons” — https://www.daytrading.com/black-monday-1987
- Market Histories — “Black Monday 1987: The Day the Machines Broke the Market” — https://www.markethistories.com/en/black-monday-1987-the-day-the-machines-broke-the-market
- Benzinga — “What Happened On Black Monday, From A NYSE Floor Trader Who Was There” — https://benzinga.com/article/4997618
- Al Jazeera — “Circuit Breakers: What Are They Exactly?” — https://www.aljazeera.com/economy/2020/3/9/circuit-breakers-halt-us-stock-trading-what-are-they-exactly
- SharePlanner — “History of Stock Market Circuit Breakers” — https://www.shareplanner.com/blog/stock-market-history/history-of-stock-market-circuit-breakers.html
- TheStreet — “Has Wall Street Employed Enough Tech to Protect Against Another Black Monday?” — https://www.thestreet.com/investing/stocks/rebooting-wall-street-technology-after-black-monday-14345945
- Headcount Coffee — “1987 Crash Aftermath and the Adoption of Market-Wide Circuit Breakers” — https://www.headcountcoffee.com/blogs/market-systems/1987-crash-aftermath-and-the-adoption-of-market-wide-circuit-breakers
- NBC News — “Black Monday Market Crash Could Happen Again” — https://www.nbcnews.com/business/markets/black-monday-market-crash-could-happen-again-expert-says-flna1C6566824
- Algorithm Substack — “How Portfolio Insurance Blew Up Wall Street” — https://algorithm.substack.com/p/how-portfolio-insurance-blew-up-wall
- Wikipedia — “Black Monday (1987)” — https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Monday_(1987)
Comments :