{"id":519,"date":"2025-07-07T08:52:56","date_gmt":"2025-07-07T08:52:56","guid":{"rendered":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/?p=519"},"modified":"2025-07-07T08:59:25","modified_gmt":"2025-07-07T08:59:25","slug":"literasi-keuangan-vs-fomo-siapa-yang-menang-di-dompet-mahasiswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/2025\/07\/07\/literasi-keuangan-vs-fomo-siapa-yang-menang-di-dompet-mahasiswa\/","title":{"rendered":"Literasi Keuangan vs. FOMO: Siapa yang Menang di Dompet Mahasiswa?"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-07-at-15.45.58.jpeg\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"736\" class=\"aligncenter size-full wp-image-523\" \/><\/p>\n<p>Di zaman sekarang, perkembangan teknologi informasi berkembang sangat cepat dan hampir tidak bisa dibendung. Internet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan dampaknya terasa di berbagai aspek, termasuk dalam cara orang berbelanja dan mengelola keuangannya. Generasi Z\u2014yakni mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010\u2014adalah generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi ini. Mereka disebut juga sebagai \u201cdigital native\u201d karena sejak kecil sudah terbiasa menggunakan internet dan media sosial.<\/p>\n<p>Kehidupan Gen Z yang sangat dekat dengan dunia digital membuat mereka memiliki akses yang sangat mudah ke berbagai platform belanja online dan media sosial. Di satu sisi, ini tentu memberikan banyak kemudahan, namun di sisi lain juga membawa risiko tersendiri. Salah satu fenomena yang muncul dan cukup memengaruhi gaya hidup Gen Z adalah Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO ada c lah perasaan takut tertinggal dari tren atau aktivitas yang sedang ramai dibicarakan orang lain. Misalnya, ketika media sosial ramai membahas produk baru atau investasi tertentu, banyak dari Gen Z merasa terdorong untuk ikut serta karena tidak ingin dianggap ketinggalan zaman atau kurang update.<br \/>\nAkibatnya, banyak dari mereka yang melakukan impulse buying\u2014membeli barang secara spontan tanpa berpikir panjang. Ini bisa terjadi saat mereka melihat promosi menarik di media sosial, atau karena dorongan emosional, seperti stres, senang, atau ingin dianggap eksis oleh teman-teman di dunia maya. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa Gen Z adalah kelompok usia yang paling rentan terhadap pembelian impulsif. Mereka cenderung membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, hanya karena ingin mencoba atau karena sedang tren. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berdampak negatif, seperti penumpukan barang yang tidak digunakan, pengeluaran yang tidak terkendali, bahkan terjerat utang.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-07-at-15.45.58-1.jpeg\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"1104\" class=\"aligncenter size-full wp-image-521\" \/><\/p>\n<p>Namun, bukan hanya perilaku konsumtif yang dipengaruhi oleh FOMO. Dalam dunia investasi, FOMO juga memiliki pengaruh yang signifikan. Banyak mahasiswa yang tergoda untuk mulai berinvestasi karena melihat influencer atau teman-temannya membagikan kisah sukses mereka di media sosial. Sayangnya, keputusan ini tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang cukup tentang dunia investasi. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam investasi bodong atau skema yang tidak jelas, karena hanya ikut-ikutan tren tanpa memeriksa kredibilitas informasi tersebut.<\/p>\n<p>Di sinilah literasi keuangan menjadi sangat penting. Literasi keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi secara bijak. Ini mencakup pemahaman tentang cara menabung, meminjam, menggunakan asuransi, dan berinvestasi dengan benar. Mahasiswa yang memiliki literasi keuangan yang baik cenderung lebih hati-hati dalam membuat keputusan keuangan. Mereka tahu bagaimana merencanakan pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta mengevaluasi risiko dan keuntungan dari suatu investasi.<\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh positif terhadap minat berinvestasi. Artinya, semakin tinggi pemahaman seseorang tentang keuangan, semakin besar kemungkinannya untuk tertarik dan berani mencoba berinvestasi. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan dan bisa menganalisis apakah suatu tawaran investasi layak diikuti atau tidak. Di sisi lain, media sosial juga turut memainkan peran besar dalam mendorong minat ini. Influencer, terutama yang aktif membagikan konten seputar keuangan dan investasi, bisa memberikan inspirasi bagi mahasiswa untuk mulai mengenal dunia pasar modal.<\/p>\n<p>Namun menariknya, hasil analisis juga menunjukkan bahwa FOMO tidak selalu berdampak positif terhadap minat investasi. Justru pada beberapa kasus, mahasiswa yang mengalami FOMO malah menjadi ragu dan takut salah langkah, sehingga enggan memulai investasi. Mereka cenderung membuat keputusan emosional yang tidak rasional, yang justru bertolak belakang dengan prinsip dasar dalam berinvestasi, yaitu perencanaan jangka panjang dan pengelolaan risiko.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-07-at-15.45.57.jpeg\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"1041\" class=\"aligncenter size-full wp-image-520\" \/><\/p>\n<p>Untuk itu, penting sekali bagi mahasiswa dan generasi muda secara umum untuk menyeimbangkan antara dorongan mengikuti tren dan pemahaman yang matang tentang keuangan. Edukasi mengenai literasi keuangan harus terus ditingkatkan, baik melalui kampus, lembaga keuangan, maupun konten-konten yang ada di media sosial. Mahasiswa juga perlu diajak untuk lebih kritis terhadap informasi yang mereka terima dari internet dan media sosial, terutama ketika menyangkut keputusan keuangan.<\/p>\n<p>Akhir kata, FOMO memang tidak bisa dihindari di era serba cepat seperti sekarang. Namun, dengan bekal literasi keuangan yang kuat, mahasiswa dapat lebih bijak dalam mengatur keuangannya. Mereka bisa menghindari jebakan belanja impulsif, serta mampu membuat keputusan investasi yang rasional dan sesuai dengan tujuan jangka panjang. Mengelola keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga soal sikap dan kesadaran untuk meraih masa depan yang lebih baik.<\/p>\n<p>Daftar Pustaka:<br \/>\nAgustini, A. P., Oktapiani, O., Septrianingsih, H., &amp; Zukhri, N. (2023). From Financial Literacy to FoMO: Menggali keterkaitan literasi keuangan, social media influencer, dan fear of missing out dalam minat berinvestasi di pasar modal (Studi kasus mahasiswa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung). INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 3(4), 6594\u20136604<br \/>\nKurniawati, A. D., &amp; Amalia, J. M. (2024). Pengaruh Fear of Missing Out dan Financial Literacy terhadap Impulse Buying pada Generasi Z. Musytari: Neraca Manajemen, Ekonomi, 12(9), Desember 2024.<br \/>\nLestari, N. P., &amp; Ramadhani, A. A. (2024). Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan literasi keuangan terhadap keputusan investasi di kalangan mahasiswa. Prosiding Seminar Nasional Akuntansi dan Manajemen, 3.Politeknik Negeri Jakarta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di zaman sekarang, perkembangan teknologi informasi berkembang sangat cepat dan hampir tidak bisa dibendung. Internet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan dampaknya terasa di berbagai aspek, termasuk dalam cara orang berbelanja dan mengelola keuangannya. Generasi Z\u2014yakni mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010\u2014adalah generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi ini. Mereka disebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":522,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-519","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/519","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=519"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/519\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":525,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/519\/revisions\/525"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=519"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=519"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/satu.ac.id\/bandung\/akuntansi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=519"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}