{"id":633,"date":"2025-12-05T03:53:53","date_gmt":"2025-12-05T03:53:53","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/?p=633"},"modified":"2025-12-08T04:13:09","modified_gmt":"2025-12-08T04:13:09","slug":"behind-the-screens-bagaimana-empathy-map-mengubah-ux-research-dalam-pembuatan-aplikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/2025\/12\/05\/behind-the-screens-bagaimana-empathy-map-mengubah-ux-research-dalam-pembuatan-aplikasi\/","title":{"rendered":"Behind the Screens: Bagaimana Empathy Map Mengubah UX Research dalam Pembuatan Aplikasi"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-635\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/1.png\" alt=\"\" width=\"882\" height=\"496\" \/><\/p>\n<p>Empathy map adalah salah satu alat terpenting dalam UX Research karena membantu peneliti memahami pengalaman, kebutuhan, emosi, dan perilaku pengguna secara mendalam. Pada proyek perancangan aplikasi caf\u00e9 Kusuma Matcha, empathy map digunakan untuk menggali insight pengguna sebelum masuk ke tahap ideasi dan desain UI\/UX.<\/p>\n<p>Melalui serangkaian riset yang dilakukan oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Universitas Satu bernama Seankelly naomi Fillardi, mulai dari survei, wawancara, observasi perilaku, hingga analisis kompetitor data yang terkumpul diolah ke dalam empat kuadran utama empathy map: Think &amp; Feel, Hear, See, serta Say &amp; Do, ditambah dua elemen penting: Pain Points dan Gains. Berikut penjelasan lengkap tentang bagaimana proses ini dilakukan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-636\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/2.png\" alt=\"\" width=\"883\" height=\"499\" \/><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Mengumpulkan Data Pengguna<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Sebelum membuat empathy map, langkah pertama adalah mengumpulkan data dari target audiens. Pada riset Kusuma Matcha, data diperoleh melalui:<\/p>\n<p>A. Observasi Caf\u00e9 dan Layanan<\/p>\n<ul>\n<li>Antrean panjang.<\/li>\n<li>Tidak ada reservasi.<\/li>\n<li>Menu hanya tersedia di kasir\/IG.<\/li>\n<li>Pemesanan manual sehingga prosesnya kurang efisien.<\/li>\n<\/ul>\n<p>B. Survei Kuantitatif<\/p>\n<ul>\n<li>Survei menunjukkan beberapa temuan penting:<\/li>\n<li>8% tertarik menggunakan aplikasi caf\u00e9.<\/li>\n<li>4% memiliki kemampuan teknologi tinggi.<\/li>\n<li>Promosi adalah fitur paling diharapkan (50% responden).<\/li>\n<li>Hambatan terbesar adalah proses login panjang (55%) dan navigasi rumit.<\/li>\n<\/ul>\n<p>C. Wawancara Mendalam<\/p>\n<p>Wawancara dilakukan dengan tiga persona utama:<\/p>\n<ol>\n<li>Ibu rumah tangga (butuh aplikasi praktis &amp; simpel).<\/li>\n<li>Mahasiswa psikologi Maranatha (mencari caf\u00e9 estetik &amp; info jelas).<\/li>\n<li>Mahasiswa Binus (suka desain aplikasi yang simple &amp; tidak ramai).<\/li>\n<\/ol>\n<p>Data wawancara ini sangat penting untuk membangun insight emosional di empathy map.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-637\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/3.png\" alt=\"\" width=\"882\" height=\"499\" \/><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Mengidentifikasi Pola Perilaku &amp; Insight<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dari survei dan wawancara, beberapa tren perilaku ditemukan:<\/p>\n<ul>\n<li>Pengguna selalu mencari promo sebelum memesan.<\/li>\n<li>Mereka sering menemukan caf\u00e9 dari Instagram.<\/li>\n<li>Banyak pengguna berharap ada QR code di meja untuk akses menu cepat.<\/li>\n<li>Desain aplikasi yang simple, jelas, dan tidak ramai menjadi preferensi utama.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Insight ini menjadi fondasi pembuatan empathy map.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-638\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/4.png\" alt=\"\" width=\"883\" height=\"498\" \/><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Menyusun Empathy Map Berdasarkan Data<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>A. Think &amp; Feel: Apa yang dipikirkan &amp; dirasakan pengguna?<\/p>\n<p>Hasil insight:<\/p>\n<ul>\n<li>Ingin proses pemesanan cepat, praktis, dan tidak ribet.<\/li>\n<li>Menyukai desain aplikasi yang unik, sederhana, dan informatif.<\/li>\n<li>Caf\u00e9 estetik membuat mereka nyaman untuk nongkrong atau belajar.<\/li>\n<li>Mereka tertarik datang ke caf\u00e9 karena promo atau info dari IG\/TikTok.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Empati utama di sini adalah kebutuhan akan kenyamanan dan efisiensi.<\/p>\n<p>B. Hear: Apa yang pengguna dengar dari lingkungan?<\/p>\n<p>Pengguna dipengaruhi oleh:<\/p>\n<ul>\n<li>Rekomendasi teman, keluarga, atau komunitas kampus.<\/li>\n<li>Informasi promo dari media sosial (Instagram, TikTok, Gojek).<\/li>\n<li>Percakapan lain saat di kasir mengenai menu atau promo.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber eksternal ini sangat kuat dalam membentuk motivasi pengguna.<\/p>\n<p>C. See: Apa yang mereka lihat?<\/p>\n<p>Pengguna melihat:<\/p>\n<ul>\n<li>Promo di Instagram, TikTok, atau aplikasi caf\u00e9 lain.<\/li>\n<li>Menu di kasir yang kadang tidak lengkap atau tidak jelas.<\/li>\n<li>Caf\u00e9 dengan desain estetik ini menjadi motivasi tambahan untuk berkunjung.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kesenjangan visual (menu tidak jelas vs. ekspektasi desain simple &amp; segar) memunculkan kebutuhan untuk aplikasi yang lebih informatif.<\/p>\n<p>D. Say &amp; Do\u201d: Apa yang pengguna katakan &amp; lakukan?<\/p>\n<p>Perilaku nyata yang ditemukan:<\/p>\n<ul>\n<li>Bertanya ke kasir tentang promo\/menu.<\/li>\n<li>Membuka aplikasi Gojek\/Grab untuk delivery.<\/li>\n<li>Mengunjungi caf\u00e9 untuk nongkrong, belajar, atau bekerja.<\/li>\n<li>Mencari promo sebelum melakukan pembelian.<\/li>\n<li>Mengharapkan adanya QR code di meja untuk akses cepat.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Poin ini menggambarkan pain point terkait komunikasi dan proses pemesanan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-639\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/5.png\" alt=\"\" width=\"884\" height=\"497\" \/><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong> Mengidentifikasi Pain Points<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pain utama yang ditemukan dari riset:<\/p>\n<p>Pain (Masalah) Pengguna<\/p>\n<ul>\n<li>Antrean panjang karena tidak ada sistem QR atau aplikasi.<\/li>\n<li>Proses login aplikasi caf\u00e9 terlalu panjang.<\/li>\n<li>Navigasi menu rumit atau kurang jelas.<\/li>\n<li>Harga\/promosi tidak ditampilkan dengan jelas.<\/li>\n<li>Kapasitas penyimpanan HP terbatas (malas install aplikasi).<\/li>\n<li>Aplikasi caf\u00e9 sebelumnya cenderung berat\/lag.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pain ini penting untuk menentukan fitur inti aplikasi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-640\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/6.png\" alt=\"\" width=\"884\" height=\"499\" \/><\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong> Mengidentifikasi Gains<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Gains adalah apa yang diharapkan pengguna dari solusi ideal.<\/p>\n<p>Gains (Keuntungan yang diinginkan)<\/p>\n<ul>\n<li>Pemesanan cepat melalui aplikasi\/QR menu.<\/li>\n<li>Promo dan diskon yang jelas di halaman utama.<\/li>\n<li>Desain aplikasi simple, tidak ramai, dan estetik.<\/li>\n<li>Informasi menu lengkap (foto, harga, deskripsi matcha).<\/li>\n<li>Proses checkout dan pembayaran yang mudah.<\/li>\n<li>Fitur membership atau point &amp; reward.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Gains inilah yang membentuk value proposition aplikasi Kusuma Matcha.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-641\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/7.png\" alt=\"\" width=\"886\" height=\"499\" \/><\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li><strong> Menghasilkan Empathy Map Final<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dari seluruh proses, empathy map Kusuma Matcha dirangkum menjadi:<\/p>\n<p>THINK &amp; FEEL:<\/p>\n<ul>\n<li>Ingin pemesanan cepat &amp; praktis.<\/li>\n<li>Menyukai desain simple &amp; estetik.<\/li>\n<li>Caf\u00e9 dilihat sebagai tempat nongkrong\/kerja.<\/li>\n<\/ul>\n<p>HEAR:<\/p>\n<ul>\n<li>Info promo dari teman &amp; IG.<\/li>\n<li>Review caf\u00e9 dari konten media sosial.<\/li>\n<\/ul>\n<p>SEE:<\/p>\n<ul>\n<li>Promo di aplikasi\/IG.<\/li>\n<li>Menu yang tidak selalu jelas saat di kasir.<\/li>\n<\/ul>\n<p>SAY &amp; DO:<\/p>\n<ul>\n<li>Bertanya tentang promo.<\/li>\n<li>Menggunakan aplikasi delivery.<\/li>\n<li>Mencari referensi di IG sebelum datang.<\/li>\n<\/ul>\n<p>PAIN:<\/p>\n<ul>\n<li>Login panjang.<\/li>\n<li>Navigasi sulit.<\/li>\n<li>Menu tidak jelas.<\/li>\n<li>Aplikasi berat.<\/li>\n<\/ul>\n<p>GAINS:<\/p>\n<ul>\n<li>Aplikasi simple &amp; ringan.<\/li>\n<li>Promo jelas.<\/li>\n<li>Quick order (QR code).<\/li>\n<li>Deskripsi menu lengkap.<\/li>\n<li>Membership &amp; reward.<\/li>\n<\/ul>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-642\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2025\/12\/8.png\" alt=\"\" width=\"884\" height=\"500\" \/><\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li><strong> Kesimpulan: Peran Empathy Map dalam Desain Aplikasi Kusuma Matcha<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pembuatan empathy map memberikan pemahaman mendalam tentang perilaku dan emosi pengguna. Dalam kasus Kusuma Matcha, empathy map menjadi pijakan untuk:<\/p>\n<ul>\n<li>Mengembangkan fitur pemesanan cepat dan QR code.<\/li>\n<li>Mendesain UI yang simple, estetik, dan tidak ramai.<\/li>\n<li>Menampilkan promo sebagai elemen utama aplikasi.<\/li>\n<li>Memberikan informasi menu secara lengkap dan jelas.<\/li>\n<li>Menyederhanakan proses login &amp; navigasi.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Empathy map bukan hanya alat visual, tetapi fondasi strategis untuk menciptakan pengalaman pengguna yang benar-benar relevan terutama untuk brand caf\u00e9 dengan target pengguna muda yang mengutamakan kecepatan, estetika, dan kenyamanan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\"><em>Image : Seankelly naomi Fillardi<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Empathy map adalah salah satu alat terpenting dalam UX Research karena membantu peneliti memahami pengalaman, kebutuhan, emosi, dan perilaku pengguna secara mendalam. Pada proyek perancangan aplikasi caf\u00e9 Kusuma Matcha, empathy map digunakan untuk menggali insight pengguna sebelum masuk ke tahap ideasi dan desain UI\/UX. Melalui serangkaian riset yang dilakukan oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Universitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6,43,40,41,12,13,34,28,10,24,3,7,42,39,29,50,51,33,62,61,63,37,38,25],"class_list":["post-633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ai","tag-audio-visual","tag-bahasa-rupa","tag-bahasa-visual","tag-bandung","tag-binus","tag-branding","tag-desain-komunikasi-visual","tag-design","tag-design-thinking","tag-dkv","tag-drawing","tag-film","tag-fotografer","tag-fotografi","tag-inaugurasi","tag-mahasiswa","tag-satu-university","tag-ui-design","tag-ui-ux","tag-ux-research","tag-video-profile","tag-videografer","tag-visual-communication-design"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=633"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/633\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":644,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/633\/revisions\/644"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}