{"id":823,"date":"2026-09-04T02:28:31","date_gmt":"2026-09-04T02:28:31","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/?p=823"},"modified":"2026-09-29T03:55:23","modified_gmt":"2026-09-29T03:55:23","slug":"dosen-dkv-satu-university-lakukan-riset-lapangan-kerajinan-ukir-tulang-di-pasir-tukul-cileunyi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/2026\/09\/04\/dosen-dkv-satu-university-lakukan-riset-lapangan-kerajinan-ukir-tulang-di-pasir-tukul-cileunyi\/","title":{"rendered":"Dosen DKV SATU University Lakukan Riset Lapangan Kerajinan Ukir Tulang di Pasir Tukul, Cileunyi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-824\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/09\/131.png\" alt=\"\" width=\"924\" height=\"550\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber gambar : Dokumentasi penulis, 2026<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Pada hari Rabu, 2 September 2026, tim peneliti dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) SATU University melaksanakan riset lapangan di Kampung Pasir Tukul, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Riset ini dilakukan untuk memetakan dan mengkaji kerajinan ukir tulang Pasir Tukul dari perspektif budaya visual, sekaligus memahami keterkaitan antara bentuk visual, teknik pengerjaan, kearifan lokal, serta dinamika yang dihadapi komunitas perajin setempat. Tim peneliti terdiri atas Erica Rachel Budianto, A.Md., S.Sn., M.Ds., Tytton Sishertanto, S.Sn., M.Sn., Iklima Nur Mufida, S.Ds., M.Ds., Ardes Muhammad Naufal Khairi, S.Ds., M.Ds., dan Muhammad Rizal Panji Asmoro, S.Sn., M.Ds. Penelitian ini didukung oleh pendanaan internal Universitas Satu Bandung.<\/p>\n<p>Kerajinan ukir tulang di Cileunyi merupakan potensi seni budaya dan ekonomi kreatif yang hingga kini belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Komunitas perajin di Pasir Tukul telah berkembang sejak sekitar tahun 1970 (Yulianti, 2021). Namun, keberlangsungannya menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan akses pasar, menurunnya regenerasi perajin, serta belum terbentuknya sistem transfer pengetahuan kepada generasi penerus (Hassani, 2023). Padahal, seni ukir tulang memiliki nilai budaya dan historis yang penting. Praktik pengolahan dan pengukiran tulang merupakan salah satu bentuk kesenian yang telah dikenal sejak masa lampau dan dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, dokumentasi dan kajian terhadap praktik kerajinan ukir tulang di Pasir Tukul menjadi penting, tidak hanya sebagai upaya memahami budaya visual masyarakat setempat, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya.<\/p>\n<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara dengan para perajin ukir tulang di Pasir Tukul. Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti berupaya memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai sejarah, proses produksi, material, bentuk karya, serta kondisi sosial dan ekonomi yang memengaruhi keberlangsungan kerajinan tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Menelusuri Sejarah dan Praktik Kerajinan Ukir Tulang<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan riset diawali dengan kunjungan ke Kantor Desa Cileunyi Wetan. Tim peneliti bertemu dan berdiskusi dengan Kepala Desa Cileunyi Wetan, Bapak H. Hari Haryono, S.H., serta Bapak Candra, S.Ak., selaku Ketua Komunitas Pemuda Pasir Tukul. Pertemuan ini dilakukan untuk memperoleh izin penelitian sekaligus memahami gambaran umum mengenai dinamika yang dihadapi para perajin di Pasir Tukul. Selain menjadi bagian dari proses pengumpulan data, pertemuan tersebut juga menjadi langkah awal untuk membangun kerja sama dalam kegiatan tindak lanjut pada masa mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-825\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/09\/133.png\" alt=\"\" width=\"924\" height=\"550\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber gambar : Dokumentasi penulis, 2026<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-826\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2026\/09\/134.png\" alt=\"\" width=\"924\" height=\"550\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber gambar : Dokumentasi penulis, 2026<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selanjutnya, dengan didampingi oleh Bapak Candra, tim peneliti mengunjungi kediaman salah satu perajin senior Pasir Tukul, yaitu Bapak Idin yang kini berusia 69 tahun. Dalam menjalankan kegiatan operasional usahanya, Bapak Idin dibantu oleh keponakannya, Bapak Aep (52 tahun), dan putra keduanya, Bapak Deni (35 tahun). Karena keterlibatan generasi penerus tersebut, usaha keluarga ini kini menggunakan nama \u2018Deni Nugraha Idin Putra\u2019. Dari hasil wawancara dan observasi, diketahui bahwa karya-karya Bapak Idin pada awalnya seluruhnya dibuat secara manual. Memasuki dekade 1980\u20131990, proses pengerjaan mulai memanfaatkan bantuan mesin. Berbagai material digunakan dalam pembuatan karya, antara lain tulang sapi, tanduk kerbau, tulang ikan marlin, tanduk rusa, ekor pari, serta tulang rusuk dugong. Bahan baku tersebut umumnya diperoleh dari pengepul, dibawa langsung oleh konsumen, maupun berasal dari sisa tulang sapi yang dibeli dari kedai mi kocok. Material tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk kerajinan, seperti patung, pegangan keris, tongkat dengan ukiran gading, dan pipa rokok. Perjalanan usaha Bapak Idin juga menunjukkan dinamika yang erat dengan perubahan kondisi sosial dan ekonomi. Usahanya pernah mengalami masa kejayaan pada sekitar tahun 1980-an setelah memperoleh dukungan pendanaan dari pemerintah. Pada periode tersebut, karya-karyanya juga beberapa kali mendapat liputan media massa yang turut meningkatkan perhatian dan mendatangkan konsumen. Namun, kondisi tersebut berubah secara signifikan setelah tragedi Bom Bali pada 2002. Menurunnya jumlah wisatawan berdampak langsung terhadap penjualan produk. Dukungan pendanaan pemerintah juga tidak lagi tersedia. Kondisi usaha kemudian semakin memburuk dan mengalami tekanan yang lebih besar sejak pandemi COVID-19.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Melihat Potensi dan Tantangan dari Dekat<\/strong><\/p>\n<p>Selain melakukan wawancara, tim peneliti juga mengamati secara langsung proses pembuatan kerajinan ukir tulang. Interaksi bersama Bapak Idin, Bapak Aep, dan Bapak Deni memberikan kesempatan bagi tim untuk memahami bukan hanya aspek teknis produksi, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan perjalanan panjang yang membentuk praktik kerajinan tersebut. Setelah berdiskusi dan mengamati proses produksi, tim peneliti kemudian makan siang bersama para perajin sebelum melanjutkan kegiatan ke kantor Komunitas Pemuda Pasir Tukul.<\/p>\n<p>Di lokasi tersebut, tim menemukan berbagai karya seni ukir tulang dalam beragam ukuran dan bentuk. Karya-karya tersebut merupakan hasil produksi para perajin di Pasir Tukul, termasuk karya Bapak Idin dan perajin lainnya, yang dikumpulkan oleh Bapak Candra untuk dipasarkan. Upaya tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan komunitas terhadap keberlangsungan usaha para perajin. Bapak Candra berharap kegiatan pengumpulan dan pemasaran kembali produk dapat membantu meningkatkan taraf hidup para perajin. Namun, dari hasil diskusi di lapangan, terlihat bahwa pemasaran dan permodalan masih menjadi dua tantangan utama yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan kerajinan ukir tulang Pasir Tukul.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Riset untuk Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat<\/strong><\/p>\n<p>Riset ini tidak hanya berorientasi pada dokumentasi budaya, tetapi juga memiliki relevansi dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Penelitian mengenai kerajinan ukir tulang Pasir Tukul selaras dengan <em>Sustainable Development Goals (SDGs) <\/em>yang dicanangkan oleh United Nations serta relevan dengan kerangka <em>UNESCO Culture|2030 Indicators.<\/em>Kegiatan ini juga sejalan dengan visi SATU University untuk menjadi institusi pilihan yang membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun serta melayani bangsa. Penelitian ini sekaligus mendukung misi universitas dalam melaksanakan penelitian yang tepat guna bagi daerah setempat, Jawa Barat, serta pengembangan UMKM Indonesia melalui pengetahuan yang memiliki relevansi praktis.<\/p>\n<p>Hasil penelitian tim DKV SATU University diharapkan dapat menjadi dasar untuk memperkuat identitas budaya visual kerajinan ukir tulang Pasir Tukul sekaligus memperluas wawasan masyarakat Indonesia mengenai kekayaan budaya ukir tulang yang terdapat di Jawa Barat. Temuan penelitian juga diharapkan dapat menjadi landasan bagi kegiatan tindak lanjut, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang lebih tepat sasaran. Ke depan, terbuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, serta pelaku UMKM untuk mendukung pengembangan kerajinan secara berkelanjutan. Upaya tersebut berpotensi memberikan nilai tambah bagi produk kerajinan, memperkuat pelestarian budaya, membuka peluang lapangan kerja baru, serta menghidupkan potensi ekonomi berbasis warisan budaya. Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut diharapkan dapat turut membangun fondasi bagi Kampung Pasir Tukul sebagai sentra UMKM berbasis warisan budaya sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Apresiasi<\/strong><\/p>\n<p>Tim peneliti DKV SATU University menyampaikan terima kasih atas dukungan pendanaan internal dari Universitas Satu Bandung, serta dukungan dan sambutan hangat yang diberikan oleh Kepala Desa Cileunyi Wetan, Bapak H. Hari Haryono, S.H., dan Ketua Komunitas Pemuda Pasir Tukul, Bapak Candra, S.Ak. Apresiasi juga disampaikan kepada para narasumber utama penelitian, yaitu Bapak Idin, Bapak Aep, dan Bapak Deni, yang telah berbagi pengetahuan, pengalaman, serta memberikan kesempatan kepada tim untuk melihat secara langsung proses dan praktik kerajinan ukir tulang Pasir Tukul.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Informasi kontak:<\/strong><\/p>\n<p>Komunitas Pemuda Pasir Tukul (Instagram: @comppast04)<br \/>\nKontak perajin Bapak Idin: 0831-0109-8610<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p>Hassani, Y. (2023, October 23). <em>Kilap sentra ukiran tulang di Bandung yang kini memudar<\/em>.detikJabar.https:\/\/www.detik.com\/jabar\/budaya\/d-6994906\/kilap-sentra-ukiran-tulang-di-bandung-yang-kini-memudar<\/p>\n<p>Yulianti, C. (2021, April 8). <em>Pengukir tulang di Cileunyi, ubah tulang sapi jadi kreasi<\/em>. Merdeka. <a href=\"https:\/\/www.merdeka.com\/travel\/read\/7614180\/pengukir-tulang-di-cileunyi-ubah-tulang-sapi-jadi-kreasi\">https:\/\/www.merdeka.com\/travel\/read\/7614180\/pengukir-tulang-di-cileunyi-ubah-tulang-sapi-jadi-kreasi<\/a><\/p>\n<p>United Nations. (n.d.). <em>Sustainable Development Goals.<\/em> https:\/\/sdgs.un.org\/goals<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber gambar : Dokumentasi penulis, 2026 \u00a0 Pada hari Rabu, 2 September 2026, tim peneliti dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) SATU University melaksanakan riset lapangan di Kampung Pasir Tukul, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Riset ini dilakukan untuk memetakan dan mengkaji kerajinan ukir tulang Pasir Tukul dari perspektif budaya visual, sekaligus memahami keterkaitan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":827,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,11],"tags":[6,43,40,41,12,13,34,28,10,24,3,87,7,80,42,39,29,72,50,71,85,88,79,51,33,62,61,59,86,63,37,38,25],"class_list":["post-823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-event-berita","tag-ai","tag-audio-visual","tag-bahasa-rupa","tag-bahasa-visual","tag-bandung","tag-binus","tag-branding","tag-desain-komunikasi-visual","tag-design","tag-design-thinking","tag-dkv","tag-dkv-bandung","tag-drawing","tag-enrichment","tag-film","tag-fotografer","tag-fotografi","tag-illustrator","tag-inaugurasi","tag-kadin","tag-kampus-bandung","tag-kampus-teknologi","tag-magang","tag-mahasiswa","tag-satu-university","tag-ui-design","tag-ui-ux","tag-umkm","tag-universitas-bandung","tag-ux-research","tag-video-profile","tag-videografer","tag-visual-communication-design"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=823"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":828,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823\/revisions\/828"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}