{"id":707,"date":"2026-01-06T08:15:40","date_gmt":"2026-01-06T08:15:40","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/?p=707"},"modified":"2026-01-07T02:26:43","modified_gmt":"2026-01-07T02:26:43","slug":"apakah-emas-termasuk-investasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/2026\/01\/06\/apakah-emas-termasuk-investasi\/","title":{"rendered":"Apakah Emas termasuk Investasi?"},"content":{"rendered":"<p>Emas sering dipandang sebagai simbol kekayaan dan aset yang \u201caman\u201d, tetapi ketika dilihat dari perspektif investasi jangka panjang, banyak ahli keuangan berpendapat bahwa emas bukan pilihan optimal untuk membangun kekayaan. Tradisi mengoleksi emas terutama dalam bentuk perhiasan di banyak budaya telah berlangsung selama berabad-abad, namun nilai emas sering berkaitan dengan persepsi sosial dan keamanan emosional, bukan kinerja investasi yang kuat. Menurut <em>The Economic Times<\/em>, emas pada dasarnya tidak menghasilkan pendapatan, dan biaya yang terlibat dalam penjualan kembali perhiasan seringkali tinggi, sehingga pengembalian yang dihasilkan terlalu kecil untuk dianggap sebagai investasi yang signifikan dibandingkan dengan aset produktif lainnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-708 aligncenter\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/IMG_9220.jpg\" alt=\"\" width=\"283\" height=\"230\" \/><\/p>\n<p>Dari sudut pandang investor nilai, tokoh legendaris Warren Buffett secara konsisten mengkritik emas sebagai instrumen investasi karena sifatnya yang non-produktif. Emas tidak memberikan dividen, bunga, atau aliran kas lain yang dapat memicu pertumbuhan kekayaan melalui reinvestasi. Buffett lebih menekankan pentingnya aset yang menghasilkan pendapatan, seperti saham perusahaan yang terus berkembang atau properti yang memberikan pendapatan sewa, sehingga mampu memanfaatkan efek bunga majemuk dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Meski demikian, emas tetap memiliki tempat dalam dinamika pasar investasi modern sebagai aset safe haven yaitu instrumen yang cenderung dicari ketika pasar keuangan mengalami ketidakpastian atau gejolak ekonomi global. Analisis dari <em>BBC<\/em> menunjukkan bahwa permintaan emas meningkat signifikan selama periode volatilitas pasar atau tekanan geopolitik karena kelangkaan dan nilai intrinsiknya, dan emas dipandang sebagai <em>store of value<\/em> yang tidak terikat pada sistem perbankan atau kebijakan moneter tertentu.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-709\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/IMG_9222.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"300\" \/><\/p>\n<p>Namun, statusnya sebagai safe haven bukan tanpa kritik. Beberapa analis berpendapat bahwa emas tidak selalu menyediakan perlindungan terhadap inflasi atau penurunan nilai aset lain, karena pergerakan harganya masih dipengaruhi oleh sentimen pasar dan spekulasi investor. Dalam konteks portofolio modern, emas sering diposisikan sebagai alat diversifikasi risiko, bukan sebagai sumber pertumbuhan kekayaan yang diharapkan investor jangka panjang.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, meskipun emas memiliki nilai budaya dan peran sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian pasar, banyak pakar investasi menyarankan agar investor fokus pada aset produktif yang menghasilkan keuntungan berkelanjutan. Emas dapat melengkapi strategi investasi sebagai diversifikasi, tetapi tidak sebaiknya mendominasi alokasi portofolio jika tujuan utamanya adalah pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Daftar Pustaka (APA)<\/p>\n<p>Economic Times. (2024, October 7). <em>Why you shouldn\u2019t buy gold as an investment<\/em>. The Economic Times. <a href=\"https:\/\/economictimes.indiatimes.com\/wealth\/invest\/why-you-shouldnt-buy-gold-as-an-investment\/top-investment-option-for-many\/slideshow\/114003551.cms?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/economictimes.indiatimes.com\/wealth\/invest\/why-you-shouldnt-buy-gold-as-an-investment\/top-investment-option-for-many\/slideshow\/114003551.cms<\/a><\/p>\n<p>WhiteTopInvestor. (n.d.). <em>Warren Buffett explains gold: Why it\u2019s a poor investment choice<\/em>. WhiteTopInvestor. Retrieved January 2026, from <a href=\"https:\/\/whitetopinvestor.com\/warren-buffett-explains-gold\/?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/whitetopinvestor.com\/warren-buffett-explains-gold\/<\/a><\/p>\n<p>BBC News. (2025). <em>Gold is booming \u2013 but how safe is it for investors, really?<\/em> BBC. <a href=\"https:\/\/feeds.bbci.co.uk\/news\/articles\/c5ygyjy7kz5o?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/feeds.bbci.co.uk\/news\/articles\/c5ygyjy7kz5o<\/a><\/p>\n<p>Phys.org. (2025). <em>Why gold may be losing its shine as a safe-haven investment<\/em>. <a href=\"https:\/\/phys.org\/news\/2025-08-gold-safe-haven-investment.html?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/phys.org\/news\/2025-08-gold-safe-haven-investment.html<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Emas sering dipandang sebagai simbol kekayaan dan aset yang \u201caman\u201d, tetapi ketika dilihat dari perspektif investasi jangka panjang, banyak ahli keuangan berpendapat bahwa emas bukan pilihan optimal untuk membangun kekayaan. Tradisi mengoleksi emas terutama dalam bentuk perhiasan di banyak budaya telah berlangsung selama berabad-abad, namun nilai emas sering berkaitan dengan persepsi sosial dan keamanan emosional, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":710,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-707","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/707","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=707"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/707\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":711,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/707\/revisions\/711"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=707"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=707"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=707"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}