Pembelajaran akuntansi pada dasarnya tidak hanya bertujuan membekali peserta didik dengan kemampuan menghitung dan mencatat transaksi, tetapi juga membentuk pola pikir yang logis, sistematis, reflektif, dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Pola pikir akuntansi mencakup kemampuan memahami hubungan sebab–akibat, mengelola keterbatasan sumber daya, mengevaluasi risiko, serta melakukan refleksi atas keputusan yang diambil. Dalam konteks pendidikan modern, pengembangan pola pikir tersebut membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual, partisipatif, dan relevan dengan pengalaman nyata peserta didik. Salah satu pendekatan yang semakin banyak dikaji adalah penggunaan games sebagai media pembelajaran.

Games edukatif memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif dalam proses belajar melalui simulasi situasi nyata. Konsep ini sejalan dengan pendekatan growth mindset yang menekankan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan refleksi. Big Life Journal, misalnya, menunjukkan bahwa aktivitas berbasis permainan dan refleksi mampu membantu individu, khususnya anak dan remaja, memahami emosi, belajar dari kesalahan, serta membangun ketahanan diri. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam pembelajaran akuntansi, di mana kesalahan dalam pencatatan atau pengambilan keputusan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang bermakna.

Melalui games akuntansi, peserta didik dapat mensimulasikan proses keuangan seperti pencatatan transaksi, pengelolaan anggaran, pengambilan keputusan bisnis, hingga evaluasi kinerja keuangan. Proses ini membantu peserta didik memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi finansial dan bahwa ketelitian serta konsistensi sangat menentukan hasil akhir. Games juga melatih kemampuan berpikir analitis dan kritis, karena peserta didik dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan harus menentukan strategi terbaik berdasarkan informasi yang tersedia. Dengan demikian, pembelajaran akuntansi menjadi lebih kontekstual dan tidak bersifat mekanis.

Kajian dalam jurnal Sustainability menegaskan bahwa pendidikan berkelanjutan membutuhkan metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif, refleksi diri, dan pemecahan masalah nyata. Games dalam pembelajaran akuntansi dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai keberlanjutan, seperti efisiensi, transparansi, dan tanggung jawab ekonomi. Peserta didik tidak hanya diajak untuk mengejar keuntungan, tetapi juga memahami dampak keputusan keuangan terhadap lingkungan dan sosial. Hal ini memperluas perspektif akuntansi sebagai alat pengambilan keputusan yang etis dan berorientasi jangka panjang.

Integrasi games dengan aktivitas reflektif juga berperan penting dalam memperkuat pola pikir akuntansi. Setelah menyelesaikan permainan, peserta didik dapat diajak merefleksikan strategi yang digunakan, kesalahan yang terjadi, serta pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Refleksi ini membantu membangun kebiasaan evaluatif yang menjadi karakter penting dalam profesi akuntansi. Dengan pendekatan tersebut, games tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan cara berpikir profesional.

Secara keseluruhan, penggunaan games dalam pembelajaran akuntansi merupakan pendekatan yang efektif untuk mengembangkan pola pikir akuntansi secara holistik. Melalui simulasi, refleksi, dan pengalaman belajar yang menyenangkan, peserta didik dapat membangun kemampuan berpikir logis, analitis, dan bertanggung jawab. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip growth mindset dan pendidikan berkelanjutan, sehingga mampu mempersiapkan peserta didik menjadi individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan kemampuan pengambilan keputusan yang matang di bidang akuntansi.

 

Daftar Pustaka

Big Life Journal. (n.d.). Growth mindset journals for kids ages 4–11. https://biglifejournal.com

Sustainability Editorial Office. (2021). Sustainability, 13(17), Article 9699. MDPI. https://doi.org/10.3390/su13179699